Lompat ke isi

Queer

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Queer atau kwir seringkali digunakan sebagai istilah payung untuk orang nonheteroseksual dan noncisgender.[1][2] Istilah ini juga dapat merujuk pada semua orang yang menolak norma seksual dan gender, serta memiliki politik radikal bersama yang dicirikan dengan solidaritas lintas identitas.[3][4][5][6][7][8] Queer juga adalah sebuah istilah swa-identitas bagi banyak orang (serupa tapi tak sama dengan istilah gay, lesbian, dan biseksual) yang dicirikan dengan penolakan maupun disrupsi terhadap kategori orientasi seksual dan gender yang biner.[9][10][6][11]

Istilah queer berasal dari Bahasa Inggris yang pada mulanya bermakna 'liyan', 'aneh', atau 'janggal' dan digunakan secara peyoratif kepada orang LGBTQ pada akhir abad ke-19. Namun, sejak akhir tahun 1980-an, para aktivis queer mulai mengambil alih kata tersebut menjadi istilah untuk mendeskripsikan diri dengan konotasi yang netral ataupun positif.[12][13][14]

Pada abad ke-21, istilah queer menjadi lebih sering digunakan untuk menggambarkan spektrum yang luas dari identitas dan politik mengenai gender dan seksualitas yang non-cisheteronormatif. [15][16] Di Indonesia, istilah ini mulai diterjemahkan sebagai 'kwir' sejak Indonesia Council Open Conference (ICOC) tahun 2023 melalui diskusi daring yang bertajuk "Teori Kwir Gaya Indonesia" yang memosisikan kekwiran (queerness) dalam konteks Indonesia yang beragam dan terfragmentasi—yang dimetaforakan sebagai gugusan pulau di Nusantara.[17][18]

Beberapa disiplin ilmiah seperti teori kwir dan studi kwir memiliki kesepahaman dalam menentang binerisme gender, normativitas, dan kurangnya interseksionalitas, tetapi beberapa di antaranya hanya memiliki sedikit kaitan dengan gerakan LGBTQ. Seni kwir, budaya kwir, dan politik kwir adalah beberapa bentuk ekspresi modern dari identitas kwir.

Karena istilah ini masih dan/atau sempat menjadi epitet anti-LGBT, beberapa orang LGBT tidak menyetujui istilah queer karena dianggap menyinggung.[19] Ada pula yang menghindarinya karena dikatakan terkait dengan radikalisme politik,[20] atau terlalu rancu maupun terlalu trendi.[21] Beberapa lainnya menyenangi istilah ini untuk mengontraskan diri mereka dengan kelompok asimilasionis pada gerakan hak gay, serta untuk menunjukan kesediaan yang lebih besar untuk menantang norma sosial demi memerdekakan identitas gender dan seksual. Mereka mungkin mengaitkan istilah ini dengan kemajuan perspektif radikal yang juga hadir pada gerakan pembebasan gay di masa lampau, seperti antikonsumerisme dan antiimperialisme, ataupun dengan peristiwa seperti pemberontakan Stonewall.[22][23]

Dalam dunia akademik, istilah queer (dan kata kerja terkaitnya, queering [mengkwirkan]) secara luas merujuk pada kajian terhadap sastra, wacana, bidang-bidang akademik, serta ranah sosial-budaya lainnya dari sudut pandang nonheteroseksual atau noncisgender. Meskipun bidang studi queer dan teori queer bersifat luas, kajian-kajian tersebut sering kali berfokus pada kehidupan LGBTQ+, serta dapat melibatkan upaya menantang asumsi bahwa heteroseksualitas dan cisgender adalah keadaan bawaan atau "normal". Teori queer, khususnya, dapat merangkul ambiguitas dan fluiditas kategori-kategori yang secara tradisional dianggap "stabil", seperti gay atau straight.[24][25]

Penelitian kwir adalah studi mengenai isu-isu yang berkenaan dengan orientasi seksual dan identitas gender, yang biasanya berfokus pada individu dan budaya LGBTQ+. Bidang ini awalnya berpusat pada sejarah LGBTQ+ dan teori sastra, tetapi kemudian berkembang untuk mencakup kajian akademik terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam biologi, sosiologi, antropologi, sejarah ilmu, filsafat, psikologi, seksologi, ilmu politik, etika, dan bidang-bidang lainnya, melalui penelaahan terhadap identitas, kehidupan, sejarah, serta persepsi tentang orang-orang kwir. Upaya-upaya untuk mengumpulkan dan melestarikan sejarah yang berkaitan dengan kajian kwir telah dilakukan oleh beberapa organisasi, seperti Irish Queer Archive atau Queer Indonesia Archive.

Teori kwir adalah suatu bidang teori kritis pascastrukturalis yang muncul pada awal 1990-an dan berakar dari kajian kwir dan kajian perempuan. Penerapan teori kwir mencakup, antara lain, teologi kwir dan pedagogi kwir. Filsuf Judith Butler menggambarkan teori kwir sebagai sebuah ruang "kontestasi kolektif", yang merujuk pada komitmennya untuk menantang kategori dan definisi yang dianggap sederhana dan mapan.[26] Para pengkritik teori kwir berpendapat bahwa penolakan terhadap kategori yang jelas dan lugas ini dapat membuat disiplin tersebut menjadi terlalu abstrak dan terlepas dari realitas.[27]

Teoretikus kwir seperti Rod Ferguson, Jasbir Puar, Lisa Duggan, dan Chong-suk Han mengkritik gerakan politik gay arus utama karena dianggap bersekutu dengan agenda neoliberal dan imperialis, termasuk pariwisata gay, pelibatan gay dan trans dalam militer, serta pernikahan pasangan gay monogamis yang disahkan oleh negara dan gereja. Puar yang merupakan seorang teoretikus kwir kulit berwarna, secara khusus mencetuskan istilah homonasionalisme yang merujuk pada meningkatnya eksepsionalisme Amerika Serikat, nasionalisme, supremasi kulit putih, dan patriarki di dalam komunitas gay yang dikatalisasi atas respons dari serangan 11 September.[28]

Dalam penelitian mereka tentang gerakan kwir di Indonesia dan Malaysia, para akademisi Jón Ingvar Kjaran dan Mohammad Naeimi menyatakan bahwa "pelokalan identitas queer modern", yang berakar dari penafsiran lokal mengenai teori kwir dan "modernisme Muslim", telah membantu individu kwir di Indonesia dan Malaysia untuk "mendorong pembentukan jati diri mereka, serta mengorganisasi mobilisasi kolektif guna memperjuangkan hak-hak mereka". Para akademisi tersebut membandingkan hal ini dengan retorika kelompok Muslim konservatif yang homofobik, yang menggambarkan identitas "gay" atau "LGBTQ" sebagai bentuk imperialisme Barat, serta dengan "wacana Eurosentris", homonasionalisme, dan homonormativitas dari "politik LGBTQ" di kawasan Global North.[29]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. "Queer". Merriam-Webster Dictionary. Diakses tanggal 2024-02-17.
  2. "The 'Q' in LGBTQ: Queer/Questioning". American Psychiatric Association. December 11, 2019. Diakses tanggal March 3, 2024.
  3. "Queer, Adj. (1)". Oxford English Dictionary (Edisi Online). Oxford University Press.  Templat:OEDsub
  4. Queer Nation (June 1990). "Queers Read This". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-15. Diakses tanggal 2010-02-04.
  5. Brontsema, Robin (2004). "A Queer Revolution: Reconceptualizing the Debate Over Linguistic Reclamation". Colorado Research in Linguistics (dalam bahasa Inggris). 17. doi:10.25810/dky3-zq57. ISSN 1937-7029.
  6. 1 2 Miller, Shaeleya D.; Taylor, Verta; Rupp, Leila J. (2016), Stets, Jan E.; Serpe, Richard T. (ed.), "Social Movements and the Construction of Queer Identity", New Directions in Identity Theory and Research, Oxford University Press, hlm. 443–470, doi:10.1093/acprof:oso/9780190457532.003.0016, ISBN 978-0-19-045753-2, diakses tanggal 2025-09-16
  7. Dean, Tim (2015). "Queer". Dalam Adams, Rachel; Reiss, Benjamin; Serlin, David (ed.). Keywords for Disability Studies. New York University Press.
  8. Duggan, Lisa (1992). "Making It Perfectly Queer". Socialist Review. 22 (1): 11–31.
  9. Goldberg, Shoshana K.; Rothblum, Esther D.; Russell, Stephen T.; Meyer, Ilan H. (2020). "Exploring the Q in LGBTQ: Demographic Characteristic and Sexuality of Queer People in a U.S. Representative Sample of Sexual Minorities". Psychology of Sexual Orientation and Gender Diversity (dalam bahasa Inggris). 7 (1): 101–112. doi:10.1037/sgd0000359. ISSN 2329-0390. PMC 8132578. PMID 34017899.
  10. MacCabe, Colin; Yanacek, Holly (2018-12-20). "From "Odd," "Strange," and "Bad," to Reclaiming the Word "Queer"". Oxford University Press Blog (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-16.
  11. Horner, Evalie (2007). "Queer Identities and Bisexual Identities: What's the Difference". Dalam Firestein, Beth A. (ed.). Becoming Visible: Counseling Bisexuals across the Lifespan. Columbia University Press. hlm. 287–296.
  12. Queer Nation (June 1990). "Queers Read This". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-15. Diakses tanggal 2010-02-04.
  13. Sycamore, Mattilda Bernstein (2008). That's Revolting!: Queer Strategies for Resisting Assimilation (Edisi illustrated, revised). Counterpoint Press. hlm. 1. ISBN 9781593761950. Diakses tanggal July 17, 2024 via Open Library. Willful participation in U.S. imperialism is crucial to the larger goal of assimilation, as the holy trinity of marriage, military service and adoption has become the central preoccupation of a gay movement centered more on obtaining straight privilege than challenging power
  14. Barker, Meg-John (2016). Queer: A Graphic History. Icon Books, Ltd. ISBN 9781785780721.
  15. "queer". Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 2014.
  16. “Queer, Adj. (1), Sense 3.b.” Oxford English Dictionary, Oxford UP, March 2024, https://doi.org/10.1093/OED/2958900538.
  17. "ICOC 2023". The University of Sydney (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-04.
  18. Boellstorff, Tom (2005). The gay archipelago: sexuality and nation in Indonesia. Princeton: Princeton university press. ISBN 978-0-691-12333-2.
  19. "Is "Queer" a Derogatory Word? (with pictures)". wiseGEEK. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-06-18. Diakses tanggal 2 October 2023.
  20. Gamson, Joshua (August 1995). "Must Identity Movements Self-Destruct? A Queer Dilemma". Social Problems. 42 (3): 390–407. doi:10.1525/sp.1995.42.3.03x0104z.
  21. Phillip Ayoub; David Paternotte (28 October 2014). LGBT Activism and the Making of Europe: A Rainbow Europe?. Palgrave Macmillan. hlm. 137–138. ISBN 978-1-137-39177-3.
  22. Duggan, Lisa (2003). The Twilight of Equality?: Neoliberalism, Cultural Politics, and the Attack on Democracy. Boston: Beacon Press. hlm. 58–61. ISBN 9780807079553.
  23. Sycamore, Mattilda Bernstein (2008). That's Revolting!: Queer Strategies for Resisting Assimilation (Edisi illustrated, revised). Counterpoint Press. hlm. 1–7. ISBN 9781593761950. Diakses tanggal July 17, 2024 via Open Library. Willful participation in U.S. imperialism is crucial to the larger goal of assimilation, as the holy trinity of marriage, military service and adoption has become the central preoccupation of a gay movement centered more on obtaining straight privilege than challenging power
  24. Samuels, Jacinth (1999-01-31). "Dangerous Liaisons: Queer Subjectivity, Liberalism and Race". Cultural Studies (dalam bahasa Inggris). 13 (1): 91–92. doi:10.1080/095023899335383. ISSN 0950-2386. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-07-18. Diakses tanggal 2024-07-18.
  25. Jagose, Annamarie (1996). Queer Theory: an introduction (Edisi Repr). New York: New York Univ. Press (dipublikasikan 2010). hlm. 1–2. ISBN 978-0-8147-4234-1.
  26. Samuels, Jacinth (1999-01-31). "Dangerous Liaisons: Queer Subjectivity, Liberalism and Race". Cultural Studies (dalam bahasa Inggris). 13 (1): 91–92. doi:10.1080/095023899335383. ISSN 0950-2386. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-07-18. Diakses tanggal 2024-07-18.
  27. Samuels, Jacinth (1999-01-31). "Dangerous Liaisons: Queer Subjectivity, Liberalism and Race". Cultural Studies (dalam bahasa Inggris). 13 (1): 91–92. doi:10.1080/095023899335383. ISSN 0950-2386. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-07-18. Diakses tanggal 2024-07-18.
  28. Samuels, Jacinth (1999-01-31). "Dangerous Liaisons: Queer Subjectivity, Liberalism and Race". Cultural Studies (dalam bahasa Inggris). 13 (1): 91–92. doi:10.1080/095023899335383. ISSN 0950-2386. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-07-18. Diakses tanggal 2024-07-18.
  29. Kjaran, Jón Ingvar; Naeimi, Mohammad (2022), Kjaran, Jón Ingvar; Naeimi, Mohammad (ed.), "Politics of Modernity: Hybridity, Sexual Politics, and Queer Movements in the Global South", Queer Social Movements and Activism in Indonesia and Malaysia (dalam bahasa Inggris), Cham: Springer International Publishing, hlm. 73–102, doi:10.1007/978-3-031-15809-4_4, ISBN 978-3-031-15809-4, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-09-03, diakses tanggal 2024-09-03

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]