Seksualitas manusia laki-laki

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Perisai dan tombak Dewa Romawi Mars yang mewakili jenis kelamin laki-laki.
Detail masturbasi laki-laki dari krater Yunani, 560 hingga 550 SM.

Seksualitas manusia laki-laki umumnya mencakup aspek fisiologis, psikologis, sosial, budaya, dan politis dari tanggapan seksual manusia laki-laki dan kejadian terkait dengan itu. Hal ini meliputi topik yang luas terkait dengan nafsu seksual laki-laki dan perilaku yang dibatasi oleh etika, moralitas, dan agama.

Homoerotisisme laki-laki[sunting | sunting sumber]

Perilaku homoerotis berbeda dari homoseksualitas (lihat di bawah) yang mana murni perilaku seksual sejenis yang terjadi untuk kesenangan, sedangkan homoseksualitas adalah orientasi seksual atau kecenderungan seksual sejenis yang berlanjut.[1] Karena universalitasnya, sejarah dan fungsinya Due to its universality, history and perceived functions it has been theorised that homoerotic behaviour has origins in evolution.[2]

Sejarah perilaku homoerotis laki-laki[sunting | sunting sumber]

Gambaran Cyparissus, dan Apollo dalam kebiasaan Perjantanan di Yunani Kuno (1596) - Nationalmuseum, Stockholm oleh Giulio Romano.

Ada bukti bahwa keberadaan homoerotisisme, ditelusuri kembali pada awal sejarah manusia. Dari lukisan gua para pria yang sedang melakukan kegiatan seksual[3] hingga sejarah modern, perilaku homoerotis masih ada hingga sekarang.

Pandangan evolusi[sunting | sunting sumber]

Dari sebuah pandangan evolusi homoerotisisme dianggap kontra-produktif karena tidak dapat langsung menghasilkan keturunan.[4] Akan tetapi, perilaku seksual antarlaki-laki telah diusulkan sebagai fungsi adaptif dan keuntungan reproduktif secara tidak langsung bagi laki-laki. Bukti menunjukkan bahwa hubungan seksual antarlaki-laki dalam periode manusia awal sering terjadi antara remaja laki-laki dengan laki-laki yang lebih tua. Tindakan seksual telah dilihat sebagai faktor psikologis dalam masyarakat yang digunakan untuk mengikat.[1] Hubungan sejenis antara remaja laki-laki dengan pria yang lebih tua membawa banyak manfaat bagi pria yang lebih muda, seperti mendapat makanan, perlindungan dari kekerasan, dan secara keseluruhan membantu mereka mencapai kelangsungan hidup pribadi dan peningkatan status sosial. Efek langsung pada kelangsungan hidup ini juga memberikan efek tidak langsung dari keberhasilan reproduksi. Keuntungan yang diperoleh pria muda dari hubungan seksual mereka dengan pria yang lebih tua ini menjadikan mereka pilihan kawin yang lebih diinginkan oleh perempuan. Perbedaan usia dan status antara laki-laki yang terlibat, menunjukkan bahwa dinamis dominasi-submisif merupakan faktor penting dalam hubungan ini.[1]

Fungsi perilaku homoerotis[sunting | sunting sumber]

Hubungan perjantanan. Paris, Musée du Louvre.

Orientasi seksual[sunting | sunting sumber]

Homoseksualitas laki-laki[sunting | sunting sumber]

Asal mula klasifikasi heteroseksual–homoseksual[sunting | sunting sumber]

See also[sunting | sunting sumber]

References[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Muscarella, Frank (2000). "The evolution of homoerotic behaviour in humans". Journal of Homosexuality. 40 (40.1): 51–77. doi:10.1300/j082v40n01_03. 
  2. ^ Cosmides, Tooby (1992). "The psychological foundations of culture". The adapted mind: Evolutionary psychology and the generation of culture: 19–136. 
  3. ^ Ross, A (1973). "Celtic and northern art". Primitive Erotic Art: 77–106. 
  4. ^ Gallup, J (1983). "Homosexuaty as a By-Product of Selection for Optimal Heterosexual Strategies". Perspectives in biology and medicine. 26.2 (2): 315–322. doi:10.1353/pbm.1983.0018. 

External links[sunting | sunting sumber]