Kabupaten Sidenreng Rappang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Sidrap)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Sidenreng Rappang
Sulawesi 1rightarrow blue.svg Sulawesi Selatan
Official Logo of Sidenreng Rappang Regency.png
Lambang
Motto: 
Resopa Tammangingngi Malomo Nalatei Pammase Dewata
Locator Sidenreng Rappang Regency.svg
Sidenreng rappang map.jpg
Kabupaten Sidenreng Rappang berlokasi di Sulawesi
Kabupaten Sidenreng Rappang
Kabupaten Sidenreng Rappang
Kabupaten Sidenreng Rappang berlokasi di Indonesia
Kabupaten Sidenreng Rappang
Kabupaten Sidenreng Rappang
Koordinat: 3°54′S 119°48′E / 3.9°S 119.8°E / -3.9; 119.8
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
Tanggal peresmian18 Februari 1344 (Hari Lahir)
18 Februari 1960
Ibu kotaSidenreng
Pemerintahan
 • BupatiDollah Mando
 • Wakil BupatiMahmud Yusuf
Luas
 • Total1.102,10 km2 (42,550 sq mi)
Populasi
 ((2019)[1])
 • Total301.972 jiwa
Demografi
 • Suku bangsaBugis, Tolotang, dll
 • AgamaIslam 90,54%
Hindu 9,05%
Kristen 0,34%
- Protestan 0,31%
- Katolik 0,03%
Buddha 0,01%
Lainnya 0,06%[2]
Zona waktuWITA (UTC+08:00)
Kode telepon0421
Kode Kemendagri73.14 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan11
Jumlah kelurahan105
DAURp. 499.699.753.000.-(2013)[3]
Situs webhttp://www.sidrapkab.go.id

Kabupaten Sidenreng Rappang (sering disingkat dengan nama Sidrap) (Bugis: ᨀᨅᨘᨄᨈᨛ ᨔᨗᨉᨛᨋᨛ ᨑᨄ) adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sidenreng. Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki luas wilayah 1.102,10 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 301.972 jiwa (2019).[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Legenda[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Lontara’ Mula Ri Timpakenna Tana’e Ri Sidenreng, dikisahkan tentang seorang raja bernama Sangalla. Ia adalah seorang raja di Tana Toraja. Konon, Sangalla memiliki sembilan orang anak yaitu La Maddarammeng, La Wewanriru, La Togellipu, La Pasampoi, La Pakolongi, La Pababbari, La Panaungi, La Mampasessu, dan La Mappatunru. Sebagai saudara sulung, La Maddaremmeng selalu menekan dan mengintimidasi kedelapan adik-adiknya, bahkan daerah kerajaan adik-adiknya ia rampas semua. Karena semua adiknya tidak tahan lagi dengan perlakuan kakaknya, mereka pun sepakat meninggalkan Tana Toraja.[4]

Karena perjalanan yang melelahkan, mereka kehausan lalu mencari jalan ke tepi genangan air di pinggir danau. Namun, danau itu ternyata berada di hutan yang lebat, sehingga sulit bagi mereka untuk mencapainya. Karena harus menembus semak belukar yang lebat, mereka pun sirenreng-renreng (saling berpegangan tangan).Sesampainya di sana, mereka minum sepuas-puasnya dan duduk beristirahat kemudian mandi. Setelah itu, mereka berdiskusi bertukar pikiran tentang nasib yang mereka jalani. Akhirnya, mereka sepakat untuk bermukim di tempat itu. Di sanalah mereka memulai kehidupan baru untuk bertani, berkebun, menangkap ikan, dan beternak. Semakin hari, pengikut-pengikutnya pun semakin banyak. Tempat itulah yang kemudian dikenal “Sidenreng“, yang berasal dari kata sirenreng-renreng mencari jalan ke tepi danau, dan danau itulah yang sekarang dikenal dengan danau Sidenreng. Dari situ, terbentuk kerajaan Sidenreng.

Menurut sejarah, Sidenreng Rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Kedua kerajaan ini sangat akrab. Begitu akrabnya, sehingga sulit ditemukan batas pemisah. Bahkan dalam urusan pergantian kursi kerajaan, keduanya dapat saling mengisi. Seringkali pemangku adat Sidenreng justru mengisi kursi kerajaan dengan memilih dari komunitas orang Rappang. Begitu pula sebaliknya, bila kursi kerajan Rappang kosong, mereka dapat memilih dari kerajaan Sidenreng. Itu pula sebabnya, sulit untuk mencari garis pembeda dari dua kerajaan tersebut. Dialek bahasanya sama, bentuk fisiknya tidak beda, bahasa sehari-harinya juga mirip. Kalaupun ada perbedaan yang menonjol, hanya dari posisi geografisnya saja. Wilayah Rappang menempati posisi sebelah Utara, sedangkan kerajaan Sidenreng berada di bagian Selatan.

Kedua kerajaan tersebut masing-masing memiliki sistem pemerintahan sendiri. Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adat dan rakyat. Sedangkan di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat. Demokrasi sudah terlaksana pada setiap pengambilan kebijakan. Demokrasi bagi kerajaan Rappang adalah sesuatu yang sangat penting, salah satu bentuk demokrasinya adalah penolakan diskriminasi gender. Perbedaan gender tidak menjadi masalah, khususnya bagi kaum wanita untuk meniti karier sebagaimana layaknya kaum pria. Buktinya, adalah emansipasi wanita sudah ditunjukkan dengan seorang perempuan yang menjadi rajanya, yaitu Raja Dangku, raja kesembilan yang terkenal cerdas, jujur, dan pemberani. Wanita yang kemudian dikenal sukses menjalankan roda pemerintahan di zamannya.

Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pada saat pengakuan kedaulatan republik Indonesia oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949, berakhirlah dinasti Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Setelah kemerdekaan, kerajaan Sidenreng lebih awal menunjukkan watak nasionalismenya dengan bersedia melepaskan sistem kerajaan mereka meskipun sistem itu sudah berlangsung lama, sampai 21 kali pergantian pemimpin. Mereka memilih berubah dan menyatu dengan pola ketatanegaraan Indonesia. Kerajaan akhirnya melebur menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang, dengan bupati pertamanya H. Andi Sapada Mapangile dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan Sidenreng Rappang dilakukan pemilihan umum untuk memilih bupati secara langsung pada tanggal 29 Oktober 2008 lalu.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang
Timur Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo
Selatan Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Barru
Barat Kota Parepare dan Kabupaten Pinrang

Topografi[sunting | sunting sumber]

Kawasan perbukitan di Kecamatan Pitu Riase

Kabupaten Sidenreng Rappang terletak di diantara 30°43’ – 40°09’ Lintang Selatan dan 119°041’ – 120°010’ Bujur Timur. Kabupaten Sidenreng Rappang terletak pada ketinggian antara 10 m – 3.000 m dari permukaan laut (Mdpl) dengan puncak tertinggi berada di Gunung Botto Tallu (3.086 Mdpl). Keadaan Topografi wilayah di daerah ini sangat bervariasi berupa wilayah datar seluas 879.85 km² (46.72%), berbukit seluas 290.17 km² (15.43%) dan bergunung seluas 712.81 km2 (37.85%). Wilayah datar berada di bagian selatan dan barat. Wilayah perbukitan berada di bagian utara dan timur terutama di Kecamatan Pitu Riawa dan Kecamatan Pitu Riase. Di wilayah dataran rendah terdapat dua danau yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Pada wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang, terdapat 38 sungai yang mengaliri berbagai Kecamatan. Di Kecamatan Panca Lautang terdapat 6 (enam) aliran sungai sepanjang 33,75 Km, Kecamatan Tellu Limpoe dengan panjang 18 Km, Kecamatan Watang Pulu dengan panjang 39 Km, Kecamatan Baranti dengan panjang 15 Km, Kecamatan Panca Rijang dengan panjang 19,55 Km, Kecamatan Kulo dengan panjang 25,7 Km, Kecamatan Maritengngae dengan panjang 5 Km, Kecamatan Dua Pitue dengan panjang 68,46 Km sehingga merupakan Kecamatan yang memiliki aliran sungai terpanjang di Kabupaten Sidenreng Rappang. Sedangkan di Kecamatan Pitu Riawa dengan panjang 7,5 Km. Sejumlah sungai besar yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang antara lain Sungai Bila, Sungai Bulucenrana, Sungai Betao, Sungai Sidenreng, Sungai Bulete dan lainnnya.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah bahasa Indonesia. Menurut Statistik Kebahasaan 2019 oleh Badan Bahasa, terdapat satu bahasa daerah di Kabupaten Sidenreng Rappang[5], yaitu bahasa Bugis (khususnya dialek Sidenreng Rappang).[6]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sidenreng Rappang terdiri atas 11 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 0 desa dan 0 kelurahan dengan jumlah Rukun Warga (RW) sebanyak 0 buah dan dibagi menjadi 0 buah Rukun Tetangga (RT). Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Watang Sidenreng.

Daftar Kecamatan di Kabupaten Sidenreng Rappang
Nama Kecamatan Luas Wilayah Jumlah Desa Jumlah RW Jumlah RT
Kecamatan Baranti 5.389 km2 - - -
Kecamatan Duapitue 6.999 km2 - - -
Kecamatan Kulo 7.500 km2 - - -
Kecamatan Maritengngae 6.590 km2 - - -
Kecamatan Pancal Lautang 15.393 km2 - - -
Kecamatan Panca Rijang 3.402 km2 - - -
Kecamatan Pitu Riase 84.477 km2 - - -
Kecamatan Pitu Riawa 21.043 km2 - - -
Kecamatan Tellu Limpoe 10.320 km2 - - -
Kecamatan Watang Pulu 15.131 km2 - - -
Kecamatan Watang Sidenreng 12.081 km2 - - -

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Kabupaten Sidenreng Rappang sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa pada tahun 2013. Penduduk asli Kabupaten Sidenreng Rappang adalah suku Bugis. Penduduknya terkenal sebagai muslim yang ta'at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong-menolong. Di kabupaten ini dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen.

Jumlah Penduduk di Kabupaten Sidenreng Rappang
Nama Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah
Kecamatan Baranti 13.988 15.009 28.997 Jiwa
Kecamatan Duapitue 13.886 14.366 28.252 Jiwa
Kecamatan Kulo 5.762 6.069 11.831 Jiwa
Kecamatan Maritengngae 23.400 24.797 48.197 Jiwa
Kecamatan Pancal Lautang 8.726 9.387 18.113 Jiwa
Kecamatan Panca Rijang 13.591 14.604 28.195 Jiwa
Kecamatan Pitu Riase 10.451 10.294 20.745 Jiwa
Kecamatan Pitu Riawa 12.858 13.352 26.210 Jiwa
Kecamatan Tellu Limpoe 11.167 12.248 23.415 Jiwa
Kecamatan Watang Pulu 15.577 16.013 31.590 Jiwa
Kecamatan Watang Sidenreng 8.720 9.042 17.762 Jiwa

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Tingkat PAUD/TK/RA[sunting | sunting sumber]

  1. TK Dharma Wanita Amparita
  2. TK Shinta Rappang
  3. TK PGRI Kulo
  4. TK Dharma Wanita Panreng
  5. TK Dharma Wanita Bila
  6. TK Dharma Wanita Bulo

Tingkat SD/MI[sunting | sunting sumber]

  1. SDN 1 Watang Sidenreng
  2. SDN 2 Watang Sidenreng
  3. SDN 2 Otting
  4. SDN 1 Allakuang
  5. SDN 3 Amparrita
  6. SDN 2 Lancirang
  7. SDN 5 Bila
  8. SDN 1 Timoreng Panua

Tingkat SMP/MTs[sunting | sunting sumber]

  1. SMPN 1 Watang Sidenreng
  2. SMPN 4 Maritengngae
  3. SMPN 1 Tellu Limpoe
  4. SMPN 2 Panca Rijang
  5. SMP Muhammadiyah Rappang
  6. MTSN 2 Watan Sidenreng
  7. SMPN 1 Duapitue
  8. SMPN 5 Panca Rijang

Tingkat SMA/SMK/MA[sunting | sunting sumber]

  1. SMAN 1 Sidrap
  2. SMAN 2 Sidrap
  3. SMAN 3 Sidrap
  4. SMAN 1 Pitu Riawa
  5. SMAN 1 Baranti
  6. SMKN 1 Panca Rijang
  7. SMKN 1 Watang Sidenreng
  8. SMKN 1 Sidrap
  9. SMA Muhammdiyah Rappang
  10. MAN Banranti
  11. MA PONPES DDI AS SALMAN ALLAKUANG

Tingkat Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

  1. Universitas Muhammadiyah Sidrap (UMS)
  2. STIKES Muhammdiyah Sidrap
  3. STKIP Veteran Sidrap
  4. AKN PDD SIDRAP
  5. STIE Ichsan Sidrap

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Di daerah ini pernah hidup seorang tokoh cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng, yaitu: Naiya Ade'e De'nakkeambo, de'to nakkeana, artinya: Sesungguhnya adat itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak. Kata bijaksana itu dikeluarkan Nene Mallomo' ketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo' yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya.

Dalam Lontara' La Toa, Nene Mallomo' disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nene Mallomo' dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara (ahli mengenai buku Lontara') dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu'mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya. Saat ini SIDRAP dipimpin oleh bupati termuda di Indonesia H. Rusdi Masse.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Hamparan sawah di Desa Kalosi, Kecamatan Duapitue

Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan salah satu sentra penghasil beras di Sulawesi Selatan. Hal ini terutama didukung oleh jaringan irigasi teknis yang mampu mengairi sawah sepanjang tahun. Beberapa jaringan irigasi yang ada di Sidenreng Rappang antara lain:

  1. Jaringan Irigasi Bulu Cenrana, mengairi 6000 hektare sawah
  2. Jaringan Irigasi Bila, mengairi 5400 hektare sawah
  3. Jaringan Irigasi Bulu Timoreng, mengairi 5400 hektare sawah

Selain penghasil utama beras di Indonesia Bagian Timur, daerah ini juga merupakan penghasil utama telur ayam dan telur itik di luar Pulau Jawa. Komoditas pertanian lainnya adalah kakao, kopra, mete dan kemiri serta hasil hutan berupa kayu dan rotan.

Padang penggembalaan sapi milik PT Berdikari United Livestock

PT Berdikari United Livestock Indonesia yang berlokasi di Desa Bila, Kecamatan Pituriase merupakan peternakan sapi berskala besar yang memasok kebutuhan daging sapi nasional.

Irigasi Sungai Bila mengairi 9600 hektare sawah di Kabupaten Sidenreng Rappang
Irigasi Sungai Bulu Cenrana mengairi 6000 hektare sawah di Kabupaten Sidenreng Rappang

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Taman wisata Puncak Bila Riase

Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki beberapa tempat wisata antara lain:

  1. Taman Wisata Puncak Bila: Merupakan sebuah Taman wisata air dengan wahana sepeda air, perahu kano, aqua bikes, flying fox, Motor ATV, pemancingan, waterboom, dan lain-lain.
  2. Cekdang: Adalah salah satu tempat rekreasi yang baik untuk keluarga karena memiliki tempat memancing ikan, kafe-kafe, tempat untuk memberi makan ikan di Kelurahan Batu, Kecamatan Pituriase.
  3. Danau Sidenreng
  4. Mojong

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sidenreng Rappang berjarak ± 200 km dari Makassar dan terletak di persimpangan antara jalur ke Palopo dan Toraja. Untuk menuju daerah ini bisa menggunakan bus jurusan Palopo atau Toraja, mobil penumpang umum (Toyota Kijang, Suzuki APV, Isuzu Panther) dan minibus.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Kabupaten Sindenreng Rappang Dalam Angka 2020". www.sidrapkab.bps.go.id. Diakses tanggal 12 Juni 2020. 
  2. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Sidenreng Rappang". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 12 Juni 2020. 
  3. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  4. ^ Lontara’ Mula Ri Timpakenna Tana’e Ri Sidenreng halaman 147.
  5. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 11. ISBN 9786028449182. 
  6. ^ "Bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]