Kitab Yesus bin Sirakh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Kitab Yesus bin Sirakh (atau Kitab Kebijaksanaan Yesua ben Sira, Ben Sira,[1] Kebijaksanaan Sirakh, Kitab Eklesiastikus[2]), yang biasa disebut Putra Sirakh, Bin Sirakh, atau Sirakh saja, merupakan suatu karya yang berisikan ajaran-ajaran etika dari sekitar tahun 180-175 SM. Penulisnya, Yesus bin Sirakh, adalah seorang Yahudi yang tingggal di Yerusalem, yang kemungkinan mendirikan aliran sendiri dan menulis karyanya di Aleksandria.

Karyanya ditulis dalam bahasa Ibrani, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh cucunya (yang tidak diketahui namanya) di Mesir, yang menambahkan bagian prolog atau pengantarnya. Prolog tersebut umumnya dianggap sebagai saksi yang paling awal akan adanya sebuah kanon dari kitab-kitab para nabi, dan dengan demikian tarikhnya menjadi subjek pengamatan yang intens. Kitab ini sendiri merupakan kitab hikmat atau kebijaksanaan terbesar yang terlestarikan dari zaman kuno.[3]

Status kanonik[sunting | sunting sumber]

"Alle Weissheit ist bey Gott dem Herren..." (ortografi modern: Alle Weisheit ist bei Gott dem Herrn) (Sirakh, bab 1, terjemahan Jerman), karya seniman anonim, 1654.

Sirakh diterima sebagai salah satu kitab dalam kanon Alkitab Kristen oleh kalangan Katolik, Ortodoks Timur, dan sebagian besar Ortodoks Oriental. Anglikan tidak menerima Sirakh ke dalam kanonnya dan mengatakan bahwa kitab ini dibaca hanya "untuk teladan hidup dan pengajaran tata krama, tetapi tidak mengaplikasikannya untuk membentuk doktrin apapun."[4] Demikian pula kalangan Lutheran tidak memasukkannya ke dalam leksionari mereka serta memandangnya sebagai suatu kitab yang layak untuk dibaca, berdevosi, dan doa. Sirakh dikutip dalam beberapa tulisan di zaman Gereja perdana. Terdapat klaim bahwa kitab ini dikutip dalam Surat Yakobus, serta juga Surat Barnabas (xix. 9) dan Didache (iv. 5) yang non kanonik. Klemens dari Aleksandria dan Origenes berulang kali mengambil kutipan dari kitab ini, laksana dari suatu γραφή (kitab suci).[5] Katalog Cheltenham, Paus Damasus I, Konsili Hippo (393) dan Kartago (397), Paus Innosensius I, Konsili Kartago II (419), dan Agustinus dari Hippo memandang Kitab Sirakh kanonik; sementara Konsili Laodikia, Hieronimus, dan Rufinus dari Aquileia tidak memandangnya sebagai kitab gerejawi.[5] Gereja Katolik Roma menegaskan kanonisitasnya pada tahun 1546 dalam sesi keempat Konsili Trente.[5]

Sirakh tidak termasuk dalam kanon Yahudi, yang penetapannya pernah dianggap dilakukan pada suatu konsili hipotetis di Yamnia, kemungkinan karena kepenulisannya yang belakangan,[6] kendati tidak ada kejelasan apakah kanon tersebut telah benar-benar "ditutup" pada zaman Ben Sira.[7] Kalangan lainnya mengemukakan bahwa identifikasi diri yang dilakukan Ben Sira sebagai penulisnya menjadi penghalang untuk meraih status kanonik, yang diperuntukkan bagi karya-karya yang dikaitkan (atau dapat dikaitkan) dengan para nabi.[8] Kemungkinan penyebab lainnya yang membuat kitab ini ditolak dalam kanon Yahudi yaitu reaksi balasan para rabi atas diterimanya kitab ini oleh komunitas Kristen yang baru tumbuh pada saat itu.[9]

Namun beberapa kalangan diaspora Yahudi memandang Kitab Sirakh sebagai kitab suci. Sebagai contoh, kitab ini termasuk dalam kanon Septuaginta, yaitu kitab-kitab Yahudi versi Yunani dari abad ke-2 SM yang digunakan oleh kalangan diaspora Yahudi, dan melaluinya kitab ini menjadi bagian dari kanon Yunani. Banyaknya fragmen-fragmen naskah yang ditemukan di Geniza Kairo membuktikan statusnya yang otoritatif di antara kalangan Yahudi Mesir hingga Abad Pertengahan.[10]

Karena tidak termasuk dalam kanon Yahudi, Kitab Sirakh tidak dimasukkan ke dalam kanon Protestan menyusul terjadinya Reformasi Protestan.

Penulis dan penerjemahan[sunting | sunting sumber]


Penulisnya disebutkan di dalam teks Yunani (1:27) "Yesus bin Sirakh dari Yerusalem." Dalam salinan yang dimiliki oleh Saadia Gaon tertulis "Shim'on, anak Yesua, anak El'azar bin Sira"; dan hal yang sama ditemukan di dalam Naskah B Ibrani. Dengan mengubah-ubah posisi dari nama-nama "Shim'on" dan "Yesua'," bunyi yang sama diperoleh seperti yang ditemukan dalam naskah-naskah lain. Ketepatan nama "Shim'on" dikukuhkan oleh versi Siria, yang di dalamnya tertulis "Yesua', anak Shim'on, yang nama belakangnya adalah Bar Asira." Kesenjangan di antara kedua bacaan "Bar Asira" dan "Bar Sira" perlu dicatat, "Asira" ("tahanan") adalah sebuah etimologi populer dari "Sira". Bukti ini tampaknya menunjukkan bahaw nama si pengarang adalah Yesua, anak Shimon, anak Eleazar bin Sira. ("Yesus" adalah bentuk bahasa Indonesia dari "Yesua'". Nama Yunani Ιησους digunakan untuk Yesua' dan Yehosua'.)

Nama belakang Sira berarti "duri" dalam bahasa Aram. Bentuk Yunaninya, Sirach, menambahkan huruf chi, seperti halnya dengan Hakeldamach dalam Kisah Para Rasul 1:19.

Menurut versi Yunani, meskipun tidak ditemukan dalam versi Siria, si penulis banyak berkelana (34:11) dan seringkali menghadapi bahaya maut (1b:12). Dalam nyanyian dari pasal 51, ia berbicara tentang segala jenis bahaya yang daripadanya Allah telah melepaskannya, meskipun hal ini mungkin hanyalah sebuah tema puitis yang meniru Kitab Mazmur. Cemooh yang dihadapinya di hadapan seorang raja tertentu, konon salah satu dari wangsa Ptolemeus, hanya disebutkan di dalam versi Yunani, dan diabadikan di dalam teks bahasa Suryani dan Ibrani. Satu-satunya fakta yang diketahui pasti, yang diambil dari teks itu sendiri, ialah bahwa Bin Sirakh adalah seorang sarjana, dan seorang ahli Taurat yang sangat paham tentang Taurat, dan khususnya dalam "Kitab-kitab Hikmat."

Bahasa dan judul lainnya[sunting | sunting sumber]

Para Bapa Gereja berbahasa Yunani menyebutnya "Hikmat yang Agung", sedangkan para Bapa Gereja berbahasa Latin, sejak Siprianus,[11] menyebutnya Ecclesiasticus karena kitab ini seringkali dibaca di gereja-gereja, dan karena itu disebut liber ecclesiasticus ("kitab gereja").

Arti penting teologis[sunting | sunting sumber]

Pengaruhnya dalam liturgi Yahudi[sunting | sunting sumber]

Bin Sirakh digunakan sebagai dasar dari dua bagian penting dari liturgi Yahudi. Dalam "Mahzor" (buku doa hari kudus), seorang penyair Yahudi abad pertengahan menggunakan "Bin Sirakh" sebagai dasar untuk sebuah puisi, "KeOhel HaNimtah", dalam kebaktian musaf ("tambahan") Yom Kippur. Penelitian yang belakangan menunjukkan bahwa kitab ini merupakan dasar dari doa yang paling penting dari semua doa Yahudi, Amidah. Bin Sirakh tampaknya memberikan kosa kata dan kerangka bagi banyak dari berkat Amidah.

Dalam Perjanjian Baru[sunting | sunting sumber]

Beberapa kalangan mengklaim bahwa referensi yang merujuk pada Kebijaksanaan Sirakh di dalam Perjanjian Baru. Beberapa contoh misalnya magnificat Maria dalam Lukas 1:52 merujuk pada Sirakh 10:14, gambaran tentang benih dalam Markus 4:5,16-17 merujuk pada Sirakh 40:15, pernyataan Yesus dalam Matius 7:16,20 merujuk pada Sirakh 27:6, dan Yakobus 1:19 mengutip Sirakh 5:11.[12]

Seorang akademisi patristik terkenal bernama Henry Chadwick mengklaim bahwa dalam Matius 11:28 Yesus mengutip langsung dari Sirakh 51:23,[13] serta membandingkan Matius 6:12 ("Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.") dengan Sirakh 28:2 ("Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa.")[13]

Penafsiran mesianik oleh kalangan Kristen[sunting | sunting sumber]

Beberapa kalangan Kristen memandang katalog para pria ternama dalam Kitab Sirakh mengandung beberapa referensi mesianis. Yang pertama diperlihatkan pada ayat-ayat mengenai Daud. Sirakh 47:11 berbunyi, "Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Iapun memberinya perjanjian kerajaan, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel." Ini merujuk pada perjanjian dalam 2 Samuel 7, yang menunjuk kepada Mesias. Kata "tanduk" merupakan terjemahan harfiah dari kata Ibrani qeren. Kata ini sering digunakan dalam pengertian mesianis dan keturunan Daud (misalnya Yehezkiel 29:21, Mazmur 132:17, Zakharia 6:12, Yeremia 33:15). Selain itu juga digunakan dalam Kidung Zakharia untuk menyebut Yesus ("Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu.").[14]

Ayat lainnya, yaitu Sirakh 47:22, yang ditafsirkan secara mesianis kembali merujuk pada 2 Samuel 7. Ayat ini berbicara mengenai Salomo dan dilanjutkan dengan mengatakan bahwa keturunan Daud akan berlanjut selamanya, lalu berakhir dengan menyampaikan bahwa "diberikan-Nya suatu sisa kepada Yakub, dan sebuah akar kepada Daud yang tumbuh dari padanya." Hal ini merujuk pada nubuat Yesaya mengenai Mesias: "Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah." (Yesaya 11:1) dan "Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa ..." (Yesaya 11:10).[15]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Book of Ben Sira". BibleStudyTools.com. Salem Communications Corporation. Diakses tanggal 2013-10-25. 
  2. ^ MLA citation. Gigot, Francis. Ecclesiasticus. The Catholic Encyclopedia. Vol. 5. New York: Robert Appleton Company, 1909. 25 Oct. 2013 ].
  3. ^ Daniel J. Harrington (2001). Michael Coogan, ed. The New Oxford Annotated Bible: With the Apocryphal/Deuterocanonical Books New York, pp. 99–101 (4th ed.). New York, USA: Oxford University Press. pp. 99–101. ISBN 0-19-528478-X. 
  4. ^ "Canon VI. Of the Sufficiency of the Holy Scriptures for salvation. The Thirty-Nine Articles of Religion.". Church Society. Diakses tanggal 25 July 2014. 
  5. ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Jewish_Encyclopedia
  6. ^ Manhardt,Laurie, Ph.D., Come and See Wisdom: Wisdom of the Bible, p. 173 (Emmaus Road Publishing 2009), ISBN 978-1-931018-55-5.
  7. ^ Ska, Jean Louis, The Exegesis of the Pentateuch: Exegetical Studies and Basic Questions, pp. 184–195 (Mohr Siebeck Tubingen 2009), ISBN 978-3-16-149905-0.
  8. ^ Mulder, Otto , Simon the High Priest in Sirach 50, p. 3 fn.8 (Koninkliijke Brill nv 2003), ISBN 978-90-04-12316-8 ("The highly esteemed book of Ben Sira is not sacred Scripture [because] 'the author was known to have lived in comparatively recent times, in an age when, with the death of the last prophets, the holy spirit had departed from Israel.").
  9. ^ Sulmasy, Daniel P., M.D. The Rebirth of the Clinic: An Introduction to Spirituality in Health Care, p. 45 (Georgetown Univ. Press 2006), ISBN 978-1-58901-095-6.
  10. ^ Harrington, Daniel J. (1999). Invitation to the Apocrypha. Grand Rapids, Mich. [u.a.]: Eerdmans. p. 90. ISBN 0-8028-4633-5. 
  11. ^ Testimonia, ii. 1; iii. 1, 35, 51, 95, et passim
  12. ^ Scripture Catholic – Deuterocanonical Books In The New Testament
  13. ^ a b Chadwick, Henry.(2001) The Church in Ancient Society: From Galilee to Gregory the Great Clarendon Press, Oxford, England, page 28, ISBN 0-19-924695-5
  14. ^ Skehan, Patrick (1987) The Wisdom of Ben Sira: a new translation with notes (Series: The Anchor Bible volume 39) Doubleday, New York, p. 524, ISBN 0-385-13517-3
  15. ^ Skehan, p. 528

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Deuterokanonika Perjanjian Lama
Didahului oleh:
Kebijaksanaan
Kitab dalam Alkitab
Katolik Roma
Diteruskan oleh:
Yesaya
Kitab dalam Alkitab
Ortodoks Timur