Kesehatan mental selama pandemi Covid-19

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi kesehatan mental masyarakat di seluruh dunia.[1] Serupa seperti wabah-wabah yang menyerang sistem pernapasan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan gejala-gejala berupa kegelisahan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma pada berbagai kelompok populasi, termasuk tenaga kesehatan, tenaga publik, serta pasien dan orang-orang yang harus menjalani karantina.[2]:1 Komite Tetap Antarlembaga PBB merekomendasikan dukungan kesehatan mental yang memiliki inti "tidak melakukan kekerasan, mendukung hak asasi manusia dan kesetaraan, menggunakan pendekatan partisipatif, mempergunakan sumber daya dan kemampuan yang sudah ada, menerapkan intervensi berlapis, dan bekerja dengan sistem pendukung yang terintegrasi."[3] Covid-19 juga berdampak pada hubungan sosial antarmanusia, kepercayaan terhadap orang lain dan institusi, serta pendapatan dan pekerjaan mereka.[4]

Penyebab masalah kesehatan mental selama pandemi COVID-19[sunting | sunting sumber]

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan masalah kesehatan mental pada beberapa individu, seperti stres, perasaan cemas, dan khawatir, yang dapat berasal dari penyakit Covid-19 itu sendiri maupun respons individu terhadap protokol-protokol seperti pembatasan sosial. Penyebab umum dari tekanan psikologis selama pandemi meliputi takut sakit dan meninggal, menghindar dari perawatan medis karena takut tertular selama dirawat, takut kehilangan pekerjaan, takut dikucilkan, takut dikarantina, perasaan tidak berdaya untuk merawat diri sendiri dan orang terdekat, takut terpisah dari keluarga dan orang terdekat, kebosanan, depresi selama diisolasi, dan takut akan mengalami hal-hal yang sama seperti pandemi sebelumnya.[5]

Selain masalah-masalah tersebut, Covid-19 juga menyebabkan respons psikologis lain, seperti takut terinfeksi Covid-19 karena cara penyebarannya yang belum diketahui secara pasti, kekhawatiran akan gejala penyakit lain yang disalahartikan sebagai gejala Covid-19, kekhawatiran terhadap anak-anak yang harus ditinggal sendirian di rumah saat orang tua bekerja, dan risiko pemburukan kesehatan fisik dan mental akibat kurangnya dukungan terhadap individu yang lemah.[3]

Tenaga kesehatan, seperti dokter dan perawat, juga dapat mengalami masalah kesehatan mental. Stres yang dialami oleh tenaga kesehatan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti stigmatisasi terhadap pasien Covid-19, stres akibat aturan penggunaan alat pelindung diri yang ketat, kebutuhan kerja yang meningkat, menurunnya dukungan sosial akibat stigma sosial, berkurangnya kemampuan untuk melindungi diri sendiri, dan takut akan menularkan virus ke orang terdekat.[6]

Pencegahan dan pengendalian kondisi kesehatan mental[sunting | sunting sumber]

Infografik penanganan masalah kesehatan mental selama pandemi COVID-19

Pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian Penyakit AS[sunting | sunting sumber]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat telah menerbitkan pedoman untuk mencegah masalah kesehatan mental selama pandemi Covid-19. Ringkasan dari pedoman tersebut berisi:[7][8]

Pedoman untuk masyarakat umum[sunting | sunting sumber]

  • Bersikap empati terhadap orang yang terinfeksi, apapun kebangsaan atau sukunya.
  • Gunakan people-first language untuk mendeskripsikan sesorang yang terdampak Covid-19.
  • Kurang menonton berita yang menimbulkan kecemasan. Cari informasi dari sumber tepercaya satu atau dua kali sehari.
  • Lindungi diri sendiri dan suportif terhadap orang lain.
  • Manfaatkan kesempatan untuk menceritakan hal-hal positif dari orang-orang sekitar yang pernah terpapar Covid-19.
  • Harga tenaga kesehatan yang telah menangani pasien Covid-19.

Pedoman untuk tenaga kesehatan[sunting | sunting sumber]

  • Merasa dalam tekanan adalah hal yang normal selama terjadinya krisis. Menangani kesehatan mental seseorang sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisiknya.
  • Ikuti strategi coping, istirahat yang cukup, makan makanan sehat, ikut serta dalam aktivitas fisik, hindari merokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang. Gunakan strategi coping yang sebelumnya telah berhasil Anda terapkan.
  • Apabila Anda harus terpisah dari keluarga atau orang-orang sekitar, tetaplah berhubungan dengan orang-orang terdekat tersebut menggunakan metode digital.
  • Sampaikan pesan dengan cara yang mudah dipahami.
  • Ketahui bagaimana cara menghubungkan orang-orang yang terdampak Covid-19 menggunakan sumber daya yang ada.

Pedoman untuk pimpinan fasilitas kesehatan[sunting | sunting sumber]

  • Pastikan para staf terhindar dari masalah kesehatan mental. Fokus pada kekuatan jangka panjang, bukan hasil jangka pendek.
  • Berkomunikasi dengan baik dan sampaikan informasi-informasi terkini secara akurat.
  • Pastikan semua staf mengetahui di mana dan kapan mereka dapat mengakses bantuan terhadap masalah kesehatan mental.
  • Arahkan para staf tentang bagaimana cara memberikan penolongan psikologis pertama bagi orang-orang yang terdampak.
  • Kondisi darurat yang melibatkan kesehatan mental seharusnya ditangani oleh fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Pastikan ketersediaan layanan psikiater pada semua tingkatan layanan kesehatan.

Pedoman untuk pengasuh anak-anak[sunting | sunting sumber]

  • Bantu anak-anak mengekspresikan emosi mereka ke hal-hal positif.
  • Sebisa mungkin hindari memisahkan anak-anak dari orang tua/pengasuhnya. Pastikan hubungan antara orang tua dan anak tetap terjaga meskipun anak tersebut diisolasi.
  • Pastikan kegiatan rutin keluarga tetap berjalan dan berikan aktivitas menarik sesuai dengan usia anak.
  • Anak mungkin mengharapkan kasih sayang dari orang tua. Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mendiskusikan hal-hal seputar Covid-19 sesuai usia mereka.
  • Berikan penjelasan sejelas mungkin agar anak dapat memahami situasi yang terjadi dan mengapa semua orang melakukan protokol pencegahan penularan.

Pedoman untuk manula dan pengasuhnya[sunting | sunting sumber]

  • Manula, terutama yang menjalani isolasi atau memiliki masalah neurologis, mungkin bisa menjadi lebih cemas dan marah. Berikan mereka dukungan fisik dan emosional melalui tenaga ahli kesehatan.
  • Dapatkan informasi sederhana mengenai kondisi krisis saat ini dan bagaimana cara mengurangi risiko infeksi.
  • Miliki akses terhadap semua metode pengobatan yang dibutuhkan.
  • Ketahui dimana dan bagaimana cara mendapatkan bantuan.
  • Pelajari dan lakukan hal-hal sederhana di rumah.
  • Tetap lakukan kegiatan sehari-hari dan hubungi orang terdekat setiap saat.
  • Lakukan hobi atau kegiatan yang dapat meningkatkan fokus terhadap aspek pekerjaan lainnya.
  • Bercengkerama atau melakukan aktivitas menyenangkan bersama orang-orang yang dikenal melalui layanan digital atau telepon.
  • Lakukan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Pedoman untuk orang yang menjalani isolasi[sunting | sunting sumber]

  • Tetap terhubung dengan orang-orang yang dikenal.
  • Perhatikan suasana hati Anda. Lakukan aktivitas yang dapat membuat tenang.
  • Hindari mengikuti rumor yang dapat membuat Anda gelisah.
  • Temukan dan lakukan hal-hal baru.
  • Pelajari cara-cara baru untuk tetap terhubung dengan dunia luar.
  • Lakukan rutinitas sehari-hari.

Dampak terhadap pelajar[sunting | sunting sumber]

Pandemi Covid-19, terutama perintah belajar di rumah, telah memberikan dampak besar terhadap para pelajar.[5] Bahaya fisik seperti overdosis obat-obatan, percobaan bunuh diri, dan penyalahgunaan zat terlarang mencapai tingkat tertingginya. Tekanan akademik, ketidakpuasan terhadap kualitas pengajaran, dan ketakutan terhadap infeksi Covid-19 diduga menjadi penyebab tingginya tingkat depresi di kalangan pelajar.[5] Tingkat depresi yang tinggi juga berkaitan dengan frustasi akibat kebosanan, sumber daya yang kurang mencukupi, informasi yang kurang dari otoritas kesehatan setempat, kekurangan biaya, dan perasaan mendapatkan stigma.[5] Menjaga hubungan baik dengan orang terdekat dapat mengurangi tingkat depresi.[5]

Dampak terhadap tenaga medis[sunting | sunting sumber]

Banyak tenaga medis di Tiongkok menolak bantuan psikologis meskipun mereka menunjukkan tanda-tanda mengalami tekanan. Mereka berpendapat bahwa mereka lebih membutuhkan waktu istirahat dan suplai alat pelindung diri yang cukup daripada bantuan psikologis. Mereka juga menganggap pendampingan psikologis jauh lebih dibutuhkan oleh pasien yang terinfeksi Covid-19 dibandingkan tenaga kesehatan.[9]

Dampak terhadap kasus bunuh diri[sunting | sunting sumber]

Pandemi koronavirus menimbulkan kekhawatiran terhadap meningkatnya kasus bunuh diri yang disebabkan oleh faktor pembatasan sosial, karantina, PHK sepihak, dan masalah finansial.[10][11] Hingga November 2020, peneliti justru menemukan bahwa kasus bunuh diri relatif sama atau bahkan lebih rendah dibandingkan saat sebelum terjadinya pandemi, terutama di negara-negara dengan pendapatan tinggi.[12] Penurunan kasus bunuh diri saat terjadinya krisis bukanlah sesuatu yang tidak biasa.[12]

Masalah jangka panjang[sunting | sunting sumber]

IASC memperkirakan bahwa pandemi koronavirus bisa saja menimbulkan masalah jangka panjang terhadap kesehatan mental masyarakat. Masalah tersebut mungkin bisa muncul akibat memburuknya jaringan sosial dan ekonomi, stigma terhadap penyintas Covid-19, kemarahan terhadap pemerintah, dan ketidakpercayaan terhadap informasi yang diberikan otoritas setempat.[13] Konsekuensi-konsekuensi ini dapat pula terjadi akibat kurangnya pengetahuan, rumor, dan misinformasi.[14]

Pandemi juga dapat memberikan dampak positif jangka panjang. Beberapa orang mungkin bahagia karena dapat mempelajari dan menerapkan hal-hal baru. Selain itu, beberapa orang juga puas karena bisa membantu dan memperhatikan kesejahteraan orang lain selama terjadinya krisis.[15]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ CDC (2020-02-11). "Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-05-17. 
  2. ^ Luo, Yang; Chua, Cher Rui; Xiong, Zhonghui; Ho, Roger C.; Ho, Cyrus S. H. (23 November 2020). "A Systematic Review of the Impact of Viral Respiratory Epidemics on Mental Health: An Implication on the Coronavirus Disease 2019 Pandemic". Frontiers in Psychiatry. 11: 565098. doi:10.3389/fpsyt.2020.565098alt=Dapat diakses gratis. PMC 7719673alt=Dapat diakses gratis. PMID 33329106 Periksa nilai |pmid= (bantuan). 
  3. ^ a b "Inter-Agency Standing Committee Guidelines on Mental Health and Psychosocial support" (PDF). MH Innovation. hlm. 2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 31 Maret 2020. Diakses tanggal 28 Maret 2020. 
  4. ^ Organisation for Economic Co-operation and Development. "COVID-19: Protecting people and societies". read.oecd-ilibrary.org. hlm. 10. Diakses tanggal 2020-05-07. 
  5. ^ a b c d e De Man, Jeroen; Buffel, Veerle; van de Velde, Sarah; Bracke, Piet; Van Hal, Guido F.; Wouters, Edwin; Gadeyne, Sylvie; Kindermans, Hanne P. J.; Joos, Mathilde; Vanmaercke, Sander; van Studenten, Vlaamse Vereniging; Nyssen, Anne-Sophie; Puttaert, Ninon; Vervecken, Dries; Van Guyse, Marlies (7 January 2021). "Disentangling depression in Belgian higher education students amidst the first COVID-19 lockdown (April-May 2020)". Archives of Public Health. 79 (1): 3. doi:10.1186/s13690-020-00522-yalt=Dapat diakses gratis. PMC 7789891alt=Dapat diakses gratis. PMID 33413635 Periksa nilai |pmid= (bantuan).  CC-BY icon.svg Text was copied from this source, which is available under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
  6. ^ "Emergency Responders: Tips for taking care of yourself". emergency.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). 10 Januari 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Maret 2021. Diakses tanggal 25 Maret 2021. 
  7. ^ "Mental health and psychosocial considerations during the COVID-19 outbreak" (PDF). World Health Organization. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 26 March 2020. Diakses tanggal 28 March 2020. 
  8. ^ "Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa Inggris). 11 February 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 March 2020. Diakses tanggal 28 March 2020. 
  9. ^ Chen, Qiongni; Liang, Mining; Li, Yamin; Guo, Jincai; Fei, Dongxue; Wang, Ling; He, Li; Sheng, Caihua; Cai, Yiwen; Li, Xiaojuan; Wang, Jianjian (2020-04-01). "Mental health care for medical staff in China during the COVID-19 outbreak". The Lancet Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 7 (4): e15–e16. doi:10.1016/S2215-0366(20)30078-Xalt=Dapat diakses gratis. ISSN 2215-0366. PMC 7129426alt=Dapat diakses gratis. PMID 32085839. 
  10. ^ Gunnell, David; et al. (April 21, 2020). "Suicide risk and prevention during the COVID-19 pandemic". The Lancet. 7 (6): 468–471. doi:10.1016/S2215-0366(20)30171-1. PMC 7173821alt=Dapat diakses gratis. PMID 32330430. Diakses tanggal April 27, 2020. 
  11. ^ Baker, Noel (April 22, 2020). "Warning Covid-19 could lead to spike in suicide rates". Irish Examiner. Diakses tanggal April 27, 2020. 
  12. ^ a b John, Ann; Pirkis, Jane; Gunnell, David; Appleby, Louis; Morrissey, Jacqui (2020-11-12). "Trends in suicide during the covid-19 pandemic". BMJ (dalam bahasa Inggris). 371: m4352. doi:10.1136/bmj.m4352alt=Dapat diakses gratis. ISSN 1756-1833. PMID 33184048 Periksa nilai |pmid= (bantuan). 
  13. ^ "Inter-Agency Standing Committee Guidelines on Mental Health and Psychosocial support" (PDF). MH Innovation. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 31 March 2020. Diakses tanggal 28 March 2020. 
  14. ^ Tyler, Wat (2020-05-08). "The Bottomless Pit: Social Distancing, COVID-19 & The Bubonic Plague". Sandbox Watch (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-05-10. 
  15. ^ "Social Distancing: How To Keep Connected And Upbeat". SuperWellnessBlog (dalam bahasa Inggris). 2020-04-29. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-07-25. Diakses tanggal 2020-07-25.