Jamin Ginting

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Djamin Ginting)
Jamin Ginting
Djamin Ginting.jpg
Informasi pribadi
Lahir(1921-01-12)12 Januari 1921
Suka, Tigapanah, Karo, Sumatra Utara
Meninggal23 Oktober 1974(1974-10-23) (umur 53)
Kanada Ottawa, Kanada
Partai politik  Golkar
Suami/istriLikas Tarigan
Anak
  • Riemenda J. Ginting
  • Riahna J. Ginting
  • Sertamin J. Ginting
  • Serianna J. Ginting
  • Enderia Pengarapen J. Ginting
Orang tuaLantak Ginting Suka (ayah)
Tindang br. Tarigan (ibu)
Penghargaan sipilPahlawan Nasional Indonesia
Karier militer
Pihak
Dinas/cabangInsignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat
Masa dinas1943—1968
PangkatPdu letjendtni komando.png Letnan Jenderal TNI
Pertempuran/perangRevolusi Nasional Indonesia

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Djamin Ginting Suka (terkadang ditulis sebagai Djamin Gintings; EYD: Jamin Gintings; 12 Januari 1921 – 23 Oktober 1974) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Tanah Karo. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.[1]

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Jamin Ginting dilahirkan di desa Suka, kecamatan Tiga Panah, kabupaten Karo. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah, ia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia Jamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Karier Militer[sunting | sunting sumber]

Memimpin pasukan setelah kekalahan Jepang[sunting | sunting sumber]

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Sebagai seorang komandan, Jamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya. Ia bercita cita untuk membangun satuan tentara di Sumatra Utara. Ia menyakinkan anggotanya untuk tidak kembali pulang ke desa masing masing. Ia memohon kesediaan mereka untuk membela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak menguasai daerah Sumatra Utara. Situasi politik ketika itu tidak menentu. Pasukan Belanda dan Inggris masih berkeinginan untuk menguasai daerah Sumatra.

Pionir pejuang[sunting | sunting sumber]

Di kemudian hari, anggota pasukan Jamin Ginting ini muncul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatra bagian Utara. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lainnya adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini. Ketika Jamin Ginting menjadi wakil komandan Kodam II/Bukit Barisan, ia berselisih paham dengan Kolonel Maludin Simbolon, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Kodam II/Bukit Barisan. Jamin Ginting tidak sepaham dengan tindakan Kolonel Maludin Simbolon untuk menuntut keadilan dari pemerintah pusat melalui kekuatan bersenjata. Perselisihan mereka ketika itu sangat dipengaruhi oleh situasi politik dan ekonomi yang melanda Indonesia. Di satu pihak, Maludin Simbolon merasa Sumatra dianaktirikan oleh pemerintah pusat dalam bidang ekonomi. Di lain pihak, Jamin Ginting sebagai seorang tentara tetap setia untuk membela negara Indonesia.

Operasi Bukit Barisan[sunting | sunting sumber]

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatra Utara) maka Panglima TT I, Letkol Inf. Jamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan. Operasi ini dilancarkan pada tanggal 7 April 1958. Dengan dilancarkannya operasi Bukit Barisan II ini, maka pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.[2]

Akhir karier[sunting | sunting sumber]

Di penghujung masa baktinya, Jamin Ginting diutus sebagai seorang Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Di Kanada pulalah, Jamin Ginting menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 23 Oktober 1974. Jenazahnya dibawa pulang ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.

Jabatan yang pernah diduduki[sunting | sunting sumber]

Kehidupan Pribadi[sunting | sunting sumber]

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Jamin Ginting meninggalkan 5 orang anak. Salah satunya adalah Rimenda br. Ginting, yang menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Masyarakat Karo Indonesia.[7]

Karya tulis[sunting | sunting sumber]

Semasa hidupnya, Jamin Ginting menulis beberapa buku. Salah satunya "Bukit Kadir", buku yang mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh dalam melawan Hindia Belanda. Salah seorang anggotanya, Kadir, gugur di sebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Atas jasa besarnya bagi Sumatra Utara, nama Letnan Jenderal Jamin Ginting diabadikan menjadi nama ruas jalan sepanjang 80 kilometer yang membentang dari kota Medan hingga kabupaten Karo.[8] Ruas jalan tersebut diberi nama sebagai Jalan Jamin Ginting oleh Wali Kota Medan, Agus Salim Rangkuti. Pada 28 Juni 2022, Wali Kota Medan, Bobby Nasution, meresmikan patung Letnan Jenderal Jamin Ginting untuk menandai kilometer nol Jalan Jamin Ginting di kota Medan.[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]