La Marseillaise
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
Isidore Pils, Rouget de Lisle, komposer La Marseillaise, menyanyikannya untuk pertama kalinya di rumah Dietrich, Wali kota Strasbourg (Musée historique de Strasbourg, 1849) | |
Lagu kebangsaan | |
| Penulis lirik | Claude Joseph Rouget de Lisle, 1792 |
|---|---|
| Komponis | Claude Joseph Rouget de Lisle, 1792 |
| Penggunaan | 1795 |
| Sampel audio | |
La Marseillaise (instrumental) | |
La Marseillaise ("Lagu Marseille") adalah lagu kebangsaan Prancis. Lagu ini ditulis pada tahun 1792 oleh Claude Joseph Rouget de Lisle di Strasbourg setelah deklarasi perang oleh Republik Prancis Pertama melawan Austria, dan awalnya berjudul Chant de Guerre pour l'Armée du Rhin ("Lagu Perang untuk Tentara Rhein").
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Atas perintah dari Barbaroux, pada tanggal 2 Juli 1792, pasukan dari Marseille berderap menuju kota Paris untuk berperang. Seorang pemuda bernama François Mireur yang sebelumnya telah mengetahui lagu tersebut, menyanyikannya dengan penuh khidmat saat ia bergabung dengan para prajurit dari Marseille. Saat itulah, para prajurit tersebut mendengar dan merasakan semangat nasionalisme yang tinggi dari lagu Le Chant de Guerre pour l’Armée du Rhin. Mereka pun menirukannya bernyanyi sepanjang perjalanan ke kota Paris. Sesampainya di kota tujuan, penduduk Paris pun mendengar lagu yang dikumandangkan. Mereka turut menyanyikan lagu tersebut, dan memberi judul “La Marseillaise”, sesuai dengan tempat para prajurit berasal. La Marseillaise segera menjadi lebih dikenal oleh penduduk Paris, lalu menyebar hampir ke seluruh pelosok daerah Prancis.
La Marseillaise secara resmi dinyanyikan untuk pertama kalinya oleh Rouget de Lisle di Strasbourg, dan diresmikan menjadi lagu kebangsaan Prancis pada tahun 1879. Sejak itu hingga sekarang, rakyat Prancis mengumandangkan lagu La Marseillaise pada momen-momen kenegaraan, misalnya pada tanggal 14 Juli 1900 di L’Opéra Comique. Sebuah pertunjukan yang terinspirasi dari lagu kebangsaan tersebut dipertontonkan untuk merayakan La Fête Nationale. Setelah itu, setiap tahunnya lagu ini dikumandangkan pada tanggal 14 Juli pada acara baik untuk mengingat hari revolusi Prancis maupun untuk kepentingan parade militer.
Pengaruh
[sunting | sunting sumber]Tidak hanya sebagai lagu kebangsaan Prancis, La Marseillaise juga memberikan inspirasi warga untuk menciptakan lagu-lagu perjuangan kebebasan, walaupun hanya sekadar sebagai hiburan, misalnya dalam bentuk parodi dengan berbagai tema; perlawanan terhadap kelaparan, perjuangan untuk mendapatkan minuman keras (misalnya anggur), perjuangan mendapatkan pekerjaan, dan lain-lain. Contohnya lagu yang berjudul « La Marseillaise de la Courtille ». Lirik refrainnya adalah: « À table, citoyens ! Videz tous ces flaçons ! Buvez, mangez, qu’un vin bien pur, humecte vos poumons ». « Ayo ke meja makan, wahai rakyat ! Kosongkan seluruh botol ! Minum, makan, hingga anggur bersih membasahi kerongkonganmu ». Pada intinya, mereka memanfaatkan rima lirik dan irama lagu La Marseillaise yang bertemakan perjuangan dan pemberontakan dan mengubah liriknya dengan lirik yang bertema lain.
Syair
[sunting | sunting sumber]| Bahasa Prancis | Terjemahan |
|---|---|
Allons enfants de la Patrie, |
Ayo, anak-anak tanah air, |
Kemiripan nada dengan lagu patriotik Indonesia
[sunting | sunting sumber]Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. |
Nada dari lirik awal lagu La Marseillaise ini memiliki kemiripan dengan lagu "Dari Sabang sampai Merauke" terutama pada bagian "Allons enfants de la Patrie, Le jour de gloire est arrivé!"
Masyarakat Indonesia banyak yang mengira bahwa La Marseillaise merupakan bentuk plagiat dari lagu Dari Sabang sampai Merauke atau sebaliknya, sehingga nadanya terdengar mirip. Akan tetapi, ini hanyalah sebuah bentuk ketidaksengajaan atau penciptanya yang terinspirasi dari lagu kebangsaan Prancis.
Pada saat lagu kebangsaan Prancis diciptakan negara itu sedang dalam masa kejayaan dengan keberhasilan menguasai Belanda. Pada saat bersamaan, rakyat Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda. Alhasil, konon lagu ini bisa terdengar dan sampai ke Indonesia melalui orang-orang Belanda yang saat itu berada dalam kuasa Prancis. La Marseillase kemudian menjadi inspirasi R Suharjo dalam menciptakan lagu yang awalnya bernama "Dari Barat sampai ke Timur", yang kemudian setelah pembebasan Irian Barat, judulnya diganti menjadi "Dari Sabang sampai Merauke".[1]