Kota Atambua

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Atambua beralih ke halaman ini. Untuk kabupaten dari kota ini, lihat pula Kabupaten Belu.
Disambig gray.svg
Atambua

Lambang Atambua
Simpang Lima Kota Atambua
Simpang Lima Kota Atambua
Lokasi Nusa Tenggara Timur Kota Atambua.png
Peta lokasi Atambua
Koordinat: 09° 6’ LS 124° 54’ BT.[1]
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tanggal Peresmian 16 Oktober 1916 (umur 99)[2]
Pemerintahan
Luas 2.240,05km2
Populasi
 - Total 75,199 jiwa (2014)[3]
 - Kepadatan 1.288
Demografi
 - Bahasa Indonesia
 - Kode area telepon 0389
Pembagian administratif
 - Kecamatan 3
 - Kelurahan 12
Simbol khas daerah
 - Situs web www.atambua-ntt.go.id
Pelabuhan Atapupu dekat Atambua pada masa Hindia Belanda
Gereja Katedral Atambua
Monumen Perbatasan RI-RDTL
Tugu Selamat Datang
Pelabuhan Atapupu dekat Atambua pada 1915

Atambua adalah ibukota Kabupaten Belu di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sebagian besar masyarakatnya berbahasa Tetun dan Dawan L.

Kota yang terletak di daerah Timor Barat ini merupakan salah satu pusat penampungan pengungsi dari Timor Timur pada tahun 1999. Mayoritas penduduk Kota Atambua beragama Katolik, di mana Atambua juga merupakan sebuah Keuskupan. Keuskupan Atambua adalah salah satu keuskupan di Indonesia yang persentasi penganut Katoliknya sangat tinggi yakni 95% dari total jumlah penduduknya. Wilayah Keuskupan Atambua mencakup seluruh wilayah Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Total luas keuskupan ini mencapai 5200 km2[4] dan berpenduduk sekitar 650.000 ribu jiwa pada tahun 2008. Sementara itu Belu, dalam bahasa Tetun berarti sahabat atau teman, melandasi cita-cita masyarakat Belu untuk membangun Rai Belu dengan rasa kebersamaan dan rasa persaudaraan tanpa dibatasi sekat-sekat keanekaragaman yang ada, baik suku, agama maupun yang lainnya. Dengan persatuan dan persaudaraan, cita-cita untuk mewujudkan Belu Sejahtera akan tercapai. Sejak bulan April 2016, kota ini sedang dipersiapkan menjadi Kota Layak Anak.[5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nama "Atambua" berasal dari kata Ata yang artinya hamba dan Buan yang artinya suanggi. Jadi Atambua artinya tempatnya hamba-hamba suanggi yang konon di daerah ini dipergunakan oleh para raja sebagai tempat pembuangan para suanggi yang mengganggu masyarakat. Kemudian dalam perkembangannya kata Atabuan mengalami penyisipan fonem “M” . Hal ini dapat saja terjadi dengan tidak sengaja karena fonem “B” dan “M” masih memiliki titik artikulasi yang sama sehingga mampu mempertahankan kelancaran ucapan.

Masa Pendudukan Belanda[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1866-1911, Atapupu pernah jadi pusat Pemerintahan Hindia Belanda untuk kawasan Kota Atambua dan Kabupaten Belu. Sebelumnya Belanda menjalankan pemerintahan dari Kupang (ibu kota provinsi NTT sekarang). Dan pada tahun 1911-1916 Beredao, yang terletak di tapal batas dengan Timor Portugis (Timor Leste), telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda. Lalu pada tahun 1916-1942, berubahlah Pusat Pemerintahan Belanda dari Atapupu ke Kota Atambua.

Aktivitas Perdagangan Budak di Kota Atambua[sunting | sunting sumber]

Awalnya, perbudakan di Belu hanya terjadi antar golongan yang berkuasa atas individu dan individu yang dikuasai. Penguasaan atas individu bisa terjadi secara sederhana. Misalnya, tidak mampu membayar utang sampai waktu yang ditentukan, atau satu suku merampok suku lain yang lebih lemah dan memperbudak masyarakat yang dirampok. Hal ini dikatakan juga oleh Parera (1994) bahwa pada mulanya budak itu adalah tawanan perang atau yang diculik berdasarkan keadaan permusuhan antar suku. Namun dengan adanya dorongan perdagangan budak dari pihak Belanda dan Portugis pada waktu itu, maka sebagai wilayah taklukan sehingga para golongan bangsawan atau raja-raja di Belu ikut melaksanakan aktivitas perdagangan budak tersebut bahkan melakukan kesepakatan perjanjian (Korte Verklaring). Hal ini dijelaskan oleh Anwar (2004) bahwa Belanda dan Portugis dikenal aktif melaksanakan perdagangan budak yang ramai dari Timor sampai abad 19. Setelah didirikan kota Batavia (1619) oleh kompeni Belanda, karena keadaan genting dan membutuhkan tenaga kerja maka pada abad 17 dalam jumlah kecil di inpor juga budak-budak dari pulau Timor (Poesponegoro dan Notosusanto, 2008). Hal ini dibuktikan dengan catatan dari sumber VOC tahun 1765 menjelaskan bahwa terdapat aktivitas perdagangan budak-budak belian dan perdagangan terbuka yang menjual beli budak diTimor dan menurut Tung Hsi Kau, seorang pedagang Cina tahun 1618 sudah mulai ramai dilakukan komoditas perdagangan di Timor yaitu: Cendana, Lilin, Madu dan Budak. Perdagangan budak oleh Belanda meningkat lagi pada tahun 1621 yang dipicu dengan berdirinya perusahaan perdagangan Belanda di India Barat yaitu West Indische Compagnie (WIC). Pada tahun 1667 setelah Belanda menguasai Makasar, maka aktivitas perdagangan budak ditingkatkan lagi karena kebutuhan tenaga kerja.

Zaman Portugis dan Belanda pulau Timor cukup dikenal sebagai gudang budak-budak. Hal mana oleh Prof P.J.Veth dalam tulisannya “Het Eiland Timor” menyatakan bahwa residen Van Este di Kupang tahun 1789 memiliki ribuan budak - hamba sahaya. Di Pulau Timor, yang pada abad ke-18 telah dikuasai Portugis, terdapat sejumlah pelabuhan dengan komoditas budak. Salah satunya Atapupu. Tidak ada data akurat mengenai jumlah budak dari Atapupu dan destinasi mereka, namun almarhum Rosihan Anwar pernah menemukan keluarga keturunan Nusa Tenggara di Afrika Selatan. Jumlah mereka cukup banyak dan turun-temurun menyatu dengan masyarakat Makassar yang datang bersama Syech Yusuf (Harian Republika, 2003).

Sementara di Belanda, tenaga kerja budak dan usaha perbudakan baru dilarang pada tanggal 1 Juli 1863. Belanda tercatat sebagai salah satu negara Eropa terakhir yang membebaskan para budaknya. Perdagangan budak belian ini sempat menjadi komoditi sampai pada tahun 1892 (pada daerah Jenilu-Atapupu) dan pada akhirnya di awal abad 20-an Pemerintah Belanda mengeluarkan Pax Nederlandica sehingga perdagangan budak dihapus dan diawasi secara ketat.

Lahirnya Nama Kota Atambua dan Atapupu[sunting | sunting sumber]

Perdagangan budak secara historiagrafi di Pulau Timor dan sekitarnya memiliki hubungan yang erat dengan nama kota Atambua dan Atapupu sekarang di Kabupaten Belu. Orang Belu kebanyakan sudah mengenal “budak” dengan sebutan “Ata” atau “klason” (bahasa Tetun) yang merupakan golongan hamba sahaya. Mereka yang masuk dalam golongan ini biasanya merupakan tawanan perang yang dijadikan budak untuk melayani kebutuhan masyarakat golongan dasi/dato atau Na’I (sebutan golongan bangsawan di Belu) bahkan renu (rakyat jelata) lainnya. Hal ini diceritakan dari mulut ke mulut (folklor) bahwa, raja-raja di Belu saat itu setiap melakukan suatu kunjungan maka di dalam rombongan raja selalu disertakan juga hamba sahayanya–budak (Ata) sebagai pembantu atau pelayan. Bahkan para dasi/dato maupun renu ada juga yang membeli para budak untuk dipekerjakan di kebun/ladang dan sebagai gembala ternak. Oleh karena itu, maka di kalangan masyarakat Belu dikenal hamba sahaya/budak belian/perdagangan budak (atan sosa = bahasa Tetun).

Pada masa pemerintahan kerajaan adat Fehalaran, wilayah Atapupu dan Atambua termasuk dalam struktur pemerintahan adat yang dikenal dengan sebutan Dasi Sanuluk, Aluk Sanulu. Peranan Kota Atapupu (Jenilu) sebagai pasar hamba sahaya pada saat itu. Sedangkan Kota Atambua berperanan sebagai tempat penampungan sementara para budak selanjutnya dibawa ke Atapupu. Secara etimologis arti nama Kota Atambua berasal dari kata Ata (hamba sahaya/budak) dan Buan (Suanggi), maka diartikan berasal dari nama sebuah tempat berkumpul orang-orang untuk melakukan aktifitas perdagangan budak atau penampungan para budak. Kemungkinan yang dijadikan budak saat itu adalah orang-orang yang dianggap memiliki ilmu sihir (suanggi), sehingga ditangkap dan dijadikan budak oleh para bangsawan. Selanjutnya menjadi nama “Atambua”, yang berarti “Tempat budak atau hamba dan suanggi”. Masih menurut cerita rakyat bahwa budak-budak yang telah dibeli dibawa ke pantai utara, saat ini dikenal dengan nama pelabuhan Atapupu yang berjarak 34 kilometer dari Kota Atambua. Nama “Atapupu” berasal dari kata “ata” untuk budak dan “pupu” (berkumpul) atau juga berasal dari kata “futu” (diikat), sehingga berarti “tempat budak berkumpul atau budak diikat”, sambil menunggu kapal untuk di bawa keluar Pulau Timor.

Pohon Beringin yang ditanam oleh Ir. Soekarno

Masa Setelah Merdeka[sunting | sunting sumber]

Setelah rakyat Kota Atambua telah menderita, pada tahun 1945 Atambua sudah merdeka dan bebas dari penjajahan bangsa lain, yaitu bangsa Portugis, dan bangsa Belanda. Pada tahun tersebut juga, presiden pertama Indonesia,Ir. Soekarno menanam beberapa pohon di Kota Atambua, tepatnya di Lapangan Umum Kota Atambua (nama tempat tersebut sekarang), dengan harapan supaya dijaga dan dilestarikan hingga sekarang. Namun, seiring perkembangan waktu, beberapa pohon tersebut layu, dan mati. Pada waktu itu, hanya pohon beringin yang ditanam Ir. Soekarnoyang masih tetap hidup. Pemerintah pun terkejut dengan hal tersebut. Sampai sekarang pohon tersebut tetap dijaga dan dilestarikan, dengan membuat tempat-tempat duduk di bawah pohon tersebut. Sekarang, masyarakat kota Atambua pergi ke Lapangan Umum untuk bersantai, membeli sesuatu, dan duduk di bawah pohon tersebut.

Masa Konflik Timor Leste[sunting | sunting sumber]

State Crime Pasca Jajak Pendapat[6][sunting | sunting sumber]

Awal masa Konflik[sunting | sunting sumber]

Konflik Timor Leste pada 1999, sekitar 2 juta gabungan ABRI datang dari seluruh penjuru Indonesia
Banyak TNI dan/atau POLRI meninggal dunia karena perjuangan mendamaikan RI-TL

Pasca jajak pendapat pada tahun 1999, terjadi berbagai peristiwa pelanggaran HAM, kekerasan, penganiayaan dan kerusuhan di Timor Timur. Hal ini merupakan gambaran dari adanya viktimisasi yang dilakukan oleh negara terhadap masyarakat Timor Timur.

Berdasarkan laporan dari Komisi Akhir Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR), ditunjukkan beberapa bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Bentuk pelanggaran hak asasi manusia tersebut adalah pemindahan paksa, kelaparan, pembunuhan tidak sah, penahanan sewenang-wenang, kekerasan seksual, pelanggaran hak anak, pelanggaran hukum perang, serangan terhadap orang dan barang sipil, perlakuan buruk terhadap orang tempur musuh, perusakan dan pencurian bangunan dan barang lain, penggunaan senjata ilegal, serta perekrutan paksa.

Metode militer dan pemerintahan yang digunakan pemerintah Indonesia untuk kekerasan dan penganiayaan di Timor Timur ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan terhadap pemberantasan PKI. Selain itu, penganiayaan yang dilakukan oleh militer atau pihak pemerintah Indonesia bertujuan untuk menjaga kestabilitasan negara.

Penyiksaan yang dilakukan oleh militer dan pemerintahan Indonesia ini merupakan salah satu hal yang digunakan untuk menjaga stabilitas negara. hal ini merupakan salah satu cara pemerintah Indonesia untuk menjaga supaya Timor Timur tidak lepas dari NKRI. Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam instrumental theory bahwa negara akan melakukan tindakan apa saja untuk menjaga supaya kapitalis tidak terkendala. Salah satu kepentingan yang dijaga adalah mengenai kepentingan politik dari negara Indonesia.

Bentuk-bentuk viktimisasi yang paling terlihat dalam kasus kerusuhan Timor Timur ini terlihat pada aksi penganiayaan dan kekerasan yang terjadi terhadap warga sipil. Bentuk-bentuk penganiayaan tersebut misalnya penangkapan paksa, pemerkosaan, hingga pembunuhan tanpa sebab.

CAVR memperkirakan bahwa jumlah terbesar pembunuhan tidak sah dan penghilangan terjadi pada tahun 1999 ketika diyakini sedikitnya 1.400 dan kemungkinan sebanyak 2.600 orang dibunuh secara tidak sah atau hilang. Tahun 1975, tahun perang saudara dan invasi Indonesia, dan tahun 1979, akhir dari serangan besar-besaran yang mengakhiri tahap pertama perlawanan terhadap invasi, pembunuhan juga luar biasa tinggi.

Pasca Pemungutan Suara[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1999 pasukan keamanan Indonesia dan pasukan pembantunya melakukan satu kekerasan terkoordinasi dan berkepanjangan yang dirancang untuk menakut-nakuti gerakan pro-kemerdekaan dan menjamin hasil kemenangan pro-Indonesia dalam Konsultasi Rakyat yang diselenggarakan PBB. Ribuan orang sipil ditahan, ratusan ribu dipindahkan secara paksa, dan sedikitnya 1.400 orang dibunuh atau dihilangkan sepanjang tahun tersebut. Mayoritas pelanggaran mematikan terjadi dalam bulan April, sebelum penandatanganan Kesepakatan 5 Mei, dan dalam bulan September-Oktober, setelah pengumuman hasil pemungutan suara (CAVR, 2007).

Bentuk bentuk kekerasan seksual juga terjadi dalam rentan waktu ini. bentuk-bentuk yang dilakukan adalah seperti pemaksaan perempuan untuk melakukan stripping, pelecehan seksual dan melakukan kekerasan seksual terhadap tahanan.

This misrecognition was combined with popular techniques (such as stripping, sexually abusing, and raphing detainees) that were employed to shame and humiliate victims. Thus, Maria, who had engaged in clandestineactivity, was detained on several occasions. She suffered a variety of tortures including being beaten and burnt and she experienced the miscarriage of her child. Over the course of three months she was placed (along with two other women ) in a toilet-less ‘iron cell’, which was a small, completely dark space surrounded with iron. The three women were stripped naked and continually photographed. These photographs were to be passed and swopped around the Indonesia n military; and much like ‘cigarette cards’, they became tokens of service with in perpetrating units(Stanley, 2009).

Kekerasan seksual ini merupakan salah satu bentuk viktimisasi yang terjadi saat konflik di Timor Timur. Perempuan merupakan korban yang mengalami pelecehan seksual. Dalam gambaran diatas, mereka mengalami pelecehan seksual oleh pihak militer Indonesia. Hal ini merupakan gambaran yang mennujukkan bahwa dalam konflik Timor Timur ini terdapat pelanggaran HAM.

Akibat Era Reformasi[7][sunting | sunting sumber]

Kesuksesan rakyat Indonesia dalam melengserkan tirani Orde Baru pada tahun 1998, telah mengobarkan semangat perlawanan rakyat Timor Timur kepada pemerintah Indonesia. Saat Reformasi mulai berjalan dibawah pemerintahan Presiden B. J. Habibie, Timor Timur kembali bergejolak. Presiden Habibie mengeluarkan opsi otonomi khusus untuk menyelesaikan perlawanan di Timor Timur. Namun perlawanan belum juga dapat diredam, sehingga kebijakan baru telah diambil oleh pemerintah, yaitu dengan diberikannya opsi kedua dengan pertimbangan aspirasi rakyat, yaitu merdeka. Dua opsi yang diberikan pemerintah justru memicu konflik antara pihak pro-otonomi dan pihak pro-kemerdekaan hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Penelitian ini berusaha menjawab tentang: permasalahan Timor Timur yang harus diselesaikan dengan jajak pendapat, proses jajak pendapat dan korban yang jatuh akibat proses jajak pendapat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, meliputi: heuristik yaitu pengumpulan sumber sejarah yang dilakukan di ANRI berupa arsip permohonan pengintegrasian Timor Timur ke wilayah Indonesia serta Keppres tentang penetapan Timor Timur sebagai provinsi ke-27 di Indonesia. Perpustakaan Nasional berupa koran harian Kompas, Republika dan Majalah Tempo tahun 1975 dan 1999. Langkah berikutnya adalah Kritik yaitu tahap menelaah sumber, interpretasi yaitu tahap melakukan analisis terhadap fakta yang ditemukan dari sumber primer dan sekunder dan historiografi yaitu penyajian hasil laporan penelitian dalam bentuk tulisan dengan penulisan sejarah. Hasil penelitian ditemukan bahwa jajak pendapat di Timor Timur harus dilakukan dengan pertimbangan bahwa nasib Timor Timur tidak bisa hanya ditentukan oleh Jakarta, melainkan juga harus ditentukan oleh rakyat Timor Timur. Peristiwa jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999 telah menelan korban baik dari pihak pro-otonomi maupun pihak pro-kemerdekaan. Beberapa dari mereka meninggal, luka-luka atau harus mengungsi. Kejahatan yang terjadi antara lain adalah pembunuhan, penganiayaan, kekerasan pada wanita dan pemindahan anak Timor Timur. Sepanjang jajak pendapat tahun 1999, telah tercatat setidaknya lebih dari 5.297 orang, yang terdiri dari 149 orang tewas, 4 orang luka-luka, 5150 orang mengungsi dan 23 kejahatan terhadap wanita.

Mengenai HUT Kota Atambua[sunting | sunting sumber]

Penentuan Hari Ulang Tahun Kota Atambua[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu menggelar rapat bersama dengan Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat serta Dinas Teknis Pariwisata Belu, tentang penentuan bulan dan tanggal Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Atambua, Sabtu, 8 November 2014, di ruang aula Bupati Belu.[8] Pasalnya, sejak awal terbentuknya Kota Atambua, hingga saat ini belum pernah dilakukan perayaan ulang tahun bagi kota Atambua sendiri. Hadir dalam rapat perdana itu, Penjabat Bupati Belu, Willem Foni, Loro Lamaknen Ignatius Kali, Loro Wesey Wehali Pit Muti Parera, Tokoh Adat Paulinus Asa, Ose Luan, Yos Diaz, Kadis Domi Mali, Kaban BPMD Egi Nurak serta Kabag Umum Roni Mau Luma. Dalam rapat tersebut disepekati bersama, jadwal untuk hut Kota Atambua jatuh pada bulan Agustus dalam setiap tahunnya. Sementara untuk tanggalnya belum bisa ditentukan.[8]

Pelaksanaan Hari Ulang Tahun Kota Atambua ke-99[sunting | sunting sumber]

Rencana pelaksanaan HUT ke-99 Kota Atambua pada tanggal 16 Oktober mendatang telah melalui kajian.[2] Pemerintah Kabupaten telah membuat kajian tentang hari jadi Kota Atambua melalui tim pengkaji yang dibentuk dengan surat keputusan Bupati yang terdiri dari unsur-unsur seperti tokoh adat, tokoh agama, pemerintah dan Komisi A DPRD Belu. “Pemerintah sudah kaji, dan Kota Atambua berusia 99 tahun pada tahun ini,” kata Penjabat Bupati Belu, Wilhelmus Foni, menjawab pemandangan umum Fraksi PAN, DPRD Belu yang meminta dikaji lagi, Selasa kemarin, di ruang sidang utama DPRD Belu.[2]

Tim pengkaji paparnya, menghasilkan sejumlah catatan atas hari jadi Kota Atambua sebagai pusat pelayanan publik, yang dituangkan dalam notulen rapat yang bersifat rekomendasi untuk menjadi bahan pertimbangan.

Kajian berdasarkan sumber-sumber lisan dan saksi sejarah yang masih hidup atas nama Drs. Dominikus Luan mantan Kepala Kantor Penerangan zaman orde baru, dan Pater Puplius, SVD di Belanda.[2]

Rencana kajian bersama DPRD sudah diagendakan dalam masa sidang yang akan datang.

“Hal perayaannya, Pemerintah berencana untuk proses penetapan melalui dua tahap yakni, pertama bersifat promotif di tahun 2015 ketika Kota Atambua berusia 99 tahun terhitung 16 Oktober 1916 dan tahap kedua bersifat perayaan pada tahun 16 Oktober 2016,” ujarnya.

“Pertimbangan kami 99 tahun memiliki angka yang cukup bermakna, dan ini merupakan bentuk persiapan perayaan 1 abad Kota Atambua tahun depan,” pungkas Foni.[2]

Tebe Massal[sunting | sunting sumber]

Tebe Massal di Atambua, 4000+ penari mengikutinya.
Tebe Massal di Atambua, 4000+ penari mengikutinya.

Dalam rangka HUT Kota Atambua yang ke-99, maka Tebe Massal diselenggarakan sebagai pemecah rekor MURI. Aslinya diperlukan hanya 3.000 orang untuk mengikuti acara Tebe Massal tersebut, tetapi target tidaklah selalu sama, ternyata sebanyak 4.601 penari Tebe mengikutinya. Acara Tebe Massal ini pun bukanlah sia-sia. Acara ini juga didukung oleh banyak pihak, di antaranya Pemerintah Kabupaten Belu, RRI Atambua, Bank Indonesia, dan sejumlah pihak lain. Acara Tebe Massal ini diformasikan untuk membentuk angka 99 sebagai usia Kota Atambua, setelah itu, RP dan bentuk hati untuk Gerakan Cinta Rupiah Bank Indonesia.[9][10][11][12][13]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Atambua terletak pada ketinggian 350 m dpl, dengan suhu berkisar antar 27-37 derajat Celsius membuat daerah ini cukup hangat. Sekeliling kota Atambua dipagari oleh perbukitan sehingga kota Atambua cukup terlindungi dari terjangan angin yang keras, namun ini juga menyebabkan tidak banyak dataran yang rata di seputar kota Atambua. Atambua adalah kota yang tidak rawan akan bencana Alam misalnya banjir, tsunami, tanah longsor yang bisa menimbulkan kerusakan yang cukup parah, karena kota ini terletak di antara pegunungan dan memiliki banyak lahan yang masih belum tersentuh (hijau)

Kota Atambua saat ini membentang sejauh kurang lebih 8,5 km dari Utara (Haliwen) ke Selatan (Motabuik) dan sekitar 5 km dari Timur (Fatubenao) ke Barat (Wekatimun). atau kurang lebih seluas 42 Km persegi, namun daerah yang dihuni baru sekitar 2/3 bagiannya atau kurang lebih 30 km persegi karena sebagian lainnya merupakan daerah berbukit atau karena kurangnya akses jalan raya.

Luas Kota Atambua adalah 56.18 km², atau 56.180 Ha, terbagi habis menjadi 3 kecamatan, dan 4 kelurahan. Sedangkan untuk letak astronomis, Kota Atambua terletak pada Koordinat 09° 10’ LS 125° 00’ BT.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Kota Atambua adalah kota yang multi etnis dari suku Timor, Rote, Sabu, Flores, sebagian kecil suku Tionghoa dan pendatang dari Ambon, dan beberapa suku bangsa lainnya. Tetapi terlepas dari keragaman suku bangsa yang ada, penduduk Kota Atambua akan menyebut diri mereka sebagai "Be' orang tardampar" atau "Anak-anak tapaleuk".

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Belu tahun 2014, penduduk Kota Atambua berjumlah 75.199 jiwa yang terdiri dari 37.244 laki-laki dan 37.955 perempuan.[3]

No. Kecamatan Jumlah Penduduk
2013
Jumlah Penduduk
2014
Pertambahan
Penduduk
Persentase
Perubahan
1 Kota Atambua 28.857 28.726 -131 -0.45
2 Atambua Selatan 23.201 23.357 156 0.67
3 Atambua Barat 22.845 23.116 271 1.19
Jumlah 74.903 75.199 296 1.41

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Sampai saat ini, belum ada Walikota karena belum diresmikan sebagai pemekaran dari Kab. Belu.

Daftar Kecamatan[sunting | sunting sumber]

  1. Kota Atambua Barat (4 Kelurahan)
  2. Kota Atambua Tengah (4 Kelurahan)
  3. Kota Atambua Selatan (4 Kelurahan)

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Darat[sunting | sunting sumber]

Dalam Kota[sunting | sunting sumber]

Rangkuman:
Transportasi Dalam Kota adalah sbb.:

  • Mikrolet (bemo)
  • Ojek
  • Bus Angkutan Kota
  • Bus DAMRI / Dinas Pariwisata (untuk kebutuhan khusus)

Dalam kota transportasi dilayani oleh angkutan umum berupa bemo (mikrolet) dengan kapasitas penumpang 10 orang yang melayani empat rute/trayek melalui 2 terminal. Selain itu tersedia transportasi alternatif berupa jasa ojek sepeda motor. Ojek tidak memiliki rute tertentu, sehingga dapat langsung menuju tujuan, dibandingkan bemo. Tetapi, transportasi darat menggunakan bemo lebih murah dibandingkan ojek.

Sejak beberapa minggu yang lalu, bis DAMRI dan bis Angkutan Kota telah melayani kota ini. Meskipun jalur bis-bis tersebut hanyalah melewati jalan raya besar, namun masyarakat tetap menggunakan sarana transportasi tersebut untuk menuju ke tempat tujuan mereka.

Luar Kota[sunting | sunting sumber]

Rangkuman:
Transportasi luar kota adalah sbb.:

  • Bus Provinsi
  • Mikrolet (untuk menuju perdesaan)'
  • Mobil Charter

Untuk transportasi ke luar kota, dari kota Atambua tersedia bus yang biasa disebut bis kupang yang melayani rute ke kota-kota kecamatan dan kota kabupaten lainnya di Pulau Timor Bagian Barat (Kupang, Soe dan Kefamenanu) melalui Jalan Timor Raya. Bus ini adalah bus Sinar Gemilang, Gemilang, Paris Indah, dan beberapa jenis bus lainnya yang dikelola oleh pihak terkait. Jam berangkat bus ini sudah ditentukan oleh pemiliknya. Terdapat 3 waktu yang digunakan, yaitu bis Pagi, bis Siang, dan bis Malam. Untuk bis Pagi, bus akan berangkat dari pangkalannya pukul 07:00 WITA dan tiba di Kupang pada pukul 15:00 WITA. Untuk bis Siang, bus akan berangkat dari pangkalannya pukul 13:00 WITA dan tiba di Kupang pada pukul 20:00 WITA. Sedangkan untuk bis Malam, bus akan berangkat dari pangkalannya pukul 19:00 WITA dan akan tiba di Kupang pada pukul 03:00 WITA (Keesokan Harinya). Dan jika anda tidak mau menaiki bus, terdapat cara lain ke Kupang, yaitu dengan Mobil Charter.

Atambua juga merupakan pintu gerbang utama menuju Timor Leste melalui perbatasan Motaain (sekitar 30 KM atau setengah jam berkendara dari Atambua lewat rute utama, atau sekitar 20 menit berkendara dari rute kedua).
Untuk transportasi ke Timor Leste, terdapat beberapa bus, pada umumnya bus yang melayani rute Atambua - Timor Leste adalah bus Timor Hotel. Diperlukan sekitar 7-9 jam dari Pangkalan (terminal) Umanen (atau disebut juga Terminal Kota ke-2) menuju Kota Dilli, Timor Leste melalui jalur darat.

Udara[sunting | sunting sumber]

Kota ini dilayani oleh sebuah bandar udara, yaitu Bandar Udara A. A. Bere Talo (dulunya Bandar Udara Haliwen, yang terletak di Haliwen, Kota Atambua. Status bandar udara ini adalah Bandar Udara Domestik dengan penerbangan menuju Timor Leste, melalui Kupang Landas pacu bandar udara tersebut adalah 1600 meter dan bisa didarati oleh pesawat-pesawat cukup besar, di antaranya terdapat lima maskapai yang melayani rute penerbangan Kupang-Atambua pulang pergi, masing-masing Susi Air, Lion Air, TransNusa, Wings Air, Batik Air.

Laut[sunting | sunting sumber]

Kota ini juga dilayani oleh 2 pelabuhan laut, yaitu pelabuhan Atapupu dan pelabuhan Tegur (Teluk Gurita).
Pelabuhan Atapupu merupakan pelabuhan kargo, dan minyak, sedangkan Pelabuhan Tegur merupakan pelabuhan ferry yang melayani rute Atambua Alor dan Atambua - Kupang, dan sejumlah tempat lainnya.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kota Atambua memiliki sarana pendidikan milik pemerintah dan yang dikelola oleh swasta untuk pendidikan formal dan informal dari tingkat TK, SD, SLTP dan SLTA serta Perguruan Tinggi.

Taman Kanak-Kanak[sunting | sunting sumber]

Di Kota Atambua, Terdapat 2 TKK Utama, yaitu:

  • TKK Kristen Atambua
  • TKK Kuntum Bahagia

Sekolah Dasar[sunting | sunting sumber]

Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah yang ada di Kota Atambua sebanyak 14 buah.
SD/MI yang utama adalah:

  1. SDK 1 Atambua
  2. SDK 2 Atambua
  3. SDG 3 Atambua
  4. MI Hidayatullah
  5. MI Al-Islamiah

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama[sunting | sunting sumber]

Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama/MTs yang tersebar di Kota Atambua sebanyak 7 buah.
SMP/MTs yang utama adalah:

  1. SMP Negeri 1 Atambua
  2. SMP Negeri 2 Atambua
  3. SMP Negeri 1 Atambua Barat
  4. SMP Katolik St. Don Bosco Atambua

Sekolah Lanjutan Tingkat Atas[sunting | sunting sumber]

Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang ada di Kota Atambua sebanyak 11 buah, yang terdiri dari 10 SLTA dan 1 Sekolah Kejuruan, sedangkan belum terdapat MA di kota ini.
SMA/SMK yang utama adalah:

  1. SMA Negeri 1 Atambua
  2. SMA Negeri 2 Atambua
  3. SMK Negeri 1 Atambua
  4. SMA Katolik Suria Atambua

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Perguruan Tinggi yang ada di Kota Atambua terdiri dari 3 Perguruan Tinggi Negeri yaitu:

  • Universitas Terbuka
  • Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Fajar Timur Atambua[14]
  • Akademi Keperawatan (Akper), Kabupaten Belu[15]

Dan 1 Perguruan Tinggi Swasta, yaitu:

  • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Atambua

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Kota Atambua memiliki sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun yang dikelola oleh swasta.

Rumah Sakit Pemerintah[sunting | sunting sumber]

  • RSUD Atambua
  • RS Tentara Atambua

Rumah Sakit/Klinik Swasta[sunting | sunting sumber]

  • RS Sito Husada

Daftar Puskesmas[sunting | sunting sumber]

Terdapat 1 Puskesmas yang berada di dalam kota ini, yaitu: Puskesmas Kota Atambua, berada di Jalan Adi Sucipto, samping kantor camat Kota Atambua. Puskesmas ini telah membantu masyarakat kota Atambua sejak dioperasikannya.

Pers dan Media[sunting | sunting sumber]

Surat Kabar[sunting | sunting sumber]

Beberapa surat kabar yang diimpor dari Kupang melalui bus seperti Harian Umum Pos Kupang, Timor Express dan victorynewsmedia.

Radio[sunting | sunting sumber]

Radio milik Pemerintah[sunting | sunting sumber]

Stasiun Radio milik pemerintah yang beroperasi di Kota Atambua adalah Radio Republik Indonesia (RRI), yang beralamat di Jalan El Tari. RRI Atambua memancarkan beberapa frekuensi, yakni:

Programa Frekuensi Jarak Jangkauan Slogan
Programa 1 RRI FM 91.5 MHz +-45km Kanal Inspirasi
Programa 2 RRI FM 99.8 MHz +-40km Suara Kreatifitas
Programa 3 RRI FM 99.0 MHz +-45km Jaringan Berita Nasional
Saluran Citra Budaya Timor FM 93.1 MHz +-30km Citra Budaya Timor
Warta Berita[sunting | sunting sumber]
Jenis Warta Berita Waktu Tayang Keterangan
Warta Berita Pagi 06:30 WITA Warta Berita Daerah
Warta Berita Siang 15:00 WITA Warta Berita Daerah
Warta Berita Malam 18:30 WITA Warta Berita Daerah
Flobamora Hari Ini 19:00 WITA Warta Berita Berjaringan
Ragam Acara[sunting | sunting sumber]

Programa 1:

Nama Acara Jam Tayang Keterangan Tim
Fajar Pagi 05:00 - 06:00 WITA Acara Religius Rai Belu Pagi
Inspirasi Hari Ini 06:00 - 07:00 WITA Penyampaian Prakiraan Cuaca, dan Live Report Rai Belu Pagi
Hari Bahagia 07:00 - 08:00 WITA Rai Belu Pagi
Belu Bangkit Maju 08:00 - 09:00 WITA Live Obrolan seputar Kab. Belu Rai Belu Pagi
Flobamora Info 09:00 - 10:00 WITA Macam-macam Informasi seputar wilayah NTT Rai Belu Pagi
Cakrawala Indonesia 11:00 - 12:00 WITA Rai Belu Pagi
KAPI - KAPU 12:00 - 14:00 WITA Kamu Pilih, Kami Putar Rai Belu Siang
Musik Pelepas Lelah 14:00 - 15:00 WITA Ragam Musik Nostalgia, Musik Slow Rai Belu Siang
Isu Hari Ini 15:00 - 16:00 WITA Informasi dan Live Report Rai Belu Siang
Wawasan Perempuan 16:00 - 17:00 WITA Informasi tentang Perempuan Rai Belu Siang
Cinta Tanah Air 17:00 - 18:00 WITA Lagu-Lagu Perjuangan dan Kebangsaan Rai Belu Siang
Lagu-Lagu Daerah 18:00 - 20:00 WITA Lagu-Lagu Daerah Belu Rai Belu Malam
Acara Malam 21:00 - 22:00 WITA Ragam Acara Malam Rai Belu Malam
Simfoni Malam 22:00 - 23:55 WITA Ragam Lagu Nostalgia Rai Belu Malam

Programa 1:

Nama Acara Jam Tayang Keterangan Tim
BERISIK 05:00 - 12:00 WITA Berita, Religi, Informasi dan Musik Kreatifitas Pagi
Siaran bersama[sunting | sunting sumber]

Radio Republik Indonesia (RRI) Kupang dan Atambua selaku penyelenggara akan melaunching Siaran RRI dan RTTL dengan paket siaran "Ita Moris Hamutuk" atau "Kita Hidup Bersama" (dalam Bahasa Tetun) dalam rangka uji coba siaran bersama.[16] Siaran RRI dan Radio Televisi Timor Leste tersebut secara faktual telah dilakukan uji coba melalui siaran Pro 1 RRI Atambua, Pro 1 RRI Kupang dan Radio Televisi Timor Leste oleh Kepala LPP RRI Kupang Enderiman Butar Butar, dan Kepala LPP RRI Atambua Lahar Rudiarso, serta Produser Radio Televisi Timor Leste Nunuk yang dipandu oleh Kepala Seksi Siaran RRI Kupang Aser Rihi Tugu, Kamis (8/01/2015).[16] Uji coba siaran bersama RRI dan Radio Televisi Timor Leste tersebut terpantau berjalan maksimal. Usai melakukan uji coba siaran dimaksud, Kepala LPP RRI Kupang Enderiman Butar Butar mengatakan, siaran bersama tersebut merupakan upaya mendekatkan komunikasi antara warga dua Negara Indonesia dan Timor Leste.[16]

Radio Swasta[sunting | sunting sumber]

Selain itu ada beberapa stasiun radio swasta yang beroperasi di Kota Atambua antara lain:

No. Nama Radio Frekuensi FM Jarak Jangkauan Alamat Stasiun
1 Favorit Radio 98.20 MHz +- 30km Jl. Adam Malik no. 24
2 Radio Dian Mandiri 100.6 MHz +-30km Mangga Dua
3 Misikalfari FM 106.5 MHz +-25km Jl. Mercusuar
4 RSPD Belu 107.3 MHz +-10km Jl. El Tari
Radio dari Timor Leste[sunting | sunting sumber]

Di dalam kota ini, terdapat 1 radio FM, yaitu radio Maubere, meskipun jangkauan siarannya hanya mencapai seputaran wilayah utara kota Atambua (sekitaran Bandar Udara A. A. Bere Talo).[17]

Televisi[sunting | sunting sumber]

TVRI[sunting | sunting sumber]

Di kota ini, TVRI mengudara pada VHF 10 dan VHF 20 setiap hari 24 jam.
VHF 10 adalah TVRI Nasional, sedangkan VHF 20 adalah TVRI Kupang.
Siaran TVRI di Kota Atambua sedang bermasalah, menjadikan Belu TV menjadi satu-satunya siaran Televisi di Atambua.

Belu TV[sunting | sunting sumber]

Di kota ini, Belu TV mengudara pada VHF 37 setiap hari dari pukul 06:00 - 09:00 dan 18:00 - 22:00 WITA, yang mencapai seluruh daerah Kabupaten Belu, dan sebagian Kabupaten Malaka.
Jika Belu TV tidak mengudara, maka akan digantikan oleh siaran TV SCTV.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Penginapan[sunting | sunting sumber]

Perhatian: Nomor telepon memiliki awalan (0389).

No. Nama Hotel
(Diurutkan dari yang paling tua)
Alamat Hotel No. Telp Nama Pimpinan Jenis Bintang
1 Hotel King Star Jalan R. Soeprapto - Yuliana Laka Melati[18]
2 Hotel Nusantara I Jalan Soekarno-Hatta no. 24 21377 Maria Pareira Melati[18]
3 Hotel Nusantara II Jalan I. J. Kasimo 21337 Hendrik Oematan Melati[18]
4 Hotel Permata Jalan El Tari no. 87 21740 A. C. Corputy Melati[18]
5 Hotel Timor Jalan G. A. Siwabesi 23032 Michael Tanjung Melati[18]
6 Hotel Intan Jalan Merdeka no. 12 21343 Y. V. Gunawan Melati[18]
7 Hotel Klaben Jalan Dubesi Nanaet no. 29 21079 Ny. Klau Banusu Melati[18]
8 Hotel Liurai Jalan Gatot Soebroto no. 42 21351 Robert Didoek Melati[18]
9 Hotel Paradiso Jalan Cendana - Ir. Agustinus B. Seran Melati[18]
10 Hotel Merdeka Jalan Merdeka no. 37 21197 Johanes Tan Melati[18]
11 Hotel Minang Jalan Soekarno no. 2 21379 Ny. Animan Melati[18]
12 Hotel Wisata Jalan Merdeka - Joseph Pareira Melati[18]
13 Hotel Matahari Jalan Ade Irma Suryani 2325000 Kristian Japola Melati[18]

Obyek Wisata[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Belu merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste. Letaknya yang strategis ini memberikan peluang dan potensi yang sangat besar untuk pengembangan objek dan daya tarik wisata di Kabupaten Belu berupa Obyek wisata alam dan bahari (Kolam Susuk, pantai Oefuik, pantai Pasir Putih), budaya (tempat upacara, makam, benteng, gua alam, tari tradisional dan lain-lain),alam (Fukan Fehan, dll.), Religius (Gua Maria Lourdes, Gereja tua Nualain, dll), dan wisata Belanja (aneka kerajinan). Pengembangan ini selain untuk wisatawan lokal, diharapkan dapat juga menarik minat wisatawan asing, khususnya pengunjung yang berasal dari negara Timor Leste.[19]

Potensi – potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Belu ini perlu mendapat perhatian yang serius dan terus digali serta dikembangkan agar kedepan sektor pariwisata dapat menunjukkan kontribusi yang nyata pada kontribusi PAD dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pengelola objek-objek wisata Ini disebabkan karena selain pengembangannya yang belum tertata dengan baik, animo masyarakat dalam menjaga, memperkenalkan dan melestarikannyapun belum optimal, selain itu masih banyak potensi wisata lainnya yang belum termanfaat dan terdata dengan akurat sehingga pengelolaannya belum optimal. Untuk itu Pemerintah Daerah bersama-sama masyarakat perlu untuk memfokuskan perhatian pada aspek pariwisata untuk menyikapi tantangan kedepan.[19]

Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Kabupaten Belu ada beberapa tempat-tempat wisata tertentu yang menjadi prioritas unggulan di antaranya:

Wisata Pantai dan Bahari[sunting | sunting sumber]

Pantai Pasir Putih[19]

Suasana ramai pantai Pasir Putih, saat liburan
Suasana Pantai Pasir Putih, dengan pohon-pohon Bakau di latar belakang

Jarak dari Kota Atambua ± 24 km kearah utara, di pantai ini pengunjung dapat berekreasi, mandi, berenang sambil menikmati suasana alam pantai yang tenang dan indah dengan pasirnya yang berwarna putih. Di tempat ini juga telah disediakan rumah payung (lopo), MCK, Fasilitas permainan anak-anak dan pondok-pondok yang dapat digunakan untuk beristirahat bersama keluarga. Selain itu, anda dapat pula menyewa sampan tradisional untuk berkeliling menikmati indahnya pantai pasir putih dan juga bisa menyusuri pantai Sukaerlaran dan Motaain sebagai tapal batas dengan Timor Leste yang merupakan pintu gerbang lintas darat.

Kolam Susuk[19]

Lopo-lopo yang berada di Kolam Susuk
Danau Kolam Susuk

Objek wisata kolam susuk berada di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu atau sekitar 17 KM arah utara dari Kota Atambua, ibukota Kabupaten Belu. Tidak diketahui secara pasti kapan Kolam Susuk ditemukan tetapi keberadaan objek wisata ini sudah ada sejak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk kebutuhan hidupnya dengan menangkap ikan, udang, kepiting, dan lain-lain.

Kolam ini terbentuk secara alami dan memiliki tanah yang berwarna putih. Sehingga kalau terkena sinar matahari airnya memantulkan cahaya yang berwarna putih seperti susu. Ini menjadi alasan mengapa sekarang nama objek wisata ini lebih sering disebut dengan nama kolam susu. Tetapi sebenarnya karena objek wisata ini dikelilingi oleh hutan bakau yang lebat menyebabkan banyak sekali terdapat nyamuk disekitar tempat ini, akhirnya masyarakat setempat kemudian menamai kolam tersebut dengan sebutan Kolam Susuk atau dalam bahasa Indonesia disebut kolam nyamuk. Selain itu hutan bakau ini juga merupakan tempat tinggal bagi ribuan kelelawar, kera jenis lokal , kepiting bakau, dan lain sebagainya.

Pada tahun 1971 group band legendaris Indonesia “Koes Plus” pernah berkunjung ke objek wisata ini ketika melakukan perjalanan darat dari Kupang menuju Dili. Karena keindahan yang alami dan keunikan kolam ini, membuat Yon Koeswoyo salah satu personil utama Group Band Koes Plus ini terkesima. Dia kemudian mengabadikan kolam itu dengan menciptakan sebuah lagu yang sangat legendaris dengan judul “ kolam susu ”. Selain itu sebagai tanda mata bagi masyarakat Kabupaten Belu, grup ini menyumbangkan sebuah sekolah dasar (SD) dan dibangun di tepian kolam tersebut. Sampai sekarang sekolah dasar tersebut masih ada. Pada tahun 2009 kolam susuk juga pernah menjadi lokasi shooting film berjudul Tanah Air Beta yang disutradarai oleh Ari Sihasale dan pada tahun 2012 film berjudul Atambua 39°C yang disutradarai oleh Mira Lesmana.[19]

Melihat potensi yang besar dari objek wisata kolam susuk, maka melalui SK Bupati no. 12 Tahun 2000, Pemerintah Daerah Kabupaten Belu mengukuhkan objek wisata ini sebagai salah satu objek dan daya tarik wisata alam dan bahari di Kabupaten Belu.

Beberapa fasilitas-fasilitas pendukung sebagai berikut :

  • Sarana: Sarana pendukung yang terdapat di objek wisata ini adalah, Transportasi Umum Swasta, Travel Biro, Transportasi Motor Ojek, Telkomsel, Puskesmas, Perusahaan Listrik Negara (PLN) serta sistem pelayanan perbankan yang baik, yaitu Bank NTT Cabang Pembantu Atapupu.
  • Prasarana: Agar pengunjung menjadi nyaman, pihak pengelola telah memperbaiki dan membangun beberapa prasarana pendukung, yaitu fasilitas air bersih, MCK / Toilet, prasarana jalan yang bagus, pondok-pondok istirahat (lopo), rumah-rumah payung, pos penjagaan serta dibangunnya sebuah papan reklame yang sangat besar bertuliskan Kolam Susuk di puncak bukit, dengan posisi menghadap ke arah kolam. Selain itu terdapat juga warung-warung dan kios-kios milik masyarakat setempat disekitar objek wisata ini.[19]

Wisata Kuliner[sunting | sunting sumber]

Kota ini menyimpan berbagai makanan tradisional, khususnya bagi peminat jagung. Di kota ini anda dapat temui puluhan pedagang berjualan Jagung bose atau Jagung bakar di pinggir lapangan umum kota Atambua (Alung-Alung Kota Atambua). Harganya bervariasi, tergantung dengan kualitas yang diminta. Ada yang mau paling lezat, cukup lezat, atau biasa-biasa. Harga penjualan Jagung bose atau Jagung bakar berkisar antara Rp. 2,500,- sampai Rp. 5,000,-.

Wisata Religi[sunting | sunting sumber]

Di Kota ini pula terdapat wisata religi yang berada terpencar. Salah satu wisata religi yang peling terkenal adalah Wisata Religi Gua Maria Toro, berada di Kecamatan Atambua Barat, setiap hari Jumat (dalam Tri Hari Suci Paskah), para Imam-imam, masyarakat beragama Katolik di Kota ini berkunjung ke gua ini untuk kegiatan religi mereka.

Galeri gambar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. (Inggris) Atambua 39 Degrees Celsius: Tokyo Review - Hollywood Reporter
  2. (Indonesia) Kota Atambua - Info Kota Kita
  3. (Inggris) Diocese of Atambua Catholic Hierarchy
  4. (Indonesia) Kantor Imigrasi kelas II Atambua

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  1. Krisis Timor Timur (1999)
  2. Kabupaten Belu
  3. Keuskupan Atambua