Kereta Wisata Monumen Nasional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Berkas:KWMN.jpg
Kereta Wisata Monumen Nasional yang sedang beroperasi.

Kereta Wisata Monumen Nasional diresmikan pada tanggal 09 Maret 2008 oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo untuk membawa pengunjung ke pintu masuk Tugu Monumen Nasional. Kereta ini mengangkut penumpang dari Lapangan IRTI (Silang Monas Barat Daya) sampai ke mulut terowongan masuk area Tugu Monas. Kereta ini tidak berhenti selain di tempat pemberhentian yang sudah disediakan. Kereta ini beroperasi dari pukul 08.15 WIB hingga pukul 17.30 WIB setiap harinya dan penumpang tidak dipungut biaya (gratis).

Gagasan[sunting | sunting sumber]

Gagasan disediakannya kereta wisata ini berdasarkan keinginan pengunjung yang berasal dari luar daerah, usia lanjut dan penyandang catat. Mereka inilah yang mengeluhkan jarak dari tempat parkir ke mulut terowongan masuk area Tugu Monas yang terlalu jauh sekitar 700 meter. Area terbuka pun menyebabkan pengunjung tidak terlindungi dari terik matahari.

Armada[sunting | sunting sumber]

Kereta berjumlah dua unit dengan masing-masing unit terdiri dari tiga gerbong dengan kapasitas penumpang 36 orang. Panjang masing-masing gerbong empat meter, lebar 1,7 meter dan tinggi dua meter dengan bahan bakar solar yang ramah lingkungan.

Desain atap kereta dibentuk dengan ciri khas etnis Betawi. Sementara Kereta Wisata ini mirip dengan bus Transjakarta, berwarna merah kombinasi dengan warna kuning.

Permasalahan[sunting | sunting sumber]

Kurangnya Armada Yang Beroperasi[sunting | sunting sumber]

Armada yang dioperasikan hanya 2 saja. Hal ini menyebabkan penumpang harus menunggu smpai 15 menit. Untuk mengantisipasi jumlah pengunjung dan peminat kereta wisata Monas yang cukup banyak, seharusnya pihak pengelola menambahkan armadanyajshebbxjxx.

Tidak Ada Kanopi (Atap) Pelindung dari sinar matahari[sunting | sunting sumber]

Tidak ada kanopi pelindung atau sejenisnya untuk warga yang mengantre naik kereta wisata ini. Hal ini menyebabkan penumpang tetap harus mengantre sambil berpanas-panasan.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]