Niwatakawaca

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Dalam mitologi Hindu, Niwatakawaca (Dewanagari: निवतकवच,IASTNivatakavaca, निवतकवच) adalah golongan asura (sejenis makhluk supranatural), keturunan Prahlada. Mereka tinggal di dasar samudra. Istilah Niwatakawaca sendiri berarti "baju zirah yang kebal."[1]

Dikisahkan bahwa mereka ahli dalam sihir dan peperangan, memiliki senjata-senjata mematikan, dan bertindak semena-mena, namun juga berjaya dan masyhur. Mereka kerap berseteru dengan para dewa yang dipimpin oleh Indra.

Makhluk ini dibinasakan oleh Arjuna, kesatria dalam wiracarita Mahabharata, atas permintaan Indra.

Dalam budaya Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pewayangan Jawa[sunting | sunting sumber]

Menurut pewayangan Jawa, Niwatakawaca adalah nama seorang tokoh, yaitu raja Negeri Imaimantaka, yang terletak di selatan wilayah Atas Angin. Penduduk di Negeri Imaimantaka adalah bangsa kasatmata sejenis gandarwa. Prabu Niwatakawaca berwatak temperamental, mudah marah dan gampang tersinggung meskipun tidak begitu luas wawasan dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Ia mencita-citakan mempersatukan seluruh dunia wayang, namun dengan menggunakan upaya-upaya penaklukan, ancaman kekuatan dan kekerasan.

Kehancuran Prabu Niwatakawaca terjadi setelah ia sesumbar untuk menaklukkan Negeri Jonggring Saloka, tempat bermukim bangsa dewa, karena merasa tersaingi dengan negeri Amarta yang dipimpin oleh Prabu Yudistira. Niwatakawaca melihat bahwa negeri Amarta yang baru berdiri beberapa tahun sudah mampu mendirikan istana yang begitu megah dan mengundang jamuan makan selama 40 hari bagi semua raja dan punggawa di seluruh dunia wayang.

Rencana penyerangannya diketahui oleh Raden Arjuna. Dengan meminta pertolongan pada Raden Gatotkaca, Arjuna menghadang pasukan gandarwa yang dipimpin oleh Niwatakawaca. Pertempuran berlangsung di langit Saloka hingga ke pelataran padepokan milik Batara Indra. Di situlah Prabu Niwatakawaca menemui ajalnya setelah Arjuna menyarangkan satu anak panah Sarotama ke kerongkongannya.

Kakawin Arjunawiwaha[sunting | sunting sumber]

Dalam kisah Arjunawiwāha, Arjuna mendapatkan sepucuk panah mahasakti bernama Pasupati dari Batara Guru sendiri atas keunggulannya dalam laku tapa di puncak Gunung Indrakila. Namun sebuah tugas berat mesti dipikulnya. Arjuna harus menghancurkan kekuatan Prabu Niwatakawaca yang mengancam dan menyebarkan ketakutan di dunia manusia dan para dewa, dan hanya dapat dihancurkan oleh manusia sakti yang mampu menahan semua nafsu duniawinya.

Dewi Supraba menjadi duta para dewa untuk mendampingi Arjuna ke kerajaan Manimantaka untuk mencari rahasia kematian Prabu Niwatakawaca dengan berpura-pura bersedia menjadi istrinya. Kali ini usaha Dewi Supraba berhasil karena ia berhasil membuat Prabu Niwatakawaca menyebutkan rongga mulutnya sebagai rahasia kematian. Arjuna, yang selama percakapan antara sang bidadari dengan sang asura menyembunyikan diri dengan membuat dirinya tak terlihat, kemudian bertindak mengalihkan perhatian Prabu Niwatakawaca dengan menghancurkan gerbang istana sehingga menimbulkan kegaduhan.

Prabu Niwatakawaca meninggalkan Dewi Supraba dalam kamar seorang diri untuk memeriksa sumber keributan itu. Kesempatan ini digunakan oleh sang bidadari untuk terbang meninggalkan istana menyusul Arjuna. Setelah mengetahui rahasia kematian sang asura, Arjuna memimpin pasukan kahyangan menghancurkan kekuatan Manimantaka dan menewaskan Prabu Niwatakawaca dengan panah sakti Pasopati.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dowson, John (1888). A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion, Geography, History, and Literature (dalam Inggris). London: Trübner. p. 269.