Ulupi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Ulupi
उलूपी
Ilustrasi pertemuan Ulupi dan Arjuna, karya Warwick Goble dalam buku Indian Myth and Legends (1913).
Ilustrasi pertemuan Ulupi dan Arjuna, karya Warwick Goble dalam buku Indian Myth and Legends (1913).
Tokoh Mahabharata
Nama Ulupi
Ejaan Dewanagari उलूपी
Ejaan IAST Ulūpī
Nama lain Uluci, Bujagatmaja, Bujagendrakanyaka, Bujagotama, Korawi, Korawyaduhita, Korawyakulanandini, Panaganandini, Panagasuta, Panagatmaja, Panageswarakanya, Panagi, Uragatmaja[1]
Kitab referensi Mahabharata, Wisnupurana, Bhagawatapurana
Asal sungai Gangga
Kediaman Istana Naga Korawya
Ras naga
Suku naga
Ayah Korawya
Suami Arjuna
Anak Irawan

Ulupi (Dewanagari: उलूपी,IASTUlūpī, उलूपी), dalam wiracarita Mahabharata, merupakan salah satu istri Arjuna dari kaum naga. Ia adalah putri dari Korawya, seorang raja naga. Ia merupakan ibu bagi Irawan, salah satu putra Arjuna. Tidak banyak yang diketahui tentang Ulupi dalam kitab Mahabharata. Ia terutama disebutkan dalam kitab bagian pertama, Adiparwa (bagian tentang pengembaraan Arjuna), lalu Aswamedhikaparwa (bagian tentang pertarungan antara Arjuna melawan Babruwahana—putra kandung Arjuna dengan Citrānggadā). Ia merupakan orang yang menghidupkan Arjuna setelah dibunuh oleh Babruwahana. Setelah menghidupkan Arjuna, Ulupi tinggal bersama keluarga Kuru di Hastinapura. Saat para Pandawa dan Dropadi memutuskan untuk melakukan perjalanan terakhir mereka, Ulupi kembali ke tempat asalnya di sungai Gangga.[2]

Nama dan wujud[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Sanskerta, kata Ulupi secara harfiah berarti "muka yang mempesona". Ulupi juga dikenal dengan sejumlah nama dalam kitab Mahabharata: Bujagatmaja, Bujagendrakanyaka, Bujagotama, Korawi, Korawyaduhita, Korawyakulanandini, Panaganandini, Panagasuta, Panagatmaja, Panageswarakanya, Panagi, dan Uragatmaja.[1]

Ulupi diceritakan berwujud sebagai Nagakanya (putri naga), separuh wanita dan separuh ular.[3] Michael Mott dalam buku Caverns, Cauldrons, and Concealed Creatures menceritakan kembali bahwa Ulupi berwujud separuh reptil (hewan melata); bagian tubuhnya dari pinggang ke bawah berbentuk mirip ular atau buaya.[4][5]

Riwayat[sunting | sunting sumber]

Dalam Mahabharata disebutkan bahwa Ulupi merupakan putri Korawya, keturunan naga yang berwujud separuh manusia separuh ular.[6][7] Ayahnya menguasai kerajaan naga di kedalaman air sungai Gangga.[8] Ulupi merupakan seorang petarung yang cakap.[9]

Pernikahan[sunting | sunting sumber]

Dalam kitab Bhismaparwa disebutkan bahwa Ulupi merupakan seorang janda. Suaminya dibunuh oleh Garuda. Ia bertemu dengan Arjuna saat Arjuna sedang menjelajahi India Timur Laut dalam masa pengasingan selama satu tahun. Ketika itu, Arjuna mandi di sungai Gangga yang dianggap suci, kemudian arus air menyeretnya hingga ke tengah sungai. Di sana, Arjuna bertemu dengan seorang putri naga bernama Ulupi dan menyadari bahwa arus tersebut diciptakan olehnya. Sang putri menyatakan bahwa ia jatuh cinta, lalu mengajak Arjuna bertualang ke dalam air hingga sampai ke istana Naga Korawya. Di sana, Arjuna mendapati adanya api ritual untuk melangsungkan persembahyangan, lalu ia pun melaksanakan upacara kepada Dewa Agni. Sang dewa puas dengan persembahan yang diberikan oleh Arjuna.[10][11][8]

Ulupi membujuk Arjuna agar mau menikahinya. Meskipun Arjuna menyukai Ulupi, namun ia menolak untuk menikah lagi karena sudah menikahi Dropadi. Arjuna menyatakan bahwa ia berjanji untuk tidak berhubungan seksual selama menjalani masa pengasingannya. Tetapi, Ulupi menyatakan bahwa janji itu hanya berlaku bagi Dropadi, bukan untuk wanita lain. Setelah diyakinkan oleh Ulupi, maka Arjuna bersedia menikahinya.[12] Dari pernikahannya dengan Arjuna, Ulupi melahirkan seorang putra yang diberi nama Irawan. Irawan diasuh oleh ibunya di negeri Naga, dan tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan gagah berani seperti ayahnya.

Arjuna tinggal bersama Ulupi dalam waktu yang singkat, setelah itu ia pergi dari istana Korawya. Sebelum pergi, Ulupi memberinya kekuatan agar kebal saat berada di dalam air, dan segala makhluk air akan tunduk kepadanya. Saat kembali ke daratan, Arjuna menceritakan pengalamannya kepada para resi yang tinggal di pinggir sungai.[11][13]

Penyelamat Arjuna[sunting | sunting sumber]

Pertemuan kembali Arjuna dengan Babruwahana, disaksikan oleh Citrānggadā dan Ulupi. Ilustrasi dari Mahabharata Vol. 6, Gorakhpur Geeta Press.

Para Basu mengutuk Arjuna setelah ia mengalahkan Bisma melalui muslihat saat bertarung di Kurukshetra.[14][15] Ketika Ulupi mengetahui perihal kutukan tersebut, ia meminta bantuan ayahnya, Korawya. Ayanya menghadap Dewi Gangga, yaitu ibu Bisma untuk meringankan kutukan tersebut. Gangga bersabda bahwa Arjuna akan dibunuh oleh putranya sendiri yang bernama Babruwahana—putra Arjuna dengan Citrānggadā—namun hidup kembali apabila Ulupi meletakkan mustika di dada Arjuna.[15]

Dengan mengikuti petunjuk ayahnya, Ulupi pun menghasut Babruwahana supaya melawan Arjuna.[15] Ketika Arjuna pergi ke Manipur dengan kuda yang dimaksudkan untuk ritual Aswamedha,[14] Babruwahana pun menantang Arjuna untuk berduel. Keduanya bertarung dengan sengit, namun akhirnya Arjuna kalah setelah tertembak panah dari Babruwahana.[16] Setelah Babruwahana membunuh Arjuna yang tak dikenalinya, Citrānggadā segera berlari menghampiri medan laga dan mencela Ulupi yang telah menghasut Babruwahana agar bertarung melawan Arjuna.[15] Babruwahana memutuskan untuk bunuh diri setelah mengetahui hal yang sebenarnya, namun Ulupi mencegahnya dan memberikan sebuah batu mustika yang berharga. Batu itu digunakan oleh Ulupi untuk menghidupkan Arjuna kembali.[17] Setelah Arjuna hidup, Babruwahana insaf lalu meminta maaf. Arjuna pun mengajak Citrānggadā, Babruwahana, dan Ulupi ke Hastinapura.[15]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Vettam 1975, hlm. 806.
  2. ^ Ganguli, Kisari Mohan (1883–1896). "SECTION 1". The Mahabharata: Book 17: Mahaprasthanika Parva. Internet Sacred Text Archive. Diakses tanggal 3 April 2016. 
  3. ^ Wheeler, James Talboys (1867). The History of India from the Earliest Ages: The Vedic period and the Mahá Bhárata. N. Trübner. hlm. 572. 
  4. ^ Steiger, Brad (2010). Real Monsters, Gruesome Critters, and Beasts from the Darkside. Visible Ink Press. hlm. 150. ISBN 978-1-57859-345-3. 
  5. ^ Mott, Wm Michael (2011). Caverns, Cauldrons, and Concealed Creatures: A Study of Subterranean Mysteries in History, Folklore, and Myth. Grave Distractions Pub. hlm. 98. ISBN 978-0-9829128-7-4. 
  6. ^ Vogel 1926, hlm. 208.
  7. ^ Vettam 1975, hlm. 19.
  8. ^ a b Debroy 2010, sec.Arjuna-vanavasa Parva.
  9. ^ Chandramouli 2012, chpt. Seprent Princess.
  10. ^ Vettam 1975, hlm. 96.
  11. ^ a b Vettam 1975, hlm. 332.
  12. ^ Vettam 1975, hlm. 54.
  13. ^ Thadani 1931, hlmn. 185–186.
  14. ^ a b Ganguli, Kisari Mohan (1883–1896). "SECTION LXXXI". The Mahabharata: Book 14: Anugita Parva. Internet Sacred Text Archive. Diakses tanggal 3 April 2016. 
  15. ^ a b c d e Vettam 1975, hlm. 97.
  16. ^ Ganguli, Kisari Mohan (1883–1896). "SECTION LXXIX". The Mahabharata: Book 14: Anugita Parva. Internet Sacred Text Archive. Diakses tanggal 3 April 2016. 
  17. ^ Ganguli, Kisari Mohan (1883–1896). "SECTION LXXX". The Mahabharata: Book 14: Anugita Parva. Internet Sacred Text Archive. Diakses tanggal 3 April 2016. 

Referensi[sunting | sunting sumber]