Laksmanakumara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Laksmanakumara
लक्षमनकुमार
Ilustrasi kematian Laksmanakumara.
Ilustrasi kematian Laksmanakumara.
Tokoh Mahabharata
Nama Laksmanakumara
Ejaan Dewanagari लक्षमनकुमार
Ejaan IAST Lakṣmanakumāra
Nama lain Raden Lesmana Mandrakumara (versi wayang)
Kitab referensi Mahabharata
Asal Kerajaan Kuru
Kediaman Hastinapura
Kasta kesatria
Dinasti Kuru
Klan Candrawangsa
Ayah Duryodana
Ibu Banowati

Dalam wiracarita Mahabharata, Laksmanakumara (Dewanagari: लक्षमनकुमार,IASTLakṣmanakumāra, लक्षमनकुमार) atau Laksmana (Dewanagari: लक्षमन,IASTLakṣmana, लक्षमन) adalah putra Duryodana dan Banowati.[1] Ia memiliki saudara kembar bernama Laksmana yang menikah dengan Samba, putra Kresna.[2] Tokoh ini tidak banyak disebutkan dalam Mahabharata. Dalam kisah pewayangan Jawa, tokoh ini dikenal sebagai Raden Lesmana Mandrakumara.

Pada saat perang di Kurukshetra antara Pandawa dan Korawa berkecamuk, Laksmanakumara turut membela ayahnya di kubu Korawa. Pada pertempuran di hari ke-13, bersama para perwira Korawa, ia ikut serta mengeroyok Abimanyu yang terperangkap dalam formasi Cakrabyuha. Namun, ia dipenggal oleh Abimanyu, dengan menggunakan senjata Nagasirastra. Kematiannya membuat Duryodana murka. Abimanyu segera dibunuh setelah diserang secara serentak dari berbagai penjuru.[3][4]

Kakawin Bharatayuddha[sunting | sunting sumber]

Dalam Kakawin Bharatayuddha, terdapat satu bait yang menyebut Laksmanakumara. Disebutkan bahwa pada pertempuran di hari ke-13, Abimanyu mengamuk setelah dikepung perwira Korawa dari berbagai penjuru. Ia membantai banyak prajurit dan kesatria pihak Korawa, salah satunya adalah Laksmanakumara. Kematian Laksmanakumara memicu kemarahan Duryodana dan perwira Korawa lainnya, sehingga serangan mereka terhadap Abimanyu semakin garang. Pada akhirnya, Abimanyu gugur di tangan Duryodana.

Teks asli:
Ṇda tan dwālwang i çatru çakti mangaran Krətasuta sawatək Wrəhadbala. Mwang Satyaçrawa çūra mānta kəna tan panguḍili pinanah linañcaran. Lāwan wīra wiçeṣa putra Kurunātha mati malara kokalan panah. Kyāti ng Korawa wangça Lakṣmanakumāra ngaranika kasih Suyodhana.
Ngkā ta krodha sakorawālana manah panahira lawan açwa sarathi. Tan wāktān tang awak tangan suku gigir ḍaḍa wadana linaksha kinrəpan. Mangkin Pārthasutajwalāmurək anyakra makapalaga punggəling laras. Dhīramūk mangusir ỵaçānggətəm atễn pəjaha makiwuling Suyodhana.

Terjemahan:
Dengan ini tak dapat dimungkiri lagi musuh yang sakti mulai berkurang, seperti Kertasuta dan keluarga Wrehadbala. Juga Satyaswara yang berani dan gila bertarung, tertembak sebelum dapat menimbulkan kerusakan sedikit pun karena dihujani panah. Putra Raja Korawa yang berani juga gugur setelah ia tertusuk panah. Putra tersebut sangat terkenal di antara keluarga Korawa, yaitu Laksmanakumara, yang disayangi Duryodana.
Pada waktu itu, seluruh keluarga Korawa menjadi marah, dan dengan tiada hentinya mereka memanahkan senjatanya. Baik kuda maupun kusirnya, badan, tangan, kaki, punggung, dada, dan muka Abimanyu terkena ratusan panah. Dengan ini Abimanyu makin semangat. Ia memegang cakramnya dan dengan panah yang patah ia mengadakan serangan. Dengan ketetapan hati ia mengamuk untuk mencari keharuman nama. Dengan hati yang penuh dendam, ia gugur di tangan Duryodana.

Referensi[sunting | sunting sumber]