Hidimba

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hidimba
हिडिंब
Ilustrasi duel antara Bima melawan Hidimba, disaksikan oleh para Pandawa yang lain.
Ilustrasi duel antara Bima melawan Hidimba, disaksikan oleh para Pandawa yang lain.
Tokoh Mahabharata
NamaHidimba
Ejaan Dewanagariहिडिंब
Ejaan IASTHidiṁba
Nama lainArimba (pewayangan)
Kitab referensiAdiparwa
Kediamanhutan Kamyaka
Rasraksasa

Dalam wiracarita Mahabharata, Hidimba (Dewanagari: हिडिंब,IASTHidiṁba,; dalam pewayangan Jawa disebut Arimba) adalah seorang raksasa pemakan daging manusia dan merupakan makhluk penghuni hutan. Dikisahkan bahwa ia tergoda dengan bau tubuh para Pandawa dan hendak memakan mereka. Kemudian adiknya yang bernama Hidimbi berubah menjadi wanita cantik dan memperingatkan para Pandawa akan ancaman dari Hidimba. Akhirnya, Hidimba bertarung dengan Bima (Pandawa yang terkuat) lalu tewas dalam perkelahian tersebut.

Kisah[sunting | sunting sumber]

Cerita Hidimba tercatat dalam kitab pertama Mahabharata, yaitu Adiparwa, bagian Hidimbawadhaparwa. Kisah ini berlatar belakang kejadian pascakebakaran Laksagreha. Dikisahkan bahwa para Pandawa dan ibu mereka berhasil menyelamatkan diri dari musibah kebakaran. Akhirnya mereka berjalan sampai ke tengah hutan yang bernama Kamyaka. Di sana ada Hidimba, raksasa yang dideskripsikan sebagai makhluk dengan tenaga besar, seorang kanibal berwajah suram, bergigi panjang dan tajam.[1] Tanpa mengetahui keberadaan Hidimba, para Pandawa dan ibu mereka terlelap di hutan tersebut, sementara Bima, Pandawa yang bertenaga paling kuat tidak ikut beristirahat demi melindungi dan mengamankan mereka.

Bau kehadiran manusia di hutan Kamyaka akhirnya terendus oleh Hidimba. Maka ia mengutus adiknya yang bernama Hidimbi (kadangkala disebut Hidimbā) untuk mencari sumber bau tersebut, agar dijagal dan dibawa ke hadapannya. Hidimbi pun mencari sumber bau, lalu menemukan para Pandawa dan ibu mereka sedang terlelap, dan perhatiannya tertuju kepada sosok Bima yang berbadan tegap, sedang menjaga mereka. Hidimbi justru jatuh cinta saat melihat Bima. Dia pun mengubah wujudnya menjadi wanita cantik, dan mengabaikan perintah kakaknya untuk menjagal para Pandawa. Hidimbi memperingatkan Bima akan ancaman dari Hidimba, dan menyarankan agar mereka menyelamatkan diri. Namun Bima bersikeras untuk tetap tinggal di sana karena tidak mau membangunkan saudara-saudara dan ibunya yang sedang beristirahat. Bima pun tidak gentar setelah mendengar peringatan dari Hidimbi.[1]

Hidimba pergi mencari sumber bau manusia yang diendusnya karena Hidimbi tak kunjung datang. Akhirnya ia sampai di tempat para Pandawa beristirahat. Di sana Hidimba merasa berang setelah mengetahui bahwa adiknya lebih memilih untuk memperingatkan para Pandawa daripada menjalankan perintahnya untuk menjagal mereka. Hidimba juga mencela dan menghina adiknya, karena dianggap tidak bersifat sebagaimana kaum raksasa pada umumnya. Ia pun memutuskan untuk membunuh Hidimbi, tetapi Bima turut campur karena merasa bahwa tidak sepantasnya seorang wanita mendapatkan kekerasan. Ia pun menantang Hidimba untuk duel, dan Hidimba menyanggupinya. Duel tersebut menimbulkan suara dan guncangan yang keras, sehingga membangunkan para Pandawa dan ibu mereka. Hidimbi menjelaskan situasi yang sedang terjadi kepada mereka yang kebingungan. Akhirnya setelah pertarungan sengit, Hidimba berhasil dibunuh oleh Bima.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Kisari Mohan Ganguli, "Hidimva-vadha Parva. Section CLIV", The Mahabharata, Book 1: Adi Parva, Sacred-Text.com 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]