Ekalawya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Ekalawya
एकलव्य
Ekalawya mempersembahkan ibu jarinya kepada Drona.
Ekalawya mempersembahkan ibu jarinya kepada Drona.
Tokoh Mahabharata
Nama Ekalawya
Ejaan Dewanagari एकलव्य
Ejaan IAST ékalavya
Kitab referensi Mahabharata
Asal kerajaan Nishada
Golongan suku Nishada
Senjata panah
Ayah Hiranyadanus

Ekalawya (Dewanagari: एकलव्य,IASTékalavya, एकलव्य) adalah seorang pangeran dari kaum Nishada dalam wiracarita Mahabharata. Kaum ini adalah persekutuan dari suku-suku pemburu dan manusia hutan (adivasi). Ia merupakan anak angkat dari Hiranyadanus, pemimpin kaum Nishada, dan merupakan sekutu Jarasanda. Ia memiliki kemampuan yang setara dengan Arjuna dalam ilmu memanah. Bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, ia melamar sebagai murid Drona, tetapi ditolak.

Arti nama[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Sanskerta, kata Ekalavya secara harfiah berarti "ia yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu/mata pelajaran". Sesuai dengan arti namanya, Ekalawya adalah seorang kesatria yang memusatkan perhatiannya kepada ilmu memanah. Dalam pedalangan Jawa, Ekalawya disebut Bambang Ekalaya atau Bambang Ekawaluya, atau dengan sebutan Bambang Palgunadi

Latihan memanah[sunting | sunting sumber]

Dengan Keinginan yang kuat untuk menimba ilmu panah, ia datang ke Hastinapura untuk berguru langsung pada Drona, guru para Pandawa dan Korawa, bangsawan Kuru. Permohonannya ditolak, karena Drona khawatir bahwa kemampuannya bisa menandingi Arjuna, salah satu Pandawa. Di samping itu, Drona berjanji untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya kesatria pemanah paling unggul di dunia. Ini menggambarkan sisi negatif dari Drona, serta menunjukkan sikap pilih kasih Drona kepada murid-muridnya, sebab ia sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.

Penolakan Drona tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan. Ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri. Sebagai motivasi dan inspirasi, ia membuat patung berbentuk Drona dari tanah dan lumpur bekas pijakan Drona, serta memuja patung tersebut seakan-akan itu Drona yang asli. Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalawya menjadi seorang prajurit dengan kecakapan dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna.

Suatu hari, saat ia sedang berlatih di tengah hutan, ia mendengar suara anjing menggonggong ke arahnya. Tanpa melihat sumber suara, Ekalawya melepaskan beberapa anak panah, dan tepat menyumpal mulut anjing tersebut. Anjing tersebut tidak terluka, namun sumpalan anak panak membuatnya tak bisa menggongong. Ia pun meninggalkan Ekalawya. Saat anjing yang tersumpal itu ditemukan oleh para Pandawa dan Drona, mereka kebingungan karena sejauh pengetahuan mereka, tidak ada orang yang mampu melakukan keterampilan memanah seperti itu, selain Arjuna. Kemudian mereka melihat Ekalawya, yang memperkenalkan dirinya sebagai murid dari Guru Drona. Mendengar pengakuan Ekalawya, timbul kegundahan dalam hati Arjuna, bahwa ia tidak lagi menjadi seorang prajurit terbaik di dunia. Perasaan gundah Arjuna juga terbaca oleh Drona, yang juga teringat akan janji untuk menjadikan Arjuna sebagai pemanah terhebat di dunia.

Persembahan sang murid[sunting | sunting sumber]

Persembahan Ekalawya kepada Drona.

Saat bertemu Drona dan Arjuna, Ekalawya dengan sigap menyembah sang guru, namun ia malah mendapat amarah atas sikap yang dianggap tidak bermoral, yaitu lancang mengaku sebagai murid Drona meskipun dahulu sudah pernah ditolak untuk diterima sebagai murid. Dalam kesempatan itu pula Drona meminta Ekalawya untuk mempersembahkan guru dakshina apabila mau diakui sebagai murid. Itu merupakan tradisi pemberian sesuatu, sesuai permintaan guru kepada muridnya, sebagai tanda terima kasih dari seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan.

Ekalawya mengaku bahwa ia tidak memiliki barang berharga apa pun untuk diberikan. Tetapi, Drona meminta supaya ia memotong ibu jari tangan kanannya. Awalnya Ekalawya ragu, namun Drona tetap memintanya secara tegas. Lalu, permohonan Drona pun dilakukan oleh Ekalawya. Ia menyerahkan ibu jari kanannya kepada Drona, meskipun dia tahu akan akibat dari pengorbanannya tersebut, yaitu kehilangan kemampuan dalam ilmu memanah.

Kehidupan selanjutnya[sunting | sunting sumber]

Ekalawya mengabdi pada Jarasanda di Magadha. Ia juga turut membantu ketika Jarasanda mengepung Mathura, kota para Yadawa. Saat Rukmini dilarikan oleh Kresna, Ekalawya juga turut melakukan pengejaran bersama Jarasanda dan Sisupala.

Kematian Ekalawya termuat dalam Srimad Bhagawatam. Setelah tewasnya Jarasanda, Ekalawya bertempur untuk membalas dendam dengan cara mengepung Dwaraka, kediaman Kresna dan Baladewa (Balarama). Ia bertarung melawan pasukan Yadawa, dan akhirnya tewas dalam pertempuran setelah Kresna menghujamkan batu ke arahnya.

Pewayangan Jawa[sunting | sunting sumber]

Dalam pewayangan Jawa, Ekalawya atau Ekalaya atau Ekalya (dalam cerita pedalangan dikenal pula dengan nama "Palgunadi") adalah Raja negara Paranggelung. Ekalaya mempunyai isteri yang sangat cantik dan sangat setia bernama Dewi Anggraini, puteri hapsari (bidadari) Warsiki.

Ekalaya seorang raja kesatria, yang selalu mendalami olah keprajuritan dan menekuni ilmu perang. Ia sangat sakti dan sangat mahir mampergunakan senjata panah. Ia juga mempunyai cincin pusaka bernama Mustika Ampal yang menyatu dengan ibu jari tangan kanannya. Ekalaya berwatak jujur, setia, tekun dan tabah, sangat mencintai istrinya.

Ekalaya adalah seseorang yang gigih dalam menuntut ilmu. Suatu ketika Prabu Ekalaya mendapatkan bisikan ghaib untuk mempelajari ilmu atau ajian Danurwenda yang kebetulan hanya dimiliki oleh Resi Drona. Sedangkan Sang Resi sudah berjanji tidak akan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain melainkan kepada para Pandawa dan Korawa saja. Dengan kegigihannya Prabu Ekalaya belajar sendiri dengan cara membuat patung Sang Resi dan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga berhasil menguasai ajian tersebut.

Istri Prabu Ekalaya sangat cantik jelita sehingga membuat Arjuna berhasrat padanya, Dewi Anggraini mengadukan hal tersebut kepada suaminya sehingga terjadi perselisihan dengan Arjuna. Prabu Ekalaya mempertahankan haknya sehingga bertarung dengan Arjuna yang menyebabkan Arjuna sempat mati yang kemudian dihidupkan kembali oleh Prabu Batara Sri Kresna

Dalam perselisihannya dengan Arjuna, Ekalaya ditipu untuk merelakan ibu jari tangan kanannya dipotong oleh 'patung' Resi Drona, yang mengakibatkan kematiaannya karena cincin Mustika Ampal lepas dari tubuhnya. Menjelang kematiaanya, Ekalaya berjanji akan membalas kematiannya pada Resi Drona.

Dalam perang Bharatayuddha, kutuk dendam Ekalaya menjadi kenyataan. Arwahnya menyatu dalam tubuh Arya Drestadyumena, kesatria Panchala, yang memenggal putus kepala Resi Drona hingga menemui ajalnya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]