Jaratkaru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jaratkaru
जरत्कारु
Ilustrasi Jaratkaru memarahi istrinya, dari buku Mahabharata terbitan Gita Press, Gorakhpur, India.
Ilustrasi Jaratkaru memarahi istrinya, dari buku Mahabharata terbitan Gita Press, Gorakhpur, India.
Tokoh dalam mitologi Hindu
NamaJaratkaru
Ejaan Dewanagariजरत्कारु
Ejaan IASTJaratkāru
Gelarresi
Kitab referensiMahabharata, Purana
Kastabrahmana
KlanYayawara
SaudaraBasuki (ipar)
IstriManasa alias Jaratkaru[1]
AnakAstika

Jaratkaru (Dewanagari: जरत्कारु; ,IASTJaratkāru, जरत्कारु) adalah seorang resi yang dikisahkan dalam mitologi dan sastra Hindu. Ia merupakan suami Manasa yang memiliki nama lain "Jaratkaru"[1] (dewi ular, adik naga Basuki), dan ayah bagi Astika. Ia muncul sebagai tokoh dalam kisah Manasa dan Astika dalam wiracarita Mahabharata.

Dikisahkan bahwa Jaratkaru merupakan seorang resi terpelajar yang melaksanakan pertapaan secara teguh. Meskipun ingin hidup selibat (sukla-brahmacari), ia memutuskan untuk menikah demi mewujudkan harapan leluhurnya, yang terancam akan jatuh ke neraka apabila ia tidak memiliki keturunan. Namun pernikahannya kandas, akibat ikatan emosional yang sulit terjalin antara ia dan istrinya. Pada akhirnya Jaratkaru meninggalkan Manasa setelah ia menghamili wanita tersebut. Manasa pun melahirkan Astika dalam kondisi ditinggalkan suami. Dalam sastra Hindu, tidak banyak yang diketahui tentang Jaratkaru sebelum ia menikahi Manasa, dan setelah ia meninggalkan istrinya.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Kisah Jaratkaru termuat dalam riwayat Astika dan Manasa dalam beberapa sastra Hindu: wiracarita Hindu Mahabharata, kitab Dewibhagawatapurana, dan Brahmawaiwartapurana. Kisah Astika dinarasikan dua kali dalam bab Astikaparwa di buku Adiparwa, yang pertama dari delapan belas jilid Mahabharata.[1] Ia juga merupakan tokoh dalam cerita rakyat yang terkait dengan pemujaan Manasa, dewi ular yang menjadi istrinya.

Dalam wiracarita Hindu Mahabharata dikisahkan bahwa Jaratkaru lahir dalam garis keturunan brahmana klan Yayawara dan merupakan penerus tunggal keluarga tersebut. Secara etimologi, Jara berarti "menghabiskan", dan Karu berarti "luar biasa"; sang resi memiliki badan sangat besar, yang ia ciutkan (habiskan) dengan cara melaksanakan pertapaan. Maka dari itu ia disebut Jaratkaru.[2]

Dalam kitab Adiparwa dikisahkan bahwa Jaratkaru sekuat Prajapati, melaksanakan pertapaan yang hebat dan bersumpah untuk membujang selamanya (Sukla-brahmacari).[3][4] Dalam versi kedua, Jaratkaru disebut sebagai ahli pustaka Weda, menguasai diri, berjiwa luhur, dan praktisi tapa brata.[2]

Bertemu dengan leluhur[sunting | sunting sumber]

Dalam sastra Hindu dikisahkan bahwa Jaratkaru mengembara dan mengunjungi berbagai tempat suci (ziarah) dan petirtaan. Bahkan ia berpantang untuk makan dan tidur, serta hanya mengandalkan udara semata untuk bertahan hidup, hingga akhirnya ia berusia tua. Dalam suatu perjalannya, ia melihat roh para leluhurnya sedang tergantung dengan posisi kepala menghadap bawah, yang terdapat sebuah lubang mengarah ke neraka. Kaki mereka terikat dengan tali dari jalinan rumput narwastu, yang digerogoti oleh tikus. Mereka mencaci maki Jaratkaru yang memutuskan untuk membujang selamanya sehingga mengakhiri garis keturunan klan Yayawara. Mereka membujuknya untuk menikah dan melanjutkan keturunan agar bisa berangkat ke surga. Pada awalnya Jaratkaru menolak untuk mengikuti bujukan leluhurnya, tetapi akhirnya ia menyanggupi dengan syarat sebagai berikut: Ia hanya mau menikah dengan seorang perawan yang bernama sama sepertinya, sebagai suatu persembahan dari keluarga kepada dirinya, kendati keadaan yang miskin. Setelah mengajukan persyaratan, ia pun melanjutkan perjalanannya. Dalam suatu versi Mahabharata dikisahkan ada dua ketentuan tambahan yang diajukan: pertama, wanita yang dipilihnya harus bersedia menikah atas kemauan si wanita sendiri; kedua, si wanita bersedia untuk tidak dinafkahi.[5]

Dalam kondisi tua dan miskin, sang resi berkelana untuk mencari pasangan yang sesuai ketentuannya. Pada suatu ketika, saat berada di dalam hutan, ia berdoa tiga kali untuk memohon pasangan hidup demi menunaikan janjinya kepada leluhur.[4] Dalam versi lain, ia berteriak sekencang-kencangnya akibat frustasi dan sedih atas usahanya yang sia-sia.[4]

Pernikahan[sunting | sunting sumber]

Basuki, yang merupakan raja para naga, menantikan kedatangan Jaratkaru. Seperti yang disarankan oleh Brahma, Basuki telah merencanakan perjodohan untuk adiknya (yang kemudian dikenal sebagai Manasa) kepada Jaratkaru, untuk menangkal kutukan yang diberikan oleh ibu para naga, Kadru. Ia mengutuk bahwa para naga akan terbakar pada upacara yadnya yang dilaksanakan oleh Raja Janamejaya. Brahma meramalkan bahwa putra Jaratkaru dan Manasa akan menghentikan upacara tersebut, sehingga menyelamatkan para naga. Basuki juga memerintahkan para naga untuk mengawasi Jaratkaru dan melapor kepadanya apabila sang resi telah memutuskan untuk menikah.[4][2]

Basuki muncul dan menawarkan adiknya kepada sang resi, yang kemudian setuju setelah Manasa ternyata sesuai dengan kriterianya. Basuki juga berjanji untuk mendukung Manasa. Setelah menikah, Jaratkaru tinggal di kediaman para naga bersama istrinya. Jaratkaru memperingatkan istrinya bahwa ia akan minggat apabila sang istri mengecewakannya, sehingga Manasa melayani suaminya dengan penuh perhatian. Seiring berjalannya waktu, Manasa pun hamil.[1][4]

Kitab Brahmawaiwartapurana mengisahkan Manasa sebagai putri Resi Kasyapa, yang menjodohkannya dengan Jaratkaru. Dalam pernikahan tersebut tidak ada persetubuhan sebab Jaratkaru enggan menyentuh Manasa, serta tidur terpisah di bawah pohon ara.[6]

Meninggalkan istri[sunting | sunting sumber]

Manasa beserta Jaratkaru (kiri) dan putra mereka, Astika (kanan), diapit oleh para Naga. Patung dari Benggala, dibuat pada abad ke-11, zaman kemaharajaan Pala.

Kitab Mahabharata menceritakan bahwa setelah Jaratkaru menghamili Manasa, pada suatu ketika, sang resi tertidur di pangkuan istrinya. Menjelang matahari terbenam (yaitu masa untuk melakukan ibadah sore), Manasa menghadapi dilema. Ia bingung untuk memilih apakah lebih baik membangunkan suaminya, atau membiarkan suaminya tertidur sehingga melewatkan ibadah sore. Akhirnya Manasa memilih pilihan yang pertama. Ia berbisik di telinga suaminya agar terbangun untuk menyalakan api agnihotra (api sarana pemujaan). Tindakan tersebut membuat sang resi marah. Ia berkata bahwa matahari tidak akan berani untuk terbenam sebelum Jaratkaru melaksanakan ibadah. Jaratkaru pun meninggalkan Manasa, meskipun sang istri telah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Ia pun menjelaskan tujuan pernikahan mereka, yaitu kelahiran seorang putra yang diramalkan sebagai penyelamat kaum naga, dan memohon agar Jaratkaru bersedia untuk tinggal sampai ramalan terpenuhi. Sang resi berkata bahwa benih dirinya telah berada di rahim Manasa, dan kelak ia akan melahirkan seorang putra yang cerdas. Kemudian Jaratkaru pergi untuk melakukan pertapaan, dan tidak pernah kembali lagi.[1][5]

Menurut versi kitab Brahmawaiwartapurana, Jaratkaru bangun kesiangan sehingga ia melewatkan ibadah pagi. Sang resi murka lalu mengancam untuk mengusir Manasa ke neraka karena dianggap sebagai istri yang lalai. Dewa Surya pun menenangkan sang resi, memujinya sebagai resi agung, tetapi Jaratkaru tetap pada pendiriannya untuk mengusir Manasa. Dewa Brahma menengahi dan berkata bahwa tidaklah bijak untuk meninggalkan Manasa, kecuali Jaratkaru sudah memberinya keturunan. Akhirnya Jaratkaru menyentuh perut Manasa, dan membuatnya hamil. Kemudian ia pergi, setelah meramalkan bahwa kelak Manasa akan melahirkan seorang anak yang bakal menjadi resi terkemuka.[6]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 348–9. ISBN 0-8426-0822-2. 
  2. ^ a b c van Buitenen pp. 95–97
  3. ^ Kisari Mohan Ganguli. "SECTION XIII". The Mahabharata, Book 1: Adi Parva. Sacred-texts.com. 
  4. ^ a b c d e van Buitenen pp. 69–71
  5. ^ a b van Buitenen pp. 103–108
  6. ^ a b McDaniel pp. 153–4

Referensi[sunting | sunting sumber]