M.T. Haryono
Letnan Jenderal (Anm.) Mas Tirtodarmo Haryono | |
|---|---|
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 20 Januari 1924 Surabaya, Hindia Belanda |
| Meninggal | 1 Oktober 1965 (umur 41) Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia |
| Makam | Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata 6°15′26″S 106°50′46″E / 6.25722°S 106.84611°E |
| Suami/istri | R.A. Mariatne Martokoesoemo
(m. 1950) |
| Anak | 5 |
| Penghargaan sipil | Pahlawan Nasional Indonesia |
| Karier militer | |
| Pihak | Indonesia |
| Masa dinas | 1945–1965 |
| Pangkat | |
| Pertempuran/perang | |
Mas Tirtodarmo Haryono (20 Januari 1924 – 1 Oktober 1965) adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh pada peristiwa G30S. Ia dimakamkan di TMP Kalibata - Jakarta.
Jenderal bintang tiga kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Daigakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, tetapi tidak sampai tamat.
Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.
Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.
Masa Muda
[sunting | sunting sumber]Gresik adalah kota pelabuhan yang tua dan bandar yang ramai pada zaman kuno. Pernah Gresik menjadi pusat agama Islam yang termashur di Indonesia ketika Waliullah Sunan Giri bersemayam di situ. Sampai sekarang keturunan Sunan Giri memakai gelar Mas di muka namanya. Pada tahun 1924 yang menjadi asisten wedana ( sekarang disebut camat ) di Kalitengah, Gresik, ialah Mas Harsono Tirtodarmo. Pada bulan Januari tahun itu ia dinaikkan pangkatnya menjadi jaksa di Sidoarjo. Karena itu ia berangkat pindah ke Sidoarjo meskipun isterinya ( Ibu Patimah ) sudah mengandung tua. Namun, dalam perjalanan ke Sidoarjo itu ibu Patimah merasa akan melahirkan kandungannya. Perjalanan ke Sidoarjo tidak diteruskan dan mereka menuju ke rumah M.Harsono Tirtodarmo di Nieuw Holland Straat (sekarang Jalan Gatotan) di Surabaya. Di situ, pada tanggal 20 Januari 1924, ibu Patimah melahirkan puteranya yang ketiga yang diberi nama Haryono, lengkapnya M.T.Haryono.
M.T. Haryono dilahirkan sebagai putra seorang Binnenlands Bestuur, "pemerintahan dalam negeri", disingkat "BB", salah satu bentuk birokrasi pemerintahan pada masa Hindia Belanda yang terdiri atas orang-orang Eropa. Kalangan BB pada waktu itu mempunyai kedudukan yang istimewa di antara pegawai-pegawai Belanda lainnya. Hanya BB lah yang di samping kedudukan istimewanya biasanya juga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai di Perguruan Tinggi. Karena nasionalisme itu boleh dikata timbul dan berkembang di antara orang-orang terpelajar, maka tidaklah mengherankan kalau putra-putra orang-orang BB ini tidak sedikit yang menjadi penggerak dan pemimpin nasionalisme, misalnya R.A. Kartini, Dewi Sartika, dr. Sutomo. Mr. Sartono, dan lain lain. Demikian halnya kelak dengan M.T. Haryono.
Pada masa kecilnya M.T. Haryono hidup sebagai putra seorang jaksa di Sidoarjo. Ketika umur empat tahun ayahnya diangkat menjadi wedana di Kertosono dan mereka pindah ke kota itu. Di sinilah ia ketika umur enam tahun masuk sekolah di HIS 6 (Hollandsch-Inlandsche School = Sekolah Dasar) ia suka berteman dan bermain-main dengan anak-anak lainnya dan selalu menjadi pemimpin mereka. Karena wataknya yang keras ia sebagai pemimpin dijuluki "Si Kepala Macan". Namun, walaupun demikian ia pada hakikatnya seorang pendiam dan bertindak hati-hati dalam segala hal. Ia belajar di HIS sampai kelas tiga dan kemudian, atas tanggungan seorang Belanda guru ELS (Europeesche Lagere School: Sekolah Dasar Belanda) dan teman ayahnya, ia pindah ke kelas empat ELS di kota itu sampai tamat pada tahun 1937.
Tamat dari ELS, M.T. Haryono meneruskan sekolahnya di HBS (Hogere Burgerschool: semacam SMP ditambah SMA yang disatukan dan hanya lima tahun, biasanya hanya untuk orang Belanda) di Bandung. Selama lima tahun ia harus berpisah dari orang tuanya dan menumpang pada orang lain di kota Bandung.
Sebagai pemuda pelajar ia suka berolahraga. Ia suka atletik, tenis dan baseball. Hanya dalam masa libur ia pulang ke orang tuanya yang sejak tahun 1939 telah dipindahkan menjadi wedana di Gorang-Gareng, Mangetan, Madiun. M.T. Haryono menyelesaikan studinya di HBS tepat dalam waktu lima tahun. Ia tamat dari HBS pada tahun l942 ketika Jepang masuk merebut dan menduduki Indonesia (Maret l942).
Ketika GHS (Geneeskundige Hogeschool: Perguruan Tinggi Kedokteran) di Jakarta dibuka kembali oleh Jepang sebagai Ika Dai Gakko, maka M.T. Haryono masuk Perguruan Tinggi Kedokteran tersebut untuk meneruskan studinya. Ia memang ingin menjadi seorang dokter. Baru tiga tahun lamanya M.T. Haryono belajar di lka Dai Gakko ketika tiba-tiba Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. M.T. Haryono sebagai pemuda mahasiswa Ika Dai Gakko tidak mau ketinggalan. Segera menceburkan diri dalam kancah perjuangan militer.
Hidup Kekeluargaan
[sunting | sunting sumber]Mayor M.T. Haryono pada masa perjuangan bersenjata belum sempat memikirkan kehidupan perkawinan. Setelah situasi relatif stabil, ia berkeinginan membangun kehidupan keluarga sebagaimana yang diidamkannya. Ia kemudian menjatuhkan pilihannya kepada Mariatne Martokoesoemo, putri dari Besar Martokoesoemo, seorang advokat pribumi pertama yang mendirikan kantor hukum di Indonesia. Besar Martokoesoemo juga pernah menjabat sebagai Wali Kota Tegal, Bupati Tegal, dan Wakil Residen Pekalongan. Pertunangan keduanya direncanakan berlangsung pada 2 Juli 1950.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Pemerintah Republik Indonesia membutuhkan seorang atase militer untuk ditempatkan di Belanda. Pilihan tersebut jatuh kepada Mayor M.T. Haryono, mengingat latar belakang pendidikannya, penguasaannya atas bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman, serta pengalamannya dalam berbagai perundingan dengan pihak Belanda, termasuk Konferensi Meja Bundar yang baru saja berlangsung. Pada Juli 1950, ia diangkat sebagai Atase Militer dan diwajibkan segera menempati posnya di Den Haag pada akhir bulan tersebut. Karena keberangkatan yang mendadak, rencana pertunangan pada 2 Juli 1950 diubah menjadi upacara pernikahan. Pasangan tersebut kemudian berangkat ke Belanda pada 24 Juli 1950. Sebagai pasangan pengantin baru, mereka untuk sementara waktu tinggal di gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, ibu kota Belanda.
Dalam kehidupan pribadinya, M.T. Haryono dikenal memiliki watak sederhana dan berhati-hati. Pola pikirnya yang praktis membuatnya tidak terpengaruh oleh gaya hidup mewah yang pada masa itu berkembang di kalangan masyarakat yang dianggap sebagai “kelas atas”. Keluarganya menjalani kehidupan sederhana, baik selama berada di luar negeri maupun setelah kembali ke Indonesia pada 1954. Rumah tinggalnya di Jalan Prambanan Nomor 8, Jakarta, mencerminkan kesederhanaan dan sikap hidup yang bertanggung jawab.
Di lingkungan rumah, M.T. Haryono memiliki kegemaran menanam dan merawat anggrek. Di sekitar rumahnya terdapat deretan pot berisi berbagai jenis dan warna anggrek. Kegiatan tersebut mencerminkan ketekunan, kesabaran, serta perhatian yang tinggi terhadap perawatan tanaman.
M.T. Haryono dikenal sebagai pribadi yang pendiam, namun ia menaruh perhatian besar terhadap pendidikan dan keselamatan anak-anaknya. Ia memiliki lima orang anak. Dua anak tertua lahir di Den Haag saat ia menjabat sebagai Atase Militer di Belanda, yaitu Bob Haryanto dan Haryanti Mirya. Tiga anak lainnya, yakni Rianto Nurhadi, Adri Prambanto, dan Endah Marina, lahir setelah keluarga tersebut kembali ke Indonesia. Demi menjaga keselamatan keluarga, khususnya anak-anaknya, M.T. Haryono tidak pernah membawa senjata dinas ke rumah. Sikap kehati-hatian ini menjadi bagian dari prinsip hidupnya sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab.
Kematian
[sunting | sunting sumber]
Pada dini hari 1 Oktober 1965, sejumlah anggota Pasukan Tjakrabirawa yang menamakan diri sebagai Gerakan 30 September mendatangi kediaman R. Suprapto Haryono di Jalan Prambanan Nomor 8, Jakarta. Istri Haryono terbangun oleh kedatangan sekelompok orang yang menyatakan bahwa suaminya dipanggil oleh Presiden Soekarno. Setelah kembali ke kamar tidur dan mengunci pintu, ia menyampaikan hal tersebut kepada Haryono serta menyarankan agar ia tidak memenuhi panggilan tersebut dan meminta para prajurit untuk kembali pada pukul 08.00.
Haryono merasa curiga terhadap kedatangan mereka. Ia mematikan lampu dan meminta istrinya beserta anak-anak untuk berpindah ke kamar sebelah. Tidak lama kemudian, pasukan Tjakrabirawa melepaskan tembakan menembus pintu kamar tidur yang terkunci. Haryono menjatuhkan diri ke lantai dan bersembunyi sambil menunggu penyerang pertama yang memasuki kamar dengan membawa kertas yang dibakar sebagai penerangan. Ia berusaha merebut senjata salah seorang prajurit, namun upaya tersebut gagal. Dalam keadaan kacau, Haryono berlari keluar rumah dan ditembak hingga tewas. Jenazahnya kemudian diseret melalui kebun dan dimasukkan ke dalam sebuah truk.
Jenazah Haryono dibawa ke Lubang Buaya, sebuah lokasi di wilayah selatan Jakarta yang digunakan oleh Gerakan 30 September. Di tempat tersebut, jenazahnya disembunyikan di sebuah sumur bekas bersama dengan jenazah para perwira TNI Angkatan Darat lainnya yang juga menjadi korban.
Seluruh jenazah ditemukan pada 4 Oktober 1965 dan para korban kemudian diberikan pemakaman kenegaraan. Haryono dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965. Pada hari yang sama, berdasarkan keputusan Presiden Soekarno, ia secara anumerta dinaikkan pangkatnya dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.
Tanda Jasa
[sunting | sunting sumber]| Baris ke-1 | Bintang Republik Indonesia Adipradana (10 November 1965)[1] | Bintang Gerilya | |
|---|---|---|---|
| Baris ke-2 | Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia | Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun | Satyalancana Perang Kemerdekaan I |
| Baris ke-3 | Satyalancana Perang Kemerdekaan II | Satyalancana G.O.M I | Satyalancana Satya Dharma |
Gelar Pahlawan
[sunting | sunting sumber]
Ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dengan SK Presiden/Pangti ABRI/KOTI No. lll/KOTI/1965. Ditetapkan menjadi Letnan Jenderal TNI Anumerta dengan SK Presiden/Pangti ABRI/KOTI No. I IO/KOTI/1965.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Fasih Tiga Bahasa Internasional Diarsipkan 2007-02-13 di Wayback Machine.
- Brackman, Arnold C., Indonesian Communism, a history, New York, 1963
- Brackman, Arnold C., The Communist Collapse in Indonesia, New York, 1969.
- Carlily, Thomas, On heroes. Hero-worship and the Heroes in History, London, 1940.
- Departemen Sosial RI, Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan, Jakarta,1972.
- Departemen Sosial RI, Pahlawan Pergerakan Nasional, Jakarta,1972.
- Departemen Sosial RI, Pahlawan Pembela Kemerdekaan, Jakarta,1972.
- Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Di Yogyakarta, Buku Sejarah Pahlawan Kemerdekaan dan Revolusi Yogyakarta.
- Emmerson, Donald K., Indonesia's Elite, Political Culture and Cultural Polities, New York, 1976.
- Hughes, John, Indonesian Upheavel, New York, 1967.
- Kent, Sherman, Writing History, New York, 1941.
- Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia, Jakarta, 1978
- Perron, E.du, Indies Memorandum, Amsterdam, 1946
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia 1959 - sekarang (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-07-29. Diakses tanggal 4 Oktober 2021.
- Koordinat tidak tersedia di Wikidata
- Kelahiran 1924
- Kematian 1965
- Meninggal usia 41
- Pahlawan nasional Indonesia
- Tokoh yang dibunuh di Indonesia
- Pejuang kemerdekaan Indonesia
- Tokoh militer Indonesia
- Tokoh TNI
- Tokoh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
- Tokoh Jawa
- Tokoh dari Surabaya
- Tokoh Angkatan 45
- Penerima Bintang Republik Indonesia Adipradana
- Penerima Bintang Gerilya

