Serangga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Insecta)
Serangga
Periode Awal Devon[1] – sekarang 396–0 jtyl
Insecta Edit the value on Wikidata
Insect collage.png
Searah jarum jam dari kiri atas: Empis livida, Rhinotia hemistictus, anjing tanah (Gryllotalpa brachyptera), Vespula germanica, Opodiphthera eucalypti, Harpactorinae
Data
Sumber dariedible insect (en) Terjemahkan Edit the value on Wikidata
Taksonomi
SuperkerajaanEukaryota
KerajaanAnimalia
FilumArthropoda
UpafilumHexapoda
KelasInsecta Edit the value on Wikidata
Linnaeus, 1758
Subkelas
Archaeognatha

†Coxoplectoptera

Dicondylia

Serangga yang membentuk kelas Insekta (berasal dari bahasa Latin: insectum, sebuah kata serapan dari bahasa Yunani ἔντομον [éntomon], yang artinya "terpotong menjadi beberapa bagian") adalah invertebrata dalam filum Artropoda dan subfilum Heksapoda yang memiliki eksoskeleton berkitin. Bagian tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Serangga juga memiliki mata majemuk, tiga pasang kaki yang terhubung ke toraks, dan sepasang antena.

Serangga termasuk salah satu kelompok hewan yang paling beragam, mencakup lebih dari 1.000.000 spesies dan menggambarkan lebih dari setengah organisme hidup yang telah diketahui.[2][3] Jumlah spesies yang masih ada diperkirakan antara 6.000.000–10.000.000[2][4][5] dan berpotensi mewakili lebih dari 90% bentuk kehidupan hewan yang berbeda-beda di bumi.[6] Serangga dapat ditemukan di hampir semua lingkungan, meskipun hanya sejumlah kecil yang hidup di lautan, suatu habitat yang didominasi oleh kelompok artropoda lain, krustasea.

Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi.[7] Kelas Insekta dibagi lagi menjadi 29 ordo, antara lain Coleoptera (kumbang), Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat), Diptera (lalat) dan Hymenoptera (misalnya semut, lebah, dan tawon).[8] Kelompok Apterigota terdiri dari 4 ordo karena semua serangga dewasanya tidak memiliki sayap, dan 25 ordo lainnya termasuk dalam kelompok Pterigota karena memiliki sayap.[8]

Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi.[7] Ukuran serangga relatif kecil dan pertama kali sukses mengelilingi dunia.[7]

Struktur peredaran darah serangga adalah sistem peredaran darah terbuka. Dan semua serangga bertelur (ovipar).

Habitat[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar serangga adalah hewan terestrial yang hidup di darat, tetapi terdapat juga jenis serangga akuatik yang hidup di air, misalnya: anggang-anggang dan kumbang air (Noteridae). Beberapa serangga seperti capung dan nyamuk adalah semiakuatik karena hanya kehidupan fase larvanya adalah di air.[butuh rujukan]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

  • Keanekaragaman hayati serangga telah terdapat pada periode Karbon (sekitar 300 juta tahun yang lalu).[7]
  • Pada periode Perem (270 juta tahun yang lalu) beberapa kelompok serangga telah menyerupai bentuk yang dijumpai sekarang.[7]
  • Banyak fosil serangga yang ditemukan berumur puluhan juta tahun yang lalu tidak beda jauh dengan serangga saat ini, misalnya fosil wereng berumur 25 juta tahun yang ditemukan di Dominika yang terperangkap pada getah pinus, dan masih banyak lagi fosil-fosil serangga yang ditemukan yang berumur puluhan juta tahun.
  • Sayap serangga mungkin pada awalnya berevolusi sebagai perluasan kutikula yang membantu tubuh serangga itu menyerap panas, kemudian baru menjadi organ untuk terbang.[7] Pandangan lain menyarankan bahwa sayap memungkinkan hewan itu meluncur dari vegetasi ke tanah, atau bahkan berfungsi sebagai insang dalam serangga akuatik.[7] Hipotesis lain menyatakan bahwa sayap serangga berfungsi untuk berenang sebelum mereka berfungsi untuk terbang.[7]

Kemampuan[sunting | sunting sumber]

  • Salah satu alasan mengapa serangga memiliki keanekaragaman dan kelimpahan yang tinggi adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi, serangga bereproduksi dalam jumlah yang sangat besar, dan pada beberapa spesies bahkan mampu menghasilkan beberapa generasi dalam satu tahun.[7]
  • Kemampuan serangga lainnya yang dipercaya telah mampu menjaga eksistensi serangga hingga kini adalah kemampuan terbangnya.[7] Hewan yang dapat terbang dapat menghindari banyak predator, menemukan makanan dan pasangan kawin, dan menyebar ke habitat baru jauh lebih cepat dibandingkan dengan hewan yang harus merangkak di atas permukaan tanah.[7]
  • Umumnya serangga mengalami metamorfosis sempurna, yaitu siklus hidup dengan beberapa tahapan yang berbeda: telur, larva, pupa, dan imago.[8] Beberapa ordo yang mengalami metamorfosis sempurna adalah Lepidoptera, Diptera, Coleoptera, dan Hymenoptera.[8] Metamorfosis tidak sempurna merupakan siklus hidup dengan tahapan: telur, nimfa, dan imago.[8] Peristiwa larva meninggalkan telur disebut dengan eclosion.[butuh rujukan] Setelah eclosion, serangga yang baru ini dapat serupa atau berbeda sama sekali dengan induknya.[8] Tahapan belum dewasa ini biasanya mempunyai ciri perilaku makan yang banyak.[8]

Pertumbuhan tubuh dikendalikan dengan menggunakan acuan pertambahan berat badan, biasanya dalam bentuk tangga di mana pada setiap tangga digambarkan oleh lepasnya rangka luar lama (exuviae), di mana proses ini disebut ekdisis atau ganti kulit.[8] Karena itu pada setiap tahapan, serangga tumbuh sampai di mana pembungkus luar menjadi terbatas, setelah ditinggalkan lagi dan seterusnya sampai sempurna.[9]

Ragam[sunting | sunting sumber]

Lebih dari 1.000.000 spesies serangga telah ditemukan. Ordo serangga yang memiliki lebih dari 100.000 spesies adalah Coleoptera (386.500), Lepidoptera (157.300), Diptera (155.500), Hymenoptera (116.900) dan Hemiptera (103.600).[10]

  • Kumbang yang membentuk ordo Coleoptera merupakan makhluk hidup yang paling beranekaragam di dunia. Kumbang memiliki sayap depan keras (disebut elytra) yang melindungi sayap belakangnya. Kebanyakan kumbang termasuk subfamili Polyphaga.
  • Belalang, jangkrik dan belalang juta, dari ordo Orthoptera, boleh mengerik dengan menggosok bagian tubuh tertentu, misalnya dengan sayap atau kaki. Ciri khas yang dapat dijumpai yaitu sayap depan lebih keras dari sayap belakang.[11]
  • Kecoak dan rayap, dari ordo Blattodea, memiliki tipe mulut pengunyah, tubuh lebar dan rata, dan sepasang antena panjang yang lentur. Dulu kecoak dan rayap dianggap berasal dari ordo yang beda (Isoptera), tetapi penelitian oleh para taksonom pada tahun 2007 menyimpulkan bahwa secara filogenetika, rayap sebenarnya adalah kecoak.[12][13]
  • Capung dan capung jarum, dari ordo Odonata, memiliki tipe mulut pengunyah. Umumnya Ordo ini termasuk karnivora yang memakan serangga kecil dan sebagian bersifat kanibal atau suka memakan sejenis. Habitatnya adalah di dekat perairan. Biasanya ditemukan di sekitar air terjun, di sekitar danau, dan pada daerah bebatuan.[9]
  • Lalat batu yang membentuk ordo Plecoptera merupakan serangga akuatik pada stadium nimfa dan hidup di dalam air tawar. Setiap spesies dari Plecoptera tidak bisa tahan hidup di dalam air yang tercemar, jadi lalat batu dapat berfungsi sebagai bioindikator untuk kualitas air.[14]
  • Lalat capung yang membentuk ordo Ephemeroptera merupakan serangga terbang tertua yang sudah ada sejak zaman karbon akhir.[15]
  • Belalang sentadu yang membentuk ordo Mantodea memiliki kepala bersegitiga dan kaki depan berduri tajam yang besar untuk memangsa serangga atau hewan kecil lain.[16]
  • Pinjal, yaitu ordo Siphonaptera, termasuk 2.500 spesies dan merupakan parasit peminum darah pada mamalia dan burung.
  • Cocopet dari ordo Dermaptera memiliki sepasang antenna, tubuhnya bersegmen terdiri atas toraks dan abdomen. Abdomennya terdapat bagian seperti garpu.
  • Ordo Neuroptera merupakan ordo serangga tertua yang bermetamorfosis sempurna.[17]

Ada beberapa artropoda terestrial lain yang walaupun bukan serangga, seperti lipan, kaki seribu, kalajengking, laba-laba, kutu kayu, tungau, dan caplak, sering dianggap sebagai serangga karena tampaknya agak serupa dengan memiliki eksoskeleton. Namun, kebanyakan dari mereka bukan heksapoda (yaitu memiliki enam kaki).

Biologi Serangga[sunting | sunting sumber]

Anatomi serangga betina
A- Kepala (caput)   B- Dada (thorax)   C- Perut (abdomen)
1. antena
2. ocelli (bawah)
3. ocelli (atas)
4. mata majemuk
5. otak (ganglia otak)
6. dada depan (prothorax)
7. pembuluh darah dorsal
8. saluran trakea (ruas-ruas dengan spirakulum)
9. dada tengah (mesothorax)
10. dada belakang (metathorax)
11. sayap depan
12. sayap belakang
13. perut
14. jantung
15. ovarium
16. perut belakang (usus, rektum, anus)
17. anus
18. vagina
19. berkas saraf (ganglia perut)
20. saluran Malpighia
21. tungkai dada
22. cakar pengait
23. tarsus
24. tibia
25. femur
26. trochanter
27. perut depan
28. ganglion dada
29. coxa
30. kelenjar ludah
31. ganglion suboesophagus
32. mulut

Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Fosil-fosilnya dapat dirunut hingga ke masa Ordovicius. Fosil kecoak dan capung raksasa primitif telah ditemukan. Sejumlah anggota Diptera seperti lalat dan nyamuk yang terperangkap pada getah juga ditemukan.

Metamorfosis pada Serangga[sunting | sunting sumber]

Hewan ini juga merupakan contoh klasik metamorfosis. Setiap serangga mengalami proses perubahan bentuk dari telur hingga ke bentuk dewasa yang siap melakukan reproduksi. Pergantian tahap bentuk tubuh ini sering kali sangat dramatis. Di dalam tiap tahap juga terjadi proses "pergantian kulit" yang biasa disebut proses pelungsungan. Tahap-tahap ini disebut instar. Ordo-ordo serangga sering kali dicirikan oleh tipe metamorfosisnya. Metamorfosis pada serangga ada 2, yaitu metamosfosis sempurna dan metamorfosis tidak sempurna. Perbedaan yang mencolok pada metamorfosis sempurna adalah adanya tahap pembentukan kepompong, sedangkan pada metamorfosis tidak sempurna tidak terdapat tahap pembentukan kepompong.

Morfologi Serangga[sunting | sunting sumber]

Secara morfologi, tubuh serangga dewasa dapat dibedakan menjadi tiga bagian utama, sementara bentuk pradewasa biasanya menyerupai moyangnya, hewan lunak beruas mirip cacing. Ketiga bagian tubuh serangga dewasa adalah kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen).

Peran serangga[sunting | sunting sumber]

Banyak serangga yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, diantaranya sebagai organisme pembusuk dan pengurai termasuk pengurai limbah, sebagai objek estetika dan wisata seperti kupu-kupu, kumbang yang berwarna-warni, bermanfaat pada proses penyerbukan maupun sebagai hama tanaman, pakan hewan (burung) yang bernilai ekonomi tinggi,[18] penghasil madu (dari genus Apis) dll.[19] Disamping peran secara langsung serangga juga memiliki peran yang tidak langsung yaitu menjaga keseimbangan ekologi di alam, karena serangga termasuk salah satu dari rantai makanan, di mana beberapa jenis burung menjadikan serangga sebagai makanan utamanya. Namun jika jumlahnya tidak terkendali karena keseimbangan alam yang terganggu akibat berkurangnya pemangsa serangga, maka jumlah serangga akan tidak terkendali, karena salah satu sifatnya yang dapat berkembang biak dengan cepat, sehingga hal ini juga akan merugikan, baik bagi pertanian, perkebunan, kepada manusia secara langsung. Bebarapa daerah menjadikan beberapa jenis belalang sebagai bahan makanan, seperti belalang kayu, larva beberapa jenis kumbang juga di konsumsi sebagai makanan yang lezat. Secara kandungan gizi, belalang kaya akan kandungan protein hewani bahkan di Tiongkok, Thailand, Vietnam, Indonesia dan negara eropa beberapa hotel berbintang telah menyediakan menu dari belalang.

Makanan serangga[sunting | sunting sumber]

Makanan pada serangga tergantung pada tipe mulutnya, ada beberapa jenis tipe mulut pada serangga yang ini juga akan menentukan jenis makanannya yaitu: menusuk menghisap, menggigit mengunyah, mencium. Dalam dunia serangga ada beberapa jenis makanan yang sering ditemukan, yaitu serangga jenis herbivor, karnivor dan ada juga omnivor.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Engel, Michael S.; David A. Grimaldi (2004). "New light shed on the oldest insect". Nature (dalam bahasa Inggris). 427 (6975): 627–630. Bibcode:2004Natur.427..627E. doi:10.1038/nature02291. PMID 14961119. 
  2. ^ a b Chapman, A. D. (2006). Numbers of living species in Australia and the World (dalam bahasa Inggris). Canberra: Australian Biological Resources Study. ISBN 978-0-642-56850-2. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-06-09. Diakses tanggal 2014-12-03. 
  3. ^ Wilson, E.O. "Threats to Global Diversity" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-20. Diakses tanggal 17-05-2009. 
  4. ^ Novotny, Vojtech; Basset, Yves; Miller, Scott E.; Weiblen, George D.; Bremer, Birgitta; Cizek, Lukas; dan Drozd, Pavel (2002). "Low host specificity of herbivorous insects in a tropical forest". Nature (dalam bahasa Inggris). 416 (6883): 841–844. Bibcode:2002Natur.416..841N. doi:10.1038/416841a. PMID 11976681. 
  5. ^ Erwin, Terry L. (1997). Biodiversity at its utmost: Tropical Forest Beetles (dalam bahasa Inggris). hlm. 27–40.  Dalam: Reaka-Kudla, M. L., Wilson, D. E. and Wilson, E. O. (ed.). Biodiversity II. Joseph Henry Press, Washington, D.C. 
  6. ^ Erwin, Terry L. (1982). "Tropical forests: their richness in Coleoptera and other arthropod species". Coleopt. Bull. (dalam bahasa Inggris). 36: 74–75. 
  7. ^ a b c d e f g h i j k Campbell, N.A,J.B. Reece, dan L.G. Mitchell, 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. ISBN 979-688-469-0. Jakarta: Erlangga.
  8. ^ a b c d e f g h i Borror et al. 2005. Study of Insect.Ed-7. Amerika: Thomson Brook/ Cole.
  9. ^ a b c Borror et al. 2004. Study of Insect. Ed-5. Amerika: Thomson Brook/ Cole.
  10. ^ Stork, Nigel E. (7 Januari 2018). "How Many Species of Insects and Other Terrestrial Arthropods Are There on Earth?". Annual Review of Entomology (dalam bahasa Inggris). 63 (1): 31–45. doi:10.1146/annurev-ento-020117-043348. PMID 28938083. 
  11. ^ Nugroho, Anwari Adi; Sabilla, Namira Hanin Sal; Setyaningrum, Dwi; Prastin, Fikih Putri; Dani, Talila Rima (15 Mei 2020). "Studi Pola Interaksi Perilaku Jangkrik Jantan dan Betina". Jurnal Biologi dan Pembelajarannya,. 7 (1): 41–47. doi:10.25273/florea.v7i1.6038. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Mei 2020. Diakses tanggal 2 Juni 2022. 
  12. ^ Inward, Daegan; Beccaloni, George; Eggleton, Paul (5 April 2007). "Death of an order: a comprehensive molecular phylogenetic study confirms that termites are eusocial cockroaches". National Library of Medicine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Juni 2022. 
  13. ^ Eggleton, Paul; Beccaloni, George; Inward, Daegan (22 Oktober 2007). "Response to Lo et al". National Library of Medicine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Juni 2022. 
  14. ^ Wan Mohd Adnan, Wan Nur Asiah (2012). Taxonomic And Ecological Studies Of Stoneflies (Insecta: Plecoptera) In Selected Rivers At Royal Belum State Park, Perak, Malaysia (PDF) (dalam bahasa Inggris). Universitas Sains Malaysia. 
  15. ^ Knecht, Richard J.; Engel, Michael S.; Benner, Jacob S. (2011-04-19). "Late Carboniferous paleoichnology reveals the oldest full-body impression of a flying insect". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 108 (16): 6515–6519. doi:10.1073/pnas.1015948108. ISSN 1091-6490. PMC 3081006alt=Dapat diakses gratis. PMID 21464315. 
  16. ^ Karima, Annisa (28 April 2022). "6 Fakta Serangga Belalang Sentadu, Suka Makan Pasangannya". IDN Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 Juni 2022. Diakses tanggal 1 Juni 2022. 
  17. ^ Encyclopedia of insects. Resh, Vincent H., Cardé, Ring T. Amsterdam: Academic Press. 2003. ISBN 0-12-586990-8. OCLC 50495116. 
  18. ^ Gandjar. 1997. Prosiding Seminar Nasional Biologi XV, Universitas Lampung, ISBN 979-8287-17-7.Lampung: Perhimpunan Biologi Indonesia.
  19. ^ Suranto A. 2004. Khasiat & Manfaat Madu Herbal. ISBN 979-3702-02-8. Jakarta: AgroMedia.

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Borror; et al. (2004). Study of Insect. Ed-7. Amerika: Thomson Brook/ Cole. 
  • Borror; et al. (2005). Study of Insect. Ed-7. Amerika: Thomson Brook/ Cole. 
  • Campbell, N.A.; Reece, J.B.; Mitchell, L.G. (2003). Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga. ISBN 979-688-469-0. 
  • Gandjar. (1997). Prosiding Seminar Nasional Biologi XV, Universitas Lampung. Lampung: Perhimpunan Biologi Indonesia. ISBN 9798287177. 
  • Suranto A. (2004). Khasiat & Manfaat Madu Herbal. Jakarta: AgroMedia. ISBN 979-3702-02-8.