Omnivor

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Omnivor, pemakan segala, atau sarwaboga[1] (dari bahasa Latin: omne = semua/semuanya; vorare = melahap) adalah spesies yang memakan tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan pokoknya. Babi adalah contoh omnivor yang dikenal secara luas.[2] Burung gagak adalah contoh lain dari omnivor yang dilihat orang setiap hari.[3] Manusia juga merupakan makhluk omnivor.[4][5]

Peristilahan[sunting | sunting sumber]

Omnivor merupakan salah satu istilah yang digunakan dalam pembahasan tentang rantai makanan.[6] Istilah ini biasa digunakan bersamaan dengan istilah karnivor, herbivor, detritivor dan dekomposer.[7] Omnivor merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem dengan peran utama sebagai konsumen.[8] Dalam rantai makanan, omnivor berperan sebagai konsumen tingkat kedua dan ketiga.[9]

Ciri khas[sunting | sunting sumber]

Omnivor dapat memakan segala jenis makanan.[10] Jenis makanan utamanya adalah hewan dan tumbuhan.[11] Omnivor dapat memakan protein nabati dan protein hewani.[12] Hewan omnivor dapat dibedakan berdasarkan tingkat pertumbuhannya dibandingkan dengan hewan karnivor. Pada spesies hewan yang sejenis, pertumbuhan hewan omnivor lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan hewan karnivor.[13]

Pembeda lain antara omnivor, herbivor dan karnivor ada pada giginya. Omnivor memiliki tiga jenis gigi, yaitu gigi taring, gigi seri dan gigi geraham belakang. Sedangkan karnivor memiliki gigi taring saja dan herrbivor hanya memiliki gigi geraham.[14]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Ikan[sunting | sunting sumber]

Ikan yang termasuk omnivor cenderung mempunyai struktur usus dengan vili yang pendek dibandingkan dengan ikan karnivor. Saluran pencernaan pada ikan omnivor lebih panjang sehingga memerlukan waktu pencernaan yang lebih lama.[15] Panjang usus pada ikan omnivor adalah sedikit melebihi panjang tubuh ikan secara keseluruhan.[16]

Ikan omnivor memiliki kemampuan penyerapan sumber energi yang bukan protein.[17] Perbandingan protein hewani dan protein nabati yang terkandung di dalam ikan menunjukkan kecenderungan ikan omnivor sebagai karnivor atau herbivor. Ikan dengan perbandingan protein hewani dan protein nabati sebesar 65:35 cenderung karnivor. Sementara ikan dengan perbandingan protein hewani dan protein nabati sebesar 40:60 cenderung herbivor. Jenis ikan onivor yang cenderung karnivor misalnya ikan lele.[18] Sedangkan jenis ikan omnivor yang cenderung herbivor misalnya ikan nila.[19] Ada pula ikan omnivor yang cenderung karnivor dengan sifat insektivor. Misalnya, ikan keting, tagih dan petek.[20]

Tupai[sunting | sunting sumber]

Tupai adalah nama umum untuk famili Tupaiidae. Famili ini ditetapkan pada semua jenis tikus pohon. Tupai termasuk omnivor karena memakan serangga dan buah.[21]

Kebutuhan nutrisi[sunting | sunting sumber]

Karbohidrat[sunting | sunting sumber]

Omnivor memiliki kebutuhan akan karbohidrat yang kadarnya bervariasi. Kebutuhan karbohidrat pada omnivor berkisar antara 25–35%.[22]

Kontaminasi[sunting | sunting sumber]

Mikroplastik[sunting | sunting sumber]

Biota omnivor di perairan dapat mengalami kontaminasi mikroplastik karena perilaku makan maupun dari rantai makanan. Mikroplastik dimakan secara tidak langsung melalui mangsa berupa makroinvertebrata air yang telah terkontaminasi mikroplastik terlebih dahulu. Makroinvertebrata air ini dicerna oleh sistem pencernaan biota perairan yang omnivor.[23]

Spesies menguntungkan[sunting | sunting sumber]

Mencit[sunting | sunting sumber]

Mencit adalah spesies omnivor alami. Tubuhnya berukuran kecil, sehat, kuat dan mampu beranak banyak. Sifat utama dari mencit adalah jinak dan dapat diperoleh dengan harga yang murah. Mencit digunakan sebagai hewan laboratorium dan merupakan yang paling banyak penggunaannya. Dalam penelitian biologi, mencit dapat digunakan untuk total uji coba sebanyak 40–80%.[24]  

Spesies merugikan[sunting | sunting sumber]

Semut[sunting | sunting sumber]

Semut merupakan omnivor yang dapat menularkan penyakit. Penularan penyakit dari semut dapat terjadi ke manusia maupun hewan lainnya. Kehadiran semut di rumah sakit berbahaya bagi kesehatan manusia di dalamnya. Karena semut dapat memakan segala macam makanan termasuk dahak. Di dalam dahak ini terdapat berbagai macam jenis kuman yang menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit.[25]  

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kamus Lengkap Indonesia Inggris. Diambil pada tanggal 1 Juni 2011.
  2. ^ Brent Huffman. "Family Suidae (Pigs)". UltimateUngulate.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-01-07. Diakses tanggal 2007-12-29. 
  3. ^ Seattle Audubon Society. "Family Corvidae (Crows/Ravens)". BirdWeb.org. Diakses tanggal 2007-12-31. 
  4. ^ Adapted from a talk by John McArdle, Ph.D. "Humans are Omnivores". Vegetarian Resource Group. Diakses tanggal 2007-12-29. 
  5. ^ "Omnivores". NatureWorks, New Hampshire Public Television. Diakses tanggal 2009-09-09. 
  6. ^ Purnamasari, R., dan Santi, D. R. (2017). Pribadi, Eko Teguh, ed. Fisiologi Hewan. Surabaya: Program Studi Arsitektur UIN Sunan Ampel. hlm. 29. ISBN 978-602-50337-2-8. 
  7. ^ Gunawan, H., dan Alikodra, H. S. (2013). Bio-Ekologi dan Konservasi Karnivora: Spesies Kunci yang Terancam Punah. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi - Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan. hlm. 1. ISBN 978-602-1681-03-9. 
  8. ^ Hanum, Galuh Ratmana (2017). Sartika, S. B., dan Multazam, M. T., ed. Biokimia Dasar. Sidoarjo: Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. hlm. 11. ISBN 978-979-3401-62-1. 
  9. ^ Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Kementerian Lingkungan Hidup (2011). Teologi Lingkungan: Etika Pengelolaan Lingkungan dalam Perspektif Islam (PDF). Deputi Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah. hlm. 14. ISBN 978-979-16395-3-8. 
  10. ^ Tethool, B. R. J., dkk. (2015). Mengenal Laut dan Pesisir untuk Sekolah Dasar Kelas 6: Kurikulum Muatan Lokal Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat (PDF). Jayapura: WWF Indonesia‐Program Papua. hlm. 65. ISBN 978-979-1461-52-8. 
  11. ^ Jumanta (2020). Buku Pintar Hewan: Segala yang Perlu Kita Tahu tentang Mereka. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 5. ISBN 978-602-049-052-6. 
  12. ^ Sudradjat dan Riyanti, L. (2019). Nutrisi dan Pakan Ternak (PDF). Jakarta Selatan: Pusat Pendidikan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian. hlm. 33. ISBN 978-602- 6367-43-3. 
  13. ^ Supono (2015). "Studi Keragaan Udang Windu (Penaeusmonodon) dan Udang Putih (Litopenaeusvannamei) yang Dipelihara pada Tambak Semi Plastik". Prosiding Seminar Nasional Swasembada Pangan Politeknik Negeri Lampung: 565. ISBN 978-602-70530-2-1. 
  14. ^ Yustina dan Darmadi (2017). Fisiologi Hewan (PDF). Pekanbaru: Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. hlm. 211–212. ISBN 978-602-50749-6-7. 
  15. ^ Zulfahmi, I., dan Humairani, R. (2018). "Kondisi Biometrik dan Histologi Usus Ikan Bandeng (Chanos chanos FORSKALL., 1755) yang Diberi Pakan Berkomposisi Tepung Bungkil Sawit". Prosiding Seminar Nasional Biotik 2018: 612. ISBN 978-602-60401-9-0. 
  16. ^ Koniyo, Y., dan Juliana (2018). Aspek Biologis dan Ekologis Ikan Manggabai (PDF). Gorontalo: Ideas Publishing. hlm. 47. ISBN 978-602-5878-17-6. 
  17. ^ Pangentasari, D., dkk. (2018). "Komposisi dan Nilai Kecernaan Nutrien Tepung Daun Tarum (Indigofera zollingeriana) yang Difermentasi dengan Cairan Rumen Domba pada Benih Ikan Jelawat Leptobarbus hoevenii (Bleeker, 1851)". Jurnal Iktiologi Indonesia. Masyarakat Iktiologi Indonesia. 18 (2): 171. doi:10.32491/jii.v18i2.314. ISSN 1693-0339. 
  18. ^ Manik, R. R. D. S., dan Arleston, J. (2021). Sitanggang, Anita, ed. Nutrisi dan Pakan Ikan (PDF). Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung. hlm. 61. ISBN 978-623-6092-49-1. 
  19. ^ Tjahjo, Didik Wahju Hendro (2021). Pemulihan Sumber Daya Ikan untuk Peningkatan Produksi Perikanan. Jakarta: AMAFRAD Press  dan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan. hlm. 11. ISBN 978-623-7651-70-3. 
  20. ^ Hedianto, D. A., Purnomo, K., dan Warsa, A. (2015). "Analisis tingkat trofik dan pemanfaatan pakan alami oleh komunitas ikan di Waduk Kedungombo, Jawa Tengah" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Ikan Ke 8 Jilid 2. Masyarakat Iktiologi Indonesia: 62. ISBN 978-602-99314-3-3. 
  21. ^ Hadi, S., dkk. (2016). Keanekaragaman Flora dan Fauna Daerah Aliran Sungai Pakerisan Kabupaten Gianyar (PDF). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 64. ISBN 978-602-386-161-3. 
  22. ^ Akbar, Junius (2016). Fran, Syachradjad, ed. Pengantar Ilmu Perikanan dan Kelautan (Budi Daya Perairan) (PDF). Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press. hlm. 87. ISBN 978-602-9092-82-0. 
  23. ^ Sandra, S. P., dan Radityaningrum, A. D. (2021). "Kajian Kelimpahan Mikroplastik di Biota Perairan". Jurnal Ilmu Lingkungan. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro. 19 (3): 641. ISSN 1829-8907. 
  24. ^ Rejeki, P. S., Putri, E. A. C., dan Prasetya, R. E. (2018). Pratiwi, Niniek Lely, ed. Imunisasi Dasar Lengkap dan Permasalahannya (PDF). Surabaya: Airlangga University Press. hlm. 7. 
  25. ^ Sigit, S. H., dkk. (2006). Sigit, S. H., dan Hadi, U. K., ed. Hama Permukiman Indonesia: Pengenalan, Biologi dan Pengendalian (PDF). Bogor: Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. hlm. 100. ISBN 979-25-6940-5. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]