Tumbuhan
| Tetumbuhan Rentang waktu: | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Domain: | Eukaryota |
| Klad: | Diaphoretickes |
| Klad: | CAM |
| Klad: | Archaeplastida |
| Kerajaan: | Plantae H.F.Copel., 1956 |
| Superdivisi | |
|
Lihat teks | |
| Sinonim | |
| |
Tumbuhan merupakan eukariota yang termasuk dalam kerajaan Plantae; sebagian besar di antaranya bersifat fotosintetik. Artinya, tumbuhan memperoleh energi dari cahaya matahari dengan memanfaatkan kloroplas yang berasal dari hasil endosimbiosis dengan sianobakteri, guna menghasilkan gula dari karbon dioksida dan air melalui pigmen hijau yang disebut klorofil. Beberapa pengecualian terdapat pada tumbuhan parasit yang telah kehilangan gen untuk klorofil dan kemampuan fotosintesis, sehingga memperoleh energi dengan bergantung pada tumbuhan lain atau jamur. Sebagian besar tumbuhan bersifat multiseluler, meskipun terdapat beberapa alga hijau yang bersel tunggal.
Secara historis, sebagaimana dalam biologi Aristoteles, kerajaan tumbuhan mencakup seluruh makhluk hidup yang bukan hewan, termasuk pula alga dan fungi. Namun, definisi tersebut telah mengalami penyempitan seiring waktu; pengertian modern kini mengecualikan fungi dan sebagian jenis alga. Berdasarkan definisi yang digunakan dalam artikel ini, tumbuhan membentuk klad Viridiplantae (tumbuhan hijau), yang terdiri atas alga hijau serta kelompok Embryophyta atau tumbuhan darat (seperti lumut tanduk, lumut hati, lumut sejati, likofit, paku-pakuan, konifer dan kelompok Gymnospermae lainnya, serta tumbuhan berbunga). Sementara itu, definisi yang didasarkan pada genom mencakup Viridiplantae bersama alga merah dan glaukofit, yang keseluruhannya tergabung dalam klad Archaeplastida.
Diperkirakan terdapat sekitar 380.000 spesies tumbuhan yang telah dikenal, dengan sebagian besar di antaranya, sekitar 260.000 spesies, merupakan penghasil biji. Tumbuhan menunjukkan keragaman luar biasa dalam ukuran, mulai dari sel tunggal hingga pohon tertinggi di dunia. Tumbuhan hijau berperan penting dalam menghasilkan sebagian besar oksigen molekuler di Bumi. Gula yang yang dihasilkan tumbuhan menjadi sumber energi utama bagi sebagian besar ekosistem di Bumi. Makhluk hidup lainnya, termasuk hewan, baik secara langsung sebagai pemakan tumbuhan maupun tidak langsung, sangat bergantung pada tumbuhan.
Biji-bijian, buah, dan sayuran merupakan bahan pangan pokok manusia dan telah mengalami proses domestikasi selama ribuan tahun. Manusia memanfaatkan tumbuhan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai bahan bangunan, hiasan, bahan tulis, serta, dalam ragam yang luas, sebagai sumber obat-obatan. Kajian ilmiah mengenai tumbuhan dikenal sebagai botani, yang merupakan salah satu cabang dari biologi.
Definisi
[sunting | sunting sumber]Sejarah taksonomi
[sunting | sunting sumber]Seluruh makhluk hidup pada mulanya secara tradisional digolongkan ke dalam dua kelompok besar: tumbuhan dan hewan. Pengelompokan ini berakar dari pemikiran Aristoteles (384–322 SM), yang dalam kajian biologinya membedakan tingkatan-tingkatan kehidupan,[5] berdasarkan ada tidaknya "jiwa perasa" (sensitive soul) atau hanya "jiwa vegetatif" (vegetative soul) seperti halnya pada tumbuhan.[6] Theophrastus, murid Aristoteles, melanjutkan karya gurunya dalam bidang taksonomi dan klasifikasi tumbuhan.[7] Berabad-abad kemudian, Linnaeus (1707–1778) merumuskan dasar-dasar sistem klasifikasi ilmiah modern, tetapi tetap mempertahankan pembagian kerajaan antara hewan dan tumbuhan, dengan menamai kerajaan tumbuhan sebagai Vegetabilia.[7]
Konsep alternatif
[sunting | sunting sumber]Ketika istilah Plantae atau "tumbuhan" diterapkan pada kelompok organisme atau taksa tertentu, istilah tersebut biasanya merujuk pada salah satu dari empat konsep utama. Dari yang paling sempit hingga yang paling luas, keempat pengelompokan tersebut adalah:
| Nama | Lingkup | Organisasi | Deskripsi |
|---|---|---|---|
| Tumbuhan darat, juga dikenal sebagai Embryophyta | Plantae sensu strictissimo | Multiseluler | Tumbuhan dalam pengertian paling sempit mencakup lumut hati, lumut tanduk, lumut, dan tumbuhan berpembuluh, serta fosil tumbuhan yang serupa dengan kelompok yang masih bertahan ini (misalnya, Metaphyta Whittaker, 1969,[8] Plantae Margulis, 1971[9]). |
| Tumbuhan hijau, juga dikenal sebagai Viridiplantae, Viridiphyta, Chlorobionta, atau Chloroplastida | Plantae sensu stricto | Sebagian uniseluler, sebagian multiseluler | Tumbuhan dalam pengertian sempit mencakup alga hijau dan tumbuhan darat yang berevolusi dari kelompok tersebut, termasuk stonewort. Hubungan kekerabatan antar kelompok tumbuhan masih terus dikaji, sehingga penamaan yang digunakan pun bervariasi. Klad Viridiplantae mencakup sekelompok organisme yang memiliki selulosa pada dinding sel mereka, mengandung klorofil a dan b, serta memiliki plastida yang dibatasi oleh dua membran dan mampu melakukan fotosintesis sekaligus menyimpan pati. Klade inilah yang menjadi fokus utama artikel ini (misalnya, Plantae Copeland, 1956[10]). |
| Archaeplastida, juga dikenal sebagai Plastida atau Primoplantae | Plantae sensu lato | Sebagian uniseluler, sebagian multiseluler | Tumbuhan dalam pengertian luas mencakup kelompok tumbuhan hijau seperti di atas, ditambah alga merah (Rhodophyta) dan alga glaukofit (Glaucophyta) yang menyimpan pati Floridean di luar plastida, yakni di dalam sitoplasma. Klade ini mencakup semua organisme yang pada masa purba memperoleh kloroplas primer mereka secara langsung dengan menelan sianobakteri (misalnya, Plantae Cavalier-Smith, 1981[1]). |
| Definisi lama tentang tumbuhan (usang) | Plantae sensu amplo | Sebagian uniseluler, sebagian multiseluler | Tumbuhan dalam pengertian paling luas mencakup kelompok-kelompok yang sebenarnya tidak berkerabat, seperti berbagai jenis alga, jamur, dan bakteri dalam klasifikasi lama yang kini telah usang (misalnya Plantae atau Vegetabilia Linnaeus 1751,[11] Plantae Haeckel 1866,[12] Metaphyta Haeckel, 1894,[13] Plantae Whittaker, 1969[8]). |
Evolusi
[sunting | sunting sumber]Keanekaragaman
[sunting | sunting sumber]
Terdapat sekitar 382.000 spesies tumbuhan yang telah diakui secara ilmiah,[14] dan sebagian besar di antaranya, sekitar 283.000 spesies, merupakan tumbuhan penghasil biji.[15] Tabel di bawah ini menampilkan perkiraan jumlah spesies dari berbagai divisi tumbuhan hijau (Viridiplantae). Sekitar 85–90% dari seluruh tumbuhan di Bumi merupakan tumbuhan berbunga. Sejumlah proyek ilmiah tengah berupaya mengumpulkan seluruh data spesies tumbuhan ke dalam basis data daring, seperti proyek World Flora Online.[14][16]
Ukuran tumbuhan sangat beragam, mulai dari organisme uniseluler seperti desmid (berukuran sekitar 10 mikrometer (μm)) dan picozoa (kurang dari 3 μm),[17][18] hingga tumbuhan terbesar di dunia (megaflora) seperti konifer Sequoia sempervirens (dapat mencapai 120 meter (380 ft)) dan tumbuhan berbunga Eucalyptus regnans (mencapai sekitar 100 m (325 ft)).[19]
| Kelompok informal | Nama divisi | Nama umum | Jumlah spesies hidup |
|---|---|---|---|
| Alga hijau | Chlorophyta | Alga hijau (klorofit) | 3800–4300[20][21] |
| Charophyta | Alga hijau (misalnya desmid dan stonewort) | 2800–6000[22][23] | |
| Bryophyta | Marchantiophyta | Lumut hati | 6000–8000[24] |
| Anthocerotophyta | Lumut tanduk | 100–200[25] | |
| Bryophyta | Lumut sejati | 12000[26] | |
| Pteridophyta | Lycopodiophyta | Paku kawat | 1200[27] |
| Polypodiophyta | Paku-pakuan, paku ekor kuda, dan paku sisir | 11000[27] | |
| Spermatophyta (tumbuhan berbiji) |
Cycadophyta | Pakis haji | 160[28] |
| Ginkgophyta | Ginkgo | 1[29] | |
| Pinophyta | Konifer | 630[27] | |
| Gnetophyta | Gnetofit | 70[27] | |
| Angiospermae | Tumbuhan berbunga | 258650[30] |
Penamaan tumbuhan diatur oleh Kode Tata Nama Internasional untuk Alga, Fungi, dan Tumbuhan[31] serta International Code of Nomenclature for Cultivated Plants.[32]
Sejarah evolusi
[sunting | sunting sumber]Nenek moyang tumbuhan darat berevolusi di dalam air. Lapisan tipis alga telah terbentuk di daratan sekitar 1.200 juta tahun silam, tetapi baru pada masa Ordovisium, kira-kira 450 juta tahun silam, tumbuhan darat pertama muncul dengan tingkat organisasi yang mirip dengan bryophyta.[33][34] Namun demikian, fosil organisme dengan talus yang pipih pada batuan Prakambrium menunjukkan bahwa eukariota multiseluler air tawar telah ada lebih dari satu miliar tahun yang lalu.[35]
Tumbuhan darat primitif mulai mengalami diversifikasi pada akhir periode Silur, sekitar 420 juta tahun silam. Jejak bryophyta, paku kawat (club mosses), dan paku-pakuan mulai muncul dalam catatan fosil.[36] Anatomi tumbuhan purba yang terawetkan hingga ke tingkat seluler ditemukan pada fosil Devon awal di Rhynie chert. Tumbuhan-tumbuhan awal ini membatu akibat proses pengendapan silika di sumber air panas vulkanik yang kaya silika.[37]
Menjelang akhir periode Devon, sebagian besar ciri dasar tumbuhan modern telah terbentuk, termasuk akar, daun, dan kayu sekunder pada pohon seperti Archaeopteris.[38][39] Pada masa Karbon, terbentuk hutan-hutan lebat di lahan rawa yang didominasi oleh paku kawat dan ekor kuda, beberapa di antaranya tumbuh setinggi pohon. Periode ini juga menandai kemunculan awal gymnospermae, yakni tumbuhan berbiji pertama.[40] Peristiwa kepunahan massal Permo-Trias kemudian mengubah struktur komunitas tumbuhan secara drastis.[41] Perubahan ini mungkin membuka jalan bagi evolusi tumbuhan berbunga pada masa Trias (~200 juta tahun silam), yang kemudian mengalami radiasi adaptif begitu cepat pada Kapur sehingga Charles Darwin menyebutnya sebagai suatu "misteri yang mengerikan".[42][43][44] Konifer kemudian mengalami diversifikasi sejak Akhir Trias dan menjadi unsur dominan dalam flora Jura.[45][46]
- Penampang batang Rhynia, salah satu tumbuhan darat awal yang terawetkan dalam Rhynie chert dari masa Devon awal.
- Pada periode Devon, tumbuhan telah beradaptasi di darat dengan akar dan batang berkayu.
- Pada periode Karbon, paku ekor kuda seperti Asterophyllites berkembang pesat di hutan rawa.
- Konifer menjadi beragam dan sering kali dominan pada masa Jura. Gambar: strobilus Araucaria mirabilis yang membatu.
- Radiasi adaptif pada masa Kapur melahirkan banyak tumbuhan berbunga, seperti Sagaria dari suku Ranunculaceae.
Filogeni
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2019, sebuah filogeni yang disusun berdasarkan data genom dan transkriptom dari 1.153 spesies tumbuhan telah diajukan.[47] Penempatan kelompok alga dalam filogeni ini diperkuat oleh analisis berbasis genom dari Mesostigmatophyceae dan Chlorokybophyceae yang telah berhasil diurutkan. Dalam analisis tersebut, baik “alga klorofit” maupun “alga streptofit” diperlakukan sebagai kelompok parafiletik (ditandai dengan garis vertikal di samping diagram pohon filogenetik), karena tumbuhan darat (Embryophyta) berevolusi dari dalam kelompok-kelompok tersebut.[48][49]
Klasifikasi Bryophyta (tumbuhan lumut) juga didukung oleh penelitian Puttick et al. tahun 2018,[50] serta oleh filogeni yang melibatkan genom lumut tanduk (Anthocerotophyta) yang juga telah berhasil diurutkan.[51][52]
| Archaeplastida |
|
"alga klorofit" "alga streptofit" | |||||||||||||||||||||||||||
Fisiologi
[sunting | sunting sumber]Sel tumbuhan
[sunting | sunting sumber]
Sel-sel tumbuhan memiliki ciri khas yang membedakannya dari sel eukariot lain, seperti sel hewan. Ciri tersebut mencakup keberadaan vakuola sentral besar yang berisi air, kloroplas, serta dinding sel yang kuat tetapi lentur dan terletak di luar membran sel. Kloroplas merupakan hasil proses simbiogenesis antara sel non-fotosintetik dengan sianobakteri fotosintetik. Dinding sel yang tersusun terutama dari selulosa memungkinkan sel tumbuhan menahan tekanan osmotik tinggi dan mengembang oleh air tanpa pecah. Sementara itu, vakuola berperan menjaga ukuran sel dengan memungkinkan perubahan volume tanpa mengubah jumlah sitoplasma yang signifikan.[53]
Struktur tumbuhan
[sunting | sunting sumber]
Sebagian besar tumbuhan bersifat multiseluler. Sel-sel tumbuhan mengalami proses diferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang membentuk jaringan, seperti jaringan pembuluh dengan xilem dan floem yang terspesialisasi pada tulang daun dan batang. Jaringan-jaringan tersebut kemudian menyusun organ-organ yang memiliki fungsi fisiologis berbeda: akar untuk menyerap air dan mineral, batang sebagai penopang serta saluran transportasi air dan hasil fotosintesis, daun sebagai tempat terjadinya fotosintesis, dan bunga sebagai organ reproduksi.[54]
Fotosintesis
[sunting | sunting sumber]Tumbuhan melakukan proses fotosintesis, yaitu pembuatan molekul-molekul makanan (terutama gula) dengan memanfaatkan energi yang diperoleh dari cahaya. Sel-sel tumbuhan mengandung klorofil di dalam kloroplasnya, yaitu pigmen hijau yang berfungsi menangkap energi cahaya. Persamaan kimia keseluruhan dari fotosintesis adalah:[55]
Proses ini menyebabkan tumbuhan melepaskan oksigen ke atmosfer. Tumbuhan hijau menghasilkan sebagian besar oksigen molekuler di Bumi, bersama dengan kontribusi dari alga fotosintetik dan sianobakteri.[56][57][58]
Beberapa tumbuhan yang secara sekunder beradaptasi menjadi tumbuhan parasit dapat kehilangan gen-gen yang berperan dalam fotosintesis dan produksi klorofil.[59]
Pertumbuhan dan perbaikan
[sunting | sunting sumber]Pertumbuhan tumbuhan ditentukan oleh interaksi antara genom tumbuhan dengan lingkungan fisik maupun biotik di sekitarnya.[60] Faktor-faktor lingkungan abiotik meliputi suhu, air, cahaya, karbon dioksida, serta unsur hara di dalam tanah.[61] Sementara itu, faktor biotik yang memengaruhi pertumbuhan mencakup kepadatan populasi tumbuhan, perumputan oleh hewan, keberadaan bakteri dan jamur simbiotik yang menguntungkan, serta serangan dari serangga atau penyakit tumbuhan.[62]
Suhu beku dan dehidrasi dapat merusak atau bahkan mematikan tumbuhan. Beberapa spesies memiliki protein antibeku, protein kejut panas, dan gula dalam sitoplasmanya yang memungkinkan mereka bertahan menghadapi tekanan lingkungan tersebut.[63] Sepanjang hidupnya, tumbuhan senantiasa terpapar berbagai tekanan fisik dan biotik yang dapat menyebabkan kerusakan DNA. Namun, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk menoleransi dan memperbaiki sebagian besar kerusakan tersebut.[64]
Reproduksi
[sunting | sunting sumber]Tumbuhan bereproduksi untuk menghasilkan keturunan, baik secara seksual, dengan melibatkan gamet, maupun secara aseksual melalui proses pertumbuhan biasa. Banyak spesies tumbuhan yang memanfaatkan kedua mekanisme ini sekaligus.[65]
Seksual
[sunting | sunting sumber]
Dalam reproduksi seksual, tumbuhan menjalani siklus hidup yang kompleks dengan pergiliran keturunan. Salah satu generasi, yaitu sporofit, bersifat diploid (memiliki dua set kromosom), dan menghasilkan generasi berikutnya, yaitu gametofit, yang haploid (memiliki satu set kromosom). Beberapa tumbuhan juga bereproduksi aseksual melalui spora. Pada tumbuhan tak berbunga seperti lumut, fase gametofit yang seksual membentuk sebagian besar struktur tumbuhan yang tampak.[66] Sedangkan pada tumbuhan berbiji (baik gymnospermae maupun tumbuhan berbunga), fase sporofit merupakan bentuk utama yang tampak, sementara gametofit berukuran sangat kecil. Tumbuhan berbunga bereproduksi secara seksual menggunakan bunga, yang mengandung bagian jantan dan betina: keduanya bisa terdapat pada bunga yang sama (bunga hermafrodit), pada bunga berbeda dalam satu individu, atau pada individu yang berbeda. Benang sari menghasilkan serbuk sari yang membawa gamet jantan untuk membuahi sel telur dalam ovulum dari gametofit betina. Pembuahan terjadi di dalam putik atau bakal biji, yang kemudian berkembang menjadi buah berisi biji. Buah dapat tersebar secara utuh, atau pecah untuk menyebarkan bijinya satu per satu.[67]
Aseksual
[sunting | sunting sumber]Tumbuhan dapat bereproduksi secara aseksual dengan menumbuhkan beragam struktur yang mampu berkembang menjadi individu baru. Dalam bentuk yang paling sederhana, tumbuhan seperti lumut atau lumut hati dapat terpecah menjadi bagian-bagian kecil, dan setiap potongannya berpotensi tumbuh kembali menjadi tumbuhan utuh. Perbanyakan tumbuhan berbunga melalui stek merupakan proses serupa. Struktur seperti stolon atau geragih memungkinkan tumbuhan menjalar dan menutupi suatu area, membentuk suatu klon. Banyak tumbuhan juga menumbuhkan organ penyimpan cadangan makanan seperti umbi atau umbi lapis, yang masing-masing dapat berkembang menjadi individu baru.[68]
Beberapa tumbuhan tak berbunga, seperti berbagai jenis lumut hati, lumut daun, dan sebagian paku kawat, serta sejumlah kecil tumbuhan berbunga, menghasilkan gumpalan kecil sel yang disebut gema (gemmae). Gema ini dapat terlepas dari induknya dan tumbuh menjadi individu baru.[69][70]
Ketahanan terhadap penyakit
[sunting | sunting sumber]Tumbuhan memiliki reseptor pengenal pola (pattern-recognition receptors) yang berfungsi mengenali patogen seperti bakteri penyebab penyakit tumbuhan. Ketika patogen terdeteksi, tumbuhan akan memicu respons pertahanan untuk melindungi dirinya. Reseptor tumbuhan pertama yang diidentifikasi ditemukan pada padi[71] dan pada Arabidopsis thaliana.[72]
Genomika
[sunting | sunting sumber]Tumbuhan memiliki beberapa genom terbesar di antara seluruh organisme yang dikenal.[73] Genom tumbuhan terbesar (dalam hal jumlah gen) dimiliki oleh gandum (Triticum aestivum), yang diperkirakan mengandung sekitar 94.000 gen,[74] hampir lima kali lipat lebih banyak dibandingkan genom manusia. Genom tumbuhan pertama yang berhasil disekuens adalah genom Arabidopsis thaliana, yang diketahui mengode sekitar 25.500 gen.[75]
Jika dilihat dari ukuran keseluruhan urutan DNA-nya, genom terkecil yang telah dipublikasikan adalah milik tumbuhan karnivor bladderwort (Utricularia gibba), dengan panjang hanya 82 Mb, meskipun tetap mengode sekitar 28.500 gen.[76] Sebaliknya, genom terbesar ditemukan pada cemara Norwegia (Picea abies), dengan ukuran mencapai lebih dari 19,6 Gb dan mengandung sekitar 28.300 gen.[77]
Ekologi
[sunting | sunting sumber]Sebaran
[sunting | sunting sumber]
Tumbuhan tersebar hampir di seluruh penjuru dunia. Mereka menempati beragam bioma yang masing-masing dapat dibagi lagi menjadi banyak ekoregion berbeda.[78] Namun, hanya tumbuhan yang sangat tangguh dari flora Antarktika, yang terdiri atas alga, lumut, lumut hati, liken, serta hanya dua spesies tumbuhan berbunga, yang mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem di benua selatan tersebut.[79]
Tumbuhan sering kali menjadi komponen fisik dan struktural utama dari habitat tempat mereka tumbuh. Banyak bioma di Bumi dinamai berdasarkan jenis vegetasi yang mendominasi di dalamnya, karena tumbuhan merupakan organisme yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter bioma tersebut, seperti pada padang rumput, sabana, dan hutan hujan tropis.[80]
Hubungan ekologis
[sunting | sunting sumber]Banyak hewan yang berevolusi bersama tumbuhan; tumbuhan berbunga mengembangkan beragam bentuk sindrom penyerbukan, yakni seperangkat ciri bunga yang berevolusi untuk memperbesar peluang reproduksi mereka. Banyak di antaranya, seperti serangga dan burung, berperan sebagai penyerbuk, yang mengunjungi bunga dan tanpa sengaja memindahkan serbuk sari sebagai imbalan atas makanan berupa serbuk sari atau nektar.[81]
Banyak hewan pula yang menyebarkan biji tumbuhan yang telah berevolusi menyesuaikan diri untuk jenis penyebaran tersebut. Beragam mekanisme penyebaran telah berevolusi: beberapa buah memiliki lapisan luar yang bergizi dan menarik bagi hewan, sementara bijinya dirancang untuk tetap utuh melewati saluran pencernaan hewan; lainnya memiliki kait atau duri kecil yang memungkinkannya menempel pada bulu mamalia.[82]
Mirmekofit adalah tumbuhan yang berevolusi bersama semut. Tumbuhan menyediakan tempat tinggal, dan terkadang juga sumber makanan bagi semut. Sebagai gantinya, semut melindungi tumbuhan dari herbivora maupun dari tumbuhan pesaing. Kotoran semut juga berfungsi sebagai pupuk organik yang memperkaya tanah.[83]
Sebagian besar spesies tumbuhan memiliki asosiasi dengan jamur pada sistem perakarannya dalam hubungan simbiosis mutualistik yang disebut mikoriza. Jamur membantu tumbuhan menyerap air dan unsur hara dari tanah, sementara tumbuhan memberikan karbohidrat hasil fotosintesis sebagai balasannya.[84] Beberapa tumbuhan juga menjadi tempat tinggal bagi jamur endofit yang melindungi inangnya dari herbivora dengan menghasilkan senyawa toksik. Endofit jamur Neotyphodium coenophialum pada rumput Lolium arundinaceum (tall fescue) bahkan dianggap sebagai hama dalam industri peternakan sapi di Amerika Serikat.[85]
Banyak leguminosae yang memiliki bakteri pengikat nitrogen dari genus Rhizobium di dalam bintil akar mereka, yang mampu mengikat nitrogen dari udara agar dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan; sebagai imbalannya, tumbuhan menyediakan gula hasil fotosintesis untuk bakteri tersebut.[86] Nitrogen yang diikat dengan cara ini dapat dimanfaatkan pula oleh tumbuhan lain, dan memiliki peran penting dalam pertanian. Misalnya, petani sering menerapkan sistem rotasi tanaman dengan menanam leguminosae seperti kacang-kacangan, diikuti tanaman serealia seperti gandum, untuk menyediakan tanaman utama dengan kebutuhan pupuk nitrogen yang lebih sedikit.[87]
Sekitar 1% dari seluruh tumbuhan parasit memperoleh sebagian atau seluruh kebutuhan makanannya dari tumbuhan lain. Tingkat ketergantungan ini beragam: mistletoe bersifat semi-parasit, hanya mengambil sebagian nutrisi dari inangnya sambil tetap melakukan fotosintesis; sedangkan bunga sapu dan toothwort sepenuhnya parasit, bergantung total pada akar tumbuhan lain untuk memperoleh seluruh unsur hara, dan karenanya kehilangan seluruh klorofil-nya. Parasit sejati semacam itu dapat sangat merugikan tumbuhan inangnya.[88]
Tumbuhan yang tumbuh di atas tumbuhan lain tanpa mengambil zat makanannya disebut epifit. Jenis ini biasanya hidup pada batang atau cabang pohon dan dapat membentuk ekosistem pepohonan yang sangat beragam. Beberapa epifit dapat menimbulkan dampak tidak langsung bagi inangnya, misalnya dengan menghalangi cahaya matahari. Hemiepifit seperti beringin memulai hidupnya sebagai epifit, tetapi kemudian menumbuhkan akar ke tanah dan pada akhirnya menindih serta membunuh pohon inangnya. Banyak anggrek, bromelia, paku, dan lumut yang hidup sebagai epifit.[89] Beberapa di antaranya, seperti bromelia, menampung air pada ketiak daunnya; genangan air kecil ini dapat menopang jaring-jaring makanan akuatik yang kompleks.[90]
Sekitar 630 spesies tumbuhan diketahui bersifat karnivor, seperti perangkap lalat Venus (Dionaea muscipula) dan drosera (Drosera sp.). Mereka menangkap hewan kecil dan mencernanya untuk memperoleh unsur hara mineral, terutama nitrogen dan fosfor.[91]
- Lebah mengumpulkan serbuk sari (terlihat pada keranjang serbuk sari berwarna oranye di kakinya)
- Burung kolibri mengisap nektar dari bunga
- Penyebaran biji oleh hewan: banyak buah Geum urbanum dengan kait menempel pada bulu anjing
- Daun drosera dengan rambut lengket yang melipat untuk menangkap dan mencerna lalat
Kompetisi
[sunting | sunting sumber]Persaingan untuk mendapatkan sumber daya yang sama akan menurunkan laju pertumbuhan suatu tumbuhan.[92][93] Sumber daya yang diperebutkan antara lain cahaya matahari, air, dan unsur hara. Cahaya merupakan faktor yang sangat penting karena dibutuhkan dalam proses fotosintesis.[92] Tumbuhan menggunakan daunnya untuk menaungi tumbuhan lain dari sinar matahari, dan tumbuh dengan cepat guna memaksimalkan paparan cahaya bagi dirinya sendiri.[92] Air juga esensial bagi fotosintesis; oleh karena itu, akar-akar tumbuhan saling bersaing untuk menyerap air sebanyak mungkin dari dalam tanah.[94] Sebagian tumbuhan memiliki akar yang sangat dalam, memungkinkan mereka mencapai cadangan air yang tersimpan jauh di bawah permukaan tanah; sementara yang lain memiliki akar dangkal yang menjalar jauh ke samping untuk mengumpulkan air hujan yang baru turun.[94]
Mineral juga berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.[95] Unsur hara yang umum menjadi objek persaingan di antara tumbuhan meliputi nitrogen, fosfor, dan kalium.[96]
Pentingnya tumbuhan bagi manusia
[sunting | sunting sumber]
Pangan
[sunting | sunting sumber]
Pembudidayaan tumbuhan oleh manusia merupakan inti dari kegiatan pertanian, yang pada gilirannya memegang peranan penting dalam perjalanan sejarah peradaban dunia.[97] Manusia bergantung pada tumbuhan berbunga sebagai sumber pangan, baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya sebagai pakan dalam peternakan. Dalam cakupan yang lebih luas, kegiatan pertanian meliputi bidang agronomi untuk tanaman pangan lahan kering, hortikultura untuk sayuran dan buah-buahan, serta kehutanan, yang mencakup baik tumbuhan berbunga maupun konifer, untuk menghasilkan kayu.[98][99]
Sekitar 7.000 spesies tumbuhan pernah dimanfaatkan sebagai sumber pangan, tetapi sebagian besar makanan modern kini berasal hanya dari sekitar 30 spesies utama. Tanaman pangan pokok yang paling penting antara lain serealia seperti padi dan gandum; umbi-umbian bertepung seperti singkong dan kentang; serta polong-polongan seperti kacang polong dan kacang merah. Minyak nabati seperti minyak zaitun dan minyak sawit menjadi sumber lipida, sementara buah dan sayuran menyediakan berbagai vitamin dan mineral penting bagi tubuh.[100]
Tanaman seperti kopi, teh, dan kakao merupakan komoditas utama dunia, yang produknya mengandung kafeina dan berfungsi sebagai stimulan ringan.[101] Bidang ilmu yang mempelajari pemanfaatan tumbuhan oleh manusia dikenal sebagai botani ekonomi atau etnobotani.[102]
Obat-obatan
[sunting | sunting sumber]
Tumbuhan obat merupakan sumber utama senyawa organik, baik untuk keperluan pengobatan maupun penelitian fisiologis, serta menjadi bahan dasar dalam sintesis organik industri yang menghasilkan beragam bahan kimia organik.[103]
Ratusan jenis obat, termasuk pula zat narkotika, berasal dari tumbuhan, baik yang digunakan dalam pengobatan tradisional seperti herbalisme[104][105], maupun dari bahan kimia murni yang diisolasi dari tumbuhan atau pertama kali ditemukan melalui penelitian etnobotani, kemudian disintesis untuk digunakan dalam pengobatan modern.
Obat-obatan modern yang berasal dari tumbuhan antara lain aspirin, taksol, morfin, kina, reserpin, kolkisin, digitalis, dan vinkristin. Tumbuhan yang digunakan dalam herbalisme meliputi ginkgo, echinacea, feverfew, dan St. John's wort.
Karya monumental farmakope Dioscorides, De materia medica, yang ditulis antara tahun 50 dan 70 M, memuat deskripsi sekitar 600 jenis tumbuhan obat dan digunakan secara luas di Eropa serta Timur Tengah hingga sekitar tahun 1600 M. Karya tersebut menjadi cikal bakal seluruh farmakope modern yang ada saat ini.[106][107][108]
Produk nonpangan
[sunting | sunting sumber]
Tumbuhan yang dibudidayakan sebagai tanaman industri menjadi sumber bagi beragam produk yang digunakan dalam berbagai proses manufaktur.[109] Produk nonpangan yang dihasilkan mencakup minyak atsiri, pewarna alami, pigmen, lilin, resin, tanin, alkaloid, ambar, dan gabus. Dari berbagai bahan nabati ini dihasilkan pula sabun, sampo, parfum, kosmetik, cat, pernis, terpentin, karet, lateks, pelumas, linoleum, plastik, tinta, serta gom alami.
Sumber energi terbarukan yang berasal dari tumbuhan meliputi kayu bakar, gambut, dan berbagai jenis bahan bakar hayati.[110][111] Bahan bakar fosil seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam pada dasarnya juga berasal dari sisa-sisa organisme akuatik, termasuk fitoplankton, yang terurai dan mengalami transformasi kimia selama rentang waktu geologi.[112] Banyak ladang batubara terbentuk pada masa Karbon, salah satu periode penting dalam sejarah Bumi. Tumbuhan darat juga menghasilkan kerogen tipe III, yang menjadi sumber utama gas alam.[113][114]
Sumber daya struktural dan serat yang berasal dari tumbuhan juga digunakan untuk membangun tempat tinggal dan memproduksi pakaian. Kayu dimanfaatkan dalam pembangunan rumah, kapal, dan perabotan, serta dalam pembuatan benda-benda kecil seperti alat musik dan perlengkapan olahraga. Kayu diolah menjadi pulp untuk memproduksi kertas dan karton.[115] Kain kerap dibuat dari kapas, flaks, rami, atau serat sintetis seperti rayon yang berasal dari selulosa tumbuhan. Benang untuk menjahit kain pun sebagian besar bersumber dari kapas.[116]
Tanaman hias
[sunting | sunting sumber]Ribuan spesies tumbuhan dibudidayakan karena keindahannya, serta untuk memberikan keteduhan, menstabilkan suhu, mengurangi hembusan angin, meredam kebisingan, menjaga privasi, dan mencegah erosi tanah. Tumbuhan menjadi fondasi bagi industri pariwisata bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, yang meliputi perjalanan ke taman-taman bersejarah, taman nasional, hutan hujan, hingga hutan dengan dedaunan musim gugur yang berwarna-warni, serta perayaan seperti festival bunga sakura Jepang[117] dan Festival Bunga Sakura Amerika Serikat.[118]
Tumbuhan dapat ditanam di dalam ruangan sebagai tanaman hias dalam ruangan, atau di bangunan khusus seperti rumah kaca. Beberapa tumbuhan, seperti perangkap lalat Venus, mimosa pudica (putri malu), dan tumbuhan kebangkitan, dijual sebagai tanaman unik yang menarik rasa ingin tahu. Seni yang berfokus pada penataan tumbuhan hidup atau potongan bunga meliputi bonsai, ikebana, serta seni merangkai bunga segar dan kering. Sejarah dunia bahkan pernah berubah karena tumbuhan hias, seperti yang terjadi pada masa tulipomania di Eropa.[119]
Dalam ilmu pengetahuan
[sunting | sunting sumber]
Kajian tradisional tentang tumbuhan merupakan cabang ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai botani.[120] Dalam penelitian biologi dasar, tumbuhan sering digunakan sebagai organisme model. Dalam bidang genetika, persilangan tanaman kacang polong memungkinkan Gregor Mendel merumuskan hukum-hukum dasar pewarisan sifat.[121] Sementara itu, pengamatan terhadap kromosom pada tanaman jagung memungkinkan Barbara McClintock membuktikan hubungan antara kromosom dan sifat-sifat yang diwariskan.[122]
Tumbuhan Arabidopsis thaliana digunakan secara luas di laboratorium sebagai organisme model untuk memahami bagaimana gen mengendalikan pertumbuhan dan pembentukan struktur tumbuhan.[123] Cincin pertumbuhan pohon juga digunakan dalam arkeologi sebagai metode penanggalan dan sebagai catatan perubahan iklim masa lalu.[124] Kajian tentang fosil tumbuhan, atau Paleobotani, memberikan wawasan tentang evolusi tumbuhan, rekonstruksi kondisi geografis masa purba, serta perubahan iklim pada masa lampau. Fosil tumbuhan juga membantu para ahli geologi dalam menentukan usia lapisan batuan.[125]
Dalam mitologi, agama, dan kebudayaan
[sunting | sunting sumber]Tumbuhan, termasuk pohon-pohon dalam mitologi, kerap hadir dalam kisah-kisah keagamaan dan karya sastra.[126][127][128] Dalam berbagai tradisi agama Indo-Eropa, Siberia, dan agama penduduk asli Amerika, muncul sebuah motif yang disebut pohon dunia, digambarkan sebagai pohon raksasa yang tumbuh dari bumi, menyangga langit, dan menembus hingga ke alam baka dengan akar-akarnya. Pohon ini kerap muncul pula sebagai pohon kosmis, atau sebagai pohon yang menjadi tempat burung elang dan ular bertemu dalam simbolisme kuno.[129][130] Beragam bentuk dari pohon dunia ini mencakup arketipe pohon kehidupan, yang berakar dari konsep Eurasia tentang pohon suci.[131] Motif kuno lainnya yang tersebar luas, misalnya di Iran, menampilkan gambaran tentang pohon kehidupan yang diapit oleh sepasang hewan yang saling berhadapan.[132]
Bunga sering digunakan sebagai tanda penghormatan, hadiah, atau untuk menandai peristiwa penting seperti kelahiran, kematian, pernikahan, dan hari-hari perayaan. Dalam bahasa bunga, rangkaian bunga bahkan dapat menyampaikan pesan tersembunyi yang sarat makna.[133] Tumbuhan, khususnya bunga, juga menjadi subjek utama dalam banyak karya lukisan, dari representasi ilmiah hingga simbolisme estetika dalam seni Eropa.[134][135]
Dampak negatif
[sunting | sunting sumber]
Gulma adalah tumbuhan yang dianggap tidak diinginkan, baik secara ekonomi maupun estetika, karena tumbuh di lingkungan yang dikelola manusia seperti area pertanian dan taman.[136] Manusia telah memindahkan banyak jenis tumbuhan melampaui wilayah asalnya, sebagian dari tumbuhan ini kemudian menjadi spesies invasif yang merusak ekosistem dengan menyingkirkan spesies asli, bahkan terkadang berubah menjadi gulma yang serius dalam lahan budidaya.[137]
Beberapa tumbuhan yang menghasilkan serbuk sari yang terbawa angin, seperti rumput-rumputan, dapat memicu reaksi alergi pada orang yang menderita alergi serbuk sari.[138] Banyak tumbuhan juga menghasilkan racun sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri terhadap herbivora. Kelas utama racun tumbuhan mencakup alkaloid, terpenoid, dan senyawa fenolik.[139] Zat-zat ini dapat membahayakan manusia maupun hewan ternak bila tertelan[140][141] atau, seperti pada kasus racun ivy, melalui kontak langsung dengan kulit.[142] Selain itu, beberapa tumbuhan juga dapat memberikan dampak negatif terhadap tumbuhan lain di sekitarnya, dengan menghambat pertumbuhan bibit atau vegetasi di sekitarnya melalui pelepasan senyawa kimia alelopatik.[143]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Cavalier-Smith, T. (1981). "Eukaryote kingdoms: Seven or nine?". BioSystems. 14 (3–4): 461–481. doi:10.1016/0303-2647(81)90050-2.
- ↑ Lewis, L.A.; McCourt, R.M. (2004). "Green algae and the origin of land plants". American Journal of Botany. 91: 1535–1556. doi:10.3732/ajb.91.10.1535.
- ↑ Kenrick, Paul; Crane, Peter R. (1997). The origin and early diversification of land plants: A cladistic study. Washington, D. C.: Smithsonian Institution Press. ISBN 1-56098-730-8.
- ↑ "The new higher level classification of eukaryotes with emphasis on the taxonomy of protists". Journal of Eukaryote Microbiology. 52: 399–451. 2005. doi:10.1111/j.1550-7408.2005.00053.x.
- ↑ Hull, David L. (2010). Science as a Process: An Evolutionary Account of the Social and Conceptual Development of Science. University of Chicago Press. hlm. 82. ISBN 978-0-226-36049-2.
- ↑ Leroi, Armand Marie (2014). The Lagoon: How Aristotle Invented Science. Bloomsbury Publishing. hlm. 111–119. ISBN 978-1-4088-3622-4.
- 1 2 "Taxonomy and Classification". obo. Diakses tanggal 2023-03-07.
- 1 2 Whittaker, R. H. (1969). "New concepts of kingdoms or organisms" (PDF). Science. 163 (3863): 150–160. Bibcode:1969Sci...163..150W. CiteSeerX 10.1.1.403.5430. doi:10.1126/science.163.3863.150. PMID 5762760. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 17 November 2017. Diakses tanggal 4 November 2014.
- ↑ Margulis, Lynn (1971). "Whittaker's five kingdoms of organisms: minor revisions suggested by considerations of the origin of mitosis". Evolution. 25 (1): 242–245. doi:10.2307/2406516. JSTOR 2406516. PMID 28562945.
- ↑ Copeland, H. F. (1956). The Classification of Lower Organisms. Pacific Books. hlm. 6.
- ↑ Linnaeus, Carl (1751). Philosophia botanica (dalam bahasa Latin) (Edisi 1st). Stockholm: Godofr. Kiesewetter. hlm. 37. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Juni 2016.
- ↑ Haeckel, Ernst (1866). Generale Morphologie der Organismen. Berlin: Verlag von Georg Reimer. vol. 1: i–xxxii, 1–574, plates I–II; vol. 2: i–clx, 1–462, plates I–VIII.
- ↑ Haeckel, Ernst (1894). Die systematische Phylogenie.
- 1 2 "An Online Flora of All Known Plants". The World Flora Online. Diakses tanggal 25 March 2020.
- ↑ "Numbers of threatened species by major groups of organisms (1996–2010)" (PDF). International Union for Conservation of Nature. 11 March 2010. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 21 July 2011. Diakses tanggal 27 April 2011.
- ↑ "How many plant species are there in the world? Scientists now have an answer". Mongabay Environmental News. 2016-05-12. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 March 2022. Diakses tanggal 2022-05-28.
- ↑ Hall, John D.; McCourt, Richard M. (2014). "Chapter 9. Conjugating Green Algae Including Desmids". Dalam Wehr, John D.; Sheath, Robert G.; Kociolek, John Patrick (ed.). Freshwater Algae of North America: Ecology and Classification (Edisi 2). Elsevier. ISBN 978-0-12-385876-4.
- ↑ Seenivasan, Ramkumar; Sausen, Nicole; Medlin, Linda K.; Melkonian, Michael (26 March 2013). "Picomonas judraskeda Gen. Et Sp. Nov.: The First Identified Member of the Picozoa Phylum Nov., a Widespread Group of Picoeukaryotes, Formerly Known as 'Picobiliphytes'". PLOS One. 8 (3) e59565. Bibcode:2013PLoSO...859565S. doi:10.1371/journal.pone.0059565. PMC 3608682. PMID 23555709.
- ↑ Earle, Christopher J., ed. (2017). "Sequoia sempervirens". The Gymnosperm Database. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-04-01. Diakses tanggal 2017-09-15.
- ↑ Van den Hoek, C.; Mann, D.G.; Jahns, H.M. (1995). 'Algae: An Introduction to Phycology'. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 343, 350, 392, 413, 425, 439, & 448. ISBN 0-521-30419-9.
- ↑ Guiry, M.D. & Guiry, G.M. (2011), AlgaeBase: Chlorophyta, National University of Ireland, Galway, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 September 2019, diakses tanggal 2011-07-26
- ↑ Guiry, M.D. & Guiry, G.M. (2011), AlgaeBase: Charophyta, World-wide electronic publication, National University of Ireland, Galway, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 September 2019, diakses tanggal 2011-07-26
- ↑ Van den Hoek, C.; Mann, D.G.; Jahns, H.M (1995). Algae: An Introduction to Phycology. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 457, 463, & 476. ISBN 0-521-30419-9.
- ↑ Crandall-Stotler, Barbara; Stotler, Raymond E. (2000). "Morphology and classification of the Marchantiophyta". Dalam Shaw, A. Jonathan; Goffinet, Bernard (ed.). Bryophyte Biology. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 21. ISBN 0-521-66097-1.
- ↑ Schuster, Rudolf M. (1992). The Hepaticae and Anthocerotae of North America. Vol. VI. Chicago: Field Museum of Natural History. hlm. 712–713. ISBN 0-914868-21-7.
- ↑ Goffinet, Bernard; William R. Buck (2004). "Systematics of the Bryophyta (Mosses): From molecules to a revised classification". Monographs in Systematic Botany. 98: 205–239.
- 1 2 3 4 Raven, Peter H.; Evert, Ray F.; Eichhorn, Susan E. (2005). Biology of Plants (Edisi 7th). New York: W. H. Freeman and Company. ISBN 978-0-7167-1007-3.
- ↑ Gifford, Ernest M.; Foster, Adriance S. (1988). Morphology and Evolution of Vascular Plants (Edisi 3rd). New York: W. H. Freeman and Company. hlm. 358. ISBN 978-0-7167-1946-5.
- ↑ Taylor, Thomas N.; Taylor, Edith L. (1993). The Biology and Evolution of Fossil Plants. New Jersey: Prentice Hall. hlm. 636. ISBN 978-0-13-651589-0.
- ↑ International Union for Conservation of Nature and Natural Resources, 2006. IUCN Red List of Threatened Species:Summary Statistics Diarsipkan 27 June 2014 di Wayback Machine.
- ↑ "International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants". www.iapt-taxon.org. Diakses tanggal 2023-03-04.
- ↑ Gledhill, D. (2008). The Names of Plants. Cambridge University Press. hlm. 26. ISBN 978-0-5218-6645-3.
- ↑ Taylor, Thomas N. (November 1988). "The Origin of Land Plants: Some Answers, More Questions". Taxon. 37 (4): 805–833. Bibcode:1988Taxon..37..805T. doi:10.2307/1222087. JSTOR 1222087.
- ↑ Ciesielski, Paul F. "Transition of plants to land". Diarsipkan dari asli tanggal 2 March 2008.
- ↑ Strother, Paul K.; Battison, Leila; Brasier, Martin D.; Wellman, Charles H. (26 May 2011). "Earth's earliest non-marine eukaryotes". Nature. 473 (7348): 505–509. Bibcode:2011Natur.473..505S. doi:10.1038/nature09943. PMID 21490597. S2CID 4418860.
- ↑ Crang, Richard; Lyons-Sobaski, Sheila; Wise, Robert (2018). Plant Anatomy: A Concept-Based Approach to the Structure of Seed Plants. Springer. hlm. 17. ISBN 978-3-319-77315-5.
- ↑ Garwood, Russell J.; Oliver, Heather; Spencer, Alan R. T. (2019). "An introduction to the Rhynie chert". Geological Magazine. 157 (1): 47–64. doi:10.1017/S0016756819000670. S2CID 182210855.
- ↑ Beck, C. B. (1960). "The identity of Archaeopteris and Callixylon". Brittonia. 12 (4): 351–368. Bibcode:1960Britt..12..351B. doi:10.2307/2805124. JSTOR 2805124. S2CID 27887887.
- ↑ Rothwell, G. W.; Scheckler, S. E.; Gillespie, W. H. (1989). "Elkinsia gen. nov., a Late Devonian gymnosperm with cupulate ovules". Botanical Gazette. 150 (2): 170–189. doi:10.1086/337763. JSTOR 2995234. S2CID 84303226.
- ↑ "Plants". British Geological Survey. Diakses tanggal 2023-03-09.
- ↑ McElwain, Jennifer C.; Punyasena, Surangi W. (2007). "Mass extinction events and the plant fossil record". Trends in Ecology & Evolution. 22 (10): 548–557. Bibcode:2007TEcoE..22..548M. doi:10.1016/j.tree.2007.09.003. PMID 17919771.
- ↑ Friedman, William E. (January 2009). "The meaning of Darwin's "abominable mystery"". American Journal of Botany. 96 (1): 5–21. Bibcode:2009AmJB...96....5F. doi:10.3732/ajb.0800150. PMID 21628174.
- ↑ Berendse, Frank; Scheffer, Marten (2009). "The angiosperm radiation revisited, an ecological explanation for Darwin's 'abominable mystery'". Ecology Letters. 12 (9): 865–872. Bibcode:2009EcolL..12..865B. doi:10.1111/j.1461-0248.2009.01342.x. PMC 2777257. PMID 19572916.
- ↑ Herendeen, Patrick S.; Friis, Else Marie; Pedersen, Kaj Raunsgaard; Crane, Peter R. (2017-03-03). "Palaeobotanical redux: revisiting the age of the angiosperms". Nature Plants. 3 (3): 17015. Bibcode:2017NatPl...317015H. doi:10.1038/nplants.2017.15. PMID 28260783. S2CID 205458714.
- ↑ Atkinson, Brian A.; Serbet, Rudolph; Hieger, Timothy J.; Taylor, Edith L. (October 2018). "Additional evidence for the Mesozoic diversification of conifers: Pollen cone of Chimaerostrobus minutus gen. et sp. nov. (Coniferales), from the Lower Jurassic of Antarctica". Review of Palaeobotany and Palynology. 257: 77–84. Bibcode:2018RPaPa.257...77A. doi:10.1016/j.revpalbo.2018.06.013. S2CID 133732087.
- ↑ Leslie, Andrew B.; Beaulieu, Jeremy; Holman, Garth; Campbell, Christopher S.; Mei, Wenbin; Raubeson, Linda R.; Mathews, Sarah (September 2018). "An overview of extant conifer evolution from the perspective of the fossil record". American Journal of Botany. 105 (9): 1531–1544. doi:10.1002/ajb2.1143. PMID 30157290. S2CID 52120430.
- ↑ Leebens-Mack, M.; Barker, M.; Carpenter, E.; et al. (2019). "One thousand plant transcriptomes and the phylogenomics of green plants". Nature. 574 (7780): 679–685. doi:10.1038/s41586-019-1693-2. PMC 6872490. PMID 31645766.
- ↑ Liang, Zhe; et al. (2019). "Mesostigma viride Genome and Transcriptome Provide Insights into the Origin and Evolution of Streptophyta". Advanced Science. 7 (1) 1901850. doi:10.1002/advs.201901850. PMC 6947507. PMID 31921561.
- ↑ Wang, Sibo; et al. (2020). "Genomes of early-diverging streptophyte algae shed light on plant terrestrialization". Nature Plants. 6 (2): 95–106. Bibcode:2020NatPl...6...95W. doi:10.1038/s41477-019-0560-3. PMC 7027972. PMID 31844283.
- ↑ Puttick, Mark; et al. (2018). "The Interrelationships of Land Plants and the Nature of the Ancestral Embryophyte". Current Biology. 28 (5): 733–745. Bibcode:2018CBio...28E.733P. doi:10.1016/j.cub.2018.01.063. hdl:10400.1/11601. PMID 29456145.
- ↑ Zhang, Jian; et al. (2020). "The hornwort genome and early land plant evolution". Nature Plants. 6 (2): 107–118. Bibcode:2020NatPl...6..107Z. doi:10.1038/s41477-019-0588-4. PMC 7027989. PMID 32042158.
- ↑ Li, Fay Wei; et al. (2020). "Anthoceros genomes illuminate the origin of land plants and the unique biology of hornworts". Nature Plants. 6 (3): 259–272. Bibcode:2020NatPl...6..259L. doi:10.1038/s41477-020-0618-2. PMC 8075897. PMID 32170292.
- ↑ "Plant Cells, Chloroplasts, and Cell Walls". Scitable by Nature Education. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Farabee, M. C. "Plants and their Structure". Maricopa Community Colleges. Diarsipkan dari asli tanggal 22 October 2006. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Newton, John (4 March 2023). "What Is the Photosynthesis Equation?". Sciencing. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Field, C. B.; Behrenfeld, M. J.; Randerson, J. T.; Falkowski, P. (1998). "Primary production of the biosphere: Integrating terrestrial and oceanic components". Science. 281 (5374): 237–240. Bibcode:1998Sci...281..237F. doi:10.1126/science.281.5374.237. PMID 9657713. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 September 2018. Diakses tanggal 10 September 2018.
- ↑ Tivy, Joy (2014). Biogeography: A Study of Plants in the Ecosphere. Routledge. hlm. 31, 108–110. ISBN 978-1-317-89723-1. OCLC 1108871710.
- ↑ Qu, Xiao-Jian; Fan, Shou-Jin; Wicke, Susann; Yi, Ting-Shuang (2019). "Plastome reduction in the only parasitic gymnosperm Parasitaxus is due to losses of photosynthesis but not housekeeping genes and apparently involves the secondary gain of a large inverted repeat". Genome Biology and Evolution. 11 (10): 2789–2796. doi:10.1093/gbe/evz187. PMC 6786476. PMID 31504501.
- ↑ Baucom, Regina S.; Heath, Katy D.; Chambers, Sally M. (2020). "Plant–environment interactions from the lens of plant stress, reproduction, and mutualisms". American Journal of Botany. 107 (2). Wiley: 175–178. doi:10.1002/ajb2.1437. PMC 7186814. PMID 32060910.
- ↑ "Abiotic Factors". National Geographic. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Bareja, Ben (10 April 2022). "Biotic Factors and Their Interaction With Plants". Crops Review. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Ambroise, Valentin; Legay, Sylvain; Guerriero, Gea; et al. (18 October 2019). "The Roots of Plant Frost Hardiness and Tolerance". Plant and Cell Physiology. 61 (1): 3–20. doi:10.1093/pcp/pcz196. PMC 6977023. PMID 31626277.
- ↑ Roldán-Arjona, T.; Ariza, R. R. (2009). "Repair and tolerance of oxidative DNA damage in plants". Mutation Research. 681 (2–3): 169–179. Bibcode:2009MRRMR.681..169R. doi:10.1016/j.mrrev.2008.07.003. PMID 18707020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2017. Diakses tanggal 22 September 2017.
- ↑ Yang, Yun Young; Kim, Jae Geun (24 November 2016). "The optimal balance between sexual and asexual reproduction in variable environments: a systematic review". Journal of Ecology and Environment. 40 (1). doi:10.1186/s41610-016-0013-0. hdl:10371/100354. S2CID 257092048.
- ↑ "How Do Plants With Spores Reproduce?". Sciencing. 23 April 2018. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Barrett, S. C. H. (2002). "The evolution of plant sexual diversity" (PDF). Nature Reviews Genetics. 3 (4): 274–284. doi:10.1038/nrg776. PMID 11967552. S2CID 7424193. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 27 May 2013. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ "Asexual reproduction in plants". BBC Bitesize. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Kato, Hirotaka; Yasui, Yukiko; Ishizaki, Kimitsune (19 June 2020). "Gemma cup and gemma development in Marchantia polymorpha". New Phytologist. 228 (2): 459–465. Bibcode:2020NewPh.228..459K. doi:10.1111/nph.16655. PMID 32390245. S2CID 218583032.
- ↑ Moody, Amber; Diggle, Pamela K.; Steingraeber, David A. (1999). "Developmental analysis of the evolutionary origin of vegetative propagules in Mimulus gemmiparus (Scrophulariaceae)". American Journal of Botany. 86 (11): 1512–1522. doi:10.2307/2656789. JSTOR 2656789. PMID 10562243.
- ↑ Song, W. Y.; et al. (1995). "A receptor kinase-like protein encoded by the rice disease resistance gene, XA21". Science. 270 (5243): 1804–1806. Bibcode:1995Sci...270.1804S. doi:10.1126/science.270.5243.1804. PMID 8525370. S2CID 10548988. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2018. Diakses tanggal 10 September 2018.
- ↑ Gomez-Gomez, L.; et al. (2000). "FLS2: an LRR receptor-like kinase involved in the perception of the bacterial elicitor flagellin in Arabidopsis". Molecular Cell. 5 (6): 1003–1011. doi:10.1016/S1097-2765(00)80265-8. PMID 10911994.
- ↑ Michael, Todd P.; Jackson, Scott (1 July 2013). "The First 50 Plant Genomes". The Plant Genome. 6 (2): 0. doi:10.3835/plantgenome2013.03.0001in.
- ↑ Brenchley, Rachel; Spannagl, Manuel; Pfeifer, Matthias; et al. (29 November 2012). "Analysis of the bread wheat genome using whole-genome shotgun sequencing". Nature. 491 (7426): 705–710. Bibcode:2012Natur.491..705B. doi:10.1038/nature11650. PMC 3510651. PMID 23192148.
- ↑ Arabidopsis Genome Initiative (14 December 2000). "Analysis of the genome sequence of the flowering plant Arabidopsis thaliana". Nature. 408 (6814): 796–815. Bibcode:2000Natur.408..796T. doi:10.1038/35048692. PMID 11130711.
- ↑ Ibarra-Laclette, Enrique; Lyons, Eric; Hernández-Guzmán, Gustavo; et al. (6 June 2013). "Architecture and evolution of a minute plant genome". Nature. 498 (7452): 94–98. Bibcode:2013Natur.498...94I. doi:10.1038/nature12132. PMC 4972453. PMID 23665961.
- ↑ Nystedt, Björn; Street, Nathaniel R.; Wetterbom, Anna; et al. (30 May 2013). "The Norway spruce genome sequence and conifer genome evolution". Nature. 497 (7451): 579–584. Bibcode:2013Natur.497..579N. doi:10.1038/nature12211. hdl:1854/LU-4110028. PMID 23698360.
- ↑ Olson, David M.; Dinerstein, Eric; Wikramanayake, Eric D.; et al. (2001). "Terrestrial Ecoregions of the World: A New Map of Life on Earth". BioScience. 51 (11): 933. doi:10.1641/0006-3568(2001)051[0933:teotwa]2.0.co;2. S2CID 26844434.
- ↑ Schulze, Ernst-Detlef; Beck, Erwin; Buchmann, Nina; Clemens, Stephan; Müller-Hohenstein, Klaus; Scherer-Lorenzen, Michael (3 May 2018). "Spatial Distribution of Plants and Plant Communities". Plant Ecology. Springer. hlm. 657–688. doi:10.1007/978-3-662-56233-8_18. ISBN 978-3-662-56231-4.
- ↑ "Lima Jenis Utama Bioma". National Geographic Education. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ Lunau, Klaus (2004). "Adaptive radiation and coevolution — pollination biology case studies". Organisms Diversity & Evolution. 4 (3): 207–224. Bibcode:2004ODivE...4..207L. doi:10.1016/j.ode.2004.02.002.
- ↑ Schaefer, H. Martin; Ruxton, Graeme D. (2011-04-07). "Animals as seed dispersers". Plant-Animal Communication. Oxford University Press. hlm. 48–67. doi:10.1093/acprof:osobl/9780199563609.003.0003. ISBN 978-0-19-956360-9.
- ↑ Speight, Martin R.; Hunter, Mark D.; Watt, Allan D. (2008). Ecology of Insects (Edisi 2nd). Wiley-Blackwell. hlm. 212–216. ISBN 978-1-4051-3114-8.
- ↑ Deacon, Jim. "The Microbial World: Mycorrhizas". bio.ed.ac.uk (archived). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-27. Diakses tanggal 11 January 2019.
- ↑ Lyons, P. C.; Plattner, R. D.; Bacon, C. W. (1986). "Occurrence of peptide and clavine ergot alkaloids in tall fescue grass". Science. 232 (4749): 487–489. Bibcode:1986Sci...232..487L. doi:10.1126/science.3008328. PMID 3008328.
- ↑ Fullick, Ann (2006). Feeding Relationships (dalam bahasa Inggris). Heinemann-Raintree Library. ISBN 978-1-4034-7521-3.
- ↑ Wagner, Stephen (2011). "Biological Nitrogen Fixation". Nature Education Knowledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 March 2020. Diakses tanggal 6 November 2017.
- ↑ Kokla, Anna; Melnyk, Charles W. (2018). "Developing a thief: Haustoria formation in parasitic plants". Developmental Biology. 442 (1): 53–59. doi:10.1016/j.ydbio.2018.06.013. PMID 29935146. S2CID 49394142.
- ↑ Zotz, Gerhard (2016). Plants on Plants: the biology of vascular epiphytes. Cham, Switzerland: Springer International. hlm. 1–12 (Introduction), 267–272 (Epilogue: The Epiphyte Syndrome). ISBN 978-3-319-81847-4. OCLC 959553277.
- ↑ Frank, Howard (October 2000). "Bromeliad Phytotelmata". University of Florida. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 August 2009.
- ↑ Ellison, Aaron; Adamec, Lubomir (2018). "Introduction: What is a carnivorous plant?". Carnivorous Plants: Physiology, Ecology, and Evolution (Edisi First). Oxford University Press. hlm. 3–4. ISBN 978-0-1988-3372-7.
- 1 2 3 Keddy, Paul A.; Cahill, James (2012). "Competition in Plant Communities". Oxford Bibliographies Online. doi:10.1093/obo/9780199830060-0009. ISBN 978-0-19-983006-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 January 2021. Diakses tanggal 2021-02-16.
- ↑ Pocheville, Arnaud (January 2015). "The Ecological Niche: History and Recent Controversies". Handbook of Evolutionary Thinking in the Sciences. hlm. 547–586. doi:10.1007/978-94-017-9014-7_26. ISBN 978-94-017-9013-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 January 2022. Diakses tanggal 16 February 2021.
- 1 2 Casper, Brenda B.; Jackson, Robert B. (November 1997). "Plant Competition Underground". Annual Review of Ecology and Systematics. 28 (1): 545–570. Bibcode:1997AnRES..28..545C. doi:10.1146/annurev.ecolsys.28.1.545. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 May 2021. Diakses tanggal 16 February 2021.
- ↑ Craine, Joseph M.; Dybzinski, Ray (2013). "Mechanisms of plant competition for nutrients, water and light". Functional Ecology. 27 (4): 833–840. Bibcode:2013FuEco..27..833C. doi:10.1111/1365-2435.12081. S2CID 83776710.
- ↑ Oborny, Beáta; Kun, Ádám; Czárán, Tamás; Bokros, Szilárd (2000). "The Effect of Clonal Integration on Plant Competition for Mosaic Habitat Space". Ecology. 81 (12): 3291–3304. doi:10.1890/0012-9658(2000)081[3291:TEOCIO]2.0.CO;2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2021. Diakses tanggal 19 February 2021.
- ↑ Wrench, Jason S. (9 January 2013). Workplace Communication for the 21st Century: Tools and Strategies that Impact the Bottom Line [2 volumes]: Tools and Strategies That Impact the Bottom Line. ABC-CLIO. ISBN 978-0-3133-9632-8.
- ↑ Agricultural Research Service (1903). Report on the Agricultural Experiment Stations. U.S. Government Printing Office.
- ↑ "The Development of Agriculture". National Geographic. 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 14 April 2016. Diakses tanggal 1 October 2017.
- ↑ "Food and drink". Kebun Raya Kew. Diarsipkan dari asli tanggal 28 March 2014. Diakses tanggal 1 October 2017.
- ↑ Hopper, Stephen D. (2015), "Royal Botanic Gardens Kew", Encyclopedia of Life Sciences, Wiley, hlm. 1–9, doi:10.1002/9780470015902.a0024933, ISBN 978-0-470-01590-2
- ↑ Kochhar, S. L. (31 May 2016). "Ethnobotany". Economic Botany: A Comprehensive Study. Cambridge University Press. hlm. 644. ISBN 978-1-3166-7539-7.
- ↑ "Chemicals from Plants". Cambridge University Botanic Garden. Diarsipkan dari asli tanggal 9 December 2017. Diakses tanggal 9 December 2017. Rincian mengenai setiap tumbuhan dan senyawa yang dihasilkannya dijelaskan dalam subhalaman terkait.
- ↑ Tapsell, L. C.; Hemphill, I.; Cobiac, L. (August 2006). "Health benefits of herbs and spices: the past, the present, the future". Medical Journal of Australia. 185 (4 Supplement): S4–24. doi:10.5694/j.1326-5377.2006.tb00548.x. hdl:2440/22802. PMID 17022438. S2CID 9769230. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 October 2020. Diakses tanggal 24 August 2020.
- ↑ Lai, P. K.; Roy, J. (June 2004). "Antimicrobial and chemopreventive properties of herbs and spices". Current Medicinal Chemistry. 11 (11): 1451–1460. doi:10.2174/0929867043365107. PMID 15180577.
- ↑ "Greek Medicine". National Institutes of Health, USA. 16 September 2002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2013. Diakses tanggal 22 May 2014.
- ↑ Hefferon, Kathleen (2012). Let Thy Food Be Thy Medicine. Oxford University Press. hlm. 46. ISBN 978-0-1998-7398-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 August 2020. Diakses tanggal 9 December 2017.
- ↑ Rooney, Anne (2009). The Story of Medicine. Arcturus Publishing. hlm. 143. ISBN 978-1-8485-8039-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 August 2020. Diakses tanggal 9 December 2017.
- ↑ "Industrial Crop Production". Grace Communications Foundation. 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 June 2016. Diakses tanggal 20 June 2016.
- ↑ "Industrial Crops and Products An International Journal". Elsevier. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 October 2017. Diakses tanggal 2016-06-20.
- ↑ Cruz, Von Mark V.; Dierig, David A. (2014). Industrial Crops: Breeding for BioEnergy and Bioproducts. Springer. hlm. 9 and passim. ISBN 978-1-4939-1447-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 April 2017. Diakses tanggal 1 October 2017.
- ↑ Sato, Motoaki (1990). "Thermochemistry of the formation of fossil fuels". Fluid-Mineral Interactions: A Tribute to H. P. Eugster, Special Publication No. 2 (PDF). The Geochemical Society. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 20 September 2015. Diakses tanggal 1 October 2017.
- ↑ Miller, G.; Spoolman, Scott (2007). Environmental Science: Problems, Connections and Solutions. Cengage Learning. ISBN 978-0-495-38337-6. Diakses tanggal 14 April 2018.
- ↑ Ahuja, Satinder (2015). Food, Energy, and Water: The Chemistry Connection. Elsevier. ISBN 978-0-12-800374-9. Diakses tanggal 14 April 2018.
- ↑ Sixta, Herbert, ed. (2006). Handbook of pulp. Vol. 1. Winheim, Germany: Wiley-VCH. hlm. 9. ISBN 978-3-527-30997-9.
- ↑ "Natural fibres". Discover Natural Fibres. 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 20 July 2016.
- ↑ Sosnoski, Daniel (1996). Introduction to Japanese culture. Tuttle. hlm. 12. ISBN 978-0-8048-2056-1. Diakses tanggal 13 December 2017.
- ↑ "History of the Cherry Blossom Trees and Festival". National Cherry Blossom Festival: About. National Cherry Blossom Festival. Diarsipkan dari asli tanggal 14 March 2016. Diakses tanggal 22 March 2016.
- ↑ Lambert, Tim (2014). "A Brief History of Gardening". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 June 2016. Diakses tanggal 21 June 2016.
- ↑ Mason, Matthew G. "Introduction to Botany". Environmental Science. Diakses tanggal 6 June 2023.
- ↑ Blumberg, Roger B. "Mendel's Paper in English". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 January 2016. Diakses tanggal 9 December 2017.
- ↑ "Barbara McClintock: A Brief Biographical Sketch". WebCite. Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2011. Diakses tanggal 21 June 2016.
- ↑ "About Arabidopsis". TAIR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 October 2016. Diakses tanggal 21 June 2016.
- ↑ Bauer, Bruce (29 November 2018). "How Tree Rings Tell Time and Climate History". Climate.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 12 August 2021.
- ↑ Cleal, Christopher J.; Thomas, Barry A. (2019). Introduction to Plant Fossils. Cambridge University Press. hlm. 13. ISBN 978-1-1084-8344-5.
- ↑ Leitten, Rebecca Rose. "Plant Myths and Legends". Cornell University Liberty Hyde Bailey Conservatory. Diarsipkan dari asli tanggal 7 August 2016. Diakses tanggal 20 June 2016.
- ↑ "Seven of the most sacred plants in the world". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2020. Diakses tanggal 12 October 2020.
- ↑ "Literary Plants". Nature Plants. 1 (11): 15181. 3 November 2015. Bibcode:2015NatPl...115181.. doi:10.1038/nplants.2015.181. PMID 27251545.
- ↑ Annus, Amar (2009). "Review Article. The Folk-Tales of Iraq and the Literary Traditions of Ancient Mesopotamia". Journal of Ancient Near Eastern Religions. 9 (1): 87–99. doi:10.1163/156921209X449170.
- ↑ Wittkower, Rudolf (1939). "Eagle and Serpent. A Study in the Migration of Symbols". Journal of the Warburg Institute. 2 (4): 293–325. doi:10.2307/750041. JSTOR 750041. S2CID 195042671.
- ↑ Giovino, Mariana (2007). The Assyrian Sacred Tree: A History of Interpretations. Saint-Paul. hlm. 129. ISBN 978-3-7278-1602-4.
- ↑ "Textile with Birds and Horned Quadrupeds Flanking a Tree of Life". Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 21 August 2023.
- ↑ Fogden, Michael; Fogden, Patricia (2018). The Natural History of Flowers. Texas A&M University Press. hlm. 1. ISBN 978-1-6234-9644-9.
- ↑ "Botanical Imagery in European Painting". Metropolitan Museum of Art. August 2007. Diakses tanggal 19 June 2016.
- ↑ Raymond, Francine (12 March 2013). "Why botanical art is still blooming today". The Daily Telegraph. Diakses tanggal 19 June 2016.
- ↑ Harlan, J. R.; deWet, J. M. (1965). "Some thoughts about weeds". Economic Botany. 19 (1): 16–24. Bibcode:1965EcBot..19...16H. doi:10.1007/BF02971181. S2CID 28399160.
- ↑ Davis, Mark A.; Thompson, Ken (2000). "Eight Ways to be a Colonizer; Two Ways to be an Invader: A Proposed Nomenclature Scheme for Invasion Ecology". Bulletin of the Ecological Society of America. 81 (3). Ecological Society of America: 226–230.
- ↑ "Cause of Environmental Allergies". NIAID. April 22, 2015. Diarsipkan dari asli tanggal June 17, 2015. Diakses tanggal June 17, 2015.
- ↑ "Biochemical defenses: secondary metabolites". Plant Defense Systems & Medicinal Botany. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-07-03. Diakses tanggal 2007-05-21.
- ↑ Bevan-Jones, Robert (2009-08-01). Poisonous Plants: A Cultural and Social History. Windgather Press. ISBN 978-1-909686-22-9.
- ↑ Livestock-Poisoning Plants of California. UCANR Publications. ISBN 978-1-60107-674-8.
- ↑ Crosby, Donald G. (2004-04-01). The Poisoned Weed: Plants Toxic to Skin (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-028870-9.
- ↑ Grodzinskii, A. M. (2016-03-01). Allelopathy in the Life of Plants and their Communities. Scientific Publishers. ISBN 978-93-86102-04-1.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]| Cari tahu mengenai Plants pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Buku dari Wikibuku | |
| Direktori spesies Plantae dari Wikispecies | |
- Jones, T. M., Reid, C. S., Urbatsch, L. E. "Visual study of divisional Plantae". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-04-13. Diakses tanggal 2015-06-28. ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) (membutuhkan Microsoft Silverlight)
- Tumbuhan di Encyclopedia of Life
- Chaw, S.-M.; et al. (1997). "Molecular Phylogeny of Extant Gymnosperms and Seed Plant Evolution: Analysis of Nuclear 18s rRNA Sequences" (PDF). Molec. Biol. Evol. 14 (1): 56–68. doi:10.1093/oxfordjournals.molbev.a025702. PMID 9000754. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2005-01-24. Diakses tanggal 2015-06-28. ;
- Index Nominum Algarum
- Interactive Cronquist classification Diarsipkan 2006-02-10 di Wayback Machine.
- Plant Resources of Tropical Africa Diarsipkan 2010-06-11 di Wayback Machine.
- Tree of Life Diarsipkan 2015-06-30 di Wayback Machine.
- Basis data botani dan vegetasi
- African Plants Initiative database[pranala nonaktif permanen]
- Australia
- Chilean plants at Chilebosque
- e-Floras (Flora of China, Flora of North America and others)
- Flora Europaea
- Flora of Central Europe (Jerman)
- Flora of North America
- List of Japanese Wild Plants Online
- Meet the Plants-National Tropical Botanical Garden Diarsipkan 2007-06-16 di Wayback Machine.
- Lady Bird Johnson Wildflower Center - Native Plant Information Network at University of Texas, Austin
- The Plant List
- United States Department of Agriculture not limited to continental US species
