Ctenophora

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Ubur-ubur sisir
Rentang fosil: Cambrian Stage 3–Saat ini[1][2][3]
Haeckel Ctenophorae.jpg
"Ctenophorae" dari buku Ernst Haeckel, Kunstformen der Natur, 1904
Klasifikasi ilmiah
Domain: Eukaryota
Kerajaan: Animalia
Upakerajaan: Eumetazoa
(tidak termasuk): Radiata
Filum: Ctenophora
Eschscholtz, 1829
Kelas

Ctenophora  atau Ubur-Ubur sisir adalah filum hewan tak bertulang belakang yang hidup di perairan laut di seluruh dunia. Anggota filum ini sekilas menyerupai hewan ubur-ubur walaupun memiliki perbedaan yang mendasar. Fitur khas mereka adalah “sisir” yang berjumlah delapan baris, sisir ini adalah kumpulan silia yang mereka gunakan untuk berenang, dan mereka adalah hewan terbesar yang berenang dengan menggunakan silia. Ctenophora ukurannya berkisar dari beberapa milimeter sampai 1,5 m. Seperti cnidaria, tubuh mereka terdiri dari jeli, dengan satu lapisan sel di luar dan yang lain melapisi rongga internal.

Sebelumnya Ctenophora dan Cnidaria (ubur-ubur, anemon laut, dll.) dimasukkan dalam satu filum, yaitu Coelenterata, karena mereka sama-sama menggunakan aliran air lewat rongga tubuh untuk mendapatkan makanan dan bernafas. Namun, perbedaan lainnya ditemukan dan akhirnya kedua filum ini dipisah. Tidak seperti cnidaria, ctenophora memiliki sedikit spesies, hanya sekitar 100-150 spesies dan dibagi dalam dua kelas: Tentaculata dan Nuda. Walaupun begitu, anggotanya sangat beragam, dari Platyctenida yang tipis dan tinggal di dasar laut, sampai Beroe yang tidak mempunyai tentakel seperti ctenophora lainnya tapi memiliki mulut yang besar dan silianya mengeras membentuk “gigi”.

Hampir semua ctenophora adalah predator, makanannya terdiri dari larva mikroskopis sampai krustasea kecil, bahkan ctenophora lain, sisanya adalah parasit. Ctenophora sering dibandingkan dengan laba-laba yang mempunyai berbagai cara untuk menangkap mangsa,  ada yang berdiam diri dan menggunakan tentakelnya seperti jaring, dan ada yang menjadi predator aktif dalam berburu mangsa. Hal itulah yang menyebabkan ctenophora beranekaragam walaupun spesiesnya sedikit.

Walaupun tubuh mereka lunak dan tak bertulang, fosil mereka dapat ditemukan dan terbukti sudah ada sejak zaman kambrium, 515 juta tahun yang lalu. Posisi ctenophora dalam pohon kehidupan evolusi masih diperdebatkan, pendapat mayoritas sekarang didukung oleh ilmu filogenetik molekuler, adalah cnidaria lebih dekat dengan bilateria, dibandingkan dengan ctenophora.

Fitur khas[sunting | sunting sumber]

Ctenophora lebih kompleks dari porifera, setingkat dengan cnidaria, tapi lebih sederhana dari bilateria (hewan lainnya). Spons, cnidaria dan ctenophora sama-sama memiliki sepasang lapisan sel yang mengapit lapisan jeli, pada spons lapisan jeli ini dinamakan mesohil, sedangkan pada cnidaria dan ctenophora dinamakan mesoglea. Tidak seperti spons, cnidaria dan ctenophora memiliki sel yang terhubung satu sama lain dalam jaringan, selain itu juga memiliki otot, sistem saraf, dan sistem indera.[4][5]

Yang membedakan cnidaria dan ctenophora, adalah cnidaria menggunakan alat sengat nematosista yang mengandung knidosit untuk menangkap mangsanya, sedangkan ctenophora menggunakan sel-sel pelekat koloblas yang banyak ditemukan di tentakelnya (kecuali ctenophora dari kelas Nuda yang tidak punya tentakel dan Haeckelia rubra yang memanfaatkan knidosit dari mangsanya yang berupa cnidaria).

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Mnemiopsis leidyi salah satu ctenophora yang hidup dekat pantai

Ctenophora adalah filum dengan sedikit spesies tapi beraneka ragam bentuk. Spesies dekat pantai lebih kuat dibanding spesies laut lepas karena mereka harus menahan ombak dan partikel dasar laut yang disebar oleh air, sehingga spesies dekat pantai lebih mudah untuk ditangkap untuk dipelajari dibanding spesies laut lepas yang rapuh dan sulit diawetkan. Spesies laut lepas dipelajari lewat foto dan catatan penjelajah. Oleh karena itu, ctenophora dekat pantai seperti Pleurobrachia, Beroe, dan Mnemiopsis lebih dikenal. Ctenophora memiliki simetri radial.

Ilustrasi Cternahobdus capulus, salah satu ctenophora yang sudah punah sebagai gambaran bagaimana pola baris "sisir" filum ctenophora.

Lapisan tubuh[sunting | sunting sumber]

Seperti cnidaria, tubuh ctenophora terdiri dari mesoglea tebal mirip jeli yang diapit dua epitel, lapisan sel yang terhubung satu sama lain. Epitel ctenophora terdiri dari dua lapis sel, sedangkan cnidaria hanya satu.

Lapisan luar dari epidermis terdiri dari sel indera; sel yang mensekresikan mukus untuk melindungi tubuh; dan sel interstisial yang dapat berubah menjadi sel lain, di tentakelnya juga terdapat sel koloblas yang lengket untuk menangkap mangsa, juga ada sel yang mempunyai banyak silia berukuran besar untuk berenang. Sedangkan lapisan dalam epidermis terdapat jaring saraf (neuron atau sel saraf yang saling berhubungan tapi tidak ada saraf pusat seperti otak), jaring saraf ini berguna untuk mendeteksi lingkungan mereka, di lapisan ini juga terdapat sel mioepitelial yang berfungsi sebagai otot (pada hewan yang lebih kompleks otot kebanyakan terdiri dari sel miosit).[6]

Ctenophora memiliki satu mulut untuk memasukkan air berisi oksigen dan makanan, dan dua lubang pengeluaran untuk mengeluarkan air dan zat padat

Ilustrasi statosista, dan statolit di tengahnya

Pergerakan[sunting | sunting sumber]

Lapisan luarnya biasanya terdiri dari delapan baris "sisir" untuk berenang. Baris ini diarahkan dari mulut sampai lubang pengeluaran, tapi polanya berbeda dalam beberapa spesies, setiap baris diisi oleh beberapa sisir yang terdiri dari ribuan silia dengan panjang sampai 2 milimeter. Sisir ini mampu menggerakkan hewan tersebut dengan cepat. Tidak seperti ubur-ubur, ctenophora biasanya berenang ke arah mulutnya, tapi beberapa spesies ctenophora dapat berbalik arah untuk kabur dari pemangsa.

Sistem saraf dan indera[sunting | sunting sumber]

Ctenophora tidak punya otak atau sistem saraf pusat, tapi mempunyai jaring saraf yang membentuk cincin di daerah mulut, indera terbesar dari ctenophora adalah organ aboral (sisi lain dari oral atau mulut, dalam hal ini lubang pengeluaran). Komponen utamanya adalah statosista sebagai indera keseimbangan dan terdiri dari mineral kalsium karbonat yang disebut statolit, statolit ini disokong oleh kumpulan silia "penyeimbang", jika hewan itu bergerak, statolit akan berpindah tempat dan mengirim sinyal agar menyeimbangkan tubuhnya kembali sampai statolit kembali ke tempat asalnya, tapi ctenophora tidak selalu berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya seperti ketika tentakel ctenophora mendapat mangsa, ctenophora akan mengarahkan mulutnya ke arah mangsa.

Reproduksi dan Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Coeloplana astericola , platyctenida menempel pada bintang laut

Kebanyakan spesies yang sudah dewasa dapat meregenerasi jaringan yang hilang atau rusak[7], tapi hanya platyctenida yang dapat bereproduksi dengan kloning, klon berpisah dari tubuh induk dan berkembang menjadi individu baru.

Hampir semua spesies adalah hermafrodit (dua kelamin dalam satu individu). Gonad atau organ reproduksi berada di kanal internal dibawah baris sisir, sel telur dan sperma dilepas lewat pori-pori di epidermis. Ctenophora menggunakan fertilisasi eksternal, kecuali platyctenida yang menggunakan fertilisasi internal dan menjaga telur di tubuh induk sampai menetas. Mnemiopsis juga diamati melakukan fertilisasi sendiri, dimana sel sperma dan sel telur adalah miliknya sendiri.[6]

Perkembangan telur yang telah difertilisasi menjadi dewasa berjalan langsung, dengan kata lain telur langsung berkembang menjadi ctenophora muda yang mirip dengan yang dewasa tapi ukurannya lebih kecil dan tidak ada fase larva sebelumnya. Pada beberapa spesies, ctenophora muda dapat memproduksi telur dan sperma dalam jumlah yang kecil, yang dewasa dapat memproduksi telur dan sperma selama mereka mendapat makanan yang cukup. Jika mereka kehabisan makanan, mereka berhenti memproduksi telur dan sperma, dan tubuh mereka mengecil. ketika suplai makanan bertambah, mereka tumbuh ke ukuran normal dan melanjutkan reproduksi. Kemampuan ini membuat ctenophora mengembangkan populasi dalam waktu singkat.[5]

Warna dan Bioluminesen[sunting | sunting sumber]

"Tortuga Red"

Kebanyakan ctenophora yang tinggal dekat permukaan tanah hampir transparan dan tak berwarna. Sebaliknya beberapa spesies laut dalam berwarna cerah, contohnya "Tortuga merah" (lihat gambar), yang belum diberi nama. Platyctenida umumnya menempel pada organisme di dasar laut dan beberapa dari mereka punya warna yang sama dengan inangnya.

Kebanyakan spesies memiliki kemampuan bioluminesen (memancarkan cahaya sendiri), cahayanya biasanya berwarna hijau atau biru dan hanya dapat dilihat di kegelapan. Beberapa spesies dapat memproduksi efek pelangi, tapi bukan karena bioluminesen, tapi penghamburan cahaya oleh sisir ctenophora. Ctenophora yang terkenal seperti platyctenida dan Pleurobrachia, tidak punya kemampuan bioluminesen.

Ilmuwan belum berhasil dalam menentukan kegunaan biolumesen pada ctenophora, dan hubungan antara warna dengan lingkungannya, seperti kedalaman air[8].

Pada ctenophora, bioluminesen disebabkan oleh aktivasi fotoprotein di sel fotosit, yang sering ditemukan di dalam kanal meridional dibawah delapan baris sisir. Mnemiopsis leidyi memiliki sepuluh gen yang mengkode fotoprotein. Gen ini diko-ekspresikan dengan gen opsin di fotosit Mnemiopsis leidyi, sehingga ilmuawan menduga akan hubungan kerjasama antara produksi cahaya dengan deteksi cahaya di hewan ini.

Ekologi[sunting | sunting sumber]

Ctenophora dapat ditemukan di berbagai lingkungan perairan laut, dari laut kutub sampai ke tropis, dari laut dekat pantai sampai laut lepas. Ctenophora seperti Pleurobrachia, Beroe dan Mnemiopsis terkenal karena tinggal di dekat pantai dan mudah ditangkap. Belum ada ctenophora yang ditemukan di air tawar.

Ctenophora sangat banyak ditemukan di dekat pantai tertentu saat musim panas. Di tempat dimana mereka sangat banyak, ctenophora dapat mengontrol populasi zooplankton seperti copepoda, yang dapat menghabiskan populasi fitoplankton yang penting dalam rantai makanan di laut. Mnemiopsis, salah satu ctenophora secara tidak sengaja masuk ke Laut Hitam lewat tangki penyimpan air di kapal, Mnemiopsis dapat mentoleransi berbagai suhu dan kadar garam, selain itu mereka juga cepat berkembang biak, Mnemiopsis dituduh memakan larva ikan dan organisme seperti krustasea yang menjadi makanan ikan, ditambah dengan perilaku menangkap ikan yang berlebihan, populasi Mnemiops menjadi di atas ambang batas dan populasi ikan semakin sedikit, dan nelayan pun merugi. Lagi-lagi ctenophora lain yaitu Beroe secara tidak sengaja juga masuk ke Laut Hitam dan berhasil mengontrol populasi Mnemiopsis, karena Beroe memangsa ctenophora lain.

Keanekaragaman[sunting | sunting sumber]

Beroe sp. ctenophora tak bertentakel
Mertensia ovum salah satu Cyddipida

Ctenophora memiliki 100-150 spesies dan dibagi dalam dua kelas: Tentaculata (memiliki tentakel) dan Nuda (tidak memiliki tentakel).

Tentaculata terdiri dari delapan ordo:

  • Cydippida
  • Lobata
  • Platyctenida
  • Ganeshida
  • Cambojiida
  • Cryptolobiferida
  • Thalassocalycida
  • Cestida

Sedangkan Nuda terdiri dari satu ordo:

  • Beroida

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • R. S. K. Barnes, P. Calow, P. J. W. Olive, D. W. Golding, J. I. Spicer, The invertebrates – a synthesis, 3rd ed, Blackwell, 2001, ch. 3.4.3, p. 63, ISBN 0-632-04761-5
  • R. C. Brusca, G. J. Brusca, Invertebrates, 2nd Ed, Sinauer Associates, 2003, ch. 9, p. 269, ISBN 0-87893-097-3
  • J. Moore, An Introduction to the Invertebrates, Cambridge Univ. Press, 2001, ch. 5.4, p. 65, ISBN 0-521-77914-6
  • W. Schäfer, Ctenophora, Rippenquallen, in W. Westheide and R. Rieger: Spezielle Zoologie Band 1, Gustav Fischer Verlag, Stuttgart 1996
  • Bruno Wenzel, Glastiere des Meeres. Rippenquallen (Acnidaria), 1958, ISBN 3-7403-0189-9
  • Mark Shasha, Night of the Moonjellies, 1992, Simon & Schuster, ISBN 0-671-77565-0

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tang, F.; Bengtson, S.; Wang, Y.; Wang, X. L.; Yin, C. Y. (2011). "Eoandromeda and the origin of Ctenophora". Evolution & Development 13 (5): 408. doi:10.1111/j.1525-142X.2011.00499.x. 
  2. ^ Stanley, G. D.; Stürmer, W. (1983). "The first fossil ctenophore from the Lower Devonian of West Germany". Nature 303 (5917): 518. doi:10.1038/303518a0. 
  3. ^ Conway Morris, S.; Collins, D. H. (1996). "Middle Cambrian Ctenophores from the Stephen Formation, British Columbia, Canada". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences 351 (1337): 279–308. doi:10.1098/rstb.1996.0024. 
  4. ^ Hinde, R.T., (1998). "The Cnidaria and Ctenophora". In Anderson, D.T. Invertebrate Zoology. Oxford University Press. pp. 28–57.
  5. ^ a b Mills, C.E. "Ctenophores – some notes from an expert"
  6. ^ a b Ruppert, E.E.; Fox, R.S. & Barnes, R.D. (2004). Invertebrate Zoology (7 ed.)
  7. ^ Martindale, M.Q. (December 1986). "The ontogeny and maintenance of adult symmetry properties in the ctenophore, Mnemiopsis mccradyi". Developmental Biology
  8. ^ Haddock, S.H.D.; Case, J.F. (April 1999). "Bioluminescence spectra of shallow and deep-sea gelatinous zooplankton: ctenophores, medusae and siphonophores" (PDF). Marine Biology

Pranala luar[sunting | sunting sumber]