Genosida Armenia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Genosida Armenia
Bagian dari Perang Dunia I
dan Genosida Utsmaniyah Akhir
see caption
Kirab warga Armenia yang dideportasi di bawah kawalan gendarmeri di Vilayet Harput
LokasiKesultanan Utsmaniyah
Tanggal1915–1917[1][2]
SasaranWarga Armenia di Kesultanan Utsmaniyah
Jenis serangan
Genosida, kirab maut, pengislaman paksa
Korban tewas
600.000–1,5 juta jiwa[3]
PelakuKomite Persatuan dan Kemajuan
PengadilanMahkamah Militer Luar Biasa Utsmaniyah

Genosida Armenia[a] adalah pembinasaan sistematis terhadap bangsa dan jati diri kebangsaan Armenia di Kesultanan Utsmaniyah semasa Perang Dunia I. Genosida yang digagas rezim Komite Persatuan dan Kemajuan (KPK) ini terutama diwujudnyatakan lewat aksi pembunuhan massal yang merenggut nyawa sekitar satu juta warga Armenia dalam kirab maut menuju Gurun Pasir Suriah, dan lewat aksi pengislaman paksa perempuan dan anak-anak Armenia.

Sebelum Perang Dunia I, warga Armenia menempati posisi yang hina tetapi dilindungi di dalam masyarakat kesultanan Utsmaniyah. Pembantaian warga Armenia secara besar-besaran terjadi pada dasawarsa 1890-an dan pada tahun 1909. Rentetan kekalahan militer dan kehilangan wilayah kedaulatan yang diderita Kesultanan Utsmaniyah, khususnya pada Perang Balkan tahun 1912-1913, membuat para petinggi KPK khawatir kalau-kalau bangsa Armenia, bumiputra provinsi-provinsi timur yang dipandang sebagai jantung wilayah kedaulatan bangsa Turki, akan berikhtiar untuk merdeka. Saat melancarkan invasi ke Rusia dan Persia pada tahun 1914, kesatuan-kesatuan paramiliter Utsmaniyah membantai warga lokal berkebangsaan Armenia. Para petinggi Utsmaniyah menafsirkan usaha-usaha perlawanan warga Armenia yang muncul di satu dua tempat sebagai bukti pemberontakan seluruh bangsa Armenia, sekalipun tidak ada pemberontakan semacam itu. Deportasi massal pun dilaksanakan dengan tujuan meniadakan peluang bagi otonomi maupun kemerdekaan bangsa Armenia untuk selama-lamanya.

Pada tanggal 24 April 1915, pemerintah Utsmaniyah menangkap dan mendeportasi ratusan cendekiawan dan pemuka masyarakat Armenia dari Konstantinopel. Atas perintah Talat Pasya, sekitar 800.000 sampai 1,2 juta warga Armenia digiring berpawai menjemput maut ke Gurun Pasir Suriah pada tahun 1915 dan 1916. Di bawah kawalan pasukan paramiliter, warga Armenia yang dideportasi tersebut tidak diberi makan maupun minum, bahkan dirampas harta bendanya, dirudapaksa, dan dibantai. Di Gurun Pasir Suriah, para penyintas kirab maut disebar ke sejumlah kamp konsentrasi. Pada tahun 1916, gelombang pembantaian atas perintah petinggi negara kembali terjadi, dan menyisakan 200.000 korban deportasi yang masih bertahan hidup pada akhir tahun itu. Sekitar 100.000 sampai 200.000 perempuan dan anak-anak Armenia dipaksa masuk Islam dan dibaurkan ke dalam keluarga-keluarga Muslim. Seusai Perang Dunia I, kaum pergerakan nasional Turki melakukan pembantaian dan pembersihan etnis terhadap warga Armenia yang tersisa selama berlangsungnya Perang Kemerdekaan Turki.

Genosida Armenia meluluhlantakkan peradaban bangsa Armenia yang sudah berumur lebih dari dua ribu tahun. Baik genosida Armenia maupun pembunuhan dan pengusiran massal terhadap warga Kristen Suryani dan Kristen Ortodoks Yunani telah melapangkan jalan bagi terwujudnya negara bangsa Turki. Pemerintah Turki tetap teguh berpendirian bahwa deportasi warga Armenia merupakan suatu tindakan sah yang tidak dapat disifatkan sebagai genosida. Per tahun 2022, 33 negara sudah mengakui peristiwa-peristiwa tersebut sebagai genosida, sejalan dengan pandangan para sejarawan pada umumnya.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Warga Armenia Utsmaniyah[sunting | sunting sumber]

Sebaran populasi Armenia, peta tahun 1896

Eksistensi bangsa Armenia di Anatolia sudah terdokumentasi sejak abad ke-6 Pramasehi, kira-kira 1.500 tahun sebelum jazirah itu diinvasi bangsa Turki Seljuk.[4][5] Kerajaan Armenia mengukuhkan agama Kristen sebagai agama kebangsaan pada abad ke-4 Masehi, sehingga lahir Gereja Apostolik Armenia.[6] Sesudah Kekaisaran Romawi Timur tumbang pada tahun 1453, dua kemaharajaan Islam, Turki Utsmani dan Iran Safawi, bersaing mendaulat Armenia Barat, wilayah yang dipisahkan secara permanen dari Armenia Timur (jajahan Safawi) oleh Perjanjian Zuhab tahun 1639.[7] Kesultanan Utsmaniyah adalah sebuah negara kemaharajaan yang menaungi beragam suku bangsa maupun agama.[8] Sistem milet yang diciptakannya menempatkan warga non-Muslim pada kedudukan yang hina tetapi dilindungi di tengah-tengah masyarakat.[9] Syariat Islam memang mengistimewakan warga Muslim, tetapi menjamin hak-hak kepemilikan dan kebebasan beribadat warga non-Muslim (kaum zimi) sebagai imbal balik jizyah yang diwajibkan atas mereka.[10]

Pada tahun 1914, menjelang Perang Dunia I, sekitar dua juta dari total populasi warga Armenia yang berkisar antara 15 sampai 17,5 juta jiwa menetap di Jazirah Anatolia.[11] Menurut perkiraan untuk tahun 1913-1914 yang disusun Kebatrikan Armenia, ada 2.925 kota dan desa warga Armenia di dalam wilayah Kesultanan Utsmaniyah, 2.084 di antaranya berada di Dataran Tinggi Armenia, tepatnya di Vilayet Bitlis, Vilayet Diyarbekir, Vilayet Erzerum, Vilayet Harput, dan Vilayet Van.[12] Warga Armenia merupakan golongan minoritas di hampir semua lingkungan tempat mereka menetap, hidup bertetangga dengan warga Turki, warga Muslim Kurdi, dan warga Kristen Ortodoks Yunani.[11][12] Menurut data Kebatrikan Armenia, 215.131 warga Armenia menetap di kawasan perkotaan, khususnya Konstantinopel, Smirna, dan Trakia Timur.[12] Sebagian besar warga Armenia memang bermata pencaharian sebagai petani kecil, tetapi kiprah mereka di bidang usaha perdagangan sangat menonjol. Sekalipun beberapa warga Armenia tergolong kaya, kekuatan politik masyarakat Armenia selaku golongan minoritas perantara tidaklah seberapa, dan oleh karena itu posisi mereka terbilang sangat rapuh.[13]

Konflik dan reformasi agraria[sunting | sunting sumber]

"Penggarongan Desa Armenia oleh Gerombolan Kurdi", lukisan tahun 1898 atau 1899

Warga Armenia di provinsi-provinsi timur hidup dalam suasana semifeodal. Kerja paksa, pungutan pajak liar, dan berbagai tindak kejahatan yang dibiarkan merajalela, seperti perampokan, pembunuhan, maupun kekerasan seksual, sudah bukan barang baru bagi mereka.[14][15] Semenjak tahun 1839, pemerintah Utsmaniyah mengeluarkan serentet kebijakan pembaharuan demi memusatkan kewenangan dan menyetarakan kedudukan warga negara Kesultanan Utsmaniyah tanpa pandang agama. Kebijakan-kebijakan untuk mengentaskan kedudukan warga non-Muslim mendapat tentangan keras dari para ulama dan warga Muslim pada umumnya, dan sebagian besar dari kebijakan-kebijakan tersebut pada akhirnya mandek di tataran teori.[16][17][18] Dengan dibubarkannya negara-negara emirat bangsa Kurdi pada pertengahan abad ke-19, pemerintah Utsmaniyah mulai memungut pajak secara langsung dari para petani Armenia, yang sebelumnya membayar pajak kepada tuan-tuan tanah Kurdi. Meskipun demikian, tuan-tuan tanah Kurdi terus menarik pungutan dari para petani Armenia secara tidak sah.[19][20]

Mulai pertengahan abad ke-19, warga Armenia dihadapkan dengan masalah penyerobotan tanah secara besar-besaran sebagai konsekuensi dari sedentarisasi suku-suku Kurdi maupun arus masuk pengungsi dan imigran Muslim (sebagian besar asal Sirkasia) menyusul Perang Rusia-Sirkasia.[21][22][23] Sesudah Sultan Abdul Hamid II naik takhta pada tahun 1876, pemerintah Utmaniyah mulai menyita tanah warga Armenia di provinsi-provinsi timur untuk diserahkan kepada para imigran Muslim sebagai bagian dari kebijakan sistematis untuk menyurutkan populasi Armenia di daerah-daerah tersebut. Kebijakan ini terus berjalan sampai pecah Perang Dunia I.[24][25] Populasi daerah pegunungan Armenia pada akhirnya menurun drastis. Tiga ratus ribu warga Armenia hengkang ke luar negeri, dan selebihnya pindah ke kota-kota.[26][27] Beberapa warga Armenia bergabung membentuk partai-partai politik revolusioner, yang paling berpengaruh di antaranya adalah Federasi Revolusioner Armenia (FRA) yang didirikan pada tahun 1890. Partai-partai politik tersebut lebih mementingkan pengupayaan reformasi di dalam negeri Kesultanan Utsmaniyah, dan hanya mampu menuai dukungan terbatas dari warga Armenia di negara itu.[28]

Kemenangan mutlak Rusia pada perang tahun 1877–1878 memaksa Kesultanan Utsmaniyah untuk melepas kedaulatannya atas beberapa daerah di Anatolia Timur, Balkan, dan Siprus.[29] Tekanan internasional pada Kongres Berlin tahun 1878 membuat pemerintah Utsmaniyah terpaksa melaksanakan usaha-usaha pembaharuan dan menjamin keamanan rakyatnya yang berkebangsaan Armenia, tetapi tidak ada mekanisme penegakannya.[30] Keadaan pun terus memburuk.[31][32] Kongres Berlin menandai kemunculan permasalahan Armenia di kancah diplomasi internasional, lantaran untuk pertama kalinya bangsa Armenia dimanfaatkan negara-negara Adidaya sebagai alasan untuk campur tangan dalam urusan politik Utsmaniyah.[33] Sekalipun bangsa Armenia disebut-sebut sebagai "milet yang setia", kontras dengan bangsa Yunani dan bangsa-bangsa lain yang pernah menentang kedaulatan Utsmaniyah, pemerintah Utsmaniyah mulai menganggap warga Armenia sebagai ancaman selepas tahun 1878.[34] Pada tahun 1891, Sultan Abdul Hamid II membentuk resimen-resimen Hamidiye yang beranggotakan warga suku-suku Kurdi, dan mengizinkan mereka untuk berlaku sewenang-sewenang terhadap warga Armenia.[35][31] Dari tahun 1895 sampai 1896, terjadi pembantaian besar-besaran di Kesultanan Utsmaniyah yang merenggut nyawa setidaknya 100.000 warga Armenia,[36][37] dibunuh prajurit-prajurit Utsmaniyah atau para perusuh saat berlangsungnya kerusuhan-kerusuhan yang sengaja dibiarkan pemerintah.[38] Warga sekian banyak desa Armenia dipaksa masuk Islam.[26] Negara Kesultanan Utsmaniyah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan tersebut,[39][40] yang dilakukan demi memulihkan tatanan kemasyarakatan terdahulu, yang di dalamnya warga Kristen harus menelan mentah-mentah supremasi warga Muslim,[41] dan untuk memaksa warga Armenia beremigrasi sehingga populasi mereka dengan sendirinya menyusut.[42]

Revolusi Turki Muda[sunting | sunting sumber]

Tirani Sultan Abdul Hamid II justru mendorong lahirnya Turki Muda, gerakan oposisi yang berniat menumbangkannya dan memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar tahun 1876 yang ia bekukan pada tahun 1877.[43] Salah satu faksi Turki Muda adalah Komite Persatuan dan Kemajuan (KPK), kelompok revolusioner rahasia yang bermarkas di Salonika, kota tempat Mehmet Talat (kemudian hari dikenal dengan sebutan Talat Pasya) bergabung menjadi anggotanya.[44] Meskipun khawatir melihat semangat nasionalisme Turki yang bercorak ekslusif kian menggelora di dalam gerakan Turki Muda, FRA memutuskan untuk berkongsi dengan KPK pada bulan Desember 1907.[45][46] Pada tahun 1908, KPK mengukuhkan eksistensinya di kancah kekuasaan melalui Revolusi Turki Muda, yang dimulai dengan membunuh beberapa orang pejabat tinggi di Makedonia.[47][48] Sultan Abdul Hamid II dipaksa memberlakukan kembali Undang Undang Dasar tahun 1876 dan memulihkan parlemen. Seluruh warga negara Kesultanan Utsmaniyah dari segala etnis dan agama menyambut gembira perkembangan ini.[49][50] Kondisi keamanan kian membaik di sejumlah daerah di provinsi-provinsi timur selepas tahun 1908, dan KPK mulai mengambil langkah-langkah untuk mereformasi gendarmeri setempat,[51] kendati suasana masih tegang.[52] Meskipun salah satu pokok Kesepakatan Salonika tahun 1910 antara FRA dan KPK adalah pembatalan pencaplokan tanah warga Armenia oleh negara beberapa dasawarsa silam, KPK tidak mengambil langkah apa-apa untuk mewujudkannya.[53][54]

Kampung Armenia di Adana seusai pembantaian tahun 1909

Pada awal tahun 1909, golongan konservatif dan sebagian golongan liberal anti rezim KPK yang kian represif melancarkan suatu kup tandingan kendati berakhir dengan kegagalan.[55] Ketika berita mengenai kup tandingan itu sampai ke Adana, warga Muslim bersenjata menyerang lingkungan permukiman warga Armenia, dan dibalas pula dengan tembakan oleh warga Armenia. Bukannya bergegas melindungi warga Armenia, serdadu-serdadu Utsmaniyah malah melindungi massa bersenjata yang merusuh.[56] Kerusuhan ini merenggut 20.000 sampai 25.000 korban jiwa, sebagian besar warga Armenia, yang tewas dibunuh di Adana dan kota-kota sekitarnya.[57] Berbeda dari pembantaian-pembantaian yang terjadi pada dasawarsa 1890-an, pembantaian-pembantaian ini tidak direkayasa pemerintah pusat tetapi disulut pejabat, cendekiawan, dan ulama setempat, termasuk massa pendukung KPK di Adana.[58] Meskipun pembantaian-pembantaian ini berakhir tanpa tindakan hukum, FRA masih berharap reformasi untuk meningkatkan keamanan dan mengembalikan tanah warga yang disita negara akan segera dilaksanakan. Pada akhir tahun 1912, FRA akhirnya pecah kongsi dengan KPK dan beralih meminta bantuan dari negara-negara Eropa.[59][60][61] Pada tanggal 8 Februari 1914, KPK terpaksa menyetujui langkah-langkah reformasi yang disodorkan Jerman, yang mengatur agar dua orang inspektur Eropa diangkat untuk mengawasi seluruh kawasan timur wilayah Utsmaniyah dan menjadikan resimen-resimen Hamidiye sebagai pasukan cadangan. Para pemimpin KPK khawatir ikhtiar-ikhtiar pembaharuan yang tak kunjung diimplementasikan itu akan mendorong bangsa Armenia untuk memisahkan diri, dan menjadikannya sebagai alasan untuk memusnahkan populasi Armenia pada tahun 1915.[62][63][64]

Perang Balkan[sunting | sunting sumber]

Iring-iringan gerombolan bandit Muslim membawa hasil aksi rampok di Fokaya (sekarang Foça, Turki) pada tanggal 13 Juni 1914, di belakang mereka tampak gedung-gedung yang terbakar dan kerumunan warga Yunani yang terpaksa mengungsi

Akibat Perang Balkan I tahun 1912, Kesultanan Utsmaniyah kehilangan hampir seantero wilayah kedaulatannya Eropa[65] dan umat Islam terusir dari Jazirah Balkan.[66] Perlakuan zalim terhadap umat Islam Balkan menyulut amarah masyarakat Muslim Utsmaniyah, mengobarkan sentimen anti-Kristen, dan ujung-ujungnya membangkitkan hasrat balas dendam.[67][68] Pihak yang dituding sebagai biang keladi hilangnya wilayah kedaulatan Utsmaniyah adalah semua warga Kristen, termasuk warga Armenia, padahal banyak warga Armenia yang turut serta berjuang di pihak Utsmaniyah dalam perang itu.[69] Perang Balkan mematikan semangat Utsmanisme yang memperjuangkan pluralisme dan koeksistensi,[70] bahkan KPK pun beralih ke jalur nasionalisme Turki yang kian lama kian radikal demi mempertahankan kelangsungan negara.[71] Para petinggi KPK semisal Talat dan Enver Pasya mulai menyalahkan konsentrasi populasi non-Muslim di daerah-daerah stategis sebagai pangkal berbagai masalah yang dihadapi negara, dan akhirnya menyimpulkan pada pertengahan tahun 1914 bahwa merekalah tumor-tumor di dalam negeri yang harus disingkirkan.[72] Dari semua populasi non-Muslim tersebut, warga Armenia dianggap yang paling berbahaya, karena para petinggi KPK khawatir kalau-kalau kampung halaman bangsa Armenia di Anatolia, yang digadang-gadangkan sebagai suaka terakhir bangsa Turki, akan mengikuti jejak Jazirah Balkan dan melepaskan diri dari Kesultanan Utsmaniyah.[73][74][71]

Pada bulan Januari 1913, KPK sekali lagi melancarkan kup, membuat Kesultanan Utmaniyah menjadi negara satu partai, dan menindas keras semua pihak yang terbukti maupun yang dicurigai sebagai musuh di dalam selimut.[75][76] Sesudah kup tersebut, KPK mengubah demografi daerah-daerah di perbatasan dengan memukimkan para pengungsi Muslim Balkan dan mendesak warga Kristen untuk hijrah ke luar negeri. Para imigran diiming-imingi harta benda tinggalan warga Kristen.[77] Ketika Kesultanan Utsmaniyah menduduki beberapa daerah di Trakia Timur dalam Perang Balkan II pada pertengahan tahun 1913, terjadi kampanye penjarahan dan intimidasi terhadap warga berkebangsaan Yunani dan Armenia, sehingga banyak dari mereka yang terpaksa hijrah ke luar negeri.[78] Sekitar 150.000 warga Kristen Ortodoks Yunani dari daerah pesisir Laut Egea dideportasi paksa pada bulan Mei dan Juni 1914 oleh gerombolan bandit Muslim yang diam-diam dibekingi KPK dan adakalanya beraksi bersama-sama para personel angkatan darat.[79][80][81] Sejarawan Matthias Bjørnlund menegaskan bahwa keberhasilan deportasi warga Yunani menumbuhkan niat di hati para petinggi KPK untuk membuat kebijakan-kebijakan yang lebih radikal "sebagai satu lagi perpanjangan dari kebijakan rekayasa sosial melalui proses Turkifikasi".[82]

Keikutsertaan Kesultanan Utsmaniyah dalam Perang Dunia I[sunting | sunting sumber]

Peta "pembalasan" (bahasa Turki Utsmaniyah: انتقام), daerah berwarna hitam adalah bagian yang hilang dari wilayah kedaulatan Utsmaniyah selama dan seusai Perang Balkan

Beberapa hari sesudah Perang Dunia I, KPK mengesahkan perjanjian persekutuan dengan Jerman pada tanggal 2 Agustus 1914.[83] Di ambang perang dengan Rusia, pada bulan itu juga KPK mengutus wakil-wakilnya ke konferensi FRA yang diselenggarakan di Erzurum dengan maksud mendesak FRA untuk menghasut warga Armenia Rusia supaya turut melibatkan diri demi kepentingan Utsmaniyah. Perwakilan KPK pada akhirnya malah bersikukuh orang-orang Armenia harus berjuang membela negara tempat tinggal mereka masing-masing.[84] Sebagai salah satu langkah persiapan menghadapi perang, pemerintah Utsmaniyah merekrut ribuan narapidana menjadi anggota Organisasi Khusus,[85] yang mulanya dikerahkan untuk menyulut pemberontakan warga Muslim Rusia sebelum Kesultanan Utsmaniyah secara resmi memasuki kancah Perang Dunia I.[86] Pada tanggal 29 Oktober 1914, Kesultanan Utsmaniyah melibatkan diri dalam Perang Dunia I, sekubu dengan negara-negara Daulat Madya, dengan melancarkan serangan dadakan terhadap pelabuhan-pelabuhan Rusia di Laut Hitam.[87] Banyak warga Armenia Rusia menyikapi perang tersebut dengan penuh semangat juang, tetapi warga Armenia Utsmaniyah justru bimbang, lantaran khawatir dukungan bangsa Armenia kepada Rusia bakal mendatangkan pembalasan dari pihak Utsmaniyah. Pembentukan satuan-satuan sukarelawan Armenia oleh warga Armenia Rusia, ditambah lagi dengan keikutsertaan beberapa warga Armenia Utsmaniyah yang membelot di dalam satuan-satuan tersebut, kian memperbesar kecurigaan pemerintah Utsmaniyah terhadap warganya yang berkebangsaan Armenia.[88]

Rekuisisi-rekuisisi yang dilakukan pemerintah pada masa perang sering kali korup dan semena-mena, serta secara tidak proporsional menyasar warga Yunani dan Armenia.[89] Para pemuka masyarakat Armenia mengimbau anak-anak muda agar bersedia dimobilisasi, tetapi banyak serdadu dari berbagai latar belakang etnis maupun agama melakukan desersi lantaran kerasnya kehidupan yang harus mereka jalani dan karena mengkhawatirkan keluarga yang mereka tinggalkan.[90] Sekurang-kurangnya 10 persen dari seluruh warga Armenia Utsmaniyah dimobilisasi, sehingga komunitas-komunitas Armenia mengalami kekurangan warga laki-laki yang cukup umur untuk berperang, dan oleh karena itu rata-rata tidak berdaya melancarkan perlawanan bersenjata saat dideportasi paksa pada tahun 1915.[91][92] Sewaktu Utsmaniyah menginvasi wilayah kedaulatan Rusia dan Persia, Organisasi Khusus gencar membantai warga Armenia dan warga Kristen Suryani setempat.[93][94] Mulai dari bulan November 1914, Wali Vilayet Van, Wali Vilayet Bitlis, dan Wali Vilayet Erzerum berulang kali mengirim telegram ke ibu kota, mendesak pemerintah pusat untuk lebih keras menindak warga Armenia, baik di tingkat daerah maupun di seluruh wilayah kedaulatan Utsmaniyah.[95] Pemerintah pusat menuruti saja desakan-desakan tersebut, bahkan sebelum tahun 1915.[96] Para pegawai negeri keturunan Armenia dibebastugaskan pada akhir tahun 1914 dan awal tahun 1915.[97] Pada bulan Februari 1915, para petinggi KPK memutuskan untuk melucuti senjata para serdadu keturunan Armenia dan memindahtugaskan mereka ke batalion-batalion buruh.[98] Serdadu-serdadu keturunan Armenia di batalion-batalion buruh secara sistematis dieksekusi mati, kendati banyak tenaga terampil yang dibiarkan hidup sampai tahun 1916.[99]

Pendahuluan genosida[sunting | sunting sumber]

Warga Armenia yang melakukan perlawanan di daerah Van
Serdadu Rusia berfoto di desa Syeikhalan, salah satu bekas permukiman warga Armenia di dekat kota Muş, tahun 1915

Menteri Perang Enver Pasya mengambil alih komando angkatan darat Kesultanan Utsmaniyah ketika negara itu menginvasi wilayah kedaulatan Rusia, dan berusaha mengepung Angkatan Darat Kaukasus pada Pertempuran Sarikamiş yang berlangsung dari bulan Desember 1914 sampai bulan Januari 1915. Lantaran kurang matang mempersiapkan diri menghadapi kerasnya musim dingin,[100] pasukannya dikecundangi dengan telak, dan kehilangan lebih dari 60.000 personel.[101] Para serdadu angkatan darat Utsmaniyah yang ditarik mundur menghancurleburkan desa-desa Armenia di Vilayet Bitlis dan membantai warganya.[97] Enver Pasya terang-terangan mengambinghitamkan warga Armenia sebagai biang keladi kekalahannya. Ia menuduh warga Armenia aktif memihak Rusia, dan pendapatnya ini menjadi suatu konsensus di kalangan petinggi KPK.[102][103] Laporan-laporan mengenai insiden-indisen di daerah semisal penimbunan senjata, pemutusan jalur telegraf, dan pembunuhan yang sesekali terjadi kian menguatkan syak wasangka yang sudah lama beredar tentang perangai khianat warga Armenia, dan membuat para petinggi KPK semakin khawatir kalau-kalau warga Armedia sedang bersekongkol melawan negara.[104][105] Tanpa mengindahkan laporan-laporan bahwasanya rata-rata warga Armenia adalah rakyat yang setia, para petinggi KPK memutuskan untuk menumpas warga Armenia demi menyelamatkan negara.[104]

Dari bulan Desember 1914, terjadi pembantaian kaum pria Armenia di Başkale, Vilayet Van.[106] Para petinggi FRA berusaha menenangkan suasana dengan memngeluarkan peringatan bahwa tindakan bela diri yang boleh dibenarkan pun dapat saja mengekskalasi pembunuhan.[107] Wali Vilayet Van, Cevdet Bey, memerintahkan warga Armenia Van untuk menyerahkan senjata pada tanggal 18 April 1915. Bagaikan buah simalakama, perintah ini membuat warga Armenia menjadi serba salah. Jika dipatuhi, mereka harus bersiap-siap kehilangan nyawa setiap saat, tetapi jika tidak dipatuhi, mereka justru menciptakan alasan bagi pemerintah untuk membantai mereka. Warga Armenia akhirnya membentengi diri di Van dan berjuang melawan serbuan pemerintah Utsmaniyah yang dilancarkan mulai tanggal 20 April.[108][109] Dalam peristiwa penyerbuan itu, warga Armenia di desa-desa sekitar Van tewas dibantai atas perintah Cevdet Bey. Pasukan Rusia, yang merebut Van pada tanggal 18 Mei, mendapati 55.000 mayat bergelimpangan di daerah itu, kurang lebih setengah dari populasi Armenia sebelum perang.[110] Pasukan Cevdet Bey selanjutnya bergerak ke Bitlis, menyerbu desa-desa Armenia dan Suryani. Warga pria Armenia yang dijumpai langsung dibunuh, banyak warga perempuan dan anak-anak Armenia diculik warga Kurdi setempat, selebihnya berbondong-bondong mengungsi tetapi akhirnya juga tewas dibantai. Pada akhir bulan Juni, hanya tersisa selusin warga Armenia di vilayet itu.[111]

Atas usulan Cemal Pasya, panglima Angkatan Keempat, warga Armenia dideportasi pada bulan Februari 1915. Sasaran aksi ini adalah warga Armenia di Kilikia (khususnya Aleksandreta, Dörtyol, Adana, Hajin, Zeytun, dan Sis). Mereka direlokasi ke daerah sekitar Konya di kawasan tengah Anatolia.[112] Pada akhir bulan Maret atau awal bulan April, Komite Pusat KPK memutuskan untuk menyingkirkan warga Armenia secara besar-besaran dari daerah-daerah di sekitar perbatasan.[113] Pada malam hari tanggal 23–24 April 1915, pemerintah menangkap ratusan aktivis politik, cendekiawan, dan pemuka masyarakat Armenia baik di Konstantinopel maupun di seluruh wilayah Kesultanan Utsmaniyah. Penangkapan yang dilakukan atas perintah Talat Pasya ini dimaksudkan untuk meniadakan kepemimpinan masyarakat Armenia dan menyingkirkan siapa saja yang berpeluang memprakarsai perlawanan. Aksi penangkapan ini berakhir dengan pembunuhan sebagian besar dari orang-orang yang ditangkap.[114][115][116] Pada hari itu juga, Talat Pasya membubarkan semua organisasi politik Armenia,[117] dan memerintahkan pendeportasian warga Armenia yang sebelumnya sudah dideportasi dari Kilikia, dari kawasan tengah Anatolia—tempat yang masih memberi peluang bagi mereka untuk bertahan hidup—ke Padang Gurun Suriah.[118][119]

Deportasi sistematis[sunting | sunting sumber]

Tujuan[sunting | sunting sumber]

Kami dipersalahkan lantaran tidak memilah mana orang Armenia yang bersalah dan mana orang Armenia yang tidak bersalah. Mustahil. Karena sebagaimana yang lumrah terjadi, orang yang hari ini belum bersalah tahu-tahu besok sudah bersalah. Kepentingan keselamatan Turki harus didahulukan di atas semua kepentingan lain. Tindakan-tindakan kami lahir dari keterdesakan nasional dan historis.

— Talat Pasya, Berliner Tageblatt, 4 Mei 1915[120][121]

Pada Perang Dunia I, KPK—yang tujuan utamanya adalah melanggengkan daulat Kesultanan Utsmaniyah—mengidentifikasi warga sipil Armenia sebagai suatu ancaman terhadap eksistensi negara.[122][123] Para petinggi KPK mengecap seluruh warga Armenia, termasuk perempuan dan anak-anak, sebagai "para pengkhianat" negara. Anggapan semacam inilah yang melandasi pengambilan keputusan KPK untuk melakukan genosida pada awal tahun 1915.[124][125] Pada waktu yang sama, perang memberi kesempatan untuk bertindak, atau kata Talat Pasya, memberi "solusi definitif bagi Permasalahan Armenia".[123][126] KPK keliru menyangka Kekaisaran Rusia berusaha menganeksasi kawasan timur Anatolia, sehingga memerintahkan pelaksanaan genosida tersebut demi mencegahnya.[127] Genosida Armenia dimaksudkan untuk mengeliminasi secara permanen segala peluang bagi warga Armenia untuk mencapai otonomi maupun kemerdekaan di provinsi-provinsi timur Kesultanan Utsmaniyah.[128] Dokumen-dokumen Utsmaniyah menunjukkan bahwa pemerintah bertujuan mengurangi jumlah warga Armenia sampai tidak lebih dari lima persen dari populasi di tempat-tempat asal deportasi dan sepuluh persen di tempat-tempat tujuan deportasi. Tujuan ini tidak dapat dicapai tanpa pembunuhan massal.[129][130][131]

Deportasi warga Armenia dan pemukiman warga Muslim di tempat yang mereka tinggalkan merupakan bagian dari suatu proyek lebih besar yang dimaksudkan untuk merestrukturisasi demografi Anatolia secara permanen.[132][133][134] Rumah-rumah tinggal, usaha, dan tanah warga Armenia dialokasikan kepada para pendatang Muslim dari luar wilayah Kesultanan Utsmaniyah, suku-suku pengelana, dan sekitar 800.000 warga Utsmaniyah (sebagian besar orang Kurdi) yang harus dipindahkan lantaran perang dengan Rusia. Warga Muslim yang dimukimkan kembali disebar (biasanya dibatasi sampai 10 persen di suatu daerah) di tengah-tengah populasi warga Turki yang lebih besar supaya lambat laun kehilangan keistimewaan-keistimewaan yang menjadi ciri khas mereka, misalnya bahasa-bahasa non-Turki dan cara hidup berpindah-pindah.[135] Kaum pendatang tersebut dihadapkan dengan kondisi hidup yang keras, dan dalam kasus-kasus tertentu dengan tindakan keras atau larangan untuk meninggalkan desa-desa mereka yang baru.[136] Pembersihan etnis di Anatolia, yakni genosida Armenia, genosida Asyur, dan pengusiran warga Yunani seusai Perang Dunia I, melapangkan jalan bagi pembentukan sebuah negara bangsa Turki.[137][138] Pada bulan September 1918, Talat Pasya menegaskan bahwa sekalipun kalah dalam perang, ia harus berhasil "mentransformasi Turki menjadi sebuah negara bangsa di Anatolia".[139][140]

Deportasi memuncak menjadi hukuman mati. Pemerintah menyusun rencana bahkan menghendaki agar warga yang dideportasi kehilangan nyawanya.[141][142][143] Deportasi hanya dilaksanakan di daerah-daerah yang jauh dari garis depan pertempuran, di mana tidak ada pemberontakan aktif, dan hanya mungkin dilaksanakan di tengah-tengah ketiadaan perlawanan yang meluas. Warga Armenia yang berdiam di zona peranglah yang justru dibunuh dalam aksi-aksi pembantaian.[144] Kendati tampaknya dilancarkan demi kepentingan militer,[145] deportasi dan pembunuhan warga Armenia tidak mendatangkan keuntungan militer apapun bagi Kesultanan Utsmaniyah, dan sesungguhnya justru menggerus daya juang negara itu.[146] Kesultanan Utsmaniyah menghadapi suatu dilema di antara tujuannya untuk mengeliminasi warga Armenia dan kebutuhan praktisnya akan tenaga kerja Armenia. Orang-orang Armenia yang dibiarkan hidup agar dapat dimanfaatkan keahliannya, teristimewa untuk kegiatan manufaktur di bidang industri perang, menjadi tenaga-tenaga kerja yang penting artinya di bidang urusan logistik Angkatan Darat Utsmaniyah.[147][148] Pada akhir tahun 1915, KPK sudah meniadakan eksistensi bangsa Armenia dari kawasan timur Anatolia.[149]

Peta Genosida Armenia tahun 1915.

Posisi pemerintahan Turki[sunting | sunting sumber]

Hingga sekarang pemerintahan Turki tidak mau mengakui kejahatan tersebut dengan menyatakan bahwa jumlah korban yang jatuh lebih kecil dan mereka mati karena perang saudara bukan karena pembersihan etnis. (Selama bertahun-tahun, kebanyakan negara Barat sendiri menghindari isu ini demi menghormati Turki yang menjadi sekuler setelah pemerintahan Kemal Ataturk). Pada kenyataannya, ditutup-tutupinya pembantaian ini sendiri — baik oleh orang Turki maupun pemerintahan Barat — konon memberikan inspirasi kepada Hitler untuk membantai orang Yahudi, meskipun hal ini masih menjadi kontroversi.

Sementara itu Uni Eropa menyatakan bahwa salah satu persyaratan bagi Turki untuk masuk ke Uni Eropa ialah dengan mengakuinya genosida ini.

Di sisi lain ada semakin banyak pakar dan ilmuwan Turki yang mengakui pernah adanya genosida ini. Mereka antara lain adalah Taner Akçam, Fatma Muge Gocek, dan Halil Berktay.

Pengakuan adanya Genosida Armenia[sunting | sunting sumber]

Negara-negara dan daerah yang telah mengakui Genosida Armenia

Negara-negara berikut mengakui bahwa Genosida Armenia memang pernah terjadi secara penuh:

Sementara negara-negara yang memiliki pemerintah daerah atau organisasi lain yang mengakui Genosida Armenia adalah sebagai berikut:

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  • Hrant Dink, seorang wartawan Turki-Armenia yang dibunuh seorang pemuda Turki berhaluan nasionalis.
  • Orhan Pamuk, penulis Turki yang mendukung pengakuan genosida atas etnis Armenia oleh Turki.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Juga dikenal dengan berbagai sebutan lain.
  1. ^ Suny 2015, hlm. 245, 330.
  2. ^ Bozarslan et al. 2015, hlm. 187.
  3. ^ Morris & Ze'evi 2019, hlm. 1.
  4. ^ Ahmed 2006, hlm. 1576.
  5. ^ Suny 2015, hlm. xiv.
  6. ^ Payaslian 2007, hlm. 34–35.
  7. ^ Payaslian 2007, hlm. 105–106.
  8. ^ Suny 2015, hlm. 11, 15.
  9. ^ Suny 2015, hlm. 12.
  10. ^ Suny 2015, hlm. 5, 7.
  11. ^ a b Suny 2015, hlm. xviii.
  12. ^ a b c Kévorkian 2011, hlm. 279.
  13. ^ Bloxham 2005, hlm. 8–9.
  14. ^ Astourian 2011, hlm. 60.
  15. ^ Suny 2015, hlm. 19.
  16. ^ Kévorkian 2011, hlm. 9.
  17. ^ Kieser 2018, hlm. 8, 40.
  18. ^ Suny 2015, hlm. 26–27.
  19. ^ Suny 2015, hlm. 19, 53.
  20. ^ Astourian 2011, hlm. 60, 63.
  21. ^ Astourian 2011, hlm. 56, 60.
  22. ^ Suny 2015, hlm. 19, 21.
  23. ^ Göçek 2015, hlm. 123.
  24. ^ Astourian 2011, hlm. 62, 65.
  25. ^ Suny 2015, hlm. 55.
  26. ^ a b Kévorkian 2011, hlm. 271.
  27. ^ Suny 2015, hlm. 54–56.
  28. ^ Suny 2015, hlm. 87–88.
  29. ^ Suny 2015, hlm. 94–95, 105.
  30. ^ Suny 2015, hlm. 95–96.
  31. ^ a b Astourian 2011, hlm. 64.
  32. ^ Suny 2015, hlm. 97.
  33. ^ Suny 2015, hlm. 96.
  34. ^ Suny 2015, hlm. 48–49.
  35. ^ Kévorkian 2011, hlm. 75–76.
  36. ^ Kévorkian 2011, hlm. 11, 65.
  37. ^ Suny 2015, hlm. 129.
  38. ^ Suny 2015, hlm. 129–130.
  39. ^ Suny 2015, hlm. 130.
  40. ^ Kévorkian 2011, hlm. 11.
  41. ^ Suny 2015, hlm. 131.
  42. ^ Kévorkian 2011, hlm. 266.
  43. ^ Suny 2015, hlm. 92–93, 99, 139–140.
  44. ^ Kieser 2018, hlm. 46–47.
  45. ^ Suny 2015, hlm. 152–153.
  46. ^ Kieser 2018, hlm. 50.
  47. ^ Kieser 2018, hlm. 53–54.
  48. ^ Göçek 2015, hlm. 192.
  49. ^ Kieser 2018, hlm. 54–55.
  50. ^ Suny 2015, hlm. 154–156.
  51. ^ Kaligian 2017, hlm. 89–91.
  52. ^ Kaligian 2017, hlm. 82–84.
  53. ^ Kaligian 2017, hlm. 86–92.
  54. ^ Astourian 2011, hlm. 66.
  55. ^ Suny 2015, hlm. 165–166.
  56. ^ Suny 2015, hlm. 168–169.
  57. ^ Suny 2015, hlm. 171.
  58. ^ Suny 2015, hlm. 172.
  59. ^ Kieser 2018, hlm. 152–153.
  60. ^ Astourian 2011, hlm. 66–67.
  61. ^ Kaligian 2017, hlm. 92.
  62. ^ Kieser 2018, hlm. 163–164.
  63. ^ Akçam 2019, hlm. 461–462.
  64. ^ Suny 2015, hlm. 203, 359.
  65. ^ Suny 2015, hlm. 184–185.
  66. ^ Kieser 2018, hlm. 167.
  67. ^ Suny 2015, hlm. 185, 363.
  68. ^ Üngör 2012, hlm. 50.
  69. ^ Bozarslan dkk. 2015, hlm. 169, 171.
  70. ^ Bloxham & Göçek 2008, hlm. 363.
  71. ^ a b Kieser 2018, hlm. 156.
  72. ^ Kaligian 2017, hlm. 97–98.
  73. ^ Suny 2015, hlm. 193.
  74. ^ Göçek 2015, hlm. 191.
  75. ^ Suny 2015, hlm. 189–190.
  76. ^ Kieser 2018, hlm. 133–134, 136, 138, 172.
  77. ^ Kaligian 2017, hlm. 95, 97.
  78. ^ Kaligian 2017, hlm. 96–97.
  79. ^ Suny 2015, hlm. 193, 211–212.
  80. ^ Kieser 2018, hlm. 169, 176–177.
  81. ^ Kaligian 2017, hlm. 98.
  82. ^ Bjørnlund 2008, hlm. 51.
  83. ^ Suny 2015, hlm. 214–215.
  84. ^ Suny 2015, hlm. 223–224.
  85. ^ Üngör 2016, hlm. 16–17.
  86. ^ Suny 2015, hlm. 233–234.
  87. ^ Suny 2015, hlm. 218.
  88. ^ Suny 2015, hlm. 221–222.
  89. ^ Suny 2015, hlm. 225.
  90. ^ Suny 2015, hlm. 226–227.
  91. ^ Kévorkian 2011, hlm. 242.
  92. ^ Bozarslan dkk. 2015, hlm. 179.
  93. ^ Suny 2015, hlm. 243–244.
  94. ^ Üngör 2016, hlm. 18.
  95. ^ Akçam 2019, hlm. 475.
  96. ^ Akçam 2019, hlm. 478–479.
  97. ^ a b Üngör 2016, hlm. 19.
  98. ^ Suny 2015, hlm. 244.
  99. ^ Suny 2015, hlm. 248–249.
  100. ^ Suny 2015, hlm. 241–242.
  101. ^ Akçam 2012, hlm. 157.
  102. ^ Üngör 2016, hlm. 18–19.
  103. ^ Suny 2015, hlm. 243.
  104. ^ a b Suny 2015, hlm. 248.
  105. ^ Kieser 2018, hlm. 235–238.
  106. ^ Akçam 2019, hlm. 472.
  107. ^ Suny 2015, hlm. 255.
  108. ^ Suny 2015, hlm. 257.
  109. ^ Kévorkian 2011, hlm. 319.
  110. ^ Suny 2015, hlm. 259–260.
  111. ^ Suny 2015, hlm. 287, 289.
  112. ^ Dündar 2011, hlm. 281.
  113. ^ Suny 2015, hlm. 247–248.
  114. ^ Kieser 2018, hlm. 10.
  115. ^ Kévorkian 2011, hlm. 251–252.
  116. ^ Suny 2015, hlm. 271–272.
  117. ^ Suny 2015, hlm. 273.
  118. ^ Suny 2015, hlm. 274–275.
  119. ^ Akçam 2012, hlm. 188.
  120. ^ Ihrig 2016, hlm. 162–163.
  121. ^ Bozarslan dkk. 2015, hlm. 168.
  122. ^ Akçam 2012, hlm. 337.
  123. ^ a b Suny 2015, hlm. 245.
  124. ^ Akçam 2019, hlm. 457.
  125. ^ Bozarslan dkk. 2015, hlm. 166–167.
  126. ^ Dündar 2011, hlm. 284.
  127. ^ Nichanian 2015, hlm. 202.
  128. ^ Watenpaugh 2013, hlm. 284.
  129. ^ Akçam 2012, hlm. 242, 247–248.
  130. ^ Dündar 2011, hlm. 282.
  131. ^ Kieser 2018, hlm. 261.
  132. ^ Kaiser 2019, 6.
  133. ^ Bozarslan dkk. 2015, hlm. 102.
  134. ^ Nichanian 2015, hlm. 254.
  135. ^ Gingeras 2016, hlm. 176–177.
  136. ^ Gingeras 2016, hlm. 178.
  137. ^ Suny 2015, hlm. 349, 364.
  138. ^ Bozarslan dkk. 2015, hlm. 311.
  139. ^ Kieser 2018, hlm. 376.
  140. ^ Nichanian 2015, hlm. 227.
  141. ^ Kaiser 2010, hlm. 384.
  142. ^ Dündar 2011, hlm. 276–277.
  143. ^ Üngör 2012, hlm. 54.
  144. ^ Kaiser 2010, hlm. 366, 383.
  145. ^ Mouradian 2018, hlm. 148.
  146. ^ Rogan 2015, hlm. 184.
  147. ^ Cora 2020, hlm. 50–51.
  148. ^ Suny 2015, hlm. 317.
  149. ^ Kieser 2018, hlm. 240.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Buku[sunting | sunting sumber]

Bab[sunting | sunting sumber]

  • Ahmed, Ali (2006). "Turkey". Encyclopedia of the Developing World (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 1575–1578. ISBN 978-1-57958-388-0. 
  • Anderson, Margaret Lavinia (2011). "Who Still Talked about the Extermination of the Armenians?". A Question of Genocide: Armenians and Turks at the End of the Ottoman Empire (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 199–217. ISBN 978-0-19-539374-3. 
  • Astourian, Stephan (2011). "The Silence of the Land: Agrarian Relations, Ethnicity, and Power". A Question of Genocide: Armenians and Turks at the End of the Ottoman Empire. Oxford University Press. hlm. 55–81. ISBN 978-0-19-539374-3. 
  • Bloxham, Donald; Göçek, Fatma Müge (2008). "The Armenian Genocide". The Historiography of Genocide (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan UK. hlm. 344–372. ISBN 978-0-230-29778-4. 
  • Chorbajian, Levon (2016). "'They Brought It on Themselves and It Never Happened': Denial to 1939". The Armenian Genocide Legacy (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan UK. hlm. 167–182. ISBN 978-1-137-56163-3. 
  • Cora, Yaşar Tolga (2020). "Towards a Social History of the Ottoman War Economy: Manufacturing and Armenian Forced Skilled-Laborers". Not All Quiet on the Ottoman Fronts: Neglected Perspectives on a Global War, 1914–1918. Ergon-Verlag. hlm. 49–72. ISBN 978-3-95650-777-9. 
  • Der Mugrdechian, Barlow (2016). "The Theme of Genocide in Armenian Literature". The Armenian Genocide Legacy (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan UK. hlm. 273–286. ISBN 978-1-137-56163-3. 
  • Dündar, Fuat (2011). "Pouring a People into the Desert: The "Definitive Solution" of the Unionists to the Armenian Question". A Question of Genocide: Armenians and Turks at the End of the Ottoman Empire (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 276–286. ISBN 978-0-19-539374-3. 
  • Göçek, Fatma Müge (2011). "Reading Genocide: Turkish Historiography on 1915". A Question of Genocide: Armenians and Turks at the End of the Ottoman Empire. Oxford University Press. hlm. 42–52. ISBN 978-0-19-539374-3. 
  • Kaiser, Hilmar (2010). "Genocide at the Twilight of the Ottoman Empire". The Oxford Handbook of Genocide Studies (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 365–385. ISBN 978-0-19-923211-6. 
  • Kaligian, Dikran (2017). "Convulsions at the End of Empire: Thrace, Asia Minor, and the Aegean". Genocide in the Ottoman Empire: Armenians, Assyrians, and Greeks, 1913–1923 (dalam bahasa Inggris). Berghahn Books. hlm. 82–104. ISBN 978-1-78533-433-7. 
  • Kévorkian, Raymond (2014). "Earth, Fire, Water: or How to Make the Armenian Corpses Disappear". Destruction and Human Remains: Disposal and Concealment in Genocide and Mass Violence (dalam bahasa Inggris). Manchester University Press. hlm. 89–116. ISBN 978-1-84779-906-7. JSTOR j.ctt1wn0s3n.9. 
  • Kévorkian, Raymond (2020). "The Final Phase: The Cleansing of Armenian and Greek Survivors, 1919–1922". Collective and State Violence in Turkey: The Construction of a National Identity from Empire to Nation-State (dalam bahasa Inggris). Berghahn Books. hlm. 147–173. ISBN 978-1-78920-451-3. 
  • Kieser, Hans-Lukas; Bloxham, Donald (2014). "Genocide". The Cambridge History of the First World War: Volume 1: Global War. Cambridge University Press. hlm. 585–614. ISBN 978-0-511-67566-9. 
  • Koinova, Maria (2017). "Conflict and Cooperation in Armenian Diaspora Mobilisation for Genocide Recognition". Diaspora as Cultures of Cooperation: Global and Local Perspectives (dalam bahasa Inggris). Springer International Publishing. hlm. 111–129. ISBN 978-3-319-32892-8. 
  • Leonard, Thomas C. (2004). "When news is not enough: American media and Armenian deaths". America and the Armenian Genocide of 1915. Cambridge University Press. hlm. 294–308. ISBN 978-0-521-82958-8. 
  • Maksudyan, Nazan (2020). "The Orphan Nation: Gendered Humanitarianism for Armenian Survivor Children in Istanbul, 1919–1922". Gendering Global Humanitarianism in the Twentieth Century: Practice, Politics and the Power of Representation (dalam bahasa Inggris). Springer International Publishing. hlm. 117–142. ISBN 978-3-030-44630-7. 
  • Marsoobian, Armen (2016). "The Armenian Genocide in Film: Overcoming Denial and Loss". The History of Genocide in Cinema: Atrocities on Screen (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. hlm. 73–86. ISBN 978-1-78673-047-3. 
  • Mouradian, Khatchig (2018). "Internment and destruction: Concentration camps during the Armenian genocide, 1915–16". Internment during the First World War: A Mass Global Phenomenon (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 145–161. ISBN 978-1-315-22591-3. 
  • Üngör, Uğur Ümit (2012). "The Armenian Genocide, 1915" (PDF). Holocaust and Other Genocides (PDF) (dalam bahasa Inggris). NIOD Institute for War, Holocaust and Genocide Studies / Amsterdam University Press. hlm. 45–72. ISBN 978-90-4851-528-8. 
  • Üngör, Uğur Ümit (2016). "The Armenian Genocide in the Context of 20th-Century Paramilitarism". The Armenian Genocide Legacy (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan UK. hlm. 11–25. ISBN 978-1-137-56163-3. 
  • Zürcher, Erik Jan (2011). "Renewal and Silence: Postwar Unionist and Kemalist Rhetoric on the Armenian Genocide". A Question of Genocide: Armenians and Turks at the End of the Ottoman Empire. Oxford University Press. hlm. 306–316. ISBN 978-0-19-539374-3. 

Artikel jurnal[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]