Siti Hardiyanti Rukmana
Siti Hardiyanti Rukmana | |
|---|---|
| Menteri Sosial Indonesia ke-24 | |
| Masa jabatan 14 Maret 1998 – 21 Mei 1998 | |
| Presiden | Soeharto |
| Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia | |
| Masa jabatan 1 Oktober 1992 – 14 Maret 1998 | |
| Ketua Umum Palang Merah Indonesia ke-10 | |
| Masa jabatan 1992–1998 | |
| Ibu Negara Republik Indonesia (pelaksana tugas) | |
| Masa jabatan 28 April 1996 – 21 Mei 1998 | |
| Presiden | Soeharto |
| Direktur Utama TPI ke-1 | |
| Masa jabatan 23 Januari 1991 – 23 Januari 1998 | |
Pendahulu Jabatan baru Pengganti Tito Sulistio | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Siti Hardiyanti Hastuti 23 Januari 1949 Yogyakarta, Indonesia |
| Partai politik | Golkar (sampai 1998) PKPB (2002–2014) Berkarya (2018–2024) |
| Suami/istri | Indra Rukmana (m. 1972) |
| Anak | 3 |
| Orang tua | Soeharto (ayah) Siti Hartinah (ibu) |
| Kerabat | Sigit Harjojudanto (adik) Bambang Trihatmodjo (adik) Siti Hediati Hariyadi (adik) Hutomo Mandala Putra (adik) Siti Hutami Endang Adiningsih (adik) |
| Almamater | Universitas Trisakti |
| Penghargaan sipil | Bintang Mahaputera Pratama[1] |
| Julukan | Mbak Tutut |
Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (lahir 23 Januari 1949), atau biasa dikenal dengan nama panggilannya Tutut Soeharto, adalah pengusaha dan politikus Indonesia yang pernah mengabdi sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan VII. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai anggota MPR RI Fraksi Golkar dari tahun 1992 hingga 1998. Tutut merupakan putri sulung dari mantan Presiden Republik Indonesia ke-2 Soeharto.

Kehidupan awal
[sunting | sunting sumber]Siti Hardiyanti Hastuti lahir di Yogyakarta pada tahun 1949 sebagai anak sulung dari pasangan Soeharto dan Siti Hartinah. Pada saat itu, ayahnya menjabat sebagai Komandan Brigade Mataram (Wehrkreise III) di Yogyakarta dengan pangkat Letnan Kolonel. Ia juga merupakan keturunan Mangkunegara III dari garis ibu.[2]
Nama Tutut berasal dari panggilan masa kecilnya. Pada awalnya, ia sering dipanggil Tuti, kependekan dari Hastuti. Namun karena terkadang ia tidak merespon saat dipanggil, ayahnya membujuk dengan bunyi kereta api Tut tut tut. Lambat laun panggilan ini terus melekat, menjadi Tutut.[3]
Adalah ciri kehidupan keluarga militer, bahwa tiga dari anak Soeharto (termasuk Tutut) lahir ketika sang ayah sedang bertugas dan berpisah dari keluarganya. Tutut lahir ketika Soeharto sedang bertempur dalam perang gerilya di luar kota Yogyakarta. Soeharto tidak melihat putri pertamanya selama tiga bulan setelah dilahirkan.[4]
Ia lulus dari SMA Negeri 1 Jakarta dan pernah berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Trisakti, meski tidak selesai.[5][6][7][8]
Kehidupan pribadi
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1972, Tutut menikah dengan Indra Rukmana (l.1948), anak pengusaha Edi Kowara Adiwinata. Acara pernikahan diadakan di Istana Bogor.[9] Pasangan tersebut dikaruniai empat orang anak, yaitu Dandy Nugroho Hendro Maryanto (Dandy), Danty Indriastuti Purnamasari (Danty), dan Danny Bimo Hendro Utomo (Danny), Danvy Sekartaji Rukmana (Sekar).[10]
Salah satu anak Tutut, Danty, terpilih mewakili Provinsi DKI Jakarta sebagai pembawa bendera Sang Saka Merah Putih dalam Paskibraka Nasional yang bertugas pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-45 pada 1990.[11][12][13]
Karier
[sunting | sunting sumber]Aktivisme & karier sosial
[sunting | sunting sumber]Mbak Tutut dikenal mempelopori berbagai kegiatan sosial dan menjadi ketua maupun pelindung berbagai organisasi.
Sejak didirikan tahun 1986, Tutut aktif terlibat dalam penggalangan & penyaluran dana untuk korban bencana alam melalui Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan. Pada salah satu acara pengumpulan sumbangan dari komunitas pengusaha (yang diselenggarakan oleh Yayasan tersebut) di Istana Bogor, Tutut melakukan tarian jaipong yang sedang dipopulerkan kembali di masa itu.[14]
Ketika saatnya mengantarkan bantuan, Tutut datang langsung ke lokasi bencana, seperti halnya ketika menyerahkan sumbangan bagi korban banjir di Padang Pariaman dan Pasaman, Sumatera Barat di tahun 1986.[15] Saat berada di lokasi bencana, Tutut selalu menolak pengawalan ataupun perlakuan khusus, walaupun pejabat daerah setempat ingin memperlakukan Tutut sesuai protokol sebagaimana layaknya putri presiden.[16]
Pada tahun 1988, Tutut terpilih menjadi Ketua Umum Himpunan Pekerja Sosial Indonesia (HIPSI) pada acara kongres luar biasa selama masa periode 5 tahun. Ia bergabung dengan himpunan tersebut sejak organisasi tersebut didirikan.[17][18] Di bawah naungan Tutut, HIPSI diajak bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain (seperti Lions Clubs dan Rotary Club) untuk melaksanakan beberapa inisiatif sosial, termasuk menyelenggarakan pasar murah di seluruh Indonesia, mengerahkan dokter muda untuk memberi konsultasi kesehatan (termasuk di lokasi-lokasi resosialisasi mantan penghuni kompleks prostitusi), dan mengembangkan peternakan & lahan pertanian.[19][20]
Bersama RS Sitanala Tangerang, yang memintanya untuk menyantuni pasien kusta, Tutut membantu melawan stigma sosial penyakit yang saat itu masih ditakuti. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mempertemukan mantan penderita kusta dengan Soeharto & Ibu Tien Soeharto di tahun 1988 dan Princess Diana di tahun 1989. Melalui HIPSI, ia juga menyelenggarakan acara Pekan Olahraga Penyandang Kusta Nasional (Porpentanas) pada tahun 1988.[21] Porpentanas yang untuk pertama kalinya diadakan ini diikuti oleh sekitar 1.350 peserta dari seluruh Indonesia.[22]
Pada saat yang bersamaan, ia juga menjadi Ketua Umum Yayasan Tiara Indah (sebuah Yayasan yang membantu upaya perajin kecil) dan juga menjadi anggota Majelis Pemuda Indonesia.[18] Dalam salah satu program Yayasan Tiara Indah, ia sering mengajak Prajudi Admodirdjo, perancang mode Indonesia, berkeliling ke desa-desa untuk memberikan masukan dan mengembangkan kreativitas perajin di daerah.[23]
Pada tahun 1989, Tutut menjabat Wakil Ketua Yayasan Kemajuan dan Pengembangan Suku Asmat yang tinggal di pedalaman Irian Jaya (kini disebut Papua). Yayasan ini sukses mengantarkan hasil kerajinan suku Asmat kepada dunia (seperti di Eropa dan Amerika Serikat), demi meningkatkan wawasan dan kesejahteraan warga Asmat tanpa mengubah budayanya. Tutut diberikan tongkat kebesaran Asmat pada salah satu kunjungannya ke pedalaman Asmat.[24]
Pada tahun 1994, Tutut terpilih menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia. Ia menjabat sebagai Ketua Umum dari tahun 1994-1999.[25]
Tutut tetap aktif di bidang kegiatan sosial di bawah naungan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan dan Yayasan Dharmais. Sejak tahun 1986 hingga tahun 2019, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan telah menyalurkan sekitar Rp 64 miliar kepada para korban berbagai bencana alam.[14] Pada tahun 2019, Yayasan Dharmais menyelenggarakan operasi katarak bagi masyarakat tidak mampu di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Sejak didirikan pada tahun 1976, Yayasan Dharmais telah memberi manfaat bagi 140.000 orang.[26]
Karier bisnis
[sunting | sunting sumber]
Tutut mengawali karir bisnis dengan usaha kertas komputer. Melalui PT Trihastra Utama Tunggal, bersama dua teman-teman SMA-nya, Tutut menggarap pengadaan kertas komputer untuk Puspiptek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Ketika Puspiptek butuh pengecatan gedung ataupun pembuatan taman, perusahaannya juga menawarkan jasa tersebut dimana Tutut melakukan tugas sebagai mandor. Bisnis awal yang lain juga termasuk berbisnis garmen dan pengadaan spare-part pesawat terbang.[27]
Pada tahun 1980-an, Tutut mendirikan beberapa agrobisnis, termasuk Citra Sekarwangi Agro Persada yang memproduksi kacang mete mentah & minyak biji mete, dan Citra Indokasava yang memasarkan tepung singkong.[28] Kemudian pada tahun 1985-1986, Tutut mendirikan beberapa perusahaan lain, seperti bisnis industrial maintenance melalui PT Trihasra Sarana Jaya Purnama, bisnis hair care product dari rempah & tumbuhan melalui PT Gondowangi Sariaji, bisnis sistem pondasi melalui Bumi Konstruksitama Perkasa.[29]
Perusahaan yang paling identik dikenal dengan nama Tutut adalah PT Citra Lamtoro Gung Persada.[30][31] Melalui perusahaan tersebut, Mbak Tutut memimpin pembangunan jalan tol layang (elevated road) pertama di Indonesia.[32] Proyek Jalan Tol Cawang-Tanjung Priok merupakan jalan tol pertama yang ditawarkan pemerintah Indonesia kepada swasta.[33] Konsorsium yang dipimpin Tutut memenangkan proses tender yang diikuti juga oleh kontraktor besar asing (seperti Jerman Barat, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan) dan juga yang dipantau komite internasional.[34] Salah satu alasan Mbak Tutut ikut tender pengerjaan jalan tol ini karena ia prihatin melihat ketergantungan yang begitu besar terhadap pihak asing khususnya di bidang infrastruktur.[35] Mbak Tutut, yang pada saat itu baru berumur 37 tahun, mengaku ketika ia memenangkan tender, banyak pihak “yang meragukan kemampuan saya”.[36] Pemancangan tiang pertama terlaksana pada tahun 1987, dan dari 2.000 karyawan yang direkrut untuk mengerjakan proyek tersebut, 95% di antaranya berusia di bawah 40 tahun.[37] Dana pembangunan tol tersebut juga bukan dari kas negara, melainkan dari bank internasional untuk bridging financing dan sindikasi bank-bank dalam negeri.[38] Di bawah kepemimpinan Mbak Tutut, proyek Jalan Tol Cawang-Tanjung Priok selesai delapan bulan lebih cepat dan diresmikan pada 10 Maret 1990.[39]
Melalui beberapa proyek PT Citra Lamtoro Gung Persada, Mbak Tutut berhasil menerapkan hasil-hasil riset putra-putri Indonesia, seperti tiang pancang beton pra-tekan temuan Ir. Simanjuntak[34] dan sistem landas putar bebas hambatan (sosrobahu) temuan Ir. Tjokorda Raka Sukawati pada proyek Tol Cawang-Tanjung Priok.[40]
Melihat kesuksesan pembangunan jalan tol di Indonesia, pada tahun 1990, Mbak Tutut memenangkan tender pembuatan jalan tol pertama di Malaysia sepanjang 38 km antara Ayer Hitam dan Yong Peng Timur.[41] Ini merupakan salah satu gebrakan pertama kontraktor swasta Indonesia bekerja di luar negeri. Perusahaan Mbak Tutut juga memenangkan tender pembangunan kilang minyak di Kedah, Malaysia dan juga kontrak impor mobil nasional Malaysia, Proton Saga.[42]
Pada tahun 1991, Tutut menjadi Ketua Dewan Pembina HISPI (Himpunan Santri Pengusaha Indonesia), sebuah asosiasi untuk pengusaha muslim.[43]
Pada tahun 1992, perusahaan Tutut turut membangun dan mempromosikan Paviliun Indonesia pada Floriade di Zoetermeer, Belanda.[44] Di tahun yang sama, ia mendirikan PT Siratama Agraraya (Star) dengan usaha ekspor hasil-hasil bumi dan jasa konstruksi.[45]
Pada tahun 1993, perusahaan Tutut (Citra Lamtoro Gung Persada) ditunjuk oleh Jasa Marga untuk menggarap proyek outer ringroad yang menghubungkan Pondong Pinang-Pasar Rebo & Pasar Rebo-Cikunir, oleh karena Brey Construction (perusahaan Inggris yang semula menang tender) tidak mampu melaksanakannya.[46]
Di tahun yang sama, Mbak Tutut diminta oleh Presiden Filipina Fidel Ramos untuk membangun infrastruktur tol di Manila.[32] Pada waktu itu, Pemerintah Filipina tidak bisa meminjam uang karena masih memiliki hutang kepada IMF, sehingga pada tahun 1994 Mbak Tutut menandatangani perjanjian pendanaan proyek tersebut dengan American International Group’s Asian Infrastructure Fund (AIG-AIF).[47] Pada 7 April 1996, Fidel Ramos & Tutut memimpin prosesi peletakan batu pertama proyek Metro Manila Skyway di daerah Magallanes antara Kota Pasay dan Makati.[48] Pada 12 Desember 1998, Tutut bersama Fidel Ramos dan Presiden Filipina baru Joseph Estrada memimpin peresmian proyek Skyway tahap 1.[48]
Pada tahun 1995, Mbak Tutut bekerjasama dengan Bio Farma untuk membangun pabrik vaksin Hepatitis di Bandung.[49]
Perusahaan-perusahaan lain yang Tutut dirikan: bisnis properti (yang membangun 1.200 rumah karyawan Otorita Batam) melalui PT Ratu Mulia Persada dan bisnis perencanaan kota mandiri melalui PT Citra Bumi Indah Persada.[50]
Tutut juga memimpin perusahaan-perusahaan yang berencana membangun subway (atau kereta bawah tanah) yang menghubungkan kawasan Kota Tua dan Blok M, yang sudah disetujui oleh Gubernur DKI Jakarta Soerjadi Soedirdja.[51] Tutut juga memimpin studi kelayakan dan rencana pembangunan proyek Triple Decker Transportation (sistem transportasi dalam kota yang terdiri atas tiga susun). Namun rencana pembangunan proyek-proyek ini terhenti pada tahun 1998.[52]
Karier politik
[sunting | sunting sumber]Pada era 80-an, ia pernah mempelopori terbentuknya Kirab Remaja yang bertujuan untuk memupuk rasa cinta tanah air di kalangan remaja dan memperkenalkan suatu organisasi berbasis agama seperti Rohani Islam atau ROHIS sebagai wadah organisasi yang mencetak generasi beriman.[butuh rujukan]
Tutut menjabat sebagai Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Pemberdayaan Wanita DPP Partai Golkar pada tahun 1992–98. Setelah Ibu Tien Soeharto meninggal dunia pada tahun 1996, Tutut melaksanakan tugas sebagai Ibu Negara Indonesia pada acara-acara resmi. Selain itu, Suharto mengangkatnya sebagai Menteri Sosial pada bulan Maret 1998 dalam Kabinet Pembangunan VII.[53] Selama menjabat Menteri Sosial, ia menerapkan program Makan Gratis. Kebijakan makan gratis bagian dari upaya pemerintah dalam menanggulangi dampak krisis moneter untuk jangka pendek. Sasaran utama makan gratis adalah warga yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Untuk rencana jangka panjangnya, korban PHK dibantu dengan program Takesra/Kukesra (Tabungan Kesejahteraan Rakyat/Kredit Usaha Kesra).[54]
Setelah Suharto mengundurkan diri pada bulan Mei 1998, Golkar pada bulan Juli mengumumkan telah menarik kembali Tutut, saudara laki-lakinya Bambang Trihatmodjo dan Hutomo "Tommy" Mandala Putra serta istri Bambang Halimah dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).[55] Pengurus Partai Golkar pada tahun 2008 mengatakan mereka tidak akan keberatan jika anak-anak Soeharto, terutama Tutut, bergabung kembali dengan pengurus partai.[56] Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Rully Chairul Anwar mengatakan Tutut, Bambang Trihatmodjo dan Titiek Soeharto masih tercatat sebagai anggota Golkar meski berstatus anggota nonaktif.[57]
Tutut berencana mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan presiden 2004 melalui Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).[58] Namun, akhirnya Tutut tidak bisa mencalonkan diri karena PKPB hanya meraih 2,1% suara pada pemilihan umum 2004 dan memperoleh dua kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pada saat itu, partai politik harus memperoleh sedikitnya 5% suara terbanyak atau 3% kursi di DPR untuk mengajukan calon presiden. Pemilu tersebut akhirnya dimenangkan oleh mantan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono yang mengalahkan presiden petahana Megawati Soekarnoputri. Pada pemilu tahun 2009, PKPB hanya meraih 1,4% suara rakyat dan kehilangan dua kursi di parlemen.[59]
Pada tahun 2009, Tutut mewakili almarhum ayahnya ketika Soeharto diberikan penghargaan Anugerah Abdi Luhur dari DPP Partai Golkar, atas pengabdian kepada bangsa khususnya peletakan dasar-dasar Partai Golkar, yang diserahkan oleh Aburizal Bakrie pada acara HUT ke-45 Partai Golkar.[60]
Pada tahun 2025, Tutut mewakili keluarganya ketika Soeharto diberikan gelar tanda kehormatan Pahlawan Nasional Indonesia di Istana Negara.[61] Tutut juga mewakili keluarganya ketika Ibu Tien Soeharto menerima penghargaan Special Award pada Kartini Awards 2025.[62][63]
Aktivitas lain
[sunting | sunting sumber]Prestasi lain yang telah diraih Tutut adalah mengarang lagu & menulis sajak. Tutut telah menulis lirik lagu sejak tahun 1983. Lagu-lagu tersebut terkadang menggunakan nama samaran (atau ringkasan) "Diyanti R". Ibu Tien Soeharto turut mendorong hobi Tutut ini.[64] Per tahun 2018, Tutut sudah menulis sekitar 120 lagu dan sajak.[65]
Kasus
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2010, Tutut menggugat atas kepemilikan saham MNCTV seiring dengan pengalihan stasiun televisi TPI ke MNCTV. Tutut menggugat PT Berkah Karya Bersama (BKB) dan PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD), dua anak usaha Media Nusantara Citra senilai Rp 3,4 triliun. MNC dituding telah mengambil alih kepemilikan saham Mbak Tutut di PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia yang dimiliki secara sepihak.[66] Namun 23 Agustus 2010 Mbak Tutut kalah di pengadilan atas TUN dicabut.[67]
Tanggal 20 Oktober 2010 Mbak Tutut kembali mengancam pidana kelompok MNC atas perubahan nama MNCTV.[68] Alhasil pada 14 April 2011 Mbak Tutut memenangkan gugatan di PN Jakarta Pusat terhadap kelompok MNC atas perubahan nama MNCTV menjadi TPI.[69]
Penghargaan
[sunting | sunting sumber]Tutut diberikan gelar kehormatan Cut Nyak Siti oleh masyarakat Aceh Selatan karena jasanya membantu korban bencana banjir bandang pada 1990-an. Menjelang upacara Tepung Tawar yang mengesahkan pemberian gelar itu, Bupati Aceh Selatan mengungkap: “Kalau Cut Nyak Dhien adalah seorang pejuang kemerdekaan, Cut Nyak Siti adalah pejuang kemanusiaan”.[70]
Tanda Kehormatan
[sunting | sunting sumber]
Bintang Mahaputera Pratama (11 Agustus 1997)[1]
Satyalancana Pembangunan (15 Agustus 1990)[71]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 2020-12-19.
- ↑ "Ibu Tien Soeharto Keturunan Ningrat, Inilah Sosok Kakeknya, Seorang Raja, Dikenal Berjiwa Seni". TribunNews. 5 August 2024. Diakses tanggal 29 December 2024.
- ↑ "Tahukah Anda, Siti Hardiyanti Rukmana Dipanggil Tutut". Espos.id. 5 September 2018. Diakses tanggal 29 December 2024.
- ↑ Roeder (1976), hlm. 196.
- ↑ Indonesia, Tokoh (2 Apr 2004). "Siti Hardiyanti Rukmana". Diakses tanggal 6 Mei 2025.
- ↑ Indonesia, Tokoh (2 Apr 2004). "Dipersiapkan Jadi Pemimpin". Diakses tanggal 6 Mei 2025.
- ↑ Nugraha, Arifin Surya (6 Mei 2008). "Keluarga Cendana". Bio Pustaka. Diakses tanggal 6 Mei 2025 – via Google Books.
- ↑ "Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis". Obor Sarana Utama. 6 Mei 1997. Diakses tanggal 6 Mei 2025 – via Google Books.
- ↑ "Pernikahan Anak Presiden Soeharto". historia.id. 2 May 2024. Diakses tanggal 2 January 2025.
- ↑ "Inspirasi Nama Keempat Anak Tutut Soeharto, Penuh Doa Baik". IDN Times. 1 October 2024. Diakses tanggal 2 January 2025.
- ↑ "Anggota paskibraka". Tempo. 1 Sep 1990. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
- ↑ "Cerita Haru Cucu Soeharto Bawa Bendera Pusaka: Saya Ingin Bikin Eyang Bangga!". Wartakotalive.com. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
- ↑ "Profil Danty Rukmana, Cucu Soeharto yang Viral Usai Gagal Nyaleg". Jatim TIMES. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
- 1 2 Indria (2025), hlm. 142-143, Buku Pertama.
- ↑ "Menyerahkan Sumbangan". Tempo. 14 June 1986. Diakses tanggal 7 January 2025.
- ↑ Indria (2025), hlm. 146, Buku Pertama.
- ↑ "Andaikan saya bukan anak beliau". Tempo. 23 Januari 1988. Diakses tanggal 12 Januari 2025.
- 1 2 Dwipayana & Karta Hadimadja (1989), hlm. 533.
- ↑ Indria (2025), hlm. 129, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 135, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 133-134, Buku Pertama.
- ↑ "Presiden Terima Penderita Kusta". Kompas. 12 Oktober 1988.
- ↑ Indria (2025), hlm. 149, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 154-157, Buku Pertama.
- ↑ "Ketua Umum PMI dari Masa ke Masa Sejak Bung Hatta hingga Jusuf Kalla". Tempo. 9 December 2024. Diakses tanggal 7 January 2025.
- ↑ Sutriyanto, Eko (12 April 2019). "Yayasan Dharmais Gelar Operasi Katarak dan Bibir Sumbing Gratis di NTT". Tribunnews.
- ↑ Indria (2025), hlm. 103, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 113, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 114, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 327, Buku Pertama.
- ↑ Jeffrey A. Winters (18 April 2011). Oligarchy. Cambridge University Press. hlm. 167. ISBN 978-1-139-49564-6.
- 1 2 Indria (2025), hlm. 16, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 34, Buku Pertama.
- 1 2 Indria (2025), hlm. 33, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 69, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 41-43, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 50-51, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 54-55, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 61, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 55, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 93, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 94-95, Buku Pertama.
- ↑ "Mbak tutut & hispi". Tempo. 16 March 1991. Diakses tanggal 1 January 2025.
- ↑ Indria (2025), hlm. 108, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 115, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 112, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 26, Buku Pertama.
- 1 2 Indria (2025), hlm. 28, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 106, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 117, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 121, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 123, Buku Pertama.
- ↑ Friend, Theodore (July 2009). Indonesian Destinies. hlm. 325. ISBN 9780674037359.
- ↑ "Arsip Foto "Kompas": Menilik Program Makan Gratis di Zaman Orde Baru". Kompas.id. 11 March 2024. Diakses tanggal 6 January 2025.
- ↑ "Suharto's relatives recalled from people's assembly". July 17, 1998.
- ↑ "Golkar Siap Tampung Tutut". February 8, 2008.
- ↑ "Tutut, Titiek & Bambang Masih Anggota Golkar". November 14, 2008.
- ↑ "Tutut may join presidential race". The Jakarta Post. May 8, 2004.
- ↑ Tom Lansford (24 March 2015). Political Handbook of the World 2015. CQ Press. hlm. 2794–. ISBN 978-1-4833-7155-9.
- ↑ "Soeharto dan JK Dapat Penghargaan Golkar". Antara. 1 November 2009. Diakses tanggal 4 Februari 2026.
- ↑ "Tutut & Bambang Tri Wakili Keluarga Soeharto Terima Gelar Pahlawan". CNBC Indonesia. 10 November 2025. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Daftar Perempuan Inspiratif Penerima Penghargaan Kartini Awards 2025". CNN Indonesia. 26 June 2025. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Diwakili Tutut Soeharto, Ibu Tien Soeharto Dapat Special Award di Kartini Awards 2025". Channel 8. 27 June 2025. Diakses tanggal 12 November 2025.
- ↑ "Suka menulis lirik lagu". Tempo. 5 September 1987. Diakses tanggal 28 January 2025.
- ↑ "Resep Awet Muda Tutut Soeharto di Usia 69". Tempo. 9 June 2018. Diakses tanggal 28 January 2025.
- ↑ Ari Saputra (2 Februari 2010). "Mbak Tutut Gugat MNC Rp 3,4 Triliun". Detik Finance.
- ↑ "MNC Mutlak Atas TPI, Gugatan di TUN Dicabut : Okezone News". https://news.okezone.com/. 23 Agu 2010. Diakses tanggal 6 Mei 2025. ;
- ↑ "Mbak Tutut Ancam Pidanakan MNC Grup". Diakses tanggal 6 Mei 2025.
- ↑ http://nasional.vivanews.com/news/read/214758-tpi-kembali-dimiliki-mbak-tutut%5B%5D
- ↑ Indria (2025), hlm. 174-175, Buku Pertama.
- ↑ Indria (2025), hlm. 80, Buku Pertama.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Roeder, O.G. (1976). Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto. Diterjemahkan oleh A. Bar, Salim; A. Hadi, Noor. Jakarta: PT Gunung Agung.
- Dwipayana, G.; Karta Hadimadja, Ramadhan (1989). Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (Otobiografi). Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 978-979-17339-9-1.
- Gafur, Abdul, ed. (1996). Rangkaian Melati: Ibu Tien Soeharto Dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita. Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 978-602-8112-14-7.
- Abdulgani-Knapp, Retnowati (2007). Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President, An Authorised Biography. Singapore: Marshall Cavendish. ISBN 978-981-261-340-0.
- Indria, Donna Sita, ed. (2025). Selangkah di Belakang Mbak Tutut. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-06-7496-4.
Bacaan lebih lanjut
[sunting | sunting sumber]- Dwipayana, G.; Karta Hadimadja, Ramadhan (1989). Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (Otobiografi) (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda. ISBN 978-979-17339-9-1.
- Abdulgani-Knapp, Retnowati (2007). Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President, An Authorised Biography (in English). Singapore: Marshall Cavendish. ISBN 978-981-261-340-0.
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Siti Hartinah Soeharto |
Pelaksana tugas Ibu Negara Republik Indonesia 1996-1998 |
Diteruskan oleh: Hasri Ainun Habibie |
| Didahului oleh: Endang Kusuma Inten Soeweno |
Menteri Sosial Republik Indonesia 1998 |
Diteruskan oleh: Justika Baharsjah |
| Jabatan lain | ||
| Didahului oleh: Ibnu Sutowo |
Ketua Umum Palang Merah Indonesia 1992–1998 |
Diteruskan oleh: Mar'ie Muhammad |
- Orang hidup berusia 77
- Kelahiran 1949
- Tokoh Jawa
- Tokoh dari Surakarta
- Tokoh Jawa Tengah
- Keluarga Soeharto
- Wirausahawan media massa Indonesia
- Wirausahawan Jawa
- Politikus perempuan Indonesia
- Politikus Partai Golongan Karya
- Politikus Partai Berkarya
- Aktivis pemberdayaan perempuan Indonesia
- Filantropis Indonesia
- Sosialita Indonesia
- Tokoh Angkatan 66
- Tokoh Orde Baru
- Anggota DPR RI 1992–1997
- Anggota DPR RI 1997–1999
- Menteri Sosial Indonesia
- Penerima Bintang Mahaputera Pratama
- Alumni SMA Negeri 1 Jakarta




