Sinta Nuriyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sinta Nuriyah
Sinta Nuriyah during the International Conference on Feminism, 2016-09-23 02.jpg
Sinta Nuriyah tahun 2016
Ibu Negara Indonesia ke-4
Masa jabatan
20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001
PresidenAbdurrahman Wahid
PendahuluHasri Ainun Habibie
PenggantiTaufiq Kiemas
Informasi pribadi
Lahir8 Maret 1948 (umur 72)
Bendera Indonesia Jombang, Jawa Timur, Indonesia
KebangsaanIndonesia
PasanganAbdurrahman Wahid
HubunganWahid Hasyim (mertua)
Salahuddin Wahid (adik ipar)
AnakAlissa Qotrunnada
Zannuba Ariffah Chafsoh
Anita Hayatunnufus
Inayah Wulandari
Tanda tangan

Dr. (H.C) Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum (lahir di Jombang, 8 Maret 1948; umur 72 tahun) adalah istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga tahun 2001.[1][2]

Sinta lahir di Kabupaten Jombang pada tahun 1948 sebagai putri sulung dari 18 bersaudara.[3] Ia disekolahkan di pesantren. Pada usia 13 tahun, ia jatuh cinta dengan Wahid, gurunya di pesantren. Karena bapaknya, seorang penulis kaligrafi profesional, enggan menyetujui pernikahan mereka, Wahid pergi menuntut ilmu di luar negeri. Ketika Wahid melamar untuk kedua kalinya dari Baghdad, Sinta menerima dan menikahinya tiga tahun sebelum Wahid pulang ke Indonesia. Kakek Wahid menjadi pengganti mempelai pria dalam upacara pernikahan mereka.[3]

Setelah Wahid pulang tahun 1971, Sinta lulus S1 di bidang hukum syariah. Ia membantu menghidupi keempat anaknya dengan membuat dan menjual permen.[3]

Pada tahun 1992, Sinta menjadi korban kecelakaan mobil yang melumpuhkan separuh tubuhnya. Ia menjalani terapi fisik selama satu tahun agar dapat menggerakkan lengannya. Ia kemudian melanjutkan S2 di bidang kajian perempuan di Universitas Indonesia. Staf universitas membawa Sinta ke lantai empat gedung universitas menggunakan tandu.[3]

Sejak suaminya dimakzulkan, Sinta menjadi aktivis pendukung Islam moderat. Ia memulai tradisi buka puasa lintas agama pada bulan Ramadan.[4] Ia memuji keberanian Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dan menyebut bahwa poligami selama ini tidak adil.[3] Banser mengamankan setiap kegiatan-kegiatannya karena ia sering mendapat ancaman dari kaum ekstremis.[3]

Pekerjaan[sunting | sunting sumber]

  • Ibu Negara RI ke 4
  • Ketua Yayasan Puan Amal Hayati

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • Sekolah Rakyat (SR) Jombang
  • MM (Madrasah Muallimat) Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang
  • Strata Satu (S1) Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Strata Dua (S2) Program Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta

Pengalaman, aktivitas, dan organisasi[sunting | sunting sumber]

  • Tenaga pengajar di Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar,Jombang
  • Tenaga pengajar di Universitas Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang
  • Tenaga Pengajar di Universitas Darul Ulum, Rejoso, Jombang
  • Jurnalis Majalah Keluarga Zaman tahun 1980-1985
  • Wartawan Majalah Matra
  • Dewan Penasehat Komnas HAM
  • Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama Komnas Perempuan
  • Anggota Kongres Wanita Indonesia (KOWANI)
  • Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia
  • Pendiri Yayasan Puan Amal Hayati yang bergerak dalam bidang advokasi dan konseling terhadap perempuan dan anak korban kekerasan
  • Pendiri Yayasan al-Munawaroh (bergerak pada pemberian bantuan dana/ beasiswa kepada anak sekolah, keluarga tidak mampu, para penyandang cacat, dan korban bencana), tahun 1996

Karya[sunting | sunting sumber]

  • Perempuan dan Pluralisme, (LkiS: 2019)
  • Pesantren Tradisi dan Kebudayaan, (LkiS: 2019)
  • Romantika Kehidupan: Kumpulan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, (Yayasan Puan Amal Hayati: 2009)
  • Forum Kajian Kitab Kuning (FK3): Kembang Setaman Perkawinan “Analisis Kritis Kitab ‘Uqud Al Lujjayn”, (Penerbit Buku Kompas: 2005)
  • Forum Kajian Kitab Kuning (FK3): Wajah Baru Relasi Suami-Istri “Telaah Kitab ‘Uqud Al Lujjayn”, (LKiS Yogyakarta: 2001)

Karier dan Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang dilahirkan 68 tahun yang lalu, sejak remaja memang telah memiliki pemikiran yang kritis dan perhatian sangat besar terhadap kondisi perempuan di Indonesia. Sejak awal ia telah melihat betapa peran dan kedudukan perempuan masih banyak yang direndahkan, utamanya di komunitas masyarakat Islam. 

Shinta Nuriyah melihat adanya penafsiran yang masih bias gender terhadap kondisi perempuan dalam ajaran Agama Islam. Kondisi ini mengakibatkan adanya anggapan di sebagian masyarakat, bahwa kedudukan perempuan tidak setara dengan laki-laki.

Padahal, menurutnya, perempuan adalah tokoh sentral dalam kehidupan umat manusia, karena mengemban tugas suci,melahirkan dan mendidik anak manusia.

Hal ini yang mendorong Shinta Nuriyah pada tahun 2001 mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati, dengan tujuan agarbisa lebih efektif dalam berjuang membela hak dan membebaskan kaum perempuan dari belenggu ketertindasan dan keterbelakangan.

Kata ‘Puan’ itu sendiri adalah kepanjangan dari Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Meski Shinta Nuriyah berangkat dan memperoleh pendidikan dari Pesantren Tambak Beras, sebagai pesantren yangdihormati dan sangat berpengaruh di Jombang, namun oleh kedua orangtuanya ia dididik untuk berani berpikir terbuka dan kritis. Suatu kondisi yang jarang ditemui di lingkungan pesantren tradisional saat itu.

Oleh karena itu, selain advokasi dan konseling, salah satu kegiatan utama Yayasan Puan Amal Hayati adalah mengkaji dan mendiskusikan Kitab Kuning, khususnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban perempuan dalam Islam. Kitab Kuning adalah sebutan untuk kumpulan tulisan pemikiran para ulama terkemuka atas Al Quran dan Hadits yang menjadi rujukan utama di berbagai pesantren dalam mempelajari agama Islam.

Shinta Nuriyah merasa perlu mengkaji masalah ini dengan mendalam dan menyeluruh, karena ia memiliki keyakinan kuat bahwa Islam mengajarkan persamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Islam sangat menghargai dan sangat menghormati perempuan. Islam menempatkan seluruh umatnya setara di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Keyakinan akan kesetaraan bagi semua ini pula yang mendorong tekad Shinta Nuriyah untuk selalu berada di depan dalam membela kaum yang tertindas atau termarginalkan, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras atau bahkan golongan orang-orang yang dianggap memiliki perilaku menyimpang dari kelaziman kehidupan sosialnya sekalipun.

Shinta Nuriyah yang telah menuntaskan program Pasca Sarjana StudiKajian Wanita dari Universitas Indonesia ini, ingin mengedukasi masyarakat bahwa Islam tidak menempatkan kedudukan perempuan dibawah laki-laki, seperti yang selama ini dipersepsikan oleh sebagian masyarakat muslim.

Shinta Nuriyah, yang dahulu juga berperan sebagai partnerutama diskusi suaminya tentang banyak hal, Almarhum Gus Dur; meyakini bahwa masalah persamaan gender adalah masalah serius yang perlu mendapat perhatianbesar dari kita semua.

Hal ini mengingat bahwa perempuan adalah seorang ibu yang menjadi muara/oase dari perjalananpanjang peradabanumat manusia.

Menurut ibu dari empat orang anakyang berfikiran progresif ini; perempuan jelas memiliki peran yang tak tergantikan dan sangat terhormat dalam masyarakat, sehingga sudah selayaknya perempuan memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang tidak berbeda dengan laki-laki.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Penghargaan dari The Purnomo Yusgiantoro Center dalam PYC Award 2019 berupa Apreciation: In Recognition of Your Mutual Cooperation with PYC (2019)
  • Piagam penghargaan dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sebagai Ibu Bangsa (2018)
  • Masuk daftar 100 orang tokoh paling berpengaruh di Dunia versi Majalah Time, dalam kategori tokoh pejuang perempuan dan kaum minoritas (2018)
  • Memperoleh penghargaan Internasional, sebagai 11 Perempuan Paling Berpengaruh versi Harian New York Times (2017)
  • Piagam Penghargaan dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-Pancasila) sebagai Tokoh Penggiat Sosial (2017)
  • Piagam Penghargaan dari Menteri Sosial RI sebagai Pelopor Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN) untuk Penyandang Disabilitas (2015)
  • Lifetime Achievment Award dari Media Rakyat Merdeka Online sebagai Pejuang Perempuan dan Kaum Minoritas (2013)
  • Penghargaan dari Kakorlantas Polri sebagai Pelopor Keselamatan Lalu Lintas (2013)
  • Soka Women's College Comendation of Friendship dari Soka Women's College UniversitasSoka sebagai Pejuang Perempuan (2012)
  • Bintang Jasa Adipradana dari Negara Republik Indonesia sebagai Pendamping Presiden Abdurrahman Wahid dan Pejuang Kemanusiaan (2011)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia: Sinta Nuriyah
  2. ^ Robinson, Kathryn May (2009). Gender, Islam, and democracy in Indonesia. Taylor & Francis. hlm. 76. ISBN 978-0-415-41583-5. 
  3. ^ a b c d e f Emont, Jon (8 April 2017). "A Former First Lady Presses On for a Tolerant, Feminist Islam". The New York Times. hlm. A6. Diakses tanggal 14 April 2017. 
  4. ^ "Ex-first lady holds 'sahur' with marginalized people for RI unity". The Jakarta Post. 29 June 2015. 
Jabatan politik
Didahului oleh:
Hasri Ainun Habibie
Ibu Negara Indonesia
1999–2001
Diteruskan oleh:
Taufiq Kiemas