Ratu Syeba

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ratu Syeba

Ratu Syeba, (Bahasa Arab Malikat sabaa ملكة سبأ, Nigist Saba Bahasa Amharik: ንግት ሳባ), mengacu pada Perjanjian Lama, Al Qur'an, dan sejarah Ethiopia, adalah penguasa Syeba, sebuah kerajaan kuno di mana arkeologi modern memperkirakan bahwa tempatnya sekarang adalah Eritrea, Ethiopia atau Yaman. Nama dirinya tidak disebutkan dalam teks Alkitab, dalam tradisi Ethiopia ia disebut dengan Makeda (kemungkinan berarti, "bukan cara ini / bukan demikian"), dan dalam tradisi Islam namanya adalah Balqis. Nama lain untuknya adalah Nikaule atau Nicaula.

Di dalam Perjanjian Baru tokoh ini juga disebut lagi oleh Yesus, dalam Matius 12:42, sebagai Ratu dari Selatan

"Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!"[1]

Referensi silang: 1 Raja-raja 10:1; 2 Tawarikh 9:1

Dalam Iman Islam[sunting | sunting sumber]

Lihat Juga: Bilqis

Dalam Islam, Ratu Syeba lebih populer dipanggil Ratu Balqis/Bilqis adalah penguasa Kerajaan Saba. Disebutkan, ia mempunyai singgasana yang agung, kerajaannya luas dan rakyatnya hidup makmur. Namun mereka tidak menyembah Allah. Mereka disesatkan setan sehingga menyembah matahari.

Setelah Nabi Sulaiman as mendengar berita akan keberadaanya dari burung Hud-Hud, beliau ingin menyelidiki kebenaran berita itu. Burung Hud-Hud disuruh membawa surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis. Setelah menyerahkan surat itu, Hud-Hud bersembunyi di balik jendela. Ia menunggu bagaimana jawaban Ratu Bilqis nantinya.

Ratu Bilqis membaca surat itu, yang isinya adalah Nabi Sulaiman mengajak Ratu dan pengikutnya meninggalkan penyembahan matahari. Setelah itu, Ratu Bilqis pun memanggil abdi dan para penasihat untuk bermusyawarah. Hasilnya, mereka setuju untuk membawakan Nabi Sulaiman hadiah-hadiah yang mahal-mahal untuk meluluhkan hati Nabi Sulaiman. Berangkatlah utusan Ratu Bilqis ke Palestinа.

Begitu sampai di istana Nabi Sulaiman, mereka terkagum-kagum. Bahkan, Nabi Sulaiman menolak hadiah-hadiah dari mereka dan hanya ingin Ratu Bilqis datang ke negerinya. Juga Nabi Sulaiman berdalih bahwa karunia Allah jauh lebih baik dan jauh lebih banyak yang diberikan kepadanya. Setelah mendengar berita dari utusan itu, Ratu Bilqis bertekad mengunjungi Palestina.

Nabi Sulaiman yang telah mendengar kabar dari burung Hud-Hud akan datangnya Ratu Bilqis, segera mengumpulkan para pembantu-pembantunya dan menanyakan siapa di antara mereka yang sanggup membawa singgasana Ratu Bilqis dari Saba' ke Palestina dengan cepat. Seorang alim dan ahli hikmah yang bernama Ashif bin Barkiyah mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis dalam sekedip mata. Setelah Ratu Bilqis sampai ke Palestina, ia terkagum-kagum dengan keindahan istana Nabi Sulaiman. Akhirnya Ratu Bilqis insyaf, dan memeluk Islam beserta pengikutnya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]