Kekaisaran Pertama Prancis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kekaisaran Perancis)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kekaisaran Prancis
Empire Français
1804–1814
1815
Bendera Lambang
Lagu kebangsaan
"Chant du Départ'"
Kekaisaran Prancis Pertama pada tahun 1812.
Ibu kota Paris
Bahasa Prancis
Agama Katolik Roma
Bentuk pemerintahan Monarki konstitusional
Kaisar
 -  1804–1814/1815 Napoleon I
 -  1815 Napoleon II
Badan legislatif Parlemen
 -  Majelis tinggi Senat
 -  Majelis rendah Corps législatif
Era sejarah Perang Napoleon
 -  Adaptasi konsitusi 18 Mei 1804
 -  Penobatan Napoleon I 2 Desember 1804
 -  Traktat Tilsit 7 Juli 1807
 -  Invasi ke Rusia 24 Juni 1812
 -  Traktat Fontainebelau 11 April 1814
 -  Seratus Hari 20 Maret – 7 Juli 1815
Luas
 -  1812 2.100.000 km² (810.815 mil²)
Populasi
 -  Perk. 1812 44.000.000 
     Kepadatan 21 /km²  (54,3 /mil²)
Mata uang Frans Prancis
Pendahulu
Pengganti
Republik Pertama Prancis
Kekaisaran Romawi Suci
Kerajaan Hollandia
Republik Liguria
Kerajaan Spanyol
Kerajaan Prancis
Kemaharajaan Bersatu Belanda
Moresnet
Kerajaan Sardinia
Kekaisaran Austria
Luxemburg
Grand Duchy of Tuscany
Kerajaan Spanyol
Sekarang bagian dari  Andorra
 Austria
 Belgium
 Croatia
 France
 Germany
 Italy
 Liechtenstein
 Lithuania
 Luxembourg
  Monaco
 Poland
 Netherlands
 Slovenia
 Spain
  Switzerland
 Vatican City

Kekaisaran Prancis Pertama, pada umumnya dikenali sebagai Kekaisaran Prancis atau Kekaisaran Napoleon, adalah zaman keemasan Prancis di seluruh dunia, terutama dibenua Eropa yang dipimpin oleh Kaisar Napoleon I. Secara resminya merujuk kepada tempo tahun 1804 hingga tahun 1814, dari Konsulat ke pengembalian Bourbon dalam sejarah negara Prancis tersebut, di mana disebut sebagai zaman Seratus Hari pada 1815.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Pecahnya Revolusi Prancis pada tanggal 14 Juli 1789, menimbulkan pemberontakan dalam negeri Prancis yang menuntut pembubaran Kerajaan Prancis yang berada dibawah Wangsa Bourbon akibat penderitaan yang mereka rasakan karena pemerintahan yang sewenang-wenang dan royal. Karena itu, terjadilah aksi-aksi penangkapan terhadap para pejabat negara Kerajaan termasuk Raja Louis XVI dari Prancis dan Permaisuri Marie Antoinette. Ditambah lagi aksi teror kaum radikal yang dipimpin Maximilien de Robespierre. Tanggal 21 Januari 1793, Raja Louis XVI dan tanggal 16 Oktober 1793, Marie Antoinette dihukum penggal dibawah Guillotine yang secara simbolik menandai berakhirnya Kerajaan Prancis. Ditambah lagi, jatuhnya Penjara Bastille yang merupakan simbol monarki absolut Prancis.

Setelah Kematian keluarga Kerajaan, para revolusioner mendirikan Republik Pertama Prancis berdasarkan Keputusan Konvensi Nasional yang berada dibawah pimpinan Majelis Rakyat Prancis.

Munculnya Napoleon Bonaparte, seorang perwira militer, secara tak langsung menimbulkan perubahan sosial yang cepat di kalangan rakyat Prancis. Napoleon berhasil mengubah keadaan dalam negeri, mulai dari tatanan ekonomi, sosial, dan politik. Termasuk dalam peluncuran Undang-undang Napoleon.

Pada tanggal 7 November 1799, Napoleon melakukan sebuah kudeta yang disebut Kudeta 18 Brumaire, dimana Napoleon berusaha merebut kekuasaan Prancis. Kudeta ini berhasil dan membuat Napoleon diangkat sebagai konsul pertama Republik Pertama Prancis. Terlebih setelah dilakukan pemilihan oleh rakyat Prancis, dimana 99,8% rakyat Prancis memilih dirinya.

Awal berdiri[sunting | sunting sumber]

Tanggal 18 Mei 1804, Senat memilih Napoleon sebagai Kaisar Prancis setelah pemungutan suara yang dilakukan berhasil. Pada 2 Desember 1804, Napoleon Bonaparte diangkat menjadi Kaisar Prancis, menandai berdirinya Kekaisaran Prancis Pertama. Dan juga menangkat istrinya, Joséphine de Beauharnais, sebagai permaisurinya.

Era Perang Napoleon[sunting | sunting sumber]

Sejak sebelum perang dimulai, Napoleon Bonaparte sendiri memang adalah seorang perwira militer sehingga ia memiliki cita-cita melakukan perluasan terhadap daerah-daerah lain, termasuk dalam usahanya membentuk angkatan militer terkuat di Eropa kala itu.

Pada tanggal 2 Desember 1805, tentara Prancis dapat memukul mundur pasukan gabungan Austria-Rusia di Kota Austerlitztz, 20 km dari Kota Brno, Moravia yang kini berada di wilayah Ceko. Keberhasilan ini membawa kehancuran bagi Pasukan Perang Koalisi Ketiga dan juga menjadi pemicu bubarnya Kekaisaran Romawi Suci dan digantikan Kekaisaran Austria. Namun, juga menjadi awal terbentuknya Perang Koalisi Keempat.

Napoelon mencaplok Italia, dan membentuk pemerintahan boneka disana, dibawah pimpinan keponakanya, Eugène de Beauharnais. Kemudian menduduki Belanda pada 1806, dan mendirikan Kekaisaran Belanda, lalu mengangkat adiknya, Louis Bonaparte sebagai pemimpin disana, serta memaksa menyerahkan seluruh jajahannya dibawah Kekaisaran Prancis, termasuk Guyana Belanda dan Hindia Belanda.

Walau unggul di darat, tetapi dilaut, Angkatan Laut Kekaisaran Prancis lemah. Hal ini dapat dibuktikan dengan kekalahan pasukan gabungan Prancis-Spanyol melawan Angkatan Laut Inggris di Tanjung Trafalgar pada 1805 dalam Pertempuran Trafalgar, sebuah usaha Napoleon menduduki Inggris, musuh lama Prancis. Karena kalah, akhirnya Napoleon memutuskan untuk memblokade Laut Baltik bagi Inggris. Padahal, Laut Baltik adalah salah satu akses perdagangan Inggris- Rusia. Namun karena Tsar Aleksandr I dari Rusia telah menandatangani kesepakatan damai antara Napoleon dalam Perjanjian Tilsit pada 180711, Rusia sejak saat itu mengikuti isi perjanjian, termasuk memutuskan hubungan perdagangan dengan Inggris.

Sasaran Prancis berikutnya adalah Kekaisaran Prussia. Tanggal 14 Oktober 1806, Tentara Napoleon mengalahkan Prussia dalam Pertempuran Jena-Auerstedt, yang membawa pasukan Prancis dapat menduduki ibukotanya, Berlin. Dan mendirikan negara Satelit disana, seperti Prussia Timur, Kadipaten Warsawa dan Konfederasi Rhein.

Pada tahun 1808, Prancis dibawah pimpinan Marsekal Joachim Murat menyerang Spanyol sehingga menyebabkan Spanyol bergabung dengan Koalisi Kelima yang baru saja terbentuk. Serta Inggris dan Portugal yang mengirim bantuan tentara bagi Spanyol. Pendudukan Prancis ini menyebabkan banyak daerah jajahan Spanyol secara serentak memberontak dan memerdekakan diri. Inggris juga memberi bantuan bagi Belanda yang masih diduduki Napoleon dalam Ekspedisi Walcheren.

Di lain sisi, untuk membalas kekalahan sebelumnya, Austria menyerang wilayah Prancis yang ada di Bayern (Bavaria) sehingga Prancis kemudian bersekutu dengan Kerajaan Bayern Perang Koalisi Kelima ini. Dimana pada akhirnya Austria mengalami kekalahan berat dalam Pertempuran Wagram pada 1809.

Sehingga akhirnya, Rusia, Inggris, Austria, Prussia, Spanyol, dan Portugal, dan Swedia yang merasakan dampak buruk Perang Napoleon besar, membentuk Koalisi Keenam. Contohnya Rusia dan Inggris mengalami kemerosotan ekonomi akibat pemutusan hubungan dagang tahun 1807. Lalu, balas dendam pasukan Austria, Spanyol, Portugal, dan Prussia. Serta balas dendam seorang Jenderal Prancis yang dipecat Napoleon dalam Pertempuran Wagram, yang kemudian berpihak pada Swedia, Jenderal Bernadotte atau Karl XIV Johan dari Swedia.

Akibat-akibat dari itu semua membuat koalisi membentuk tentara yang besar. Bahkan, Rusia telah melanggar Perjanjian Tilsit dengan kembali melakukan perdagangan dengan Inggris. Sehingga Napoleon menjadi marah dan mengirim pasukan ekspedisi berjumlah 650.000 orang ke Tanah Rusia pada tanggal 24 Juni 1812, dibantu negara sekutunya seperti Kadipaten Warsawa. Tentara Napoleon dapat mengambil banyak wilayah dan kota Rusia seperti Kiev, Minsk, Smolensk, Vilnius, St.Petersburg. Dan juga membunuh banyak tentara Rusia, seperti dalam Pertempuran Borodino. Sampai ketika Tentara Prancis mendekati Moskow, Ibukota Kekaisaran Rusia, kota itu diputuskan untuk dibumihanguskan. Taktik ini dianggap lebih efektif agar mencegah Prancis mendapat barang rampasan yang dapat dipergunakan mendukung perang, ketimbang harus melawan tentara Prancis yang begitu banyak. Para warga dan tentara Rusia mundur dan menyebar dimana-mana, sehingga sulit dijangkau Tentara Prancis. Sampai akhirnya, pasukan Napoleon yang besar mampu menduduki Moskow.

Setelah satu bulan menduduki ibukota Rusia, Napoleon belum mendapat respon dari apapun dari pihak Rusia. Ketika musim dingin tiba, barulah Napoleon tahu bahwa tentara Rusia telah berhasil menduduki salah satu pusat logistik utamanya di Rusia, yakni di Lithuania. Tetapi bahan makanan semakin berkurang, dan banyak tentara mulai mati kedinginan menghadapi musim dingin Rusia yang terkenal mematikan, yakni dibawah 0 derajat Celcius. Napoelon memutuskan untuk mundur dari Moskow. Hari demi hari, perlahan jumlah pasukan Prancis menyusut dan moral mereka menurun.

Pasukan Rusia dibawah pimpinan Jenderal Mikhail Kutuzov, menghantam sisa-sisa pasukan Napoelon di tepi Sungai Berezina dalam Pertempuran Sungai Berezina. Pasukan Rusia juga menghancurkan Jembatan Borisov, untuk menghalangi agar pasukan Prancis jangan sampai lari. Sekitar 10 ribu tentara terjebak dibelakang sungai. Sementara sisanya mati tenggelam.

Pasukan Napoleon tersisa mundur, hingga pasukan koalisi mendengar kabar kekalahan Napoelon di Rusia. Pasukan Koalisi kemudian menyatukan seluruh kekuatannya dan mencegat pasukan Prancis di Kota Leipzig, Sacshen di Jerman dalam Pertempuran Leipzig pada 16-19 Oktober 1813, melibatkan Rusia, Prussia, Swedia, dan Austria. Meski tentara Napoelon didalam kota menang, tetapi diluar kota telah kalah, sehingga tidak ada lagi artinya dan dipukul sampai ke tanah air mereka, Prancis.

Kehancuran Kekaisaran[sunting | sunting sumber]

Bulan Desember 1813, Pasukan Napoleon yang tersisa, kembali ke Paris dengan jumlah hanya sekitar 20.000 orang saja. Tanggal 30 Maret 1814, Pasukan Koalisi memasuki Paris. Napoleon Bonaparte kemudian ditangkap dan dibuang ke Pulau Elba, di lepas pantai Italia, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Prancis.

Namun, Napoleon lari dari tahanannya dan kembali ke Prancis, mengumpulkan kembali pasukannya berjumlah 200.000, lalu berencana menyerang kedudukan Inggris yang di Belgia. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Waterloo, atau disebut pula Kampanye Seratus Hari setelah pelarian Napoleon dari Pulau Elba. Dimana pasukan gabungan Inggris dibawah pimpinan Arthur Wellesley, Adipati Wellington ke-1, dan pasukan Prussia, dibawah pimpinan Gebhard von Blucher, yang tergabung dalam Koalisi Ketujuh, berjumlah 225.000 pasukan menghajar pasukan Prancis di Waterloo, Belgia. Napoleon kembali ditangkap dan dibuang ke Pulau Saint Helena, Ascension, dan Tristan da Cunha di Samudera Atlantik bagian Selatan.

Penangkapan Napoleon ini menandai bahwa Kekaisaran Prancis yang pernah berjaya di Eropa, benar-benar telah berakhir. Negara-negara koalisi di Eropa sepakat untuk menegakkan kembali Wangsa Bourbon di Prancis dan mengembalikan semua wilayah yang pernah diduduki Prancis dan Sekutunya selama Perang dalam Konferensi Wina pada 1815.

Referensi[sunting | sunting sumber]