Penyimpanan makanan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lumbung padi masyarakat Toraja
Wadah penyimpanan makanan dari plastik

Penyimpanan makanan merupakan aktivitas pengawetan makanan secara fisik untuk melindungi dari lingkungan dan bahaya dari luar (seperti hewan dan serangga) serta persiapan untuk dikonsumsi di waktu tertentu (termasuk untuk kondisi darurat).

Keamanan[sunting | sunting sumber]

Penyimpanan makanan meski bertujuan mencegah masuknya penyakit, tetapi juga dapat menimbulkan penyakit terutama jika tidak dilakukan secara higienis. Bakteri penyebab botulisme dapat berkembang dengan baik pada kondisi tanpa oksigen yang biasanya tercipta pada wadah yang tertutup rapat.[1]

Makanan yang disimpan dalam kondisi beku dapat mencegah pertumbuhan bakteri, tetapi tidak membunuhnya. Sehingga makanan yang dikembalikan kondisinya dari pembekuan masih memiliki risiko pertumbuhan bakteri lebih besar dibandingkan sebelum dibekukan.[2] Menurut Marotz, 2008, makanan yang akan dikembalikan dari kondisi beku tidak boleh dilakukan pada kondisi temperatur ruang. Makanan tersebut harus dipanaskan dengan oven atau microwave, dimasak langsung, atau secara perlahan dari temperatur dingin.[1]

Lemak dan minyak nabati maupun hewani dapat menjadi rusak dengan cepat jika tidak disimpan dengan benar karena proses oksidasi. Semakin tinggi kadar lemak tak jenuh gandanya, semakin cepat oksidasi terjadi. Penyimpanan minyak dan lemak sebaiknya dilakukan dengan pendinginan segera setelah kemasan dibuka.[3]

Penyimpanan daging[sunting | sunting sumber]

Daging merupakan jenis makanan yang daoat berubah kualitasnya dengan cepat, sehingga penyimpanan harus dilakukan dengan cara didinginkan atau dibekukan, atau diolah menjadi daging kering dan daging asap. Setiap budaya dan restoran memiliki cara tersendiri dalam menyimpan daging sehingga menghasilkan kualitas rasa yang diinginkan. Teknik ini disebut dengan beef aging, yaitu penyimpanan di dalam ruangan dengan kondisi iklim mikro (temperatur, kelembaban) yang telah ditentukan dalam waktu beberapa hari sehingga menghasilkan kualitas daging tertentu.[4][5] Termasuk juga untuk daging hewan buruan.[6]

Rotasi makanan[sunting | sunting sumber]

Rotasi makanan adalah mengutamakan pengolahan, penyajian, dan konsumsi makanan yang telah berada di ruang penyimpanan makanan paling lama sehingga mencegah makanan menjadi tidak layak dan menjadi sampah makanan. Makanan yang terlalu lama berada di dalam penyimpanan berpotensi menjadi rusak kualitasnya dan tidak aman dikonsumsi sehingga kemungkinan besar akan terbuang. Pemberian label pada kemasan merupakan cara yang termudah untuk dilakukan.[7]

Kondisi darurat[sunting | sunting sumber]

Pada kemampuan dalam bertahan hidup pada kondisi darurat, berbagai masyarakat, budaya, dan negara mengutamakan penyimpanan makanan penting yang terutama berupa air, serealia, dan berbagai makanan kering yang mengandung kalori tinggi, biasanya dalam bentuk kaleng. Makanan yang dikeringkan secara pengeringan beku dapat menjaga kualitas makanan lebih lama. Dalam kondisi darurat, makanan pokok harus divariasikan supaya tidak mengganggu selera makan di saat genting. Makanan curah dalam bentuk kering umumnya lebih mudah disimpan dibandingkan makanan segar yang dimakan sehari-hari.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Marotz, Lynn R. (2008). Health, Safety, and Nutrition for the Young Child. Wadsworth Publishing. ISBN 978-1-4283-2070-3. 
  2. ^ "Fact Sheet: Freezing and Food Safety". United States Department of Agriculture, Food Safety and Inspection Service. June 3, 2010. Diakses tanggal November 8, 2011. 
  3. ^ Mitchell, Deborah (2004). Safe foods: the A-to-Z guide to the most wholesome foods for you and your family. Penguin. hlm. Ch. 15. ISBN 978-1-101-21015-4. 
  4. ^ Michael Richardson, Kim Matthews, Chris Lloyd, Katie Brian. Meat quality and shelf life. Better Returns Programme EBLEX Agriculture and Horticulture Development Board. brp_b_betterreturnsfrommeatmanual-meatqualityandshelflife.pdf [1]
  5. ^ Matthews, K. R. Review of published literature and unpublished research on factors influencing beef quality. EBLEX R&D UK Agriculture and Horticulture Development Board 2011 rd_qs_b_-_meatqualityreview2010-beef.pdf from [2]
  6. ^ Editors of Creative Publishing. Dressing & Cooking Wild Game. Publisher: Creative Publishing international 1999 ISBN 978-0865731080
  7. ^ Food Storage Guidelines, Family Survival Planning, April 10, 2009.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]