Puting susu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Puting susu (nipple)
Puting Susu.svg
Puting susu, areola dan payudara pada wanita.
Rincian
Pengenal
Latin papilla mammaria
TA A16.0.02.004
FMA 67771
Terminologi anatomi

Puting susu adalah bagian pada ujung payudara atau ambing mamalia tempat air susu dikeluarkan. Puting susu juga disebut dengan pentil, terutama untuk merujuk pada non-manusia, dan dalam dunia medis dikenal dengan papilla. Dalam banyak budaya, puting susu wanita dianggap sebagai zona sensitif seksual dan memperlihatkannya kepada publik dianggap sebagai ketidaksenonohan.[1][2]

Anatomi[sunting | sunting sumber]

Payudara: skema penampang kelenjar susu:
1. Dinding dada
2. Otot pektoralis
3. Lobula
4. Puting susu
5. Areola
6. Saluran air susu
7. Jaringan lemak
8. Kulit

Dalam anatomi mamalia, puting susu, papilla, atau pentil adalah proyeksi kecil kulit yang mengandung 15-20 duktus laktiferus yang berbentuk silinder di bagian ujung payudara. Kulit pembungkus puting susu kaya akan persediaan saraf khusus yang sensitif terhadap rangsangan tertentu. Tujuan psikologis dari puting susu adalah untuk menyalurkan air susu ibu (ASI) kepada bayi, yang diproduksi di kelenjar susu betina pada masa menyusui (laktasi).

Marsupial dan mamalia euteria biasanya memiliki jumlah puting susu yang tersusun secara bilateral, paling sedikit dua dan paling banyak sembilan belas puting susu.[3] Puting ini berkembang di dalam embrio. Pada ketakea seperti paus, bayi tidak bisa menghisap puting induk karena struktur mulutnya. Oleh sebab itu, puting susu paus berbeda dengan kebanyakan mamalia.

Puting susu pada hewan bervariasi dari segi ukuran, lokasi, dan struktur. Beberapa mamalia, seperti sapi, memiliki puting yang padat dan penuh, di mana air susu dapat keluar sendiri tanpa harus menyusui. Kambing dan domba betina memiliki dua puting susu, masing-masingnya dengan kelenjar susu tunggal. Puting susu pada babi jumlahnya bervariasi, mulai dari enam sampai enam belas, yang letaknya sejajar dengan garis perut.

Kebanyakan mamalia euteria, baik jantan atau betina, memiliki puting susu. Pada jantan, puting susu seringkali tidak dianggap fungsional untuk menyusui. Pengecualian terdapat pada tikus dan kuda, yang jantannya tidak memiliki puting susu.

Pada manusia[sunting | sunting sumber]

Manusia umumnya memiliki dua puting susu setelah lahir, yang terletak di ujung-tengah masing-masing payudara yang dikelilingi oleh daerah sensitif, atau pigmentasi kulit yang dikenal dengan areola.

Puting susu bisa mengalami ereksi, yang disebabkan oleh respons taktil terhadap suhu dingin, baik pada pria ataupun wanita. Ereksi puting juga bisa terjadi saat timbulnya gairah seksual pada wanita dan pria, atau selama menyusui. Kedua hal tersebut disebabkan oleh pelepasan oksitosin. Puting susu pada pria dan wanita adalah salah satu zona erotis yang bisa dirangsang dengan tangan atau dengan mulut saat melakukan hubungan seksual dan menyebabkan timbulnya berahi.[4][5]

Rata-rata ukuran puting susu wanita adalah lebih dari 3/8 inci (10 mm).[6] Kehamilan dan menyusui memperbesar ukuran puting, kadang-kadang bersifat permanen. Kehamilan juga memperlebar pigmentasi di sekitar puting.

Puting susu pada pria[sunting | sunting sumber]

Puting susu pada pria

Dari masa konsepsi sampai diferensiasi seksual, semua janin manusia, baik pria ataupun wanita, memiliki puting susu yang serupa. Hal ini berlangsung kurang lebih selama enam minggu, setelah itu gen pria mulai memproduksi hormon testosteron.[7] Biasanya, puting susu pria tidak banyak berubah pada titik ini, namun beberapa pria mengalami kondisi yang dikenal dengan ginekomastia, di mana kelenjar lemak di sekitar dan di bawah puting berkembang dan meluas hingga menyerupai puting susu wanita. Hal ini bisa terjadi jika produksi hormon testosteron menurun. Ginekomastia, meskipun tidak parah, bisa terjadi pada anak laki-laki pubertas yang mengalami perubahan fisik karena pelepasan hormon, termasuk estrogen, yang cepat dan tidak terkendali. Tingginya produksi estrogen pada anak laki-laki pubertas menyebabkan terjadinya pembengkakan pada puting susu dan jaringan di sekitarnya. Pada kondisi ginekomastia akut, payudara pria juga dapat menghasilkan air susu dan mengalami kanker payudara.[8]

Dalam makalahnya, Stephen Jay Gould dan Richard C. Lewontin menyatakan bahwa keberadaan puting susu pada pria merupakan produk sampingan arsitektur genetik dari puting susu wanita. Menurutnya, pria memiliki puting susu karena wanita juga memilikinya. Meskipun puting dan jaringan payudara pada pria tidak memiliki fungsi layaknya pada wanita, yaitu berupa fungsi laktasi (menyusui), puting dan payudara pria bisa berfungsi untuk melindungi jantung dan paru-paru dari cedera, dan masih berfungsi sebagai salah satu zona erotis, meski tak sesensitif pada wanita.[9]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Harper, Douglas (2001–2010). "teat". Online Etymological Dictionary. Diakses tanggal 15 August 2011. 
  2. ^ Harper, Douglas (2001–2010). "tit (1)". Online Etymological Dictionary. Diakses tanggal 15 August 2011. 
  3. ^ "The Wonder of Milk". Earthlife.net. Diakses tanggal 2013-05-09. 
  4. ^ Winkelmann RK (1959). "The erogenous zones: their nerve supply and significance". Mayo Clin Proc. 34 (2): 39–47. 
  5. ^ Sarhadi NS; Shaw Dunn, J; Lee, FD; Soutar, DS (1996). "An anatomical study of the nerve supply of the breast, including the nipple and areola". British Journal of Plastic Surgery. 49 (3): 156–164. doi:10.1016/S0007-1226(96)90218-0. PMID 8785595. 
  6. ^ M. Hussain, L. Rynn, C. Riordan and P. J. Regan, Nipple-areola reconstruction: outcome assessment; European Journal of Plastic Surgery, Vol. 26, Num. 7, December, 2003
  7. ^ "The Developing Embryo". Gender.org/Jed Bland. Diakses tanggal August 3, 2011. 
  8. ^ Fungsi Puting Susu Pada Laki-Laki. Detikhealth.
  9. ^ Simons, Andrew M. "Why do men have nipples? Scientific American (September 17, 2003)