Jintan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jintan
Berkas:Jintan.JPG
Biji jintan
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Apiaceae (Umbelliferae)
Genus:
Spesies:
T. roxburghianum
Nama binomial
Trachyspermum roxburghianum
(DC.) Craib
Sinonim

T. involucratum Wolff non Marie, Carum roxburghianum Benth ex Kurz[1]

Jintan (Trachyspermum roxburghianum syn. Carum roxburghianum) merupakan tumbuhan menjalar yang bijinya dapat digunakan sebagai rempah-rempah dan obat-obatan. Biji tanaman ini sering digunakan sebagai bumbu dapur untuk masakan India. Tanaman ini banyak dibudidayakan di India dan Asia Tenggara. Rasanya dari jintan hampir sama dengan rasa kelabat dan sangat berbeda dengan rasa dari jenis rempah-rempah yang lain.

Taksonomi[sunting | sunting sumber]

Nama spesies untuk jintan adalah Cuminum cyminum.[2] Jintan berasal dari famili Umbelliferae dan ordo Umbelliflorae. Spesies tanaman dalam famili Umbelliferae semuanya adalah herba yang berdaun harum. Bagian daun berjumlah tunggal atau majemuk dengan duduk daun tersebar pada roset akar. Bagian daunnya memiliki pelepah dan tidak memiliki daun penumpu. Bagian bunga dari famili Umbellifera berkelamin dua. Bunganya menjadi payung majemuk atau payung ganda yang tersusun dari aktinomorf. Jumlah lekuk kelopaknya ada lima dengan jumlah mahkota bunga juga lima. Mahkota kadang tidak muncul dan kalau muncul cepat gugur. Lima benang sarinya berseling dengan mahkota bunga dengan kepala benang sari beruas dua. Tangkai putik menebal sehingga menutupi bakal buah.[3]

Tampilan fisik dana aroma[sunting | sunting sumber]

Biji jintan berbentuk pipih dengan tekstur yang lembut. Warna bijinya kuning kecoklatan dan beraroma sedap.[4]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Bumbu masakan[sunting | sunting sumber]

Jintan merupakan salah satu rempah-rempah utama dalam masakan di Timur Tengah dan Asia. Penggunaan jintan di Asia khususnya pada masakan-masakan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Jintan memiliki rasa pedas dan manis. Di Belanda, jintan digunakan sebagai bahan campuran pembuatan keju.[5] Bagian jintan yang dijadikan rempah-rempah adalah bijinya.[6]

Pengobatan[sunting | sunting sumber]

Jintan mengandung senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai obat. Senyawa-senyawa ini antara lain karvakol, timol, eugenol, karyopilen dan flavonoid. Jenis eugenol di dalam jintan adalah monoterpenoid. Jenis karyopilennya adalah seskuiterpen bisiklik. Sedangkan jenis flavonoidnya antara lain kuersetin, apigenin, luteolin, salvigenin, dan genwanin. Senyawa-senyawa ini digunakan sebagai obat untuk infeksi saluran kemih, gangguan pencernaan, malaria, batuk, asma dan demam.[7]

Minyak atsiri[sunting | sunting sumber]

Buah jintan dapat dibuat menjadi minyak atsiri. Kandungan minyak di dalamnya sekitar 3-7%.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Geeta, R. "Radhuni: what is it??". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-03-03. Diakses tanggal 19 April 2008. 
  2. ^ Pribadi, Ekwasita Rini (2009). "Pasokan dan Permintaan Tanaman Obat Indonesia Serta Arah Penelitian dan Pengembangannya" (PDF). Perspektif. 8 (1): 53. ISSN 1412-8004.  line feed character di |title= pada posisi 68 (bantuan)
  3. ^ Achyani dan Asih, T. (2020). Tumbuhan Dikotyledoneae: Klasifikasi dan Manfaat (PDF). CV. Laduny Alifatama. hlm. 52–53. ISBN 978-623-7829-73-7. 
  4. ^ Miharti, T., Kurniawati, dan Algozi, D. E. A. (2019). Kamus Tata Boga (PDF). Jakarta: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 38. ISBN 978-602-437-919-3. 
  5. ^ Pattiradjwane, Bara (2017). Gretiani, Siti, ed. Cerita Dapur Nusantara dalam Rasa dan Rupa. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 12. ISBN 978-602-03-2879-9. 
  6. ^ Hakim, Luchman (2015). Rempah dan Herba Kebun-Pekarangan Rumah Masyarakat: Keragaman, Sumber Fitofarmaka dan Wisata Kesehatan-Kebugaran (PDF). Sleman: Diandra Creative. hlm. 1. ISBN 978-602-73737-6-1. 
  7. ^ Rollando (2019). Wicaksono, Soetam Rizky, ed. Senyawa Antibakteri dari Fungi Endofit (PDF). Malang: CV. Seribu Bintang. hlm. 6. ISBN 978-623-7000-07-5. 
  8. ^ Jaswir, I., dkk. (2020). Purwanti, Novita Heny, ed. Daftar Referensi Bahan-Bahan yang Memiliki Titik Kritis Halal dan Substitusi Bahan Non-Halal (PDF). Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah. hlm. 27. ISBN 978-623-90941-9-5. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]