Alergi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Alergi
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Urtikaria adalah ciri umum dari alergi.
ICD-10 T78.4
ICD-9 995.3
DiseasesDB 33481
MedlinePlus 000812
eMedicine med/1101 
MeSH D006967

Alergi atau hipersensitivitas tipe I (1 dari 4) adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik) atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang-orang yang tidak bersifat atopik. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen.

Simtomanya meliputi mata merah, gatal-gatal, rhinorrhea, eksim, urticaria, atau serangan asma. Pada sebagian orang, alergi berat terhadap lingkungan, atau alergi makanan atau alergi obat-obatan atau reaksi terhadap sengatan dari wasp dan tawon mungkin dapat membahayakan jiwa dengan timbulnya anaphylaxis. Tidak semua reaksi dari hipersensivitas adalah alergi.[1]

Reaksi alergi dapat diduga dan berlangsung cepat. Alergi disebabkan oleh produksi antibodi berjenis IgE.[2] Maka pembengkakan terjadi dari bersifat tidak nyaman hingga membahayakan.

Terdapat banyak variasi tes untuk mendiagnosa kondisi alergi. Jika telah dilakukan, maka harus dicocokkan dengan riwayat pasien, karena banyak hasil tes positip bukan berarti alergi tersebut pasti terjadi dengan berat atau mudah terindikasi.[3] Tes meliputi peletakan alergen-alergen pada kulit dan melihat pembengkakan yang terjadi atau melakukan tes darah untuk allergen-specific IgE (bukan IgE total yang tidak dapat menentukan alergi terhadap apa). Tes alergen pada kulit jauh lebih murah, walaupun tetap mahal tergantung berapa banyaka alergen (puluhan bahkan ratusan) yang dites.

Perawatan alergi termasuk menghindari alergen penyebab alergi yang berbeda-beda pada setiap orang, pemberian Corticosteroid yang juga disebut steroid yang mengubah sistem kekebalan secara umum, pemberian antihistamines dan decongestants untuk mengurangi gejala-gejala (obat flu/pilek hampir semuanya memiliki decongestant). Banyak dari obat-obatan ini dilakukan secara per oral, kecuali injeksi epinephrine, untuk mengobati reaksi anafilaksis. Allergen immunotherapy menggunakan injeksi alergen untuk menetralkan sesitivitas dari tubuh. Hay fever adalah alergi ringan yang sangat umum.

Tanda-tanda dan gejalanya[sunting | sunting sumber]

Gejala-gejala yang umum
Organ yang terkena Gejala
Hidung pembengkakan saluran hidung (rhinitis alergi), runny nose, bersin
Sinusitis sinusitis alergi
Mata merah dan gatal pada bola mata, berair
Saluran pernafasan bersin, batuk, penyempitan cabang saluran paru-paru (bronchoconstriction), nafasnya berisik (mengi) dan nafas pendek/tersengal-sengal (dyspnea), kadang-kadang terjadi asma, pada kasus yang berat saluran pernafasan menyempit karena pembengkakan saluran ke dalam dan dikenal sebagai pembenkakan saluran pernafasan (laryngeal edema)
Telinga terasa buntu, mungkin nyeri, dan berkurangnya pendengaran karena kurangnya drainase pada saluran eustachia.
Kulit gatal-gatal, seperti eksim dan urticaria
Saluran pencernaan sakit perut, perut teras penuh, muntah, diare

Kebanyakan alergen seperti debu dan serbuk sari bunga terbang bersama udara. Pada kasus ini, gejala timbul di tubuh yang terkena udara, seperti mata, hidung, dan paru-paru. Rhinitis alergi timbul seketika, dikenal juga sebagai hay fever, menyebabkan iritasi pada hidung, bersin, gatal-gatal, dan mata merah.[4] Alergen yang terhirup dapat juga menyebabkan reaksi asma, karena penyempitan cabang saluran paru-paru (bronchoconstriction) and peningkatan ingus/cairan di paru-paru, nafas pendek/tersengal-sengal (dyspnea), batuk dan mengi (wheezing).[5]

Reaksi alergi juga dapat timbul karena makanan, gigitan serangga, reaksi akan obat seperti terhadap aspirin dan antibiotik misalnya penisilin. Gejala-gejala alergi makanan termasuk nyeri abdomen, perut terasa penuh, muntah, diare, gatal-gatal, dan pembengkakan kulit selama hives. Reaksi makanan jarang menyebabkan gangguan pernafasan atau rhinitis.[6] Sengatan serangga, antibiotik, dan obat tertentu dapat menyebabkan anafilaksis; beberapa organ dapat terkena, termasuk saluran pencernaan, sistem pernafasan, dan sistem peredaran darah.[7][8][9] Tergantung dari tingkat beratnya, alergi dapat menyebabkan reaksi-reaksi cutaneous, penyempian cabang saluran paru-paru, edema, tekanan darah rendah (hypotension), koma, dan bahkan kematian. Reaksi ini dapat terpicu tiba-tiba atau dapat tertunda. Hal ini seringkali membutuhkan injeksi epinephrine, kadang-kadang melalui alat EpiPen atau Twinject injeksi otomatis. Sifat dari anafilaksis adalah gejalanya tampaknya mudah dihilangkan, tetapi penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama.[9]

Penyebabnya[sunting | sunting sumber]

Tes tusuk/gores pada lengan
Tes tusuk/gores pada punggung
Patch test/tes dengan koyo alergen

Faktor-faktor resiko alergi terbagi dalam 2 kategori umum, Inang/penderita dan Faktor-faktor lingkungan.[10] Faktor inang meliputi keturunan, jenis kelamin, ras, dan umur, dimana keturunan mengambil peranan yang paling besar. Bagaimanapun, akhir-akhir ini terjadi peningkatan kejadian alergi yang tak dapat diterangkan hanya dengan faktor keturunan semata. 4 faktor lingkungan yang utama adalah perubahan perkenaan dengan penyakit infeksi selama masa anak-anak, polusi, tingkat alergen, dan perubahan diet.[11]

Makanan[sunting | sunting sumber]

Banyak jenis makanan menyebabkan alergi, tetapi 90 persen alergi disebakan oleh susu sapi, kedelai, telur, wheat, kacang tanah, tree nuts, ikan, dan crustacea/udang/rajungan/kepiting.[12] Alergi makanan lainnya terjadi kurang dari 1 per 10.000 orang, dapat dianggap jarang.[13]

Penduduk Amerika Serikat umumnya alergi terhadap crustaceae.[13] Meskipun alergi terhadap kacang tanah terkenal karena tingkat beratnya, tetapi alergi kacang tanah bukanlah penyebab utama alergi pada dewasa dan anak-anak. Reaksi berat yang mengancam nyawa mungkin dipicu oleh alergen-alergen lainnya, dan lebih umum terjadi dengan kombinasi dengan asma.[12]

Tingkat alergi berbeda antara dewasa dan anak-anak. Alergi kacang tanah kadang-kadang berkembang pada masa anak-anak. Alergi telor terjadi pada 1 hingga 2 persen anak-anak dan menjadi kira-kira 2/3 anak-anak pada usia 5 tahun.[14] Sensivitas biasanya terjadi terhadap putih telurnya dibandingkan terhadap kuning telurnya.[15]

Alergi terhadap protein susu bukanlah reaksi Immunoglobulin E, dan biasanya adalah proctocolitis. Banyak terjadi pada anak-anak.[16] Beberapa orang tidak dapat mentoleransi susu kambing maupun domba juga sapi, dan banyak juga yang tak dapat mentoleransi hasil-hasil susu seperti keju. Sekitar 10% anak-anak yang alergi susu, juga alergi terhadap daging hewan berkaki empat. Daging merah tersebut mengandung sedikit protein seperti yang terdapat pada susu sapi.[17] Lactose intolerance, suatu reaksi umum terhadap susu, bukanlah alergi sama sekali, tetapi dikarenakan tiadanya ensim tertentu pada saluran pencernaan.

Alergi terhadap tree nut mungkin alergi terhadap salah satu atau banyak dari tree nut, termasuk pecans, pistachios, pine nuts, dan walnuts.[15] Juga biji-bijian, temasuk biji wijen, dan poppy seeds, yang mengandung minyak berprotein, yang bisa menimbulkan reaksi alergi.[15]

Balsam of Peru, yang banyak terdapat pada makanan, termasuk lima besar alergen yang terdeteksi dengan patch test yang dirujuk ke klinik dermatologi.[18][19][20]

Alergen-alergen dapat dipindahkan dari satu makanan ke makanan lainnya melalui rekayasa genetika, tetapi sebaliknya juga dapat menghilangkannya. Sedikit penelitian telah dilakukan terhadap konsentrasi alergen pada tumbuh-tumbuhan pangan yang belum direkayasa.[21][22]

Bukan makanan[sunting | sunting sumber]

Zat-zat yang bersinggungan dengan kulit seperti latex, juga umum menyebabkan reaksi alergi, dikenal sebagai contact dermatitis atau eksim.[23] Alergi-alergi kulit sering menyebabkan rashes, atau pembengkakan dan panas di dalam kulit, dikenal sebagai reaksi "wheal dan flare" yang disebabkan oleh hives and angioedema.[24]

Pada pasien di rumah sakit kejadiannya hanya 0,125 persen, tetapi pada tenaga medis meningkat hingga mencapai 10 persen, karena sering terpaparnya dengan udara yang mengandung protein latex.[25]

Latex dan pisang memiliki reaksi silang. Siapa alergi terhadap latex, maka mungkin juga sensitif terhadap alpukat, buah kiwi, dan chestnut.[26]

Racun-racun yang berinteraksi dengan protein[sunting | sunting sumber]

Juga bukan makanan, menyebabkan, urushiol-induced contact dermatitis, timbul karean bersinggungan dengan poison ivy, eastern poison oak, western poison oak, or poison sumac. Urushiol, bukan protein, tetapi mengubah bentuk integral membrane protein dan mengenai sel kulit, sedangkan sistem kekebalan tidak mengenalinya sebagai bagian dari badan dan timbullah alergi.[27] Of these poisonous plants, sumac is the most virulent.[28]

Diperkirakan 25 persen orang peka terhadap urushiol, tetapi angka kejadiannya meningkat menjadi 80 hingga 90 person dewasa yang terpapar urushiol yang dimurnikan, misalnya parfum poison ivy (jangan sampai terkena kulit).[29]

Faktor keturunan[sunting | sunting sumber]

Penyakit alergi timbul dalam keluarga, kembar identik akan sama alerginya sekitar 70 persen sepanjang waktu, tetapi kembar non-identik hanya 40 persen.[30] Orang tua yang alergi biasanya anak-anaknya juga alergi,[31] dan anak-anak tersebut akan menderita alergi lebih berat daripada anak-anak dari orang tua yang tak alergi. Sejumlah alergi, bagaimanapun belum tentu konsisten, orangtuanya alergi terhadap kacangtanah, tetapi anaknya alergi terhadap ragweed. Tampaknya perkembangan alergi tidak menurun begitu saja, tetapi berhubungan dengan ketidakteraturan sistem kekebalan, jadi menurunkan alergi terhadap alergen tertentu adalah tidak.[31]

Alergi (sistem kekebalan) diturunkan oleh kedua orangtuanya dengan tingkat resiko sebagai berikut:[32]

  • Kedua orangtua tidak memiliki riwayat alergi (termasuk asma), maka anak tetap dapat terkena alergi dengan tingkat resiko maksimum 15 persen
  • Salah satu orangtua mengalami riwayat alergi, maka resiko anak mendapat alergi meningkat menjadi 20-40 persen
  • Kedua orangtua mengalami riwayat alergi, maka resiko anak mendapat alergi meningkat lagi menjadi 60-80 persen

Resiko sensitivitas terhadap perkembangan alergi tergantung dari umur dengan anbak-anak lebih beresiko.[33] Bberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat IgE tertinggi terjadi pada masa kanak-kanak dan cepat turun antara umur 10 hingga 30 tahun.[33] Puncak terjadinya hay fever adalah pada anak-anak dan dewasa muda dan kejadian terbanyak asama adalah pada anak berusia di bawah 10 tahun.[34]

Anak laki-laki memiliki tingkat resiko terhadap alergi yang lebih tinggi dibandingkan anak wanita,[31] meskipun untuk beberapa penyakit lergi, misalnya asma pada dewasa muda, wanita lebih beresiko.[35] Perbedaan ini berkurang ketika kedua jenis kelamin ini dewasa.[31]

Sehubungan dengan alergi, etnis dan ras susah dipisahkan dari faktor lingkungan, apalagi terjadi migrasi.[31]

Alergi akibat keturunan dapat dicegah/dikurangi dengan pemberian ASI eksklusif pada 6 bulan pertama setelah kelahiran.[36]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya alergi:

  • Jagalah kebersihan lingkungan, baik di dalam maupun di luar rumah. Hal ini termasuk tidak menumpuk banyak barang di dalam rumah ataupun kamar tidur yang dapat menjadi sarang bertumpuknya debu sebagai rangsangan timbulnya reaksi alergi. Usahakan jangan memelihara binatang di dalam rumah ataupun meletakkan kandang hewan peliharaan di sekitar rumah anda.
  • Kebersihan diri juga harus diperhatikan, untuk menghindari tertumpuknya daki yang dapat pula menjadi sumber rangsangan terjadinya reaksi alergi. Untuk mandi, haruslah menggunakan air hangat seumur hidup, dan usahakan mandi sore sebelum PK.17.00'. Sabun dan shampoo yang digunakan sebaiknya adalah sabun dan shampoo untuk bayi. Dilarang menggunakan cat rambut.
  • Jangan menggunakan pewangi ruangan ataupun parfum, obat-obat anti nyamuk. Jika di rumah terdapat banyak nyamuk, gunakanlah raket anti nyamuk.
  • Gunakan kasur atau bantal dari bahan busa, bukan kapuk.
  • Gunakan sprei dari bahan katun dan cucilah minimal seminggu sekali dengan air hangat akan efektif.
  • Hindari menggunakan pakaian dari bahan wool, gunakanlah pakaian dari bahan katun.
  • Pendingin udara (AC) dapat digunakan, tetapi tidak boleh terlalu dingin dan tidak boleh lebih dari PK.24.00'
  • Awasi setiap makanan atau minuman maupun obat yang menimbulkan reaksi alergi. Hindari bahan makanan, minuman, maupun obat-obatan tersebut. Harus mematuhi aturan diet alergi.
  • Konsultasikan dengan spesialis. Alergi yang muncul membutuhkan perawatan yang berbeda-beda pada masing-masing penderita alergi. Mintalah dokter anda untuk melakukan imunoterapi untuk menurunkan kepekaan anda terhadap bahan-bahan pemicu reaksi alergi, misalnya: dengan melakukan suntikan menggunakan ekstrak debu rumah atau dengan melakukan imunisasi Baccillus Calmette Guirine (BCG) minimal sebanyak 3 kali (1 kali sebulan) berturut-turut, dan diulang setiap 6 bulan sekali.

Pada New England Journal of Medicine dipaparkan bahwa makan/asupan kacang sejak dini dapat mengurangi kemungkinan timbulnya alergi akibat kacang secara mencolok. Pada mereka yang rentan terhadap alergi kacang dan ditunjukkan dengan test tusuk kulit, maka balita yang mengkonsumsi kacang dalam bentuk apapun termasuk dalam bentuk makanan ringan agar tidak tersedak, akan mengalami kekebalan terhadap kacang. Biasanya pada usia 5 tahun, penderita alergi terhadap kacang berjumlah 14 persen, tetapi dengan makan kacang sejak usia dini, maka jumlah penderita menjadi hanya 2 persen. Sebelumnya peneliti terinspirasi oleh anak Yahudi di Israel yang makan kacang sejak bayi, penderita alergi terhadap kacang sangat sedikit, sedangkan di Inggris jumlahnya mencapai 10x lipat daripada di Israel.[37]

References[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Bahna SL (Dec 2002). "Cow's milk allergy versus cow milk intolerance.". Annals of allergy, asthma & immunology : official publication of the American College of Allergy, Asthma, & Immunology 89 (6 Suppl 1): 56–60. doi:10.1016/S1081-1206(10)62124-2. PMID 12487206. 
  2. ^ (Inggris)[http://www.ncbi.nlm.nih.gov/bookshelf/br.fcgi? book=imm&part=A1322 "Immunobiology, chapter 10-7. The nature and amount of antigenic peptide can also affect the differentiation of CD4 T cells"]. Charles A. Janeway, et al. Diakses tanggal 2010-03-20.  second paragraph.
  3. ^ Cox L, Williams B, Sicherer S, Oppenheimer J, Sher L, Hamilton R, Golden D (December 2008). "Pearls and pitfalls of allergy diagnostic testing: report from the American College of Allergy, Asthma and Immunology/American Academy of Allergy, Asthma and Immunology Specific IgE Test Task Force". Annals of Allergy, Asthma & Immunology 101 (6): 580–92. doi:10.1016/S1081-1206(10)60220-7. PMID 19119701. 
  4. ^ Bope, Edward T.; Rakel, Robert E. (2005). Conn's Current Therapy 2005. Philadelphia, PA: W.B. Saunders Company. p. 880. ISBN 0-7216-3864-3. 
  5. ^ Holgate ST (1998). "Asthma and allergy—disorders of civilization?". QJM 91 (3): 171–84. doi:10.1093/qjmed/91.3.171. PMID 9604069. 
  6. ^ Rusznak C, Davies RJ (1998). "ABC of allergies. Diagnosing allergy". BMJ 316 (7132): 686–9. doi:10.1136/bmj.316.7132.686. PMC 1112683. PMID 9522798. 
  7. ^ Golden DB (2007). "Insect sting anaphylaxis". Immunol Allergy Clin North Am 27 (2): 261–72, vii. doi:10.1016/j.iac.2007.03.008. PMC 1961691. PMID 17493502. 
  8. ^ Schafer JA, Mateo N, Parlier GL, Rotschafer JC (2007). "Penicillin allergy skin testing: what do we do now?". Pharmacotherapy 27 (4): 542–5. doi:10.1592/phco.27.4.542. PMID 17381381. 
  9. ^ a b Tang AW (2003). "A practical guide to anaphylaxis". Am Fam Physician 68 (7): 1325–32. PMID 14567487. 
  10. ^ Grammatikos AP (2008). "The genetic and environmental basis of atopic diseases". Annals of Medicine 40 (7): 482–95. doi:10.1080/07853890802082096. PMID 18608118. 
  11. ^ Janeway, Charles; Paul Travers; Mark Walport; Mark Shlomchik (2001). Immunobiology; Fifth Edition. New York and London: Garland Science. pp. e–book. ISBN 978-0-8153-4101-7. 
  12. ^ a b "Asthma and Allergy Foundation of America". Diakses tanggal 23 December 2012. 
  13. ^ a b Maleki, Soheilia J; Burks, A. Wesley; Helm, Ricki M. (2006). Food Allergy. Blackwell Publishing. pp. 39–41. ISBN 1-55581-375-5. 
  14. ^ Järvinen KM, Beyer K, Vila L, Bardina L, Mishoe M, Sampson HA (July 2007). "Specificity of IgE antibodies to sequential epitopes of hen's egg ovomucoid as a marker for persistence of egg allergy". J. Allergy 62 (7): 758–65. doi:[//dx.doi.org/10.1111%2Fj.1398-%0A9995.2007.01332.x 10.1111/j.1398- 9995.2007.01332.x] Check |doi= value (bantuan). PMID 17573723. 
  15. ^ a b c Sicherer 63
  16. ^ Maleki, Burks & Helm 2006, hlm. 41
  17. ^ Sicherer 64
  18. ^ Gottfried Schmalz, Dorthe Arenholt Bindslev (2008). [http://books.google.com/books? id=mrreTHuo54wC&pg=PA352&dq=balsam+of+peru +allergy&hl=en&sa=X&ei=m18XU46XMI7QkQfTvYGIDw&ved=0CEQQ6AEwAQ#v=onepage&q=balsam%20of%20peru%20allergy&f=false Biocompatibility of Dental Materials]. Springer. Diakses tanggal March 5, 2014. 
  19. ^ Thomas P. Habif (2009). [http://books.google.com/books? id=kDWlWR5UbqQC&pg=PT530&dq=%22balsam+of+peru %22+allergy&hl=en&sa=X&ei=UGoXU_CfL5TLkAelvYCQCg&ved=0CIIBEOgBMAw#v=onepage&q=%22balsam%20of%20peru%22%20allergy&f=false Clinical Dermatology]. Elsevier Health Sciences. Diakses tanggal March 6, 2014. 
  20. ^ Edward T. Bope, Rick D. Kellerman (2013). [http://books.google.com/books?id=fmwYAgAAQBAJ&pg=PT264&dq=%22balsam+of+peru %22+allergy&hl=en&sa=X&ei=UGoXU_CfL5TLkAelvYCQCg&ved=0CIwBEOgBMA4#v=onepage&q=%22balsam%20of%20peru%22%20allergy&f=false Conn's Current Therapy 2014: Expert Consult]. Elsevier Health Sciences. Diakses tanggal March 6, 2014. 
  21. ^ Herman, Eliot (2003). "Genetically modified soybeans and food allergies". Journal of Experimental Botany 54 (356): 1317–1319. doi:10.1093/jxb/erg164. PMID 12709477. 
  22. ^ Panda R, Ariyarathna H, Amnuaycheewa P, Tetteh A, Pramod SN, Taylor SL, Ballmer-Weber BK, Goodman RE (Feb 2013). "Challenges in testing genetically modified crops for potential increases in endogenous allergen expression for safety". Allergy 68 (2): 142–51. doi:10.1111/all.12076. PMID 23205714. 
  23. ^ Brehler R, Kütting B (2001). "Natural rubber latex allergy: a problem of interdisciplinary concern in medicine". Arch. Intern. Med. 161 (8): 1057–64. doi:10.1001/archinte.161.8.1057. PMID 11322839. 
  24. ^ Muller BA (2004). "Urticaria and angioedema: a practical approach". Am Fam Physician 69 (5): 1123–8. PMID 15023012. 
  25. ^ Sussman GL, Beezhold DH (1995). "Allergy to Latex Rubber". Annals of Internal Medicine 122 (1): 43–46. doi:10.7326/0003-4819-122-1-199501010-00007. PMID 7985895. 
  26. ^ Fernández de Corres L, Moneo I, Muñoz D, Bernaola G, Fernández E, Audicana M, Urrutia I (January 1993). "Sensitization from chestnuts and bananas in patients with urticaria and anaphylaxis from contact with latex". Ann Allergy 70 (1): 35–9. PMID 7678724. 
  27. ^ C. Michael Hogan. Western poison-oak: Toxicodendron diversilobum. GlobalTwitcher, ed. Nicklas Stromberg. 2008. Retrieved 30 April 2010.
  28. ^ Keeler, Harriet L. (1900). Our Native Trees and How to Identify Them. New York: Charles Scriber's Sons. pp. 94–96; Frankel, Edward, Ph.D. Poison Ivy, Poison Oak, Poison Sumac and Their Relatives; Pistachios, Mangoes and Cashews. The Boxwood Press. Pacific Grove, Calif. 1991. ISBN 978-0-940168-18-3.
  29. ^ Armstrong W.P., Epstein W.L. (1995). Herbalgram (American Botanical Council) 34: 36–42.  Missing or empty |title= (bantuan) cited in http://waynesword.palomar.edu/ww0802.htm
  30. ^ Galli SJ (2000). "Allergy". Curr. Biol. 10 (3): R93–5. doi:10.1016/S0960-9822(00)00322-5. PMID 10679332. 
  31. ^ a b c d e De Swert LF (1999). "Risk factors for allergy". Eur. J. Pediatr. 158 (2): 89–94. doi:10.1007/s004310051024. PMID 10048601. 
  32. ^ "Bagaimana mencegah risiko alergi". Diakses tanggal June 24, 2014. 
  33. ^ a b Croner S (1992). "Prediction and detection of allergy development: influence of genetic and environmental factors". J. Pediatr. 121 (5 Pt 2): S58–63. doi:10.1016/S0022-3476(05)81408-8. PMID 1447635. 
  34. ^ Jarvis D, Burney P (1997). "Epidemiology of atopy and atopic disease". Di Kay AB. Allergy and allergic diseases 2. London: Blackwell Science. pp. 1208–24. 
  35. ^ Anderson HR, Pottier AC, Strachan DP (1992). "Asthma from birth to age 23: incidence and relation to prior and concurrent atopic disease". Thorax 47 (7): 537–42. doi:10.1136/thx.47.7.537. PMC 463865. PMID 1412098. 
  36. ^ Lia Wanadriani Santosa (17 Pebruari 2015). "Cara cegah alergi usia dini". 
  37. ^ "Penelitian Membuktikan Konsumsi Kacang Sejak Bayi Bisa Cegah Alergi". 24 Pebruari 2015. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]