Urtikaria

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Urticaria
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Urtikaria pada lengan
ICD-10 L50.
ICD-9 708
DiseasesDB 13606
MedlinePlus 000845
eMedicine topic list
MeSH D014581

Urtikaria (dikenal juga dengan “hives, gatal-gatal, kaligata, atau biduran”) adalah kondisi kelainan kulit berupa reaksi vaskular terhadap bermacam-macam sebab, biasanya disebabkan oleh suatu reaksi alergi, yang mempunyai ciri-ciri berupa kulit kemerahan (eritema) dengan sedikit oedem atau penonjolan (elevasi) kulit berbatas tegas yang timbul secara cepat setelah dicetuskan oleh faktor presipitasi dan menghilang perlahan-lahan.

Meskipun pada umumnya penyebab urtikaria diketahui karena rekasi alergi terhadap alergen tertentu, tetapi pada kondisi lain dimana tidak diketahui penyebabnya secara signifikan, maka dikenal istilah urtikaria idiopatik. Urtikaria adalah gangguan dermatologi yang paling sering terlihat di UGD. Eritema berbatas tegas dan edema yang melibatkan dermis dan epidermis yang sangat gatal. Urtikaria dapat bersifat akut (berlangsung kurang dari 6 minggu) atau kronis (lebih dari 6 minggu). Berbagai macam varian urtikaria antara lain imunoglobulin E akut (IgE)-dimediasi urtikaria, kimia-induced urticaria (non-IgE-mediated), vaskulitis urtikaria, urtikaria autoimun, urtikaria kolinergik, urtikaria dingin, mastositosis, Muckle-Wells syndrome, dan banyak lainnya. [1]

Urtikaria mungkin memiliki kemiripan dengan berbagai penyakit kulit lain yang serupa dalam penampilan antara lain pruritus termasuk dermatitis atopik (eksim), erupsi obat makulopapular, dermatitis kontak, gigitan serangga, eritema multiforme, pityriasis rosea, dan lainnya biasanya. Namun, dokter yang berpengalaman mampu membedakan ini dari urtikaria karena penampilannya yang khas (lihat gambar). [2]

Sejumlah faktor, baik imunologi dan nonimunologik, dapat terlibat dalam patogenesis terjadinya urtikaria. Urtikaria dihasilkan dari pelepasan histamin dari jaringan sel mast dan dari sirkulasi basofil. Faktor-faktor nonimunologik yang dapat melepaskan histamin dari sel tersebut meliputi bahan-bahan kimia, beberapa obat-obatan (termasuk morfin dan kodein), makan makanan laut seperti lobster, kerang, dan makanan-makanan lain, toksin bakteri, serta agen fisik. Mekanisme imunologik kemungkinan terlibat lebih sering pada urtikaria akut daripada urtikaria kronik. Mekanisme yang paling sering adalah reaksi hipersensitivitas tipe I yang distimulasi oleh antigen polivalen yang mempertemukan dua molekul Ig E spesifik yang mengikat sel mast atau permukaan basofil.

Etiologi[sunting | sunting sumber]

Gatal pada kulit.jpg

Diduga penyebab urtikaria bermacam-macam, diantaranya : obat, makanan, gigitan/ sengatan serangga, bahkan foto sensitizer, inhalan, kontaktan, trauma fisik, infeksi, dan investasi parasit, psikis, genetik, dan penyakit sistemik.

  1. Obat

Bermacam- macam obat dapat menimbulkan urtikaria, baik secara imunologik maupun nonimunologik. Hampir semua obat sistemik menimbulkan urtikaria secara imunologik tipe I atau II. Contohnya ialah obat-obat golongan penisilin, sulfonamid, analgesik, pencahar, hormon, dan diuretik. Ada pula obat yang secara nonimunologik langsung merangsang sel mast untuk melepaskan histamin, misalnya kodein, opium, dan zat kontras. Aspirin menimbulkan urtikaria karena menghambat sintesis prostaglandin dari asam arakidonat.

2. Makanan

Peranan makanan ternyata lebih penting pada urtikaria yang akut, umumnya akibat reaksi imunologik. Makanan berupa protein atau bahan lain yang dicampurkan ke dalamnya seperti zat warna, penyedap rasa, atau bahan pengawet, sering menimbulkan urtikaria alergika. Contoh makanan yang sering menimbulkan urtikaria ialah, telur, ikan, kacang, udang, cokelat, tomat, arbei, babi, keju, bawang, dan semangka. Bahan yang dicampurkan seperti asam nitrat,asam benzoat, ragi, salisilat, dan penisilin. CHAMPION 1969 melaporkan +-2% urtikaria kronik disebabkan sensitisasi terhadap makanan.

3. Gigitan/sengatan serangga

Gigitan/sengat serangga dapat menyebabkan urtikaria setempat, agaknya hal ini lebih banyak diperantarai oleh IgE (tipe I) dan tipe seluler (tipe IV). Tetapi venom dan toksin bakteri, biasanya dapat pula mengaktifkan komplemen. Nyamuk, kepinding, dan serangga lainnya, menimbulkan urtika bentuk papular di sekitar tempat gigitan, biasanya sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari, minggu, atau bulan.

4. Bahan fotosensitizer

Bahan semacam ini, misalnya griseofulvin, fenotiazin, sulfonamid, bahan kosmetik, dan sabun germisida sering menimbulkan urtikaria.

5. Inhalan

Inhalan berupa serbuk sari bunga (polen), spora jamur, debu, bulu binatang, dan aerosol, umumnya lebih mudah menimbulkan urtikaria alergik (tipe I). Reaksi ini sering dijumpai pada penderita atopi dan disertai gangguan napas.

6. Kontaktan

Kontaktan yang sering menimbulkan urtikaria ialah kuku binatang, serbuk tekstil, air liur binatang, tumbuhan, buah, bahan kimia, misalnya insect repellent (penangkis serangga), dan bahan kosmetik. Keadaan ini disebabkan bahan tersebut menembus kulit dan menimbulkan urtikaria.

7. Trauma fisik

Trauma fisik dapat diakibatkan oleh faktor dingin, yakni berenang atau memegang benda dingin. Faktor panas misalnya sinar matahari, sinar UV, radiasi, dan panas pembakaran. Faktor tekanan yaitu goresan, pakaian ketat, ikat pinggang, air yang menetes atau semprotan air, vibrasi, dan tekanan berulang-ulang contohnya pijat, keringat, benda berat, demam, dan emosi menyebabkan urtikaria fisik baik secara imunologik maupun nonimunologik.

8. Infeksi dan infestasi

Bermacam-macam infeksi dapat menimbulkan urtikaria, misalnya infeksi bakteri, virus, jamur, maupun infestasi parasit. Infeksi oleh bakteri, contohnya pada infeksi tonsil, infeksi gigi, dan sinusitis. Masih merupakan pertanyaan, apakah urtikaria timbul karena toksin bakteri atau oleh sensitisasi. Infeksi virus hepatitis, mononukleosis, dan infeksi virus Cosackie pernah dilaporkan sebagai penyebab. Infeksi jamur kandida dan dermatofit sering dilaporkan sebagai penyebab urtikaria. Infeksi cacing pita, cacing tambang, cacing gelang juga Schistosoma atau Echinococcus dapat menyebabkan urtikaria.

9. Psikis

Tekanan jiwa dapat memacu sel mast atau langsung menyebabkan peningkatan permeabilitas dan vasodilatasi kapilar. Ternyata hampir 11,5% penderita urtikaria menunjukkan gangguan psikis.

10. Genetik

Faktor genetik ternyata berperan pada urtikaria dan angiodema, walaupun jarang menunjukkan penurunan autosomal dominan. Diantaranya ialah angineurotik edema herediter, familial cold urticaria, familial localized heat urticaria, vibratory angiodema, heredo-familial syndrome of urticaria deafness and amyloidosis, dan erythropoietic protoporphyria.

11. Penyakit sistemik Beberapa penyakit kolagen dan keganasan dapat menimbulkan urtikaria, reaksi lebih sering disebabkan reaksi kompleks antigen-antibodi. Penyakit vesiko-bulosa, misalnya pemfigus dan dermatitis herpetiformis Duhring, sering menimbulkan urtikaria. Beberapa penyakit sistemik dapat mengalami urtikaria antara lain limfoma, hipertiroid, hepatitis, urtikaria pigmentosa, artritis pada demam reumatik, dan artritis reumatoid juvenilis. [3]

Pengobatan[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar kasus urtikaria tidak perlu diperlakukan sebagai gejala yang berat dan kondisi sering akan lebih baik sendiri dalam beberapa hari.

Jika gejala urtikaria akut lebih serius atau kondisi tersebut terus berlangsung, dapat membeli diatasi dengan antihistamin yang dijual bebas di apotek. Dokter mungkin meresepkan tablet kortikosteroid, meskipun harus kembali ke dokter jika gejala memburuk atau pengobatan tidak berhasil setelah dua minggu.

Urtikaria Akut

1. Antihistamin

Antihistamin menghambat efek histamin, sehingga mereka dapat menghentikan gejala gatal dan mengurangi ruam. Contoh antihistamin meliputi cetirizine, fexofenadine, loratadin.

Antihistamin modern tidak menyebabkan kantuk pada kebanyakan orang, tetapi ada beberapa pengecualian. Lihat bagaimana Anda bereaksi terhadap antihistamin sebelum mengemudi atau mengoperasikan mesin berat. Antihistamin modern dapat menyebabkan mengantuk jika dikonsumsi dengan alkohol. Sering penderita mengalami masalah tidur pada malam hari karena urtikaria terutama gatal, dokter dapat memberikan antihistamin tambahan yang diketahui menyebabkan kantuk, seperti chlorphenamine atau hidroksizin.

Antihistamin biasanya tidak diresepkan selama hamil. Hal ini karena mereka belum ditetapkan sebagai sepenuhnya aman. Namun, dokter dapat merekomendasikan chlorphenamine jika mereka merasakan manfaat lebih besar daripada risiko. Ada beberapa ribu kasus yang diketahui ibu hamil mengambil chlorphenamine, dan tidak ada bukti efek negatif pada bayi yang belum lahir.

2. Kortikosteroid tablet

Anda mungkin diberikan resep dosis tinggi tablet kortikosteroid, seperti prednisolon, jika gejala yang berat. Kortikosteroid menekan sistem kekebalan tubuh dan, karenanya, dapat menekan gejala urtikaria. Biasanya, pemberian terapi tiga sampai lima hari prednisolon dianjurkan. Konsumsi tablet steroid secara jangka panjang biasanya tidak dianjurkan karena hal ini dapat menyebabkan berbagai efek samping dan komplikasi, seperti hipertensi, glaukoma, katarak, dan diabetes (atau dapat membuat diabetes yang ada lebih buruk).

Urtikaria Kronis

Pengobatan untuk urtikaria kronis membantu Anda mengontrol gejala dan menghindari pemicu yang membuat gejala lebih buruk.

Jika Anda memiliki urtikaria kronis dan angioedema (pembengkakan lapisan lebih dalam dari kulit), Anda juga dapat memeriksakan diri ke dokter kulit Hal ini karena angioedema berpotensi lebih serius karena dapat menyebabkan kesulitan bernapas.

Jika Anda hanya memiliki urtikaria kronis tetapi gejala menetap meskipun telah ada pengobatan, Anda juga harus dirujuk.

1. Antihistamin

Gejala-gejala urtikaria kronis diobati dengan antihistamin. Penderita mungkin harus mengkonsumsi secara teratur sampai gejala terakhir. Seperti urtikaria akut, Penderita mungkin akan diberi kombinasi antihistamin non-mengantuk dan mengantuk untuk membantu tidur. Jika gejala tidak berefek terhadap pengobatan, dapat direkomendasikan untuk meningkatkan dosis obat. Meningkatkan dosis sering dapat membantu mengendalikan gejala yang sebelumnya tidak merespon pengobatan. Namun, ini harus dilakukan hanya jika diinstruksikan oleh dokter. Jenis yang lebih baru yang disebut antihistamin rupatadine telah terbukti efektif dalam mengobati kasus yang lebih berat dari urtikaria kronis yang tidak berefek terhadap antihistamin lainnya.

2. Menthol krim

Krim Menthol dapat digunakan sebagai alternatif atau di samping antihistamin seperti yang telah ditunjukkan untuk meringankan gatal. Dokter dapat meresepkan ini.

3. Kortikosteroid tablet

Episode yang lebih serius dari urtikaria dapat diobati dengan dosis singkat tablet kortikosteroid, seperti prednisolon. Kemungkinan efek samping tablet kortikosteroid termasuk nafsu makan meningkat dan berat badan, perubahan suasana hati, dan kesulitan tidur (insomnia). Penggunaan jangka panjang kortikosteroid pada urtikaria kronis tidak direkomendasikan untuk alasan yang disebutkan di atas.

4. H2 antihistamin

Jenis antihistamin yang biasa didapatkan di apotek dikenal sebagai antihistamin H1, tapi ada beberapa jenis lain antihistamin, termasuk antihistamin H2. Ini kadang-kadang dapat berguna dalam mengobati urtikaria kronis karena dapat mempersempit pembuluh darah. Hal ini pada gilirannya sering dapat membantu mengurangi kemerahan pada kulit.

Antihistamin H2 dapat digunakan dalam kombinasi dengan antihistamin H1 atau sebagai alternatif bagi antihistamin H1. Efek samping antihistamin H2 jarang tetapi mencakup sakit kepala, diare, dan pusing. Efek samping setelah minum antihistamin H2 dapat menyebabkan pusing.

5. Narrowband ultraviolet B fototerapi

Fototerapi ultraviolet B narrowband (NUVB) adalah jenis pengobatan dengan mengekspos daerah kulit pada sinar ultraviolet energi tinggi. Cahaya dapat membantu membersihkan daerah lain terus-menerus dari ruam.

NUVB melibatkan Anda berdiri di ruang, seperti mandi, yang berisi sejumlah lampu neon. Kulit Anda kemudian terkena cahaya untuk waktu yang pendek, biasanya tidak lebih dari beberapa menit.

Anda biasanya akan menghadiri dua sampai lima sesi seminggu. Kebanyakan orang memerlukan 20 sesi sebelum gejala mereka secara signifikan meningkatkan.

Cahaya dapat menyebabkan beberapa pembakaran kulit, mirip dengan sengatan matahari ringan. Anda dapat diberi krim untuk membantu menenangkan pembakaran apapun.

Paparan sinar ultraviolet membawa risiko teoritis menyebabkan kanker kulit di kemudian hari.

Tidak jelas persis seberapa tinggi risiko yang karena ini adalah pengobatan yang relatif baru, tetapi kebanyakan ahli berpikir risiko harus kecil.

6. Leukotriene receptor antagonis

Antagonis reseptor leukotrien adalah jenis obat yang sering dapat mengurangi kemerahan dan pembengkakan kulit.

Mereka bisa menjadi alternatif jangka panjang berguna untuk menggunakan tablet kortikosteroid karena mereka tidak membawa risiko tinggi yang sama menyebabkan luas efek samping. Efek samping jarang terjadi dan relatif kecil, seperti sakit kepala dan perasaan sakit.

7. Cyclosporin

Sebuah obat kuat yang disebut cyclosporin telah terbukti efektif dalam mengobati urtikaria di sekitar dua per tiga kasus. Cyclosporin bekerja dalam cara yang sama seperti kortikosteroid lakukan. Ini menekan efek berbahaya dari sistem kekebalan tubuh dan tersedia dalam bentuk kapsul atau sebagai cairan yang Anda minum.

Efek samping yang umum dari siklosporin meliputi: a. tekanan darah tinggi b. peningkatan kadar kolesterol dalam darah c. sakit kepala d. paksa gemetar (tremor) e. meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, terutama infeksi dada, infeksi saluran kemih (infeksi setiap bagian dari tubuh yang digunakan untuk menghapus urin dari tubuh) dan jenis infeksi virus yang disebut virus sitomegalo.

Semakin lama seseorang mengambil siklosporin, cenderung menjadi kurang efektif. Satu studi menemukan bahwa hanya satu orang dari empat masih bebas dari gejala setelah minum obat selama lima bulan.

Efek samping seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi juga menjadi perhatian karena ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Bahkan jika Anda masih menanggapi pengobatan, dapat direkomendasikan bahwa obat ini ditarik setelah beberapa bulan.

8. Diet

Ada kontroversi mengenai peran diet pada orang dengan gatal-gatal jangka panjang. Ada dua kelompok bahan kimia dalam makanan yang dapat memicu urtikaria pada beberapa orang: amina vasoaktif dan salisilat.

Menghindari atau mengurangi asupan bahan kimia ini dapat mengurangi gejala.

Anda mungkin ingin membuat catatan harian makanan untuk melihat apakah menghindari makanan tertentu membantu gejala. Jika Anda membatasi diet Anda, berkonsultasi dengan ahli diet, yang dapat memastikan bahwa Anda tidak perlu menghindari makanan dan diet Anda adalah cukup.

a. Amina vasoaktif

Makanan yang mengandung amina vasoaktif, atau menyebabkan pelepasan histamin, meliputi kerang-kerangan, stroberi, tomat, ikan, coklat, dan nanas.

b. Salisilat

Salisilat secara alami terjadi seperti aspirin senyawa yang ditemukan dalam berbagai makanan yang berasal dari tanaman. Anda dapat mencoba menebang pada ini, tapi tidak sepenuhnya menghindarinya. Makanan yang mengandung salisilat meliputi tomat, bumbu-bumbu, jus jeruk, raspberi, teh.

Untuk informasi lebih lanjut tentang mengikuti diet rendah histamin, lihat Alergi Inggris: intoleransi histamin.

9. Menghindari pemicu

Jika Anda tahu apa yang memicu urtikaria atau membuat lebih buruk, menghindari pemicu dapat menjaga kondisi Anda di bawah kontrol.

Pemicu seperti alkohol dan kafein dapat dengan mudah dihindari. Dan jika Anda berpikir obat tertentu dapat memicu gejala Anda, hubungi dokter untuk diresepkan obat lain sebagai alternatif yang mungkin tersedia.

Menghindari stres bisa lebih sulit, terutama jika gejala negatif mempengaruhi kualitas hidup Anda.

Jika Anda memiliki urtikaria kronis, Anda mungkin menemukan bahwa teknik relaksasi, seperti meditasi atau hipnotis, mengurangi tingkat stres Anda dan tingkat keparahan gejala. [4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Poonawalla T, Kelly B. (2009). Urticaria : a review. Am J Clin Dermatol;10(1):9-21. 
  2. ^ Frigas E, Park MA. (2009). Acute urticaria and angioedema: diagnostic and treatment considerations. Am J Clin Dermatol;10(4):239-50. 
  3. ^ Siti Aisah (2008). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Balai Penerbit FKUI. ISBN 978-979-496-415-6. 
  4. ^ www.nhs.uk, Urticaria (hives). Diakses pada 12 Agustus 2012.