Kutha Bedah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Kutha Bedah adalah sebuah tempat penting dari Kerajaan Kalinyamat yang kini secara administratif masuk wilayah di Desa Robayan, Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Asal usul nama Kutha Bedah terdapat 2 versi, yaitu:

  • Versi Pertama

Kutha Bedah adalah tempat dimana terjadinya peristiwa Bedhahe Kalinyamat[1] yaitu merupakan tembok benteng Kerajaan Kalinyamat yang bedah alias roboh dikarenakan diserang oleh Panembahan Senopati dari Kesultanan Mataram yang hendak ingin menguasai wilayah Jepara. Mataram berhasil menyerang Jepara yang sebelumnya Kerajaan Mataram sangat susah menyerang Jepara dikarenakan di Jepara terdapat Benteng yang kuat dengan prajurit yang menjaganya, tetapi sejak Pangeran Arya Jepara (anak Sultan Maulana Hasanudin dari Kesultanan Banten), menggantikannya Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara. Pangeran, yang diberitakan pernah berusaha menduduki tahta Banten dan berhasil menduduki Bawean ini, berkuasa sampai tahun 1599. Kekuasaannya berakhir karena pasukan Panembahan Senopati dari Mataram datang menyerbu. Jepara diduduki dan kota Kalinyamat dihancurkan. Tidak ada kabar mengenai nasib keluarga penguasa dan orang-orang penting Jepara waktu itu. Sejak saat itu pula Jepara dipimpin oleh pejabat setingkat bupati yang ditunjuk oleh Kesultanan Mataram. oleh karena itu dinamakan Kota yang meledak yang dalam bahasa Jawa artinya Kutha Bedah.

  • Versi Kedua

Kutho Bedah dalam bahasa Indonesia artinya kota yang meledak, dikarenakan dahulu tempat tersebut merupakan bagian dari kota kerajaan kalinyamat dan wilayah tersebut berada di dalam tembok benteng kerajaan kalinyamat. Selain itu wilayah ini juga pernah di bom oleh Belanda sehingga meledak, oleh karena itu dinamakan Kota yang meledak yang dalam bahasa Jawa artinya Kutha Bedah.

Sumur Upas[sunting | sunting sumber]

Dimasa pusat pemerintahan berada di Keraton Kalinyamat yang kini di desa Kriyan, Kuto Bedah terdapat Harimau kembar yang berada di dalam Sumur Upas yang bernama Macan Lurik, sumur tersebut untuk menghukum para penjahat atau pembangkang Kerajaan Kalinyamat, Sumur Upas berada di sebelah barat daya keraton yang terkenal dengan nama Sumur Upas Kuto Bedah yang saat ini berada di Desa Robayan.

Pasar Kerajaan Kalinyamat[sunting | sunting sumber]

Setelah Ratu Kalinyamat menikah dengan Sultan Hadlirin dan pusat pemerintahan berpindah ke Keraton Mantingan, maka Kutha Bedah dijadikan pusat jual beli alias pasar[2] Kerajaan Kalinyamat, Pasar tersebut sangat ramai. Bahkan ketika Ratu Kalinyamat sedang sedih, susah maka dia menghibur diri dengan berjalan keliling istana dengan menaiki kereta kencana yang berjalan diatas benteng yang lebar tembok benteng tersebut mencapai 4 meter sehingga bisa di lalui oleh kereta kencana dia.

Pemukiman[sunting | sunting sumber]

Kini Kutha Bedah menjadi kawasan makam dan pemukiman sejak zaman dahulu hingga kini, kutha bedah terkenal sebagai daerah paling angker di kawasan Kecamatan Kalinyamatan.

Masalah[sunting | sunting sumber]

Kutha Bedah memiliki beberapa masalah, diantaranya:

  • Kurang Terkenal

Kutha Bedhah hanya dikenal warga Desa Robayan, Desa Kriyan dan Desa Brantaksekarjati, selain daerah tersebut Kutha Bedah tidak dikenal warga Jepara secara umum, karena tidak ada peran pemerintah Pemkab Jepara untuk mengenalkan Kutha Bedah dengan memasukan kedalam pelajaran Sejarah.

  • Tidak Undang-Undang

Kutha Bedah tidak dilindungi undang-undang cagar budaya sehingga kini banyak dibangun rumah oleh warga Desa Robayan. Seharusnya Pemkab Jepara membuat Undang-undang atau Perpu tentang cagar budaya untuk Kutha Bedah.

  • Tidak Adanya Rekonstruksi Pembangunan Ulang

Pemkab Jepara seharusnya membangun ulang seperti dizaman Ratu Kalinyamat, dengan cara:

  1. Pembebasan Lahan Kutho Bedah dan sekitarnya oleh pemerintah kabupaten Jepara dari Rumah-Rumah Warga
  2. Meminta Paranormal yang bisa melukis seperti paranormal Ustad Sholehpati atau yg lainnya yang bisa melihat bagaimana bentuk Kutha Bedah Zaman Dahulu dan bagaimana bentuk Sumur Upas (Sumur Eksekusi).
  3. Kemudian Lukisannya Paranormal di berikan kepada arsitek, agar dirancang dengan baik
  4. Kemudian membangun sesuai gambaran dari arsitek
  5. Setelah selesai pembuatan Kutha Bedah seperti era Ratu Kalinyamat, maka bisa di buka sebagai tempat wisata sejarah.

Referensi[sunting | sunting sumber]