Barikan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Logo Festival Barikan
Logo Festival Barikan

'Barikan atau lebih dikenal dengan istilah Festival Barikan Kubro dmerupakan tradisi yang sudah dilakukan oleh masyarakat Karimunjawa secara turun temurun[1]. Barikan ini merupakan wujud syukur masyarakat Desa Karimunjawa atas hasil bumi dan laut. Barikan kali ini dilaksanakan malam Jum’at Wage (perhitungan Jawa) di Jepara tepatnya Kecamatan Karimunjawa. Festival ini diadakan di Desa Karimunjawa kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara.

Acara[sunting | sunting sumber]

Waktu sudah menunjukkan 15:05 dan adzan ashar sudah usai di kumandangkan, ribuan warga karimunjawa pun bergegas menuju perempatan desa setelah menunaikan ibadah salat ashar. Perempatan desa karimunjawa tepatnya berada di puskesmas karimunjawa. Mereka membawa tumpeng kecil dan nasi kuning. Lho ada apa kok bisa begitu? usut punya usut ternyata mereka (warga karimunjawa) akan memulai acara pelaksanaan barikan. Sejumlah warga karimunjawa yang di dominasi oleh ibu-ibu karimunjawa ini tampak senang sekali dengan acara tahunan ini. Bahkan tokoh masyarakat karimunjawa yaitu bapak Kundhori juga ikut berkumpul menghadiri acara ini, bersama sama mereka menggelar doa bersama di perempatan. Diacara ini di buat tumpeng-tumpeng yang jumlahnya ada sembilan tumpeng, dari ke sembilan tumpeng tersebut ada satu tumpeng yang kalau saya menyebutnya adalah tumpeng istimewa karena tumpeng ini beda dengan sekawanan tumpeng lainnya. lalu apa bedanya heheh, nggak beda sih tumpengnya pun dari bahan yang sama yaitu beras cuman beda di ukuran tumpengnya saja. Satu tumpeng istimewa ini ukurannya lebih daripada tumpeng-tumpeng lainnya, tumpeng besar ini diarak diiringi ribuan warga karimunjawa dibawa menuju pelabuhan ikan Karimunjawa. Dan untuk tumpeng-tumpeng lainnya yang jumlahnya sisa delapan tumpeng di arak ke tengah alun-alun Karimunjawa.

Tradisi[sunting | sunting sumber]

Tradisi Barikan di Desa Karimunjawa Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara memiliki arti tersendiri bagi warga Desa Karimunjawa khususnya, menurut mereka tradisi barikan karimunjawa adalah sebagai bentuk wujud syukur dan berbagi kepada sesama makluk ciptaan Tuhan yang ada di laut karimunjawa. Untuk itu, tumpengnya tidak hanya hasil bumi, nah beda kan dengan tradisi barikan di tempat-tempat lainnya, warga Karimunjawa tidak hanya menggantungkan hidupnya dari hasil bumi, tetapi juga dari laut. Warga di kepulauan karimunjawa meyakini, makanan yang berada di tumpeng yang mereka arak, seperti hasil bumi dan laut, bisa membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya. Namun, yang paling jadi rebutan warga adalah kacang hijau dan garam yang ada di puncak tumpeng. “Garam dan kacang hijaunya nanti disebar keliling rumah untuk tolak balak. Selain wujud syukur, Barikan kali ini dimaksudkan untuk menyambut datangnya musim baratan.

Harapan[sunting | sunting sumber]

Perayaan ini digelar supaya seluruh masyarakat Karimunjawa di berikan rejeki yang melimpah dan keselamatan selama musim baratan[2], Kalau musim baratan ombak besar dan angin kencang. Lewat barikan ini diharapkan warga Karimunjawa selalu diberi keselamatan dan limpahan rezeki. Serta dengan diadakannya acara Barikan ini agat kebudayaan masyarakat Desa Karimunjawa ini dapat menjadi alternatif andalan pariwisata Karimunjawa. Karena, hingga saat ini industri pariwisata Karimunjawa masih mengandalakan keindahan alam. Wisata budaya hingga kini belum tergarap maksimal. Harapan kami untuk acara kedepan bisa lebih dikembangkan, dengan adanya tradisi seperti ini juga bisa menjaga kerukunan masyarakat juga menunjang sektor pariwisata.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]