Ignatius Suharyo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Yang Mulia Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo
Kardinal, Uskup Agung Jakarta
Mgr. Ignatius Suharyo, 2018.jpg
GerejaGereja Katolik Roma
Keuskupan AgungJakarta
ProvinsiJakarta
MetropoliaJakarta
Ditunjuk28 Juni 2010
(9 tahun, 81 hari)
Instalasi29 Juni 2010
PendahuluJulius Darmaatmadja, S.J.
Jabatan lain
Tahbisan
Ditahbiskan26 Januari 1976
(43 tahun, 234 hari)
oleh Justinus Darmojuwono
Konsekrasi22 Agustus 1997
(22 tahun, 26 hari)
oleh Julius Darmaatmadja, S.J.
Menjadi Kardinal5 Oktober 2019
(-1 tahun, 347 hari)
oleh Paus Fransiskus
PeringkatKardinal-Imam
Data Diri
Nama lahirIgnatius Suharyo Hardjoatmodjo
Lahir9 Juli 1950 (umur 69)
Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
Kewarganegaraan Indonesia
DenominasiKatolik Roma
KediamanKompleks Gereja Katedral Jakarta Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat
Orang tua
  • Florentinus Amir Hardjodisastra (ayah)
  • Theodora Murni Hardjadisastra (ibu)
Posisi sebelumnya
  • Administrator Apostolik Bandung (2010—2014)
  • Wakil Ketua I Konferensi Waligereja Indonesia
Alma mater
MotoServiens Domino Cum Omni Humilitate (Kis 20:19)
(Aku Melayani Tuhan dengan Segala Rendah Hati)
Lambang{{{coat_of_arms_alt}}}

Kardinal Dr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo (lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Indonesia, 9 Juli 1950; umur 69 tahun) adalah Uskup Agung Jakarta sejak 29 Juni 2010, menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J.. Sebelum menduduki jabatan ini, Mgr. Suharyo adalah Uskup Agung Koajutor Jakarta.[1] Saat ini, ia juga menjadi Uskup Ordinariat Militer Indonesia. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.[2]

Sejak 15 November 2012, ia menjabat sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, menggantikan Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM.Cap. Pada tanggal 1 September 2019, ia secara resmi ditunjuk sebagai Kardinal untuk gereja Katolik di Indonesia.

Masa kecil[sunting | sunting sumber]

Mgr. Suharyo lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Indonesia pada 7 Juli 1950 dari pasangan ayah Florentinus Amir Hardjodisastra, seorang pegawai di Dinas Pengairan Daerah Istimewa Yogyakarta dan ibu Theodora Murni Hardjadisastra sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Kakaknya, yakni RP. Suitbertus Ari Sunardi OCSO, adalah rahib imam di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sementara dua orang saudarinya menjadi biarawati, yakni Suster Christina Sri Murni, FMM dan Suster Maria Magdalena Marganingsih, PMY.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Mgr. Suharyo awalnya menjalani pendidikan dasar di SD Kanisius, Gubuk, Sedayu, dan pada kelas IV ia pindah ke SD Tarakanita, Bumijo, Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Seminari Kecil Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sejak tahun 1961. Mgr. Suharyo menjalani pendidikan menegah atas di Seminari Menengah Mertoyudan dan lulus pada tahun 1968. Ia kemudian melanjutkan studi di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, dan pada tahun 1971 ia mendapatkan gelar Sarjana Muda bidang Filsafat/Teologi, serta pada 1976 mendapatkan gelar Sarjana Filsafat/Teologi. Kardinal Justinus Darmojuwono kemudian menugaskan Mgr. Suharyo untuk belajar di Roma, Italia. Ia menyelesaikan studi Doktoral Teologi Bibilis di Universitas Urbaniana, Roma, Italia pada tahun 1981.

Karier[sunting | sunting sumber]

Mgr. Suharyo ditahbiskan menjadi Imam pada 26 Januari 1976 oleh Kardinal Justinus Darmojuwono di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, bersama dengan RD Yohanes Bardiyanto.

Setelah kepulangannya dari Roma, Italia, Mgr. Suharyo menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya, Yogyakarta sejak tahun 1981 hingga 1991. Pada tahun 1983 hingga 1993, ia menjadi Ketua Jurusan Filsafat dan Sosiologi di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Mgr. Suharyo sempat menjadi Dosen Pengantar dan Ilmu Tafsir Perjanjian Baru di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta pada tahun 1989. Ia kemudian menjadi Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada tahun 1993 hingga 1997. Ia juga menjadi pengajar di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta dan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung pada tahun 1994—1996. Pada tahun 1996—1997, Suharyo menjadi Direktur Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dan sempat menjadi Ketua Konsorsium Yayasan Driyarkara pada tahun 1997. Ia juga sempat menjadi Ketua UNIO (Persaudaraan Imam-imam Praja) serta dalam Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang.

Mgr. Suharyo ditunjuk menjadi Uskup Agung Semarang pada 21 April 1997 oleh Paus Yohanes Paulus II. Ia ditahbiskan pada 22 Agustus 1997 di Gedung Olahraga Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah.[2] Ia ditahbiskan menjadi Uskup oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., yang merupakan pendahulu Mgr. Suharyo sebagai Uskup Agung Semarang. Mgr. Pietro Sambi, Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia sekaligus Uskup Agung Tituler Bellicastrum dan Mgr. Blasius Pujaraharja, Uskup Ketapang menjadi Uskup Ko-konsekrator. Ia memilih semboyan "Serviens Domino Cum Omni Humilitate" (Kis 20:19), yang artinya "Aku Melayani Tuhan dengan Segala Rendah Hati",[1] sebuah bagian dari perikop perpisahan Santo Paulus dengan para penatua di Efesus. Sebagai seorang Uskup, ia memilih untuk tidak menggunakan zucchetto dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam memimpin Misa, serta tidak menggunakan tongkat gembala ketika memberikan homili.[3]

Pada 8 September 2000, Mgr. Suharyo menjadi Uskup Ko-konsekrator dalam penahbisan Uskup Purwokerto, Mgr. Julianus Sunarka, S.J., bersama dengan Uskup Bandung, Mgr. Alexander Soetandio Djajasiswaja. Bertindak sebagai penahbis utama, yakni Uskup Agung Jakarta Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J..

Pada tahun 2000, Mgr. Suharyo terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia, untuk masa jabatan 3 tahun hingga tahun 2003, di mana Kardinal Julius menjadi Ketua Presidium. Pada 8 November 2003, Mgr. Suharyo kembali terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia, di mana Ketua Presidum kembali dijabat oleh Kardinal Julius.[4][5]

Pada Mei 2004, Mgr. Suharyo menjadi Guru Besar bidang teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.[6]

Pada 2 Januari 2006, Mgr. Suharyo ditunjuk menjadi Uskup Ordinariat Militer Indonesia, menggantikan Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J.. Pada 16 November dalam tahun yang sama, Mgr. Suharyo terpilih menjadi Wakil Ketua I Konferensi Waligereja Indonesia, sementara Ketua Presidium dijabat oleh Uskup Padang, Mgr. Martinus Dogma Situmorang, O.F.M. Cap..[7]

Pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, 29 Juni 2007, ia kembali menjadi Uskup Ko-konsekrator dalam penahbisan Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Uskup Surabaya, bersama dengan Uskup Malang, Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O. Carm.. Dalam penahbisan itu, Uskup Agung Jakarta Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J. juga menjadi Penahbis Utama.

Pada 16 Juli 2008, bersama dengan Nuncio Apostolik untuk Indonesia dan Timor Leste sekaligus Uskup Agung Tituler Capreae, Mgr. Leopoldo Girelli, Mgr. Suharyo menjadi Uskup Ko-konsekrator dalam penahbisan Mgr. Johannes Pujasumarta selaku Uskup Bandung. Uskup Agung Jakarta Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J. menjadi Penahbis Utama.

Terkait permohonan Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ yang hendak pensiun, pada 25 Juli 2009, Tahta Suci Vatikan menunjuk Mgr. Suharyo menjadi Uskup Agung Koajutor Jakarta. Ia meninggalkan Keuskupan Agung Semarang pada 27 Oktober 2009, dan akan diterima di Keuskupan Agung Jakarta pada keesokan harinya. Selama kekosongan tahta, RD. Pius Riana Prapdi ditunjuk sebagai Administrator Apostolik oleh Dewan Imam Keuskupan Agung Semarang, hingga Uskup Bandung, Mgr. Johannes Pujasumarta diinstalasi menjadi Uskup Agung Semarang. Pada 11 November 2009, Mgr. Suharyo kembali menjabat sebagai Wakil Ketua I Konferensi Waligereja Indonesia, dan Ketua Presidium kembali dijabat oleh Mgr. Martinus Dogma Situmorang, O.F.M.Cap.[8]

Mgr. Suharyo resmi menjadi Uskup Agung Jakarta sejak 28 Juni 2010, sejak Tahta Suci Vatikan resmi menerima pengunduran diri Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J., dan dalam Misa di Gereja Katedral Jakarta pada 29 Juni 2010, bertepatan pula dengan Perayaan Syukur 27 Tahun Tahbisan Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J. dan 14 tahun menjadi Uskup Agung Jakarta, Mgr. Suharyo resmi diinstalasi menjadi Uskup Agung Jakarta, ditandai dengan penyerahan tongkat gembala Keuskupan Agung Jakarta kepadanya.

Pasca penunjukkan Mgr. Johannes Pujasumarta menjadi Uskup Agung Semarang yang membuat lowongnya tahta Uskup Bandung, Mgr. Suharyo sempat ditunjuk menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Bandung, sampai terpilihnya Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.. Pada 15 November 2012, Mgr. Suharyo terpilih menjadi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia untuk periode 2012—2015.[9] Ia kembali terpilih menjabat posisi yang sama untuk periode 2015—2018.[10]

Pada Pesta takhta Santo Petrus, 22 Februari 2014, Mgr Ignatius Suharyo kembali menjadi uskup ko-konsekrator dalam pentahbisan Mgr. Paskalis Bruno Syukur, O.F.M., bersama Mgr. Hubertus Leteng, sementara Mgr. Cosmas Michael Angkur, O.F.M. menjadi penahbis utama.

Pada tanggal 25 Agustus 2014, untuk pertama kalinya Mgr. Suharyo menjadi Uskup Penahbis Utama dalam penahbisan Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.. Bertindak sebagai Uskup Ko-konsekrator, yakni Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, O.F.M. dan Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta.

Pada tanggal 3 September 2016, ia kembali menjadi Uskup Penahbis Utama dalam penahbisan Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O. Carm di Stadion Gajayana, Malang sebagai Uskup Malang. Bertindak sebagai Uskup Penahbis Pendamping, yakni Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono dan Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.

Pada tanggal 19 Mei 2017, Mgr. Suharyo kembali menjadi Uskup Penahbis Utama dalam penahbisan Mgr. Robertus Rubiyatmoko di Lapangan Bhayangkara Akademi Kepolisian, Semarang sebagai Uskup Agung Semarang, sementara Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C dan Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O. Carm menjadi Penahbis Pendamping. Mgr. Suharyo memimpin salve agung dalam rangka penahbisan Mgr. Samuel Oton Sidin, O.F.M. Cap. sebagai Uskup Sintang[11] dan juga dalam salve agung dalam rangka penahbisan Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, M.S.C. sebagai Uskup Manado.

Pada 1 September 2019 dari halaman Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan Paus Fransiskus mengumumkan Mgr. Suharyo sebagai salah satu dari 10 nama kardinal baru dalam konsistori yang akan dilaksanakan pada 5 Oktober 2019.[12][13]

Karya[sunting | sunting sumber]

Lambang Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo

Mgr. Suharyo telah menulis sejumlah buku, yakni:

  1. Membaca Kitab Suci: Paham-paham Dasar
  2. Membaca Kitab Suci: Tulisan-tulisan Perjanjian Lama
  3. Membaca Kitab Suci: Tulisan-tulisan Perjanjian Baru
  4. Pengantar Injil Sinoptik
  5. Alam Hidup Perjanjian Lama
  6. Kitab Wahyu, Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kristen
  7. Datanglah KerajaanMu
  8. Kisah Sengsara Yesus dalam Injil Sinoptik
  9. The Catholic Way, Kekatolikan dan Keindonesian Kita

Selain menulis, Mgr. Suharyo juga menyadur karya Henri J.M. Nouwen, antara lain:

  1. Menggapai Kematangan Hidup Rohani
  2. Dengan Tangan Terbuka
  3. Engkau Dikasihi
  4. Kembalinya Si Anak Hilang
  5. Cakrawala Hidup Baru
  6. Pelayanan yang Kreatif

Galeri[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan Gereja Katolik
Didahului oleh:
Julius Darmaatmadja, S.J.
Uskup Agung Semarang
22 Agustus 1997—25 Juli 2009
Diteruskan oleh:
Johannes Pujasumarta
Ordinaris Militer Indonesia
2 Januari 2006—kini
Petahana
Uskup Agung Jakarta
28 Juni 2010—kini
Didahului oleh:
Johannes Pujasumarta
sebagai Uskup Bandung
Administrator Apostolik Bandung
13 November 2011—3 Juni 2014
Diteruskan oleh:
Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.
sebagai Uskup Bandung
Didahului oleh:
Martinus Dogma Situmorang, OFM.Cap
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia
15 November 2012—kini
Petahana