Waskita Karya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Badan usaha milik negara
Simbol sahamIDX: WSKT
IndustriKonstruksi
Didirikan1 Januari 1961; 60 tahun lalu (1961-01-01)
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia
Wilayah operasi
Indonesia
Tokoh
kunci
Destiawan Soewardjono[1]
(Direktur Utama)
Badrodin Haiti[2]
(Komisaris Utama)
Produk
  • Hotel
  • Apartemen
  • Perkantoran
Merek
  • Vasaka
  • Teraskita
Jasa
PendapatanRp 16,190 triliun (2020)[3]
Rp -9,496 triliun (2020)[3]
Total asetRp 105,589 triliun (2020)[3]
Total ekuitasRp 16,578 triliun (2020)[3]
PemilikPemerintah Indonesia
Karyawan
1.956 (2020)[3]
Anak
usaha
PT Waskita Beton Precast Tbk.
PT Waskita Karya Infrastruktur
PT Waskita Karya Realty
PT Waskita Toll Road
Situs webwww.waskita.co.id

PT Waskita Karya (Persero) Tbk. adalah sebuah badan usaha milik negara Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi. Dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan ini memiliki lima divisi, yakni Gedung, Infrastruktur I, Infrastruktur II, EPC, dan Luar Negeri. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, perusahaan ini juga memiliki sebelas kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perusahaan ini telah eksis sejak masa pendudukan Belanda di Indonesia dengan nama NV Volker Aannemings Maatschappij, sebagai cabang dari sebuah perusahaan yang kini menjadi VolkerWessels. Pada tahun 1958, perusahaan tersebut resmi diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, dan pada tahun 1960, Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga mengubah nama perusahaan tersebut menjadi Perusahaan Bangunan Waskita Karya. Pada tanggal 1 Januari 1961, Waskita Karya resmi dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia dan ditetapkan menjadi sebuah perusahaan negara (PN).[4] Pada tahun 1973, status Waskita Karya resmi diubah menjadi persero. Pada dekade 1980-an, perusahaan ini berhasil membangun Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dan Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy. Sementara pada dekade 1990-an, perusahaan ini berhasil membangun Wisma 46 (gedung tertinggi di Indonesia saat diresmikan), Menara Kembar Bank Indonesia, dan Plaza Mandiri. Sebagai bagian dari upaya restrukturisasi, Pemerintah Indonesia sempat menyerahkan mayoritas saham perusahaan ini ke Perusahaan Pengelola Aset mulai tahun 2010 hingga tahun 2012.[5][6] Pada bulan Desember 2012, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 2014, perusahaan ini mendirikan sejumlah anak usaha, antara lain Waskita Toll Road, Waskita Beton Precast, dan Waskita Karya Realty. Pada bulan September 2016, Waskita Beton Precast resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 2016 juga, perusahaan ini mendirikan anak usaha baru yang diberi nama Waskita Karya Energi. Pada tahun 2017, Waskita Toll Road telah memegang hak konsesi atas 18 ruas jalan tol dengan total panjang 997 km di Pulau Jawa dan Sumatera. Untuk meningkatkan modalnya, Waskita Toll Road juga menjalin kemitraan strategis dengan Sarana Multi Infrastruktur dan Taspen, sehingga mendapat tambahan modal senilai Rp 3,5 triliun. Pada tahun tahun 2018, perusahaan ini berhasil menyelesaikan pembangunan sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN), yakni jalan tol ruas Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Salatiga-Kartasura, Solo-Ngawi, dan Ngawi-Kertosono; LRT Palembang; gedung terminal baru Bandar Udara Internasional Ahmad Yani; jalur Kereta Bandara Soekarno-Hatta; dan Bendungan Raknamo. Pada tahun 2019, Waskita Karya Energi mengubah namanya menjadi Waskita Karya Infrastruktur. Pada tahun yang sama, perusahaan ini juga berhasil mendivestasi dua ruas jalan tol, yakni Solo-Ngawi dan Ngawi-Kertosono. Hingga tahun 2020, perusahaan ini berhasil membangun 19 ruas jalan tol dengan total panjang 1.087 km. Selain di Indonesia, perusahaan ini juga pernah dan sedang mengerjakan sejumlah proyek di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Timor Leste, dan Malaysia.[3][7]

Proyek besar[sunting | sunting sumber]

Beberapa proyek utama, berdasarkan tahun penyelesaian adalah:

  • Bandara Internasional APT Pranoto, Sungai Siring di Samarinda (2014)
  • Bandara Internasional Sastranegara, di Bandung (2015)
  • Bandara Internasional Radin Intan II, Branti Raya di Lampung Selatan, Lampung
  • Bandara Pekon Seray, Krui di Pesisir Barat, Lampung
  • Bandara Purwosari, Purwosari di Lampung Timur, Lampung (2017)
  • Jembatan Kelok 9, Sumatra Barat
  • Tol Bali Mandara, Bali
  • Jembatan Pedamaran I, Riau
  • Kame Ma'taf, Mekah
  • Jembatan Layang "Pasteur – Cikapayang – Surapati" Bandung
  • Jembatan Merah Putih, Ambon
  • Bendungan Nipah, Jawa Barat (2007)
  • PLTU Suralaya, Cilegon (1997)
  • PLTU Muara Karang, Jakarta
  • Indonesia Power UP Semarang
  • Waduk Jatiluhur
  • Bendungan Pondok, Grogkak, Tilong, Gapit, dan Sumi
  • Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
  • Jakarta International Cargo Terminal, Tanjung Priok
  • Soekarno–Hatta International Airport
  • Cipularang Toll Road, Jawa Barat
  • Solo-Kertosono Toll Road, Jawa Tengah – Timur
  • Salatiga-Kartasura Toll Road, Jawa Tengah
  • Shangri-La Hotel, Jakarta (1993)
  • Bogor Agricultural Institute (IPB), Bogor (2002)
  • Tsunami Museum, Aceh (2009)
  • Senayan City, Jakarta (2006)
  • Royal Plaza, Surabaya (2006)
  • Kelapa Gading Square, Jakarta (2005)
  • Wisma BNI, Jakarta (1996)
  • Niaga Tower, Jakarta (1992)
  • Mandiri Plaza, Jakarta
  • Bank Indonesia
  • TVRI Tower
  • Gedung Departemen Pertanian
  • King Abdullah Financial District Parcel, Riyadh
  • Burj View, Uni Emirat Arab
  • Jalan Tol tegal pemalang seksi 3-4
  • LRT Palembang
  • Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi)
  • Tol Pasuruan-Probolinggo
  • Tol Pemalang-Batang
  • Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu)
  • Tol Layang (elevated) Jakarta-Cikampek/Jalan Layang Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ)
  • Tol Salatiga – Kartasura
  • Tol Bocimi (Bogor – Cianjur – Sukabumi)
  • Tol Kunciran – Serpong Seksi 1
  • Tol Serpong – Cinere
  • Tol Depok – Antasari (Desari)
  • Tol Cimanggis – Cibitung
  • Tol Cibitung – Cilincing
  • Tol Krian – Legundi – Bunder – Manyar
  • Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tambak Lorok

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Dewan Direksi". Waskita Karya (Persero). Diakses tanggal 4 Oktober 2021. 
  2. ^ "Dewan Pengawas". Waskita Karya (Persero). Diakses tanggal 4 Oktober 2021. 
  3. ^ a b c d e f g "Laporan Tahunan 2020" (PDF). Waskita Karya (Persero). Diakses tanggal 4 Oktober 2021. 
  4. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 62 tahun 1961" (PDF). Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Diakses tanggal 4 Oktober 2021. 
  5. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 49 tahun 2010" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 4 Oktober 2021. 
  6. ^ "Peraturan Pemerintah nomor 98 tahun 2012" (PDF). Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 4 Oktober 2021. 
  7. ^ "Profil Perusahaan". Waskita Karya (Persero). Diakses tanggal 4 Oktober 2021. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]