Kelapa Gading, Jakarta Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kelapa Gading)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kelapa Gading
Jakarta Kelapa Gading.PNG

Peta lokasi Kecamatan Kelapa Gading
Kantor Camat Kelapa Gading.jpg
Bundaran Kelapa Gading yang dahulu terletak di tengah wilayah Kelapa Gading dan menjadi pusat wilayah.
Negara Indonesia
ProvinsiJakarta
KotaJakarta Utara
Luas16,11 km²
Jumlah penduduk143.043 jiwa (2020)
Kepadatan8.879 jiwa/km²
Desa/kelurahan3

Kelapa Gading merupakan wilayah kecamatan yang terletak di Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta, Indonesia.[1] Kecamatan ini merupakan daerah yang dikembangkan oleh perusahaan properti Summarecon Agung sejak tahun 1975. Tahun 1970-an, Kecamatan Kelapa Gading masih dikenal sebagai daerah rawa dan persawahan, kini Kelapa Gading telah berubah menjadi kawasan yang tertata baik dan berkembang pesat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kelapa Gading awalnya dikenal sebagai daerah rawa dan persawahan.[2] Tapi, sejak pertengahan tahun 1970, PT Summarecon Agung Tbk (sebelumnya bekerja sama dengan masyarakat Betawi asli yang kemudian pisah dan mendirikan PT Gading Kirana) mulai memasuki daerah ini dan membangunnya. Pada awalnya, daerah Pluit masih lebih ramai daripada Kelapa Gading. Tetapi, kini Kelapa Gading telah menjadi daerah yang berkembang pesat.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kelapa Gading dan sekitarnya.Kelapa Gading terletak pada arah timur laut kota Jakarta. Wilayah Kelapa Gading terletak pada ketinggian kurang lebih 5 meter di atas permukaan laut, sehingga daerah ini sangat sering terkena banjir, terutama saat terjadi siklus banjir 5 tahunan. Namun, sejak rampungnya pembangunan 2 kanal di Jakarta, kemungkinan besar Kelapa Gading tidak akan terkena banjir lagi.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Kecamatan Koja
Timur Kecamatan Cakung dan Cilincing
Selatan Kecamatan Pulo Gadung
Barat Kecamatan Tanjung Priok

Politik dan administrasi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Kelapa Gading terbagi atas 3 kelurahan:

1 Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading
2 Kelapa Gading Timur, Kelapa Gading
3 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading

Kelurahan Kelapa Gading Barat dan Kelurahan Kelapa Gading Timur memiliki kode pos 14240, sedangkan Kelurahan Pegangsaan Dua memiliki kode pos 14250.

Camat Kelapa Gading sekarang adalah Drs. Musa Syafrudin, M.Si.[3][4]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Kelapa Gading dengan luas 16,11 km2, terdiri atas tiga kelurahan, yaitu Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading Timur, dan Pegangsaan Dua. Jumlah penduduk Kelapa Gading sebanyak 102.426 jiwa pada tahun 2003. Profesi masyarakat Kelapa Gading beraneka ragam, dan banyak di antaranya yang berprofesi sebagai pedagang.

Ditahun 2020, penduduk kecamatan ini berjumlah 143.043 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 70.211 jiwa dan perempuan sebanyak 72.832 jiwa, dengan kepadatan penduduk 8.879 jiwa/km2.[5]

Kota Jakarta Utara, termasuk di kecamatan ini, warganya berasal dari beragam Suku, Agama, Ras dan Adat istiadat (SARA). Berdasarkan data Sensus penduduk 2010, warga Jakarta Utara didominasi oleh warga dari suku Jawa, Betawi, Batak, Tionghoa, dan Sunda, dan sebagian suku lain seperti Minangkabau, Bugis, serta suku lainnya.[6]

Komposisi penduduk Kelapa Gading menurut jenis kelamin pada tahun 2020 adalah sebagai berikut:

No. Kelurahan Jumlah Penduduk Laki-laki[5] Jumlah Penduduk Perempuan[5] Jumlah Penduduk
1 Kelapa Gading Barat 21.140[7] 21.698[8] 42.838
2 Kelapa Gading Timur 19.394[7] 20.753[8] 40.147
3 Pegangsaan Dua 29.677[7] 30.381[8] 60.058
Jumlah 70.211[7] 72.832[8] 143.043

Agama[sunting | sunting sumber]

Kemudian dalam hal keagamaan, penduduk kecamatan ini juga cukup beragam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kota Jakarta Utara tahun 2020 mencatat jumlah pemeluk agama, dimana Islam sebanyak 49,48%, kemudian Kristen 42,93% (Protestan 23,32% dan Katolik 19,61%), Budha 7,11%, Hindu 0,45% dan lainnya 0,03% (Konghucu dan kepercayaan).[5] Tempat peribadatan agama-agama tersebut juga tersedia di Kelapa Gading, seperti Gereja Santo Yakobus, Masjid Al-Musyawarah, Vihara Theravada Buddha Sasana, dan Gereja Tiberias Indonesia.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Kelapa Gading merupakan salah satu daerah pusat bisnis di Jakarta Utara selain Mangga Dua dan Pluit. Banyak perusahaan perbankan baik lokal maupun asing membuka cabang di Kelapa Gading. Bisnis properti di daerah ini cukup baik dan menarik puluhan agen properti yang bertaraf lokal sampai internasional.

Kegiatan komersial di daerah ini didukung dengan adanya pasar tradisional, mini market, pasar swalayan (supermarket), dan hypermarket. Jumlah bangunan ruko yang berada di kawasan ini mencapai sekitar 3500. Tersedia juga bangunan rukan dan mal yang besar dan nyaman. Bahkan, untuk kegiatan ekonomi, banyak juga daerah permukiman yang beralih fungsi menjadi tempat usaha. Pusat perbelanjaan (mal) yang terdapat di Kelapa Gading contohnya adalah Kelapa Gading Trade Center, Mall Kelapa Gading, Kelapa Gading Sports Mall, Mall Artha Gading dan Mall of Indonesia (MOI). Kelapa Gading juga disebut sebagai "Little Celebes" karena banyaknya restoran khas Sulawesi.

Ruko dan rukan di Kelapa Gading tersebar di sepanjang jalan utama di Kelapa Gading yaitu Bulevar Kelapa Gading, Bulevar Barat Kelapa Gading, Bulevar Timur Kelapa Gading, Bulevar Utara Kelapa Gading, Jalan Raya Hybrida, Bulevar Artha Gading, Gading Kirana Bulevar Bukit Gading Raya, Gading Bukit Indah, Artha Gading Niaga, dan Plaza Pasifik. Terdapat juga Bursa Mobil 1, 2, 3, Bursa Mobil AXC dan Mall khusus Otomotif di Graha Auto Center.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Yayasan Pendidikan Al-Azhar di Kelapa Gading.

Di Kelapa Gading, terdapat berbagai macam instansi pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Terdapat beberapa sekolah yang ada di Kelapa Gading seperti Yayasan Al-Azhar.

Terdapat juga beberapa lembaga kursus bahasa untuk bahasa Inggris, Mandarin, atau Jepang. Lembaga kursus mata pelajaran lain juga tersedia, seperti matematika, fisika, musik, menggambar, komputer dan lain-lain.

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Denny Sumargo, atlet nasional Indonesia, berdomisili di Kelapa Gading

Olahraga yang banyak digemari oleh masyarakat Kelapa Gading adalah basket. Hal ini dibuktikan dengan adanya lapangan basket berukuran internasional di setiap komplek perumahan di Kelapa Gading. Akan tetapi, fasilitas olahraga sering disalahgunakan, misalnya Kelapa Gading Sports Mall yang dibangun di atas lahan fasilitas umum yang diperuntukkan bagi sports hall. Lapangan basket di Sports Mall akhirnya lebih sering digunakan untuk menggalang massa daripada sebagai lapangan olahraga.

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Di Kelapa Gading juga terdapat berbagai fasilitas kesehatan baik itu berupa puskesmas, klinik swasta maupun Rumah Sakit. Di samping itu juga ada beberapa apotek yang memiliki tempat praktik dokter serta puluhan tempat praktik dokter gigi, dokter umum dan dokter spesialis di berbagai kompleks perumahan yang ada.

Makanan[sunting | sunting sumber]

Gading Food City

Di Kelapa Gading, banyak tersedia berbagai macam makanan. Baik dari masakan Indonesia, makanan cepat saji, masakan Tiongkok, masakan Jepang, dan berbagai macam jenis makanan lainnya, baik dari luar negeri maupun dalam negeri, selain itu restoran-restoran terletak baik di mall-mall, ruko maupun di pusat sentra makanan.

Pusat Makanan di Kelapa Gading yang terkenal adalah Gading Food City, La Piazza dan Gading Batavia. Untuk menambah semarak wisata kuliner di Mal Kelapa Gading terdapat area food court Food Tempatation yang menyediakan berbagai makanan Nusantara dan internasional dengan jumlah tempat duduk 2000. Kemudian untuk menggugah selera makan ada Food Sensation dengan berbagai makanan Nusantara yangs udah menjadi favorit dari berbagai dari Jakarta dan daerah di Indonesia, seperti Mie Aceh, Bubur Pedo, Sambal Cibiuk, Soto Mie Lau Tze, Tahu Gejrot, Rujak Bebek, Otak-Otak AN, dan lain lain[9].

Sebagai pelengkap Eat & Eat Food Market dengan penampilan khas etnis peranakan sangat kontras keberadaannya berdampingan dengan Food Temptation, area food court di MKG 3 yang tampil dengan suasana modern. Area seluas 2350 m2 ini yang disebut dengan food market, bukan food court sebagaimana umumnya. Sebutan food market ini, adalah sesuai dengan konsepnya yang menghadirkan konsep pasar tempo dulu, dengan dekorasi dan pernak-pernik yang sangat unik. Sementara itu, sekitar 34 counter makanan di sini hadir menawarkan beragam makanan khas dari berbagai daerah dan berbagai pilihan masakan khas peranakan. Aneka menu yang disajikan terbilang unik dan lengkap. Dari mulai makanan Indonesia, Cina peranakan Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Menariknya, di sini counter-counter makanannya menampilkan nama masakan utama yang menjadi unggulannya, bukan nama/ brand dari counternya. Sebut saja diantaranya ada counter nasi guling, gado-gado Aa, warung keroepoek, babat gongso, pepes goreng, krawu, bebek goreng, raja gurame, tongseng kambing dan masih banyak lagi. “Beragam pilihan makanan ini diolah secara modern dan higienis, namun tetap mempertahankan keotentikan rasa warisan keluarga leluhur, dan semua itu ditawarkan dengan harga yang terjangkau

Pemukiman[sunting | sunting sumber]

Komples Klub Kelapa Gading yang terdiri atas fasilitas olahraga dan permukiman Summerville Apartment.

Selain itu, di Kelapa Gading juga terdapat Apartemen dan perumahan lainnya.

Apartemen Wisma Gading Permai, Kelapa Gading

Apartemen yang di Kelapa Gading adalah The Summit, Apartemen Wisma Gading Permai., Apartemen di superblok Kelapa Gading Square, Apartemen Gading Mediterania Residences, Apartemen Kharisma, Apartemen Paladian Park (dulu dikenal dengan Apartemen Menara 7 Gading), Kondominium Menara Kelapa Gading, Summerville Apartment, dan Apartemen Gading Nias Residence, Apartemen Grand Emerald.

Sementara itu, perumahan di Kelapa Gading sangat banyak. Ada perumahan yang dihuni oleh orang menengah ke atas tetapi ada juga yang tidak.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kelapa Gading yang sudah menyerupai superblok tersendiri ini, memiliki akses jalan yang cukup banyak untuk menuju seluruh wilayah di penjuru kota. Di sebelah barat kawasan ini, terdapat jaringan jalan tol dalam kota yang menghubungkan seluruh wilayah kota dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Untuk melayani penduduk Kelapa Gading yang menggunakan sarana transportasi umum, di bagian selatan terdapat terminal Pulo Gadung yang melayani ke seluruh jurusan dalam dan luar kota. Selain itu jaringan bus Trans Jakarta jurusan Pulo Gadung - Harmoni, Tanjung Priok - Cililitan dan Tanjung Priok - Pluit juga melintasi sebelah selatan dan barat kawasan ini.

Ada juga angkutan umum berupa angkot, bus kota dan mikrolet. Trayek-trayeknya:

Bus kota
Bus patas (antar-kota)
Bus bandara
Mikrolet
Angkot
  • KWK U04 jurusan Rawamangun - Kelapa Gading
  • KWK U13 jurusan Sunter - Kelapa Hibrida Raya

Bus feeder

Masalah banjir[sunting | sunting sumber]

Fasilitas lain yang sangat kurang di Kelapa Gading adalah taman. Jumlah taman tempat anak-anak bermain hampir tidak ada, karena pembangunan mall dan kompleks pertokoan telah memonopoli seluruh lahan kosong yang tersisa.

Pada saat banjir di Kelapa Gading 1996, 2002 dan tahun 2007, Kelapa Gading merupakan salah satu daerah yang dilanda banjir, dan juga merupakan salah satu daerah yang terparah. Hampir selama seminggu daerah Kelapa Gading direndam banjir, walaupun Summarecon sudah berusaha menggunakan pompa-pompa air.

Banjir besar tersebut adalah akibat dari pembangunan mal, perumahan, dan kompleks pertokoan tanpa memperhatikan lingkungan hijau yang ada. Di Kelapa Gading, hampir tidak ada taman karena pembangunan mal dan kompleks pertokoan tersebut. Namun, Summarecon Agung bekerja sama dengan pemerintah DKI Jakarta kini sedang membangun taman jogging di daerah bundaran Kelapa Gading. Sebab lainnya Kelapa Gading mudah diterjang banjir adalah tinggi permukaan Kelapa Gading hanya 5 meter di atas permukaan laut, sehingga mudah terkena bencana banjir. Banjir biasanya terjadi 5 tahun sekali, namun, pada beberapa tempat tertentu, ancaman banjir bisa terjadi sewaktu-waktu pada musim penghujan tanpa perlu menunggu siklus banjir 5 tahun sekali.

Usaha penanggulangan[sunting | sunting sumber]

Kini Summarecon Agung yang bekerja sama dengan Pemerintah DKI Jakarta melakukan pembangunan taman jogging di lahan kosong wilayah bundaran Kelapa Gading untuk mengurangi banjir.

Di Kelapa Gading terdapat waduk seluas 2,5 hektar yang mampu menampung air sekitar 60.000 meter kubik. Waduk tersebut berfungsi untuk menampung air hujan terutama saat musim hujan dan untuk mencegah banjir. Air itu dialirkan dari waduk ke kali Sunter.[10]

Marsellinus Ado Wawo, Manajer Hubungan Pemerintahan PT Summarecon Agung Tbk menyatakan:

"Kita membangun waduk ini semata-mata untuk menata lingkungan, supaya lebih rapi dan lebih bagus. Kita juga telah menyedot sampah-sampah di saluran air yang ada di Kelapa Gading dan tidak hanya di lahan milik Summarecon saja"[10]

Selain itu terdapat pompa yang mengalirkan air ke kali Sunter.[10]

Dibangunnya 2 kanal di Jakarta memungkinkan air untuk mengalir langsung ke laut, sehingga ada kemungkinan bahwa Kelapa Gading tidak kebanjiran lagi.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  2. ^ http://www.summareconkelapagading.com/about.asp
  3. ^ o Berharap Kelapa Gading Dapat Seperti Singapura
  4. ^ Surat Edaran No. 361/1.856.13 Pemerintah Kecamatan Kelapa Gading.
  5. ^ a b c d "Kota Jakarta Utara Dalam Angka 2020" (pdf). Badan Pusat Statistik Indonesia. 2020. Diakses tanggal 5 Oktober 2020. 
  6. ^ "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia" (pdf). www.bps.go.id. Diakses tanggal 5 Oktober 2020. 
  7. ^ a b c d Data Jumlah Penduduk Laki-laki Kelapa Gading
  8. ^ a b c d Data jumlah penduduk perempuan di Kelapa Gading
  9. ^ Creating Land of Golden Opportunity - Hermawan Kertajaya ( Mark Plus & Co)
  10. ^ a b c Properti di Kelapa Gading Tak Kenal Krisis

Pranala luar[sunting | sunting sumber]