Transmart

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Transmart
Anak perusahaan
IndustriRitel
PendahuluCarrefour Indonesia
DidirikanOktober 1998 (sebagai Carrefour Indonesia)
6 Juni 2014 (sebagai Transmart)
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia
Tokoh
kunci
Chairul Tanjung (Chairman)
Bouzeneth Benaouda (CEO)
PemilikTrans Retail
Situs webwww.transmart.co.id
carrefour.co.id

PT Trans Retail Indonesia, beroperasi sebagai Transmart (sebelumnya bernama Transmart Carrefour dan Carrefour) adalah sebuah jaringan hipermarket dan pusat perbelanjaan (mal) di Indonesia. Beroperasi dengan lebih 100 gerai yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia, Transmart memiliki visi untuk membantu semua orang agar dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik setiap harinya.[1] Dalam bisnisnya, Transmart menawarkan konsep One-Stop Shopping yang menawarkan lebih dari 40.000 produk kepada pelanggannya.[2]

Selain mengoperasikan gerai Transmart, PT Trans Retail Indonesia juga memiliki beberapa usaha bersama, seperti aplikasi Allo Fresh yang merupakan kerjasama bersama Bukalapak dan Growtheum Capital Partners.[3]

Slogan[sunting | sunting sumber]

  • 1998—2001: Belanja Leluasa, Penuh Gembira
  • 2001—2010: Ke Carrefour Aja, Ahh!!!
  • 2010—2021: Untuk Hidup Yang Lebih Baik
  • 2016—sekarang: Transformasi Ritel Modern

Sejarah dan perkembangan[sunting | sunting sumber]

Awal mula: Carrefour dan Continent[sunting | sunting sumber]

Carrefour[sunting | sunting sumber]

Transmart sendiri bermula dari operasional hipermarket raksasa asal Prancis, Carrefour. Carrefour sendiri memulai langkahnya di Indonesia pada 1996, ketika perusahaan ini menjalin kerjasama dengan PT Tigaraksa Satria Tbk, sebuah perusahaan distribusi terkemuka untuk membangun cabang Carrefour di Indonesia. Kerjasama itu diwujudkan dengan pendirian PT Cartisa Properti Indonesia (CPI) dengan kepemilikan 70-30%, masing-masing untuk Carrefour dan Tigaraksa Satria pada Februari 1996. Tidak lama kemudian, berdiri juga PT Carti Satria Megaswalayan (CSM), dengan struktur kepemilikan serupa pada Juli 1996.[4][5] Sebelum beroperasi, Carrefour melakukan pencarian pengembang, lokasi dan rekan bisnis potensial demi memetakan kinerja bisnisnya,[4] dengan perencanaan gerai pertama akan dibuka pada 1997.[6] Akan tetapi, baru pada 14 Oktober 1998,[7] PT Carti Satria Megaswalayan dapat membuka gerai Carrefour pertama di Indonesia, awalnya di Cempaka Putih, Jakarta dengan modal US$ 60 juta.[8] Tidak lama kemudian, sister company CSM, PT CPI juga membuka cabang kedua Carrefour di Indonesia di tahun yang sama, di Duta Merlin Jakarta. Dengan menawarkan harga murah dan agresif, nama Carrefour segera terangkat di mata publik.[9]

Continent[sunting | sunting sumber]

Pada saat yang sama dengan kehadiran Carrefour, tersebutlah sebuah raksasa ritel Prancis lainnya, yaitu Continent. Layaknya Carrefour, Continent awalnya juga merupakan perusahaan patungan, kali ini antara Promodès Prancis dan Sinarmas Group (lewat PT Sinar Kilat Buana) dengan kepemilikan 51-49%, di bawah PT Contimas Utama Indonesia yang berdiri pada 24 April 1995.[10][11][4] Sempat direncanakan untuk dibuka di ITC Cempaka Mas sebagai gerai pertamanya pada 1996,[12] dan kemudian diundur pada 1997,[6] baru pada Oktober 1998, di bulan yang sama dengan pembukaan Carrefour, Continent juga memulai operasionalnya dengan membuka gerai pertamanya di Pasar Festival, Jakarta Selatan, menggunakan operasional yang sekilas hampir sama dengan Carrefour dan karena itulah juga cukup digemari konsumen.[13] Gerai ini awalnya hendak dibuka pada Mei 1998, namun karena kekacauan kondisi sosial-politik di Indonesia saat itu, rencananya diundur sampai Oktober.[14] Pihak Continent cukup optimis dengan bisnisnya meskipun di tengah krisis ekonomi yang saat itu menerjang Indonesia, karena sudah mengkalkulasi resiko, menurunkan margin keuntungan dan peluang masyarakat menerima sistem harga murah yang ditawarkan Continent pada 15.000 barang yang dijualnya.[10] Dalam perkembangannya, Continent juga membuka dua cabang lain, yaitu di Mega Mal Pluit (eks-Wal-Mart) pada 15 Maret 1999[10][15] dan di ITC Cempaka Mas (sesuai rencana awal) pada 14 Juli 1999,[16] sehingga menjelang akhir 1999 sudah memiliki 3 gerai, dan sempat berencana membuka satu gerai lagi di Ratu Plaza. Kepemilikan Sinarmas kemudian menurun menjadi 17%, dan pada November 1999 resmi menjual seluruh sahamnya ke Promodès yang kemudian memegang 100%.[9]

Merger operasional[sunting | sunting sumber]

Saat ketika kedua ritel mulai hadir di Indonesia, induk dari kedua perusahaan, Promodès (sebagai pemegang saham utama dari Continent) dan Carrefour di Prancis melakukan merger, menggabungkan semua kegiatan usaha ritel di seluruh dunia dengan nama Carrefour. Hal tersebut menjadikan Carrefour sebagai konglomerasi ritel terbesar kedua di dunia. Dengan penggabungan itulah, kemudian 3 gerai Continent di Indonesia diubah menjadi gerai Carrefour. Dengan merger tersebut, ditambah manajemen yang sudah menggunakan teknologi, cukup membantu Carrefour yang dengan cepat berkembang sebagai pemain ritel besar di Indonesia. Carrefour pun dikenal publik sebagai paserba (pasar serba ada) one-stop shopping yang menyediakan aneka jenis kebutuhan, seperti untuk rumah tangga, pertanian dan industri.[17][18] Selain itu, keberadaan fasilitas seperti food court, snack corner, garansi harga dan parkir gratis, ikut membantu mengerek nama ritel Prancis ini. Karyawannya pun berkembang, dari 550 pada 2000[19] menjadi 7000 pekerja pada tahun 2004.[20] Meskipun demikian, keberadaan Carrefour seringkali juga dianggap ikut mengancam pemain lain, terutama ritel lokal.[21] Belum lagi adanya beberapa masalah, seperti isu penyalahgunaan lahan di Pasar Festival, yang memaksa cabang tersebut kemudian ditutup.[22]

Kemudian, pada Agustus 2003, Tigaraksa yang merupakan partner Carrefour di PT CPI dan PT CSM, menjual seluruh sahamnya ke Carrefour SA Prancis karena dianggap tidak menguntungkan sebanyak Rp 75 miliar.[23] Akibatnya, tiga perusahaan pengelola Carrefour, yaitu PT Contimas, PT Cartisa dan PT Carti kini dimiliki Carrefour 100%. Ketiga perusahaan ini kemudian dimerger pada 23 Desember 2003, dengan PT CPI dan PT CSM meleburkan diri ke PT Contimas yang menjadi surviving company. Nama PT Contimas pasca-merger kemudian diganti menjadi PT Carrefour Indonesia.[4][11] Carrefour tercatat memiliki 8 gerai pada tahun tersebut.[21] Awalnya, kantor pusat perusahaan ini (saat bernama PT Contimas) berada di Wisma Staco Lt. 11, Jl. Casablanca Kav. 17, Jakarta Selatan, namun kemudian sampai saat ini berlokasi di Jl. Lebak Bulus Raya No. 8, Jakarta Selatan.[24]

Perkembangan pasca-merger[sunting | sunting sumber]

Hingga 2005, Carrefour baru memiliki 17 cabang yang tersebar di Jakarta.[25] Untuk mengembangkan usahanya, berbagai strategi pun dilakukan. Misalnya, Carrefour mulai mengembangkan private label miliknya dengan nama "Paling Murah" (dahulu Brand No. 1, untuk produk konsumer), "First Line" (produk fesyen) dan "Bluesky" (produk elektronik) yang diklaim harganya lebih "miring".[26] Ekspansi besar-besaran pun dilakukan pada 2004-2007 dengan membangun banyak cabang di luar Jakarta, seperti Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang dan Makassar sehingga pada 2007 telah mencapai 31 gerai di seluruh Indonesia, mayoritas di Jabodetabek.[27][28][29] Di tahun tersebut, pendapatan Carrefour di Indonesia mencapai Rp 7,2 triliun, menempatkannya di posisi ketiga penyumbang keuntungan terbesar dari Asia bagi Carrefour SA Prancis (kalah dari Tiongkok dan Taiwan). Posisinya kemudian menjadi ritel modern terbesar pada saat itu di Indonesia, dengan pendapatan perhari di setiap gerainya mencapai Rp 500 juta-1 miliar.[4] Meskipun Carrefour bukanlah pengenal konsep hipermarket di Indonesia (yang pertama adalah Mega-M yang dimiliki oleh Matahari dan Wal-Mart oleh Multipolar pada tahun 1996), namun Carrefour sering dianggap sebagai pemain sukses dan pendorong utama pertumbuhan bisnis hipermarket di Indonesia.[30][31]

Untuk lebih memperluas pasarnya, pada 2007 Carrefour telah memperkenalkan cabang berkonsep compact store di gerai Cakung dan Cibinong yang lebih kecil.[30] Tidak lama setelah itu, pada Desember 2007, PT Carrefour Indonesia mengumumkan rencana akuisisi PT Alfa Retailindo Tbk, sebuah perusahaan yang mengelola supermarket Alfa dan dimiliki oleh Djoko Susanto. Saham yang dibeli adalah 75% dari kepemilikannya dengan harga Rp 680 miliar.[32] Saham Alfa sendiri diakuisisi dari PT Sigmantara Alfindo dan Prime Horizon Pte. Ltd., dengan saat pengumuman akuisisi, Alfa memiliki 29 cabang di berbagai daerah seluruh Indonesia.[33][34] Proses akuisisi ini tuntas dilakukan pada 21 Januari 2008, dimana lewat sebuah Share Purchase Agreement (SPA), 75% saham Alfa Retalindo berpindah ke PT Carrefour Indonesia dengan harga yang lebih rendah, yaitu Rp 674 miliar.[35] Kemudian, sejak 13 Mei 2008, gerai-gerai Alfa perlahan-lahan diganti namanya menjadi Carrefour Express (12 cabang), dan 3 sisanya menjadi Carrefour Market.[36][37] Perkenalan konsep compact store dan akuisisi Alfa menandai Carrefour Indonesia yang mulai mengembangkan format selain hipermarket.

Munculnya berbagai masalah[sunting | sunting sumber]

Isu monopoli[sunting | sunting sumber]

Bagaimanapun, akhirnya akuisisi tersebut justru membawa Carrefour terlibat pada masalah dan bisa dikatakan "membuka" pintu keluarnya perusahaan Prancis ini dari Indonesia. Proses akuisisi tersebut rupanya sejak awal tidak disenangi oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), karena dianggap membuatnya menguasai pasar dalam presentase yang terlalu dominan.[32] Menurut data KPPU, sebelum akuisisi, Carrefour memiliki 37,98% pangsa pasar pembeli ritel, dan naik menjadi 48,38% pasca akuisisi; selain itu, pangsa pasar pemasok retail modern juga naik, dimana dari 44,74% menjadi 66,73% pemasok "harus" mendistribusikan produknya ke Carrefour. Bagi para pemasok, praktik Carrefour selama ini dianggap merugikan mereka, dengan adanya praktik seperti trading term dan listing fee.[38][39] Sejak lama, memang Carrefour (dan dahulu Continent) beberapa kali diterjang isu manipulasi harga demi upayanya menekan harga ke konsumen, terutama praktik dumping yang dianggap merugikan penyalur dan sudah beberapa kali masuk ke KPPU.[13][40] Di tengah polemik akuisisi tersebut, pihak Carrefour membantah, dengan menyebut mereka hanya menguasai 7% pangsa pasar ritel makanan pasca akuisisi (dari 5%) menurut data Nielsen, dan akuisisi itu merupakan strategi Carrefour untuk memperkuat keberadaannya di pasar-pasar penting lokal dalam pendekatan multi-format.[41] Menurut pihak Carrefour Indonesia juga, mereka tidak selalu untung, dimana dari 75 gerai yang ada pasca akuisisi (dimana 30-nya dari eks-Alfa), sudah ada 11 cabang yang merugi dan 4 cabang lainnya harus ditutup karena berbagai alasan.[42] Pihak Bapepam-LK juga menyatakan bahwa tidak ada prosedur yang dilanggar dalam akuisisi itu.[43]

Namun, kemudian pada 10 September 2008, tuduhan monopoli itu resmi diadukan ke KPPU oleh organisasi Partisipasi Indonesia,[44] dan mulai tanggal 31 Maret 2009, KPPU dalam kasus No.09/KPPU-L/2009 resmi mengusut dugaan monopoli tersebut.[45] Beberapa bulan kemudian, pada 3 November 2009, KPPU resmi memutuskan bahwa akuisisi tersebut benar membuat Carrefour memiliki sifat monopolistik di pasar, dan berarti telah melanggar Pasal 17 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (1) UU No. 5/1999.[46] Sebagai hukumannya, Carrefour harus melepas kepemilikannya di PT Alfa Retailindo Tbk paling lambat setahun setelah putusan dan diberi denda Rp 25 miliar.[47] Membalas hukuman tersebut, Carrefour pun banding ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Desember 2009.[48] Tidak lama kemudian, pada 17 Februari 2010, PN Jaksel membatalkan hasil putusan tersebut.[49] KPPU lalu mengajukan kasasi putusan tersebut ke Mahkamah Agung pada 1 Maret 2010,[50] namun pada 21 Oktober 2010, MA kembali memenangkan pihak Carrefour,[51] dan kemudian pada 17 Februari 2011 KPPU terpaksa membatalkan putusan tersebut.[52] Pasca keputusan tersebut, pada 29 April 2011, PT Alfa Retalindo (yang kepemilikan Carrefour sudah menjadi 99%) memutuskan untuk keluar (delisting) dari Bursa Efek Indonesia secara sukarela akibat saham yang tidak likuid dan kepemilikan publik yang sangat rendah.[37] Setelah disetujui dan melakukan tender offer, saham PT Alfa Retailindo sejak 17 Oktober 2011 resmi dihapuskan dari pencatatan di BEI dan statusnya menjadi perusahaan tertutup.[53]

Persengketaan operasional[sunting | sunting sumber]

Tidak hanya masalah itu, Carrefour Indonesia pun "tersandung" masalah sengketa dengan PT Duta Wisata Loka, pengelola Mega Mal Pluit. Pihak Mega Mal Pluit sendiri mempermasalahkan luas Carrefour, karena dianggap melanggar Perda DKI No. 2/2002, dimana Carrefour menggunakan luas lahan 13.000 m2, sedangkan batas yang ditentukan hanya 8.000 m2. Walaupun perjanjian penyewaan sudah dilakukan sejak 1999 (saat masih bernama Continent) dan berusia 20 tahun, namun batal demi hukum akibat pelanggaran aturan dan PT Duta sudah mendapat teguran Pemprov DKI. Pihak Mega Mal Pluit awalnya berusaha melakukan cara damai demi meminta Carrefour keluar dari tempatnya, dengan mengirim fax dan berjanji akan membantu prosesnya. Akan tetapi, Carrefour tetap menolak, bahkan menyewa tentara demi melindungi bisnisnya. Akhirnya, PT Duta terpaksa memutus aliran listrik Carrefour pada 27 Mei 2009 sebagai upaya menekan. Akhirnya, ketika Carrefour tidak mau menurut, pada 2 Agustus 2008 PT Duta dengan paksa mengeluarkan Carrefour, dimana menurut pihak Carrefour menggunakan 300 preman demi mengeluarkan dan merusak barang-barang dari dalam hipermarket tersebut. Menurut pihak Carrefour, perjanjian mereka tetap sah karena aturan Perda DKI No. 2/2002 tidak berlaku surut dan menurut pihaknya luas Carrefour di mal itu hanya 6900 m2. Akibatnya, pihak Carrefour pun dua kali mengadukan manajemen dan pimpinan PT Duta ke Polda Metro Jaya, pada 27 Mei dan 10 Agustus 2009. Tidak hanya itu juga, Carrefour juga menggugat PT Duta ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada awal Agustus (dicabut pada 6 Agustus),[54] dan kemudian mengajukan gugatan ganti rugi di PN Jakut melebihi Rp 1 triliun ke PT Duta pada pertengahan Agustus 2009.

Dalam berbagai pernyataannya, Carrefour ikut membawa-bawa nama Lippo Group, pemilik PT Duta yang dituduh berambisi menyingkirkan Carrefour demi membangun gerai baru Hypermart, yang merupakan pesaing Carrefour di bidang hipermarket dan dimiliki konglomerasi tersebut (dibantah pihak PT Duta),[55][56] sehingga sempat juga melaporkan kasus tersebut ke KPPU.[57] Saling gugat-menggugat pun terjadi, dengan pada Januari 2010 Carrefour berhasil memaksa sita jaminan atas mal yang telah berganti nama menjadi Pluit Village tersebut, yang kemudian pada 28 April 2010 dibatalkan oleh PN Jakarta Selatan.[58] Yang pasti, akhirnya Carrefour pun harus angkat kaki, dikarenakan gerainya itu sudah disegel oleh polisi pada 11 September 2009,[59] dan hal tersebut juga kemudian menjadi perhatian Pemprov DKI yang pro pada PT Duta,[60] apalagi ditambah protes pedagang pasar pada 7 Juli 2008 yang disebabkan anggapan Carrefour Mega Mal Pluit terlalu dekat dengan pasar tradisional dan mengancam pendapatan pedagang di sana.[61][62][63] Baru pada 15 Juni 2013, Carrefour baru bisa membuka gerainya kembali.[64]

Tidak hanya di Pluit Village (Mega Mal Pluit), Carrefour harus bersitegang dengan mal milik Lippo lain, Palembang Square yang berada di bawah pengelolaan PT Bayu Jaya Lestari Sukses (BJLS) sejak pertengahan 2009. Diduga, pada saat itu, PT BJLS sendiri yang baru saja diakuisisi oleh Lippo, hendak membatalkan perjanjian sewa tempat kedua pihak yang sudah disepakati sejak 2003, dengan mengosongkan lantai 2 dan 3 Palembang Square sejak 21 Juli 2009, dengan batas akhir pada 14 Agustus 2009 pukul 12 malam. Jika tidak dipatuhi, listrik dan air gerai Carrefour di sana akan dicabut.[65] Alasannya, Carrefour mempunyai track record buruk dengan terbukti melanggar aturan persaingan usaha beberapa kali. Namun, pihak Carrefour menganggap hal itu mengada-ada karena Carrefour sudah menyelesaikan hal tersebut, dan kembali mengaitkan upaya tersebut dengan keinginan Hypermart (hipermarket sejenis Lippo) untuk menggantikannya.[66][67][68] Pihak Carrefour juga menganggap hal tersebut akan menyebabkan PHK 600 karyawan dan 1200 penyalur merugi.[69]

Berbagai upaya berusaha dilakukan untuk memecah kebuntuan antara mereka, misalnya dengan pertemuan yang difasilitasi oleh Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra dan DPRD Kota Palembang pada 24 Agustus 2009, pun mengalami jalan buntu dengan pihak BJLS memaksa Carrefour agar keluar dari mal miliknya selambat-lambatnya setelah Idul Fitri 2009.[70] Sempat juga dinegosiasi oleh Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin pada 16 Oktober 2009 yang menyimpulkan Carrefour akan keluar secara baik-baik dari mall tersebut selambat-lambatnya 9 bulan,[71] pada akhirnya, kedua pihak pun saling menggugat. PT BJLS menggugat Carrefour pada 13 Oktober 2009 ke PN Palembang, karena menuduh karyawan Carrefour telah merusak fasilitas mal Palembang Square dan melukai karyawannya dalam sebuah demo, sehingga mereka meminta ganti rugi kerugian imaterial sebesar Rp 100 miliar dan kerugian material sebesar Rp 15 juta, dan sebelumnya telah melaporkan Carrefour ke Kepolisian Daerah Sumatera Selatan.[72] Keputusan tersebut berhasil memenangkan PT BJLS pada 3 Juni 2010.[73] Sebagai balasannya, Carrefour menyatakan mereka tidak akan keluar dari mal Palembang Square sampai batas waktu sebelumnya pada 15 Juli 2010 dan meminta ganti rugi Rp 500 miliar.[74] Selain itu, juga muncul rumor bahwa Carrefour akan dikeluarkan juga dari Tamini Square yang juga milik Lippo, meskipun Lippo membantahnya dan berjanji tidak akan ada masalah jika pihak Carrefour menaati peraturan.[75]

Masalah lainnya[sunting | sunting sumber]

Masalah lain juga sempat bermunculan, seperti gerai Carrefour Ratu Plaza yang terkena beberapa kali kasus keracunan gas, seperti pada Desember 2007[76] dan akhirnya angkat kaki permanen dari mal itu sejak Mei 2008.[77]

Akibat polemik-polemik tersebut dan penurunan akibat krisis ekonomi 2008, perusahaan yang memiliki 76 cabang di tahun 2009 ini mencatat penurunan penjualan dari EUR 893 juta (Rp 11,46 triliun) pada 2008 menjadi EUR 887 juta (Rp 11,37 triliun) pada 2009, dan sempat menurun kembali pada 2010. Meskipun demikian, Presiden Direktur Carrefour Indonesia saat itu, Shafie Shamsuddin optimistis Carrefour masih dapat berkembang di Indonesia.[78] Carrefour pun terus melakukan berbagai kegiatan di Indonesia. Misalnya, Carrefour terus melanjutkan bantuan keuangan mikro kepada ribuan pengusaha dan pedagang di Jabodetabek, yang mencapai miliaran rupiah pada 2007-2009.[79] Pada akhir 2008 juga, hanya dalam waktu 2 bulan, Carrefour telah membuka 2 gerai baru di Makassar dan Madiun, dan dilanjutkan bulan berikutnya di Ciputat, Tangerang. Untuk melatih karyawannya yang berjumlah 11.000, Carrefour telah memiliki Institut Carrefour Indonesia sejak 22 September 2008, untuk melatih pimpinan sampai pekerja bawahan raksasa ritel ini, dan dalam rangka promosi namanya telah mengeluarkan aneka iklan, menyelenggarakan dan mensponsori berbagai acara.[80] 72 juta pelanggan telah mengunjungi Carrefour pada tahun 2010, naik dari 62 juta pelanggan pada tahun sebelumnya. Dalam menunjang jumlah pelanggan maka Carrefour sendiri menawarkan lebih dari 40.000 produk. Tercatat, kepemilikan Carrefour pada 2010 terdiri dari Carrefour S.A. 66,72%; Carrefour Nederland BV 21,81% dan Onesia BV 11,47%.[4]

Akuisisi oleh Chairul Tanjung[sunting | sunting sumber]

2010[sunting | sunting sumber]

Mungkin, menghadapi tekanan-tekanan di atas, Carrefour akhirnya memutuskan menjalin aliansi strategis dengan konglomerat Chairul Tanjung (CT), pemilik Para Group yang memiliki stasiun televisi Trans TV dan Bank Mega. Menurut penuturan CT, Carrefour sendiri saat itu menggunakan jasa konsultan dalam mencari partner strategis, yang setelah berbagai seleksi dan pertimbangan memilih CT sebagai calon mitra strategisnya. Carrefour lalu bernegosiasi dengan CT, yang awalnya berniat membeli 100% saham, namun kemudian akhirnya hanya 40%. Negosiasi ini awalnya dipimpin oleh Presiden Direktur Carrefour Indonesia (saat itu), Shafie Shamsuddin sejak Oktober 2009, yang kemudian dibantu oleh Kostaman Thayib (Direktur Utama Bank Mega) dan Ellyana Fuad (Country Manager Visa Indonesia), dan kemudian dilanjutkan langsung oleh Direktur Eksekutif Carrefour SA Thierry Garnier.[81]

Akhirnya, di Prancis, nota kesepahaman pembelian Carrefour oleh CT ditandatangani pada 12 Maret 2010, dan pada 16 April 2010, akuisisi itu diumumkan dalam acara Landmark Strategic Acquisition di Menara Bank Mega Jakarta. Pembelian 40% saham ini menghabiskan biaya US$ 300-400 juta (Rp 3 triliun), dengan pinjaman bank asing seperti Credit Suisse, ING Bank dan Citibank. CT berpendapat bahwa akuisisi itu adalah titik balik untuk perkembangan ekonomi nasional, karena dengan akuisisi itu maka perusahaan nasional melakukan akuisisi terhadap perusahaan multinasional, sedangkan pihak Carrefour melihat Grup Para cukup potensial sebagai perusahaan besar dan mempunyai value tinggi,[82][83] ditambah mendukung ekonomi lokal dengan bergabung bersama perusahaan lokal. Grup Para juga dianggap memiliki aneka bisnis yang bisa disinergikan dengan Carrefour sendiri. Selain itu, akuisisi ini juga disebabkan idealisme yang sama antara CT dan Carrefour.[4] Secara resmi, kerjasama ini dilakukan demi "mendorong pertumbuhan dan penyediaan akses bagi seluruh konsumen di Indonesia akan produk-produk berkualitas dengan harga yang terjangkau",[84] terutama pada penyediaan sembako.[85]

Perkembangan pasca-akuisisi[sunting | sunting sumber]

Pasca akuisisi, CT menempatkan tiga orang dalam jajaran komisaris Carrefour Indonesia, meliputi dirinya sendiri, AM Hendropriyono, dan Suroyo Bimantoro.[86] Akuisisi ini membuat struktur kepemilikan juga berubah, menjadi CT yang memegang 40% dan tiga pemegang saham sebelumnya (Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%).[87] Bagaimanapun, awalnya pembelian saham Carrefour ini masih dianggap sinis oleh beberapa kalangan sebagai upayanya "menyelamatkan diri" dari masalah-masalah yang dihadapinya.[83][81][88] Untuk mengubah citra bermasalah tersebut, Carrefour mulai menciptakan program seperti "Bazaar Rakyat" dan "Pojok Rakyat" yang diresmikan di Carrefour Lebak Bulus pada 31 Mei 2010, dimana Carrefour ditafsirkan sebagai ritel yang ramah pada UMKM dan pengusaha kecil.[89][90] Kemudian, Carrefour juga mulai mensinergikan layanannya dengan usaha CT, seperti transisi dari Kartu Carrefour BCA ke Carrefour Mega Card (kini Transmart Mega Card) sejak Juni 2011.[91] Pada tahun 2011 juga, CT mengungkapkan bahwa Carrefour telah menyumbang 60% pendapatan CT Corp (Rp 15 triliun dari total Rp 27 triliun). Ekspansi kemudian tetap dilakukan, terutama ke daerah luar Jawa.[4] Selain itu, pada bulan Mei 2011, Carrefour Indonesia meluncurkan situs fanpage Facebook di www.facebook.com/carrefour.indonesia dan akun Twitter di @Carrefour_ID, dan pada 6 Juli 2011 telah me-rebrand produk private label-nya menjadi Carrefour Discount.[92] Kemudian, juga dilakukan beberapa remodeling pada 15 gerai Carrefour pada Juli 2012 demi menyesuaikan konsumen, terutama kelas atas.[93]

Sejak 15 Oktober 2012, Carrefour Indonesia melakukan upaya mengurangi konsumsi kantong plastik bagi konsumen, sebagai bagian dari gerakan peduli lingkungan. Dimulai di tujuh gerai (Lebak Bulus Jakarta, Ambarukmo Yogyakarta, Maguwo Yogyakarta, Srondol Semarang, DP Mall Semarang, Citra Garden Medan dan Medan Fair), Carrefour Indonesia tidak lagi melayani pemberian kantong plastik tempat belanja secara gratis.[94] Sebagai gantinya, Carrefour Indonesia menawarkan kepada konsumen untuk membawa kantong belanjaan sendiri atau membeli kantong plastik yang bisa didaur ulang atau Green Bag. Green bag dijual Rp200 per lembar kantong plastik ukuran kecil, dan Rp400 per lembar ukuran besar. Kebijakan Carrefour Indonesia ini untuk mendukung Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. Saat ini sudah ada 25 gerai Carrefour yang tidak lagi melayani kantong plastik secara gratis.[95]

2012[sunting | sunting sumber]

Groupe Carrefour Prancis akhirnya melepas seluruh sahamnya di Carrefour Indonesia pada 19 November 2012. Melalui skema Perjanjian Pembelian Saham (Share Purchase Agreement) dan dibantu lagi oleh sindikasi bank asing, CT membeli 60% saham Carrefour Indonesia senilai Rp 7,2 triliun atau US$ 750 juta. Transaksi ini merupakan yang terbesar di Indonesia untuk sebuah akuisisi di sektor konsumer. Transaksi itu berarti juga mengalihkan usaha Carrefour yang menghasilkan keuntungan US$ 1,3 miliar, 85 gerai dan 28.000 karyawannya ke tangan CT.[83][96] Sebagai turunan dari kesepakatan itu, CT Corp diperbolehkan menggunakan merek Carrefour selama 5 tahun (bisa diperpanjang 5 tahun lagi),[83] untuk selanjutnya digantikan nama transisi yang direncanakan bernama Trans Carrefour.[97] CT sebenarnya sempat berencana juga mengakuisisi bisnis Carrefour di Singapura dan Malaysia, namun gagal, dan berkeinginan terus memodernisasi bisnis Carrefour. Penjualan itu berarti juga mengakhiri bisnis Carrefour Prancis di Indonesia selama lebih dari 15 tahun sejak 1996, meskipun mereka tetap berusaha berkomitmen dengan mitra lokal melalui CT Corp milik Chairul Tanjung.[98] Pasca akuisisi yang tuntas pada 16 Januari 2013, nama PT Carrefour Indonesia diganti oleh PT Trans Retail Indonesia sampai sekarang.[99]

Transmart dan perkembangan mutakhir[sunting | sunting sumber]

Diversifikasi[sunting | sunting sumber]

Di bawah kendali CT, gerai-gerai lama Carrefour tetap beroperasi, meskipun kemudian PT Trans Retail mulai mengembangkan format ritel lain terutama dalam pembukaan cabang baru, sebagai upayanya mengembangkan jenis ritel multi format.[100] Salah satunya adalah Transmart Carrefour, yang gerai pertamanya diberi nama Transmart Carrefour Super Center dan diresmikan di Cikokol, Tangerang pada 20 Juni 2014 dengan modal Rp 100 miliar. Transmart Carrefour sendiri berbeda dengan Carrefour biasa karena berusaha memadukan pusat belanja keluarga dengan gaya hidup masyarakat modern, dengan adanya pusat elektronik, toko pakaian merek internasional, taman bermain anak, dan kawasan restoran di luar dan di dalam ruangan bersama supermarket. Target pasarnya sendiri ditujukan untuk kelas menengah keatas.[101][102] Transmart Carrefour berniat menjadi tempat berbelanja yang nyaman dengan terus mendekatkan diri kepada pelanggan.[103] Logonya pun juga berubah, menggabungkan logo Trans Corp dan Carrefour yang didominasi warna merah putih sebagai perwujudan Indonesia, sedangkan penggayaan pada huruf "A" bermakna niat terus berinovasi.[104] Logo ini kemudian mulai diterapkan pada gerai-gerai baru yang dibuka PT Trans Retail, yang pada 2014 mencapai 4 gerai (Cikokol, Palu, Cimahi dan Bekasi) sedangkan dalam 3-5 tahun kedepan setelah perombakan internal, nama Carrefour akan diganti menjadi Transmart secara bertahap.[105]

Belakangan, Trans Retail cukup gencar dalam membangun berbagai gerai Transmart Carrefour di berbagai daerah, baik itu gerai baru maupun perombakan total gerai lama, seperti pada gerai Carrefour pertama di Cempaka Putih. Transmart Carrefour sendiri mem-branding bisnisnya sebagai 4 in 1 (Berbelanja, Bersantap, Bermain dan Menonton) dalam satu kawasan.[106][107] Berbeda degan Carrefour lama yang menggabungkan semuanya dalam satu atap, Transmart terkesan memisah-misahkan bagian swalayan, elektronik, fesyen, restoran, dll sehingga lebih cocok disebut sebagai mal, bukannya hipermarket. Salah satu gerai yang dipisahkan adalah furnitur, dalam wadah baru bernama Trans Living (awalnya bernama Index Living Mall dari Thailand) yang sudah ada sejak 2017.[108] Menjelang Mei 2017, tercatat Trans Retail telah memiliki 98 cabang Carrefour dan Transmart di berbagai daerah.[109] Untuk mempromosikan namanya, bahkan Transmart mempunyai sitkom-nya sendiri, bernama The Transmart yang pernah tayang di Trans TV.

Selain hal tersebut, Trans Retail juga mengembangkan toko grosir/perkulakan dengan nama Groserindo (awalnya bernama Groserindo Carrefour) sejak 25 Juni 2014, sebagai bagian merupakan bagian dari upaya perseroan untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang, terutama pada bisnis bisnis hotel, restoran dan katering. Menjual 10.000 barang dengan harga yang diklaim kompetitif,[110] gerai pertamanya dibuka di Bekasi, dengan target menambah 5-7 gerai pada 2015.[100][111] Akan tetapi, dalam perkembangannya Groserindo tidak berkembang dengan hanya memiliki 2 cabang pada 2017,[83] dan saat ini kurang terdengar lagi namanya.

Pergantian nama dan tantangan[sunting | sunting sumber]

Awalnya, nama Carrefour seperti dijelaskan akan dihentikan penggunaannya 3-5 tahun setelah akuisisi (2015-2017), namun rupanya ada lebih dari 60 gerai yang tidak kunjung berganti nama. Dalam perkembangannya, nama Carrefour mulai ditinggalkan dengan hadirnya dua gerai Transmart di Telogorejo, Sukoharjo, dan Sidoarjo. Nama "Carrefour" masih dipertahankan karena menurut pihak Carrefour publik sudah kadung mengenal nama gerai-gerai lama Carrefour dengan nama tersebut, ditambah juga usaha CT Corp dalam membangun bisnis ritelnya secara mandiri karena merupakan pemain baru.[83] Akan tetapi, pada November 2020, Transmart resmi mengumumkan bahwa akhir 2021 adalah batas akhir penggunaan nama Carrefour, terutama pada 52 toko dari 132 gerai yang dimiliki PT Trans Retail Indonesia.[112] Kini, sejak tahun tersebut, nama Carrefour sudah menghilang, digantikan Transmart saja, baik untuk hipermarket, supermarket dan mal.

Layaknya banyak perusahaan ritel lain, Transmart pun tidak lepas dari tantangan besar berupa penurunan bisnis ritel di Indonesia sejak pertengahan 2010-an dan efek hebat pandemi COVID-19. Meskipun mengklaim bahwa perusahaan masih dapat bertahan, mempertimbangkan penutupan gerai sebagai solusi akhir dan bahkan bisa membangun gerai baru dari 134 gerai pada 2020,[113][114] tidak bisa dipungkiri banyak kasus di mana Transmart harus bermasalah. Pada awal Januari 2020, misalnya Transmart telah menutup gerai Carrefour di Supermal Karawaci,[115] dan menjelang akhir 2020 gerai Mall of Indonesia sudah ditutup,[116] belum termasuk gerai-gerai lainnya yang harus mengalami efisiensi dan penutupan. Salah satu upaya efisiensi juga dilakukan dengan melakukan PHK karyawan.[117][118] Bahkan, pada 30 September 2020, PT Trans Retail sempat digugat oleh PT Tritunggal Adyabuana untuk melakukan restrukturisasi utang melalui skema Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), karena Trans Retail tidak kunjung melunasinya.[119] Penutupan gerai terus berlangsung pada 2021, seperti di Puri Indah dan CBD Ciledug.[120][121]

Lokasi Transmart[sunting | sunting sumber]

Keterangan: Gerai-gerai Carrefour sendiri dikelola oleh PT Trans Retail Indonesia (d/h PT Carrefour Indonesia) dan PT Alfa Retailindo. PT Alfa sendiri khusus mengelola gerai-gerai yang dahulu dimilikinya sebelum akuisisi oleh Carrefour di tahun 2008 (lihat Transmarket#Tidak beroperasi/berganti nama).[122]

Transmart Padang
Transmart Lampung
Transmart Tangerang Center

Gerai yang Ditutup[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Carrefour, Gerai Retail Pilihan Untuk Keluarga Indonesia
  2. ^ PT Trans Retail Indonesia
  3. ^ Mengintip Fitur AlloFresh Besutan Bukalapak dan Trans Retail
  4. ^ a b c d e f g h Ekonomi Politik Monopoli
  5. ^ Indonesian Capital Market Directory
  6. ^ a b Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 8,Masalah 24-33
  7. ^ Gamma, Volume 3,Masalah 42-50
  8. ^ TIGA RAKSA GROUP: REINFORCING CORE BUSINESS THROUGH HYPERMARKET.
  9. ^ a b 1. FRANCE'S CARREFOUR AND CONTINENT MERGE.
  10. ^ a b c JP/Promodes opens retail operation despite crisis
  11. ^ a b TENTANG HUKUM
  12. ^ Dunia EKUIN dan PERBANKAN, Volume 9,Masalah 9-10
  13. ^ a b Tempo, Volume 28,Masalah 17-18
  14. ^ JP/Foreign powers enter retail war
  15. ^ Pluit Village
  16. ^ ITC CEMPAKA MAS
  17. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 14,Masalah 21-24
  18. ^ Eksekutif, Masalah 287-292
  19. ^ Indonesian Business: The Year in Review
  20. ^ Indonesian Commercial Newsletter, Volume 29,Masalah 387-394
  21. ^ a b Manajemen Operasi
  22. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 15,Masalah 9-17
  23. ^ Tigaraksa Bagikan Dividen Rp 400 Per Saham
  24. ^ V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
  25. ^ PROFIL PERUSAHAAN
  26. ^ Tempo, Volume 35,Masalah 7-12
  27. ^ Carrefour Targetkan Tambahan 9 Gerai Selama 2007
  28. ^ PROFIL PERUSAHAAN
  29. ^ Rural Meat Processing Industry Draws Hispanic Workers
  30. ^ a b Retail Giant Makes Its Mark in Indonesia
  31. ^ Retail Excellence Series - What I Learned From Hypermarket
  32. ^ a b Carrefour Akuisisi Alfa Supermarket
  33. ^ Indonesian Business: The Year in Review 2008
  34. ^ Kaum Supertajir Indonesia: Profil Seratus Orang Terkaya Indonesia yang Total ...
  35. ^ Carrefour Resmi Beli Alfa Retailindo Rp 674 Miliar
  36. ^ Seluruh Gerai Alfa Ganti Carrefour
  37. ^ a b Saham Tak Likuid, Alfa Pilih Hengkang dari Bursa
  38. ^ Akuisisi Alfa, Dominasi Carrefour Naik Jadi 48,38%
  39. ^ APPTI : Carrefour Rugikan Pemasok Barang
  40. ^ Carrefour Diadukan Lagi ke KPPU
  41. ^ Pangsa Pasar Carrefour Naik Jadi 7 Persen
  42. ^ Carrefour Akui Bisnisnya Tak Selalu Untung
  43. ^ Bapepam: Akuisisi Alfa Oleh Carrefour Sesuai Aturan Pasar Modal
  44. ^ Diduga Monopoli, Carrefour Dilaporkan ke KPPU
  45. ^ KPPU Resmi Perkarakan Akuisisi Alfa oleh Carrefour
  46. ^ KPPU: Carrefour Terbukti Melakukan Monopoli
  47. ^ Terbukti Monopoli, Carrefour Harus Melepas Alfa
  48. ^ KPPU Optimistis Putusan Carrefour Dikuatkan PN
  49. ^ Carrefour Menang Lawan KPPU
  50. ^ KPPU Vs Carrefour, Komisi Pengawas Banding ke MA
  51. ^ Kubu Carrefour: Putusan MA Bukti Bahwa KPPU Bisa Salah
  52. ^ KPPU batalkan putusannya untuk Carrefour
  53. ^ Saham Delisting 2011 di BEI
  54. ^ Carrefour Terseret Perda Perpasaran Swasta
  55. ^ Mega Mall Pluit Bantah Carrefour akan Digantikan Hypermart
  56. ^ Kisruh Carrefour versus Mega Mal Pluit Kian Memanas
  57. ^ "Diusir" Pengelola Gedung, Carrefour Lapor KPPU
  58. ^ Lippo Gantian Menang Lawan Carrefour
  59. ^ Carrefour Mega Mall Pluit Disegel
  60. ^ DKI Akan Tutup Carrefour Mega Mall Pluit
  61. ^ DKI Tidak Tegas Tangani Carrefour
  62. ^ Izin Carrefour Mega Mall Pluit Keluar Sejak 1999
  63. ^ Carrefour Patuhi Aturan di Indonesia
  64. ^ Carrefour Buka Kembali Gerai di Pluit Village
  65. ^ Carrefour Diusir dari Palembang Square
  66. ^ PT Carrefour Indonesia Belum Ambil Langkah Hukum
  67. ^ Penjelasan Carrefour Soal Keberadaannya di Palembang Square
  68. ^ Kemelut Carrefour
  69. ^ *Carrefour Palembang Tak Diperpanjang Sewa
  70. ^ Usai Lebaran Gerai Carrefour di Palembang Square Harus Tutup
  71. ^ Carrefour Bersedia Pindah dari Mal Palembang Square
  72. ^ PT BJLS Gugat Carrefour Rp100 M
  73. ^ PT BJLS Menangkan Gugatan Atas Carrefour
  74. ^ Carrefour Bersengketa Sewa Minta Kompensasi Rp 500 M
  75. ^ Target Lippo: Mengelola 50 Mal Tahun 2011
  76. ^ Carrefour Ratu Plaza Tutup
  77. ^ Carrefour Ratu Plaza Ditutup Sampai Waktu yang Tidak Ditentukan
  78. ^ Penjualan Carrefour di Indonesia Selama Januari 2010 Merosot
  79. ^ Carrefour Luncurkan Program Keuangan Mikro
  80. ^ Membongkar Jaringan Bisnis Yahudi di Indonesia
  81. ^ a b Rekam Jejak Bisnis Chairul Tanjung
  82. ^ Di Balik Akuisisi Chairul Tanjung Terhadap Carrefour
  83. ^ a b c d e f Kenapa Chairul Tanjung Masih Pakai Nama Carrefour di Transmart?
  84. ^ KPPU: Kami Belum Tahu CT Akuisisi Carrefour
  85. ^ Kenapa Chairul Tanjung Kuasai Carrefour
  86. ^ Dua Jenderal di Carrefour
  87. ^ Alasan Chairul Tanjung Beli Carrefour
  88. ^ Pasca Akuisisi Carrefour, Masih Adakah Monopoli
  89. ^ Carrefour Komitmen Angkat UKM
  90. ^ CEO Wisdom, Volume 1
  91. ^ Juni, Mega Carrefour Ganti BCA Carrefour
  92. ^ Carrefour Luncurkan Carrefour Discount di 81 Gerainya
  93. ^ Bidik Kalangan Atas, Carrefour Lakukan Remodelling
  94. ^ Demi Lingkungan, Carrefour Tak Lagi Gunakan Kantung Belanja Plastik
  95. ^ Belanja di Carrefour, Konsumen Harus Bayar Kantong Plastik
  96. ^ Kuasai Carrefour 100%, CT Catatkan Akuisisi Terbesar Sektor Konsumer
  97. ^ CT Bangga Akuisisi Carrefour dari Perusahaan Perancis
  98. ^ CARREFOUR HENGKANG: Chairul Tanjung Bakal Akuisisi 100% Saham Carrefour Indonesia?
  99. ^ CARREFOUR: Dikaji Opsi Berubah Jadi Trans Carrefour
  100. ^ a b Trans Retail akan tambah minimal lima Groserindo
  101. ^ Chairul Tanjung Bangun Ritel Kelas Atas Senilai Rp 100 Miliar
  102. ^ Pertama Kali, Transmart Carrefour Dibuka di Tangerang
  103. ^ Trans Retail Targetkan Punya 90 Gerai Hingga Akhir 2014
  104. ^ Logo dan Nama Carrefour Berubah Setelah Dibeli CT
  105. ^ 85 Gerai Carrefour Menjadi Transmart
  106. ^ Transmart Carrefour Cempaka Putih Berubah dengan Konsep 4 in 1
  107. ^ Transmart Carrefour Hadir di Balikpapan, Jadi Incaran Ekonomi Menengah Atas
  108. ^ Gandeng CT, Index Living Mall siap saingi IKEA
  109. ^ Transmart Padang dan Pekanbaru Diresmikan
  110. ^ Toko Grosir Carrefour di Bekasi Jual 10.000 Jenis Barang
  111. ^ Trans Retail Rambah Bisnis Grosir, Gerai Pertama di Bekasi
  112. ^ Merek Carrefour Segera Diganti Transmart, Bukan Lagi Punya Prancis
  113. ^ Bisnis ritel menantang, penutupan gerai jadi opsi terakhir Trans Retail Indonesia
  114. ^ Penutupan Ritel Berlanjut, Transmart Pilih Pertahankan Operasional Toko
  115. ^ Carrefour Tutup Gerai di Supermall Karawaci
  116. ^ JAKARTA | KELAPA GADING Construction
  117. ^ PHK Karyawan Mendadak dengan Pesangon Kecil, Transmart Maguwo Bakal Digugat
  118. ^ Trans Retail Indonesia PHK Sepihak Karyawannya
  119. ^ Tak Mampu Bayar Utang, Perusahaan Ritel milik Chairul Tanjung di-PKPU-Kan
  120. ^ Sedih lihat n denger CARREFOUR CBD CILEDUG TUTUP,,,,di mana disinilah slama 3 tahun setengah...
  121. ^ Pertama kali kerja di Carrefour Indonesia ya disini... Carrefour Puri Kembangan Jakarta...
  122. ^ Bon belanja Transmart Maguwo Yogyakarta yang menggunakan PT Alfa Retailindo
  123. ^ "Dibuka 1 Desember, Transmart Carrefour Sukoharjo Jadi Gerai Ke-104". detik.com. November 27, 2017. Diakses tanggal December 1, 2021. 
  124. ^ http://warsimi.blogspot.com/2013/02/tutupnya-carrefor-daan-mogot-c4-dmg-di.html

Pranala luar[sunting | sunting sumber]