Pertikaian ritus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Pertikaian ritus muncul di kalangan Gereja Katolik Roma ketika Matteo Ricci (1552-1610), seorang imam dan misionaris Yesuit di Tiongkok, menyatakan bahwa apa yang dianggap pemujaan leluhur dan persembahan kepada kaisar oleh orang-orang Tionghoa sesungguhnya adalah sekadar penghormatan belaka dan bukan penyembahan berhala. Sikap hormat ini didasarkan pada nilai-nilai khas dunia Timur yang diajarkan oleh Kong Hu Cu. Oleh karena itu, praktik tersebut pada dasarnya tidaklah bertentangan dengan iman Kristiani, sehingga orang-orang Tionghoa yang menjadi Katolik tidak perlu dilarang mempraktikkannya.

Sikap positif ini melahirkan hubungan yang bersahabat antara pihak misi Katolik dengan masyarakat Tiongkok pada waktu itu, sehingga cukup banyak orang Tionghoa yang tertarik kepada ajaran Katolik yang disebarkan oleh Ricci.

Namun keberhasilan pihak Yesuit di Tiongkok ini ditentang oleh sebuah ordo Katolik lainnya, yaitu Dominikan yang berpendapat bahwa ajaran Ricci itu keliru. Kaum Dominikan mengadukan hal ini kepada Paus Clemens XI dan berhasil mempengaruhinya, sehingga Paus kemudian menyatakan bahwa ajaran Ricci itu keliru dan sesat. Paus mengeluarkan sejumlah larangan yang terkait dengan hal ini:

  1. Orang Barat menyebut Deus [Allah] pencipta langit dan bumi dan segala isinya. Karena kata Deus itu tidak cocok dengan bahasa Tionghoa, orang-orang barat di Tiongkok dan orang-orang Tionghoa yang menjadi Katolik telah menggunakan istilah "Tuhan penguasa langit" (Shangdi) selama bertahun-tahun. Sejak saat ini istilah "Langit" dan "Shangdi" tidak boleh digunakan.
  2. Orang-orang Katolik baru dilarang melakukan penyembahan terhadap Kong Hu Cu pada musim semi dan musim gugur, bersama dengan penyembahan terhadap leluhur, meskipun mereka hadir dalam upacara itu hanya sebagai penonton, karena hal itu sama saja dengan ikut serta secara aktif.
  3. Para pejabat dan calon-calon pejabat Tiongkok dalam ujian-ujian di tingkat metropolitan, provinsi, maupun prefektur, kalau mereka sudah menjadi Katolik, dilarang beribadah di kuil-kuil Kong Hu Cu pada hari pertama dan kelima belas dari setiap bulan.
  4. Orang Tionghoa Katolik dilarang menyembah leluhur mereka di kuil-kuil keluarga.
  5. Baik di rumah, di kuburan, maupun pada waktu penguburan, seorang Katolik Tionghoa dilarang melakukan ritual penyembahan leluhur, meskipun misalnya ia berada di antara orang-orang bukan Kristen. Ritual itu bersifat kafir, apapun juga keadaannya.

Keputusan ini membangkitkan kemarahan Kaisar Kangxi, sehingga kaisar malah melarang sama sekali semua kegiatan misi Katolik.