Penyakit infeksi baru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Peta kemunculan penyakit infeksi baru yang dipublikasikan pada tahun 2017. Ketika Anthony Fauci menjadi direktur NIAID AS, ia menggambar peta dunia dalam presentasinya di sidang kongres yang menunjukkan satu ancaman penyakit menular yang baru muncul: HIV. Sejak itu, ia terus memperbarui peta tersebut, yang sekarang menunjukkan munculnya berbagai ancaman penyakit menular baru, serta infeksi yang telah muncul sebelum HIV.[1]

Penyakit infeksi baru atau penyakit infeksi yang baru muncul (bahasa Inggris: emerging infectious disease, disingkat EID) adalah penyakit infeksi yang insidennya telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan dapat meningkat dalam waktu dekat.[2][3] Sejumlah kecil penyakit yang memiliki kemampuan transmisi yang efisien di antara manusia dapat menjadi perhatian masyarakat dan global karena berpotensi menjadi penyebab epidemi atau pandemi.[4] Keberadaan mereka berdampak pada sektor ekonomi, sosial, serta kesehatan.[5] EID telah meningkat secara stabil setidaknya sejak tahun 1940.[6] Untuk setiap dekade sejak 1940, telah terjadi peningkatan yang konsisten dalam jumlah kejadian EID dari zoonosis terkait satwa liar. Aktivitas manusia adalah pendorong utama peningkatan ini, dengan hilangnya keanekaragaman hayati sebagai mekanisme utama.[7]

Penyakit infeksi baru menyumbang setidaknya 12% dari semua patogen manusia.[8] EID dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang baru diidentifikasi, termasuk spesies atau galur virus baru (misalnya koronavirus baru dan HIV).[9] Sejumlah EID lain mungkin berasal dari patogen yang telah diketahui dan kemudian berevolusi (misalnya influenza) atau menyebar ke populasi baru (misalnya demam Nil Barat) atau ke area yang mengalami transformasi ekologis (misalnya penyakit Lyme).[10] Ada pula kemunculan kembali sebuah penyakit infeksi, seperti tuberkulosis (karena resistan terhadap obat) dan campak.[11] Infeksi nosokomial (diperoleh di rumah sakit), seperti Staphylococcus aureus yang resisten terhadap metisilin muncul di rumah sakit, dan sangat bermasalah karena mereka kebal terhadap banyak antibiotika.[12] Hal yang menjadi perhatian adalah interaksi sinergis yang merugikan antara EID dengan penyakit menular dan tidak menular lainnya, yang mengarah pada pengembangan sindemik baru.

Banyak penyakit infeksi yang muncul merupakan zoonosis,[4] dengan hewan sebagai reservoir dan kemudian sesekali berpindah ke populasi manusia.[13]

Faktor yang berkontribusi[sunting | sunting sumber]

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menerbitkan jurnal Emerging Infectious Diseases yang mengidentifikasi faktor-faktor berikut yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit:

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Paules, Catharine I.; Eisinger, Robert W.; Marston, Hilary D.; Fauci, Anthony S. (2017-12-05). "What Recent History Has Taught Us About Responding to Emerging Infectious Disease Threats". Annals of Internal Medicine (dalam bahasa Inggris). 167 (11): 805–811. doi:10.7326/M17-2496. ISSN 0003-4819. PMID 29132162. 
  2. ^ "Emerging Infectious Diseases - NIOSH Workplace Safety and Health Topic". www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Centers for Disease Control and Prevention. 17 October 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 April 2020. 
  3. ^ A brief guide to emerging infectious diseases and zoonoses. WHO Regional Office for South-East Asia. 2014. hdl:10665/204722. ISBN 9789290224587. 
  4. ^ a b Woolhouse, ME; Gowtage-Sequeria, S (2005). "Host Range and Emerging and Reemerging Pathogens". Emerging Infectious Diseases. 11 (12): 1842–7. doi:10.3201/eid1112.050997. PMC 3367654alt=Dapat diakses gratis. PMID 16485468. 
  5. ^ Morens DM, Fauci AS (2013). "Emerging infectious diseases: threats to human health and global stability". PLOS Pathogens. 9 (7): e1003467. doi:10.1371/journal.ppat.1003467. PMC 3701702alt=Dapat diakses gratis. PMID 23853589. 
  6. ^ Jones, Kate (2008). "Global trends in emerging infectious diseases". Nature. PMID 18288193. 
  7. ^ Felicia, Keesing (2010). "Impacts of biodiversity on the emergence and transmission of infectious diseases". Nature. PMID 21124449. 
  8. ^ Taylor L.; et al. (2001). "Risk factors for human disease emergence". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 356 (1411): 983–9. doi:10.1098/rstb.2001.0888. PMC 1088493alt=Dapat diakses gratis. PMID 11516376. 
  9. ^ Fauci AS (2005). "Emerging and reemerging infectious diseases: the perpetual challenge". Academic Medicine. 80 (12): 1079–85. doi:10.1097/00001888-200512000-00002. PMID 16306276. 
  10. ^ Kilpatrick AM, Dobson AD, Levi T, et al. (2017). "Lyme disease ecology in a changing world: consensus, uncertainty and critical gaps for improving control". Philosophical Transactions of the Royal Society of London. Series B, Biological Sciences. 372 (1722): 20160117. doi:10.1098/rstb.2016.0117. PMC 5413869alt=Dapat diakses gratis. PMID 28438910. 
  11. ^ Fraser-bell, C (2019). "Global Re-emergence of Measles - 2019 update". Global Biosecurity (dalam bahasa Inggris). 1 (3). doi:10.31646/gbio.43alt=Dapat diakses gratis. ISSN 2652-0036. 
  12. ^ Witte, W (1997). "Increasing incidence and widespread dissemination of methicillin‐resistant Staphylococcus aureus (MRSA) in hospitals in central Europe, with special reference to German hospitals". Clinical Microbiology and Infection. 3 (4): 414–22. doi:10.1111/j.1469-0691.1997.tb00277.x. 
  13. ^ "The 2019–2020 Novel Coronavirus (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) Pandemic: A Joint American College of Academic International Medicine‑World Academic Council of Emergency Medicine Multidisciplinary COVID‑19 Working Group Consensus Paper". ResearchGate. Diakses tanggal May 16, 2020.