Asimtomatik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Asimtomatik adalah suatu kondisi penyakit yang sudah positif diderita, tetapi tidak memberikan gejala klinis apapun terhadap orang tersebut. Kondisi asimtomatik mungkin tidak akan ditemukan sampai seseorang melakukan tes medis berupa sinar-X, pemeriksaan laboratorium klinik, dan jenis pemeriksaan lainnya. Beberapa penyakit tetap tidak diketahui gejalanya untuk waktu yang panjang, termasuk beberapa jenis kanker.[1] Asimtomatik juga umum terjadi pada penularan TORCH oleh ibu ke janin dengan risiko tinggi terhadap kelainan bawaan atau kematian bayi baru lahir.[2] Kondisi asimtomatik juga terjadi pada zoonosis, khususnya toksoplasmosis. Kondisi yang nampak sama dengan manusia yaitu infeksi yang bersifat asimtomatik. Kondisi asimtomatik ini umumnya diterjadi pada domba, kucing, kambing, babi, dan anjing.[3]

Penyakit manusia[sunting | sunting sumber]

Demam berdarah[sunting | sunting sumber]

Demam berdarah termasuk salah satu jenis penyakit tropis yang sulit dibedakan dengan jenis demam lainnya. Diagnosis demam berdarah dapat keliru karena infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik atau memiliki gejala yang tidak jelas. Gejala berupa demam baru muncul secara mendadak setelah masa inkubasi.[4]

Demam rematik akut[sunting | sunting sumber]

Demam rematik yang akut selalu diawali oleh kondisi asimtomatik. Sebelum gejala klinis muncul, pasien akan mengalami faringitis akut sekitar 20 hari.[5]

Diabetes melitus tipe-2[sunting | sunting sumber]

Kondisi asimtomatik terjadi pada diabetes melitus tipe 2. Penyebab keterlambatan diagnosis pada penderita diabetes melitus tipe 2 ialah adanya periode asimtomatik yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi asimtomatik umumnya diketahui secara kebetulan. Sindrom hiperglikemik hiperosmolar yang muncul pada pengidap diabetes melitus merupakan akibat dari adanya kondisi asimtomatik.[6] Penundaan diagnosis pada penderita diabetes melitus tipe 2 yang asimtomatik, akan memperparah hiperglikemia.[7]

Fibrilasi atrium[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar proses fibrilasi atrium termasuk dalam kondisi asimtomatik.[8] Pada pasien dengan kondisi asimtomatik, indikasi ablasi jaras belum dapat dipastikan. Umumnya, pasien yang asimtomatik memiliki preeksitasi dengan prognosis yang baik.[9]

Gagal ginjal kronis[sunting | sunting sumber]

Gagal ginjal kronis umumnya asimtomatik pada stadium awal. Ini dikarenakan gejala klinis yang terjadi pada gagal ginjal kronis tidak spesifik. Umumnya, gejala penyakit baru ditemukan pada tahap akhir penyakit. Kondisi asimtomatik menyebabkan penderita tidak waspada dan terlambat mencari pertolongan.[10]

Hepatitis[sunting | sunting sumber]

Kondisi asimtomatik umumnya terjadi pada pasien yang mengidap hepatitis akut, khususnya hepatitis C. Keadaan tanpa gejala umumnya terjadi pada pasien dengan penanda genetik hepatiti yang hanya mengalami peningkatan yang sedikit. Pada hepatitis C, kondisi asimtomatik berakhir setelah fase prodromal dimulai.[11] Kondisi asimtomatik juga dialami oleh pengidap hepatitis kronis yang hanya mengalami peningkatan penanda genetik setelah diperiksa secara rutin dalam laboratorium.[12]

Hipoglikemia[sunting | sunting sumber]

Kondisi asimtomatik dapat terjadi pada hipoglikemia dengan kadar gula darah sewaktu bernilai kurang dari 70 mg/dl.[13] Hipoglikemia asimtomatik dapat diketahui dengan pemantauan glukosa darah secara mandiri.[14] Kondisi asimtomatik dapat terjadi pada hari pertama hingga hari kedua sejak kelahiran bayi.[15] Hipoglikemia asimtomatik umumnya dialami oleh bayi dengan ibu pengidap diabetes melitus. Kondisi ini terjadi pada bayi dengan rentang 0,8–8,5 jam pertama sejak kelahiran. Rata-rata kejadian hipoglikemia terjadi pada bayi dengan 1–2 jam pertama kelahiran.[16]

Kusta subklinis[sunting | sunting sumber]

Penyakit kusta mengalami keadaan asimtomatik pada stadium kusta subklinis. Kusta subklinis adalah suatu keadaan telah terinfeksi oleh Mycobacterium leprae, tetapi gejala klinis belum nampak. Pada kondisi kusta subklinis ini, pengidap kusta terlihat sehat, karena tidak adanya lesi. Namun pada serologis forensik telah ditemukan antibodi spesifik terhadap bakteri dengan kadar IgM anti PGL-1 di atas 605 U/ml.[17]

Tuberkulosis dan efusi pleura[sunting | sunting sumber]

Tuberkulosis mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain. Gejala umum yang ditimbulkannya ialah tubuh lemas dan demam. Kondisi asimtomatik terjadi pada penderita tuberkulosis dengan gejala yang tidak jelas. Tuberkulosis dengan keadaan asimtomatik umumnya terabaikan. [18] Pada pasien yang mengalami efusi pleura, kondisi asimtomatik juga terjadi.[19]

Pitriasis alba[sunting | sunting sumber]

Pitiriasis alba dengan kondisi asimtomatik umumnya diderita oleh pasien berusia balita hingga remaja. Rentang usianya antara 3 sampai 16 tahun. Kondisi asimtomatik ini terjadi pada lelaki maupun perempuan.[20]

Tinea imbrikata[sunting | sunting sumber]

Tinea imbrikata merupakan keadaan terlepasnya lapisan stratum korneum dan berpindah posisi menghadap sentrum lesi. Kondisi asimtomatik terjadi pada tingkat kronis disertai dengan peradangan yang sangat ringan.[21]

Penyakit hewan[sunting | sunting sumber]

Toksoplasmosis[sunting | sunting sumber]

Hewan yang umum mengalami toksoplasmosis ialah domba. Kondisi asimtomatik akan terjadi pada anak domba yang terinfeksi pada bulan keempat kebuntingan.[22] Toksoplasmosis dengan kondisi asimtomatik juga terjadi secara umum pada kucing. Epidemiologi penyakit menyebar dengan cepat melalui kucing.[23] Kondisi asimtomatik juga umum terjadi pada kuda tetapi dengan jumlah kejadian yang jarang.[23]

Bruselosis[sunting | sunting sumber]

Bruselosis dengan kondisi asimtomatik umumnya terjadi pada sapi betina. Kondisi asimtomatik terjadi baik saat diagnosis maupun penularan enzootik bruselosis.[24] Bruselosis dengan kondisi asimtomatik juga dapat terjadi pada babi. Agen etiologinya adalah bakteri Brucella abortus. Jenis bakteri ini termasuk patogen lemah pada babi dan secara umum tidak menular ke hewan lain.Infeksi dengan kondisi asimtomatik disebabkan keberadaan organismenya yang terbatas pada limfonodus di bagian kepala dan leher.[25]

Salmonelosis[sunting | sunting sumber]

Pada anjing dan kucing sering terjadi salmonelosis dengan prevalensi yang tinggi akibat serotipe dengan jumlah yang banyak. Salmonesis menyebabkan anjing dan kucing menjadi karier asimtomatik.[26] Salmonella yang ada di hewan lain dapat menular ke unggas. Kondisi asimtomatik terjadi khususnya pada infeksi unggas dewasa.[27]

Fasiolosis[sunting | sunting sumber]

Fasiolosis pada babi umumnya bersifat asimtomatik. Kondisi asimtomatik baru berubah menjadi gejala klinis setelah terjadi malnutrisi atau timbulnya penyakit lain secara bersamaan.[28]

Skistosomiasis[sunting | sunting sumber]

Skistosomiasis disebabkan oleh cacing dari genus Schistosoma. Jenis penyakit ini merupakan penyebab umum terjadinya gagal hati, usus, dan saluran kemih pada manusia.[29] Infeksi pada manusia dalam tingkat ringan dan bersifat asimtomatik. Kondisi infeksi ringan hanya terjadi jika manusia menyentuh air yang terkontaminasi oleh cercaria.[30]

Histoplasmosis[sunting | sunting sumber]

Histoplasmosis sebagian besar bersifat asimtomatik. Kondisi asimtomatik ini terjadi pada manusia. Masa inkubasi berlangsung berkisar antara 5–18 hari.[31] Histoplasmosis asimtomatik juga terjadi pada anjing. Setelah masa asimtomatik, anjing mulai menunjukkan gejala klinis berupa enkapsulasi dan pengapuran.[32] Dalam kondisi asimtomatik, hasil pemeriksaan histoplasmin pada kulit tetap bernilai positif.[33]

Demam Q[sunting | sunting sumber]

Demam Q pada manusia dapat timbul dalam kondisi asimtomatik. Kekeliruan diagnosis terjadi pada kondisi asimtomatik dengan dugaan demam biasa.[34]

Virus[sunting | sunting sumber]

Koronavirus[sunting | sunting sumber]

Kondisi asimtomatik koronavirus bermula dari kasus suspek. Pada kondisi ini, pasien tidak memenuhi kriteria epidemiologis dengan hasil rapid antigen SARSCoV-2 positif.[35] Kondisi asimtomatik pada koronavirus juga terjadi pada kasus konfirmasi dengan hasil rapid antigen SARSCoV-2 positif.[35] Pada pasien dengan kriteria selesai isolasi medis dan telah menerima konfirmasi asimtomatik, pemeriksaan dengan metode reaksi berantai polimerase waktu-nyata tidak dilakukan.[36] Pasien langsung dinyatakan selesai menerima isolasi medis setelah menjalani 10 hari masa isolasi mandiri. Perhitungan hari dimulai sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi berlangsung.[37] Kondisi asimtomatik pada koronavirus hanya terjadi pada pasien berusia muda seperti bayi, balita dan anak-anak. Rentang waktu asimtomatik ialah pada masa awal paparan koronavirus. Kondisi ini membuat pasien usia muda memiliki kemungkinan yang lebih besar sebagai sumber penularan infeksi bagi keluarganya.[38]

Sitomegalovirus[sunting | sunting sumber]

Asimtomatik dapat terjadi pada sitomegalovirus.[39] Sebagian besar kasus infeksi kelainan bawaan disebabkan oleh sitomegalovirus. Kondisi asimtomatik pada sitomegalovirus ini dapat menyebabkan penyakit yang sulit ditangani secara medis. Pada kondisi yang sangat parah, dapat berakibat pada cacat permanen atau kematian pada janin dan bayi baru lahir.[40]

Virus imunodefisiensi manusia (HIV)[sunting | sunting sumber]

Keadaan asimtomatik pada HIV ditemukan pada pengidap HIV yang telah ditetapkan positif. Pasien tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. HIV asimtomatik tetap dapat menular ke orang lain.[41] Kondisi asimtomatik ini merupakan akibat dari tidak dikenalinya virus setelah terperangkap di dalam sel dendritik folikular yang terletak di pusat germinativum kelenjar getah bening. Sebagian besar virusdi plasma berpindah ke kelenjar getah bening.[42] Kondisi asimtomatik ini umumnya berlangsung selama 10 tahun dalam masa inkubasi.[43] Anak yang mengidap HIV dengan kondisi asimtomatik tidak dianjurkan melakukan terapi antiretroviral, karena meningkatkan terjadinya resistensi antibiotik seiring waktu. Umumnya, terapi ditunda hingga infeksi akut terobati.[44]

Virus herpes simpleks[sunting | sunting sumber]

Virus herpes simpleks dapat menyebakan infeksi herpes genitali. Periode infeksi terbagi menjadi 5 kategori yaitu yaitu episode I infeksi primer, episode I non infeksi primer, infeksi rekurens, asimtomatik, atau subklinis. Kondisi asimtomatik terjadi pada episode I infeksi primer. Virus memasuki tubuh pasien dan bergabung dengan DNA. Setelahnya, virus mulai memperbanyak diri dan menimbulkan kelainan pada kulit. Keadaan asimtomatik terjadi setelah virus berdiam diri di dalam ganglion saraf regional setelah melalui serabut saraf. Penularan virus herpes simpleks terjadi selama masa asimtomatik.[45] Infeksi genital dengan kondisi asimtomatik umumnya hanya dialami oleh wanita.[46] Kondisi asimtomatik kembali berlangsung selama masa inkubasi yang berlangsung selama rentang 3–7 hari. Penelitian restropektif memberikan informasi tentang kondisi asimtomatik sering terjadi pada virus herpes simpleks tipe 2 dengan persentase sebesar 50-70%.[47] Pada kondisi asimtomatik, virus herpes simpleks hanya menunjukkan reaksi serologis reaktif.[48]

Infeksi[sunting | sunting sumber]

Infeksi saluran kemih[sunting | sunting sumber]

Infeksi saluran kemih pada sebagian besar anak berada dalam kondisi asimtomatik. Risiko yang tinggi ditemukan pada anak perempuan dalam usia sekolah pada uji tapis. Infeksi saluran kemih asimtomatik umumnya tidak berlanjut menjadi pielonefritis akut dan prognosis.[49] Infeksi saluran kemih asimtomatik disebabkan oleh bakteriuria bermakna tanpa gejala.[50] Bakteriuria asimtomatik mengandung bakteri dalam saluran kemih tanpa menimbulkan manifestasi klinis. Diagnosis bakteriuria asimtomatik umumnya diketahui selama melakukan biakan urin dalam pemeriksaan rutin atau uji tapis pada anak sehat atau tanpa gejala klinis.[51] Jenis bakteri asimtomatik merupakan bakteri dengan virulensi rendah yang tidak mampu menyebabkan kerusakan ginjal meskipun berada di dalam ginjal. Bakteriuria asimtomatik tidak memerlukan terapi antibiotik.[52] Pada bayi asimtomatik, bakteriuria ditemukan dengan komposisi sebesar 0,3 hingga 0,4% saja.[53]

Malaria[sunting | sunting sumber]

Penderita malaria berada dalam kondisi asimtomatik selama fase awal infeksi. Periode ini ditandai oleh meningkatnya massa jenis sel darah merah secara eksponensial pada parasit aseksual. Kondisi asimtomatik berakhir ketika massa jenis sel darah merah telah mencapai nilai ambang demam. Spesies parasit menentukan nilai ambang demam yang mengakhiri kondisi asimtomatik. Parasit berupa Plasmodium vivax memulai infeksi pada rasio 100 parasit per satu, sedangkan Plasmodium falciparum memulai infeksi pada rasio 10.000 parasit per satu.[54] Jenis plasmodium malarie dalam kondisi amistomatik juga menimbulkan masalah pada proses transfusi darah dari pendonor darah ke pasien.[55] Malaria dengan kondisi asimtomatik umumnya terjadi di daerah yang sering mengalami endemi.[56]

Infeksi serviks[sunting | sunting sumber]

Kondisi asimtomatik sebagian besar terjadi pada wanita yang mengidap kencing nanah atau infeksi chlamydia akibat adanya infeksi di bagian serviks. Satu-satunya gejala yang teramati ialah duh tubuh. Pertanda ini bersifat sangat lemah dalam diagnosis infeksi serviks.[57]

Kandidiasis[sunting | sunting sumber]

Kandidiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh spesies candida albicans dan candida glabrata. Candida albicans menjadi penyebab paling umum. Jenis lainnya yaitu Candida tropicalis, Candida pseudotropicalis, Candida krusei dan Candida stellatoidea. Kondisi asimtomatik ditemukan pada candida yang berada di bagian traktus genitalis. Penderitanya sebagian besar adalah wanita sehat dalam kategori usia reproduksi.[58] Pada keadaan normal, candida berperan sebagai saprofit di vagina, mulut rahim dan saluran pencernaan. Jumlahnya sedikit dan tidak menimbulkan keluhan apapun bagi tubuh.[59]

Keracunan obat[sunting | sunting sumber]

Keracunan ibuprofen[sunting | sunting sumber]

Keracunan ibuprofen sebagian besar bersifat asimtomatik pada anak. Dosis ibuprofen pada kondisi asimtomatik rata-rata berada pada rentang 100 mg/kbBB. Pada sebagian kecil anak, dosis asimtomatik dapat mencapai 300 mg/kgBB. Kondisi asimtomatik pada keracunan ibuprofen membuat pasien harus memuntahkan obat atau melakukan bilas lambung. Keracunan ibuprofen juga dapat diatasi dengan mengonsumsi karbon aktif. Kondisi asimtomatik ini membat tidak ada antidot khusus terhadap keracunan ibuprofen.[60]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "The Significance of Diagnosing a Disease as Asymptomatic". Verywell Health. Diakses tanggal 15 Maret 2020. 
  2. ^ Trihono, Djer dan Citraresmi 2014, hlm. 5.
  3. ^ Suardana 2015, hlm. 56.
  4. ^ Suwandono, Agus, ed. (2019). Dengue Update: Menilik Perjalanan Dengue di Jawa Barat (PDF). Jakarta: LIPI Press. hlm. 29. ISBN 978-602-496-108-4. 
  5. ^ Tim Adaptasi Indonesia 2009, hlm. 189.
  6. ^ Trihono, dkk. 2012, hlm. 69.
  7. ^ Trihono, dkk. 2012, hlm. 70.
  8. ^ Yuniadi, dkk. 2014, hlm. 19.
  9. ^ Yuniadi, dkk. 2014, hlm. 72.
  10. ^ Hidayat, Meilinah (2018). Hidrolisat Protein dari Kacang polong (Pisum sativum. L) untuk Terapi Penyakit Ginjal Kronis (PDF). Bandung: Penerbit Alfabeta. hlm. 35. ISBN 978-602-289-453-7. 
  11. ^ Menon dan Kamarulzaman 2009, hlm. 66.
  12. ^ Menon dan Kamarulzaman 2009, hlm. 67.
  13. ^ Soelistijo, dkk. (2015). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2015 (PDF). Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. hlm. 57. ISBN 978-979-19388-6-0. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-11-28. Diakses tanggal 2021-03-26. 
  14. ^ Mansyur, Andi Makbul Aman (2018). Hipoglikemia dalam Praktik Kehidupan Sehari-hari (PDF). Makassar: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. hlm. 55. ISBN 978-602-61363-4-3. Pemantauan glukosa darah secara mandiri secara reguler merupakan cara yang paling efektif untuk mengetahui kecenderungan kadar glukosa darah dan mengidentifikasi terjadinya hipoglikemia asimptomatik. 
  15. ^ Sinta, dkk. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Neonatus, Bayi dan Balita (PDF). Sidoarjo: Indomedia Pustaka. hlm. 29. Selama hari pertama atau kedua kehidupan, gejala bervariasi dari asimtomatik ke SSP dan gangguan cardiopulmonary 
  16. ^ Trihono, dkk. 2012, hlm. 78-79.
  17. ^ Hadi, M.I., dan Kumalasri, M.L.F. (2017). Kusta Stadium Subklinis: Faktor Risiko dan Permasalahannya. Surabaya: Program Studi Arsitektur UIN Sunan Ampel. hlm. 28. ISBN 978-602-50337-3-5. 
  18. ^ Zuriati, Suriya dan Ananda 2017, hlm. 142-143.
  19. ^ Zuriati, Suriya dan Ananda 2017, hlm. 266.
  20. ^ Widaty, dkk. 2017, hlm. 29.
  21. ^ Widaty, dkk. 2017, hlm. 52.
  22. ^ Suardana 2015, hlm. 57.
  23. ^ a b Suardana 2015, hlm. 58.
  24. ^ Suardana 2015, hlm. 105.
  25. ^ Suardana 2015, hlm. 108.
  26. ^ Suardana 2015, hlm. 127.
  27. ^ Suardana 2015, hlm. 128.
  28. ^ Suardana 2015, hlm. 205-206.
  29. ^ Suardana 2015, hlm. 213.
  30. ^ Suardana 2015, hlm. 216-217.
  31. ^ Suardana 2015, hlm. 230.
  32. ^ Suardana 2015, hlm. 231.
  33. ^ Widarty. dkk. 2017, hlm. 67.
  34. ^ Suardana 2015, hlm. 236.
  35. ^ a b Burhan, dkk. 2020, hlm. 4.
  36. ^ Burhan, dkk. 2020, hlm. 38.
  37. ^ Sugihantono, dkk. (2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) (PDF). Jakarta Selatan: Kementerian Kesehatan RI. hlm. 107. 
  38. ^ Pariang, dkk. (2020). Panduan Praktis untuk Apoteker Menghadapi Pandemi COVID-19 (PDF). Jakarta Barat: PT. ISFI Penerbitan. hlm. 26. ISBN 978-623-94017-0-2. 
  39. ^ "Identifying CMV infection in asymptomatic newborns – one step closer?". www.mdedge.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-02-25. 
  40. ^ Trihono, Djer dan Citraresmi 2014, hlm. 7.
  41. ^ Ahyar, J., dan Muzir (2019). Kamus Istilah Ilmiah: Dilengkapi Kata Baku dan Tidak Baku, Unsur Serapan, Singkatan dan Akronim, dan Peribahasa (PDF). Sukabumi: CV. Jejak. hlm. 59. ISBN 978-602-474-705-3. 
  42. ^ Wulandari, N.A., dan Setiyorini, E. (2016). Asuhan Keperawatan pada ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) (PDF). Malang: Media Nusa Creative. hlm. 13–14. ISBN 978-602-6397-41-6. 
  43. ^ Menon dan Kamarulzaman 2009, hlm. 7.
  44. ^ Tim Adaptasi Indonesia 2009, hlm. 234.
  45. ^ Harlim 2019, hlm. 43.
  46. ^ Rahayu, dkk. (2017). Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Remaja dan Lansia (PDF). Surabaya: Airlangga University Press. hlm. 33. ISBN 978-602-6606-23-5. 
  47. ^ Harlim 2019, hlm. 44.
  48. ^ Widarty, dkk. 2017, hlm. 355.
  49. ^ Pardede, dkk. 2011, hlm. 5.
  50. ^ Pardede, dkk. 2011, hlm. 9.
  51. ^ Pardede, dkk. 2011, hlm. 2.
  52. ^ Pardede, dkk. 2011, hlm. 15.
  53. ^ Pardede, dkk. 2011, hlm. 4.
  54. ^ Arsin, Andi Arsunan (2012). Malaria di Indonesia: Tinjauan Aspek Epidemiologi (PDF). Makassar: Masagena Press. hlm. 161. 
  55. ^ Setyaningrum, Endah (2020). Mengenal Malaria dan Vektornya (PDF). Lampung Selatan: Pustaka Ali Imron. hlm. 22. ISBN 978-602-5857-32-4. 
  56. ^ Susanti, dkk. (2017). "Pengembangan Mikroskop dengan Mikrokontroler dan Cahaya Monokromatis untuk Mendeteksi Parasit Malaria". Jurnal Teknologi Laboratorium. 6 (2): 76. ISSN 2580-0191. 
  57. ^ Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (2015). Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2015 (PDF). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. hlm. 37. ISBN 978-602-235-950-0. 
  58. ^ Supriyatiningsih 2015, hlm. 14.
  59. ^ Supriyatiningsih 2015, hlm. 15.
  60. ^ Soedarmo, dkk. (2008). Buku Ajar lnfeksi dan Pediatri Tropis (PDF) (edisi ke-2). Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. hlm. 39. ISBN 979-8421-14-0. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Burhan, dkk. (2020). Pedoman Tatalaksana Covid-19 (PDF) (edisi ke-3). Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). ISBN 978-623-92964-9-0. 
  2. Harlim, Ago (2019). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (PDF). Jakarta: Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia. ISBN 978-602-1651-87-2. 
  3. Menon, A., dan Kamarulzaman, A. (2009). Inikah HIV? Buku Pegangan Petugas Kesehatan (PDF). Darlinghurst: The Australasian Society for HIV Medicine. ISBN 978-1-920773-73-1. 
  4. Pardede, dkk. (2011). Konsensus Infeksi Saluran Kemih pada Anak (PDF). Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. ISBN 978-979-8421-64-8. 
  5. Suardana, I Wayan (2015). Buku Ajar Zoonosis: Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia (PDF). Sleman: PT Kanisius. ISBN 978-979-21-4361-4. 
  6. Supriyatiningsih (2015). Monograf Penggunaan Vaginal Douvhing terhadap Kejadian Candidiasi pada Kasus Leukorea (PDF). Yogyakarta: Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. ISBN 978-602-7577-39-8. 
  7. Tim Adaptasi Indonesia (2009). Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota (PDF). Jakarta: World Health Organization Indonesia. 
  8. Trihono, Djer dan Citraresmi (2014). Practical Management in Pedriatric (PDF). Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta. ISBN 978-602-70285-0-0. 
  9. Trihono, dkk. (2012). Kegawatan pada Bayi dan Anak (PDF). Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. ISBN 978-979-8271-39-7. 
  10. Widarty, dkk. (2017). Panduan Praktis Klinis bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia (PDF). Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. ISBN 978-602-98468-9-8. 
  11. Yuniadi, dkk. (2014). Pedoman Tata Laksana Fibrilasi Atrium (PDF). Centra Communications. 
  12. Zuriati, Suriya, M., dan Ananda, Y. (2017). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Sistem Respirasi Aplikasi Nanda NIC dan NOC (PDF). Padang: Penerbit Sinar Ultima Indah. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]