Penyakit tidak menular

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Penyakit tidak menular
OsteoCutout.png
Seorang wanita tua yang menderita osteoporosis, salah satu penyakit tidak menular.

Penyakit tidak menular, disingkat PTM (bahasa Inggris: non-communicable disease, disingkat NCD), adalah penyakit yang tidak berpindah secara langsung dari satu individu ke individu lain. Jenis penyakit ini di antaranya penyakit Parkinson, penyakit autoimun, strok, sebagian besar penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, gagal ginjal kronis, osteoartritis, osteoporosis, penyakit Alzheimer, katarak, dan lain-lain. PTM dapat bersifat kronis atau akut. Sebagian besar PTM merupakan penyakit noninfeksi, meskipun ada beberapa penyakit infeksi yang tidak menular, seperti penyakit parasitik yang siklus hidup parasitnya tidak berpindah langsung dari inang ke inang.

PTM merupakan penyebab utama kematian secara global. Pada 2012, penyakit ini mengakibatkan 68% dari semua kematian (38 juta), naik dari 60% pada tahun 2000.[1] Sekitar setengah kematian tersebut dialami orang berusia di bawah 70 tahun dan setengahnya adalah wanita.[2] Faktor risiko seperti latar belakang seseorang, gaya hidup, dan lingkungan meningkatkan kemungkinan untuk menderita PTM tertentu. Setiap tahun, setidaknya 5 juta orang meninggal karena penggunaan tembakau dan sekitar 2,8 juta meninggal karena kelebihan berat badan. Kolesterol tinggi bertanggung jawab atas sekitar 2,6 juta kematian dan 7,5 juta orang meninggal karena tekanan darah tinggi.

Faktor risiko[sunting | sunting sumber]

Faktor risiko seperti latar belakang seseorang, gaya hidup, dan lingkungan diketahui meningkatkan kemungkinan untuk menderita PTM tertentu. Faktor-faktor ini termasuk usia, jenis kelamin, genetik, paparan polusi udara, dan perilaku seperti merokok, diet yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik yang dapat mengakibatkan hipertensi dan obesitas, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan risiko banyak PTM. Sebagian besar PTM dianggap dapat dicegah karena disebabkan oleh faktor risiko yang dapat diubah.

Laporan Kesehatan Dunia 2002 yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi lima faktor risiko penting untuk PTM dalam sepuluh besar risiko kesehatan. Kelima faktor tersebut adalah peningkatan tekanan darah, peningkatan kolesterol, penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, dan kelebihan berat badan. Faktor-faktor lain yang terkait dengan risiko PTM yang lebih tinggi termasuk kondisi ekonomi dan sosial seseorang, juga dikenal sebagai "penentu sosial kesehatan."

Diperkirakan bahwa jika faktor risiko utama dihilangkan, 80% kasus penyakit jantung, strok, dan diabetes tipe 2, serta 40% kanker dapat dicegah. Intervensi yang menargetkan faktor risiko utama dapat berdampak signifikan pada pengurangan beban penyakit di seluruh dunia. Upaya yang difokuskan pada perbaikan diet dan peningkatan aktivitas fisik telah terbukti mengendalikan prevalensi PTM.

Penyakit lingkungan[sunting | sunting sumber]

PTM mencakup banyak penyakit lingkungan, yaitu kondisi kesehatan yang dapat dihindari dan tidak dapat dihindari yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti sinar matahari, nutrisi, polusi, dan pilihan gaya hidup. Penyakit kemakmuran (penyakit yang dianggap sebagai hasil dari meningkatnya kekayaan dalam masyarakat) adalah penyakit noninfeksi yang diakibatkan oleh lingkungan, misalnya:

Penyakit turunan[sunting | sunting sumber]

Penyakit genetik disebabkan oleh kesalahan dalam informasi genetik yang menghasilkan penyakit. Asal-usul kesalahan genetik ini dapat berupa:

  • Kesalahan spontan atau mutasi pada genom:
    • Perubahan jumlah kromosom, seperti sindrom Down.
    • Kelainan pada gen yang disebabkan oleh mutasi, seperti fibrosis sistik. Fibrosis sistik adalah contoh penyakit turunan yang diakibatkan oleh mutasi pada gen. Gen yang rusak mengganggu gerakan normal natrium klorida yang masuk dan keluar sel, yang menyebabkan organ penghasil lendir memproduksi lendir kental yang tidak normal. Gen tersebut bersifat resesif, artinya seseorang harus memiliki dua salinan gen yang salah agar mereka menderita penyakit ini. Fibrosis sistik memengaruhi sistem pernapasan, pencernaan, dan reproduksi, serta kelenjar keringat. Lendir yang dikeluarkan sangat tebal dan menghalangi jalan di paru-paru dan saluran pencernaan. Lendir ini mengakibatkan masalah pernapasan dan pencernaan, serta penyerapan nutrisi.
    • Peningkatan jumlah informasi genetik, seperti kimerisme atau heterokromia.
  • Kesalahan genetik bawaan dari orang tua:
    • Penyakit gen dominan, seperti penyakit Huntington, yang membutuhkan pewarisan satu gen yang salah untuk diekspresikan.
    • Penyakit gen resesif, yang membutuhkan pewarisan gen-gen yang salah untuk diekspresikan dan hal ini merupakan salah satu alasan gen-gen tersebut bekerja bersama.

Kesehatan global[sunting | sunting sumber]

Kematian akibat PTM per juta penduduk pada 2012.
  688-2.635
  2.636-2.923
  2.924-3.224
  3.225-3.476
  3.477-4.034
  4.035-4.919
  4.920-5.772
  5.773-7.729
  7.730-8.879
  8.880-13.667

PTM sering disebut sebagai penyakit gaya hidup, karena sebagian besar penyakit ini adalah penyakit yang dapat dicegah. Penyebab PTM yang paling umum di antaranya penggunaan tembakau (merokok), penyalahgunaan alkohol, diet yang buruk (konsumsi tinggi gula, garam, lemak jenuh, dan asam lemak trans) dan tidak aktif secara fisik. Saat ini, PTM membunuh 36 juta orang per tahun, jumlah yang diperkirakan akan meningkat 17–24% dalam dekade berikutnya.[3]

Secara historis, banyak PTM dikaitkan dengan pembangunan ekonomi dan disebut "penyakit orang kaya". Namun, beban PTM di negara-negara berkembang telah meningkat, dengan perkiraan bahwa 80% dari empat PTM utama (penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes) terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. WHO menerbitkan Rencana Aksi untuk Strategi Global Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular,[4] dan dengan dua per tiga orang yang terkena diabetes ternyata tinggal di negara-negara berkembang, PTM tidak lagi dapat dianggap sebagai masalah yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi. WHO melaporkan bahwa kematian akibat PTM terus meningkat, dengan negara berkembang yang paling terpukul. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, pada tahun 2008 saja, PTM adalah penyebab 63% kematian di seluruh dunia; angka yang diperkirakan akan meningkat pesat dalam waktu dekat jika tidak ada tindakan yang diambil.

Jika tren pertumbuhan tetap dipertahankan, pada tahun 2020, PTM akan berkaitan dengan 7 dari setiap 10 kematian di negara-negara berkembang, dan menewaskan 52 juta orang setiap tahun di seluruh dunia pada tahun 2030. Dengan statistik seperti ini, tidak mengherankan jika entitas internasional seperti WHO dan Jaringan Pengembangan Manusia Bank Dunia telah mengidentifikasi pencegahan dan pengendalian PTM sebagai bahan diskusi yang semakin penting dalam agenda kesehatan global.

Dengan demikian, ketika pembuat kebijakan dan masyarakat menggerakkan dan memprioritaskan pencegahan dan pengobatan PTM, langkah-langkah berkelanjutan dapat diterapkan untuk menghentikan (atau bahkan menurunkan) munculnya ancaman kesehatan global ini. Langkah-langkah potensial yang saat ini sedang dibahas oleh WHO dan FAO termasuk mengurangi kadar garam dalam makanan, membatasi pemasaran makanan yang tidak sehat dan minuman nonalkohol yang tidak pantas kepada anak-anak, mengendalikan penggunaan alkohol berbahaya, menaikkan pajak atas tembakau, dan mendukung undang-undang untuk menghentikan merokok di tempat umum.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Sebelumnya, PTM kronis dianggap sebagai masalah yang sebagian besar terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, sementara penyakit menular tampaknya memengaruhi negara-negara berpenghasilan rendah. Beban penyakit yang dihubungkan dengan PTM diperkirakan sebesar 85% di negara berpenghasilan tinggi, 70% di negara berpenghasilan menengah, dan hampir 50% di negara berpenghasilan rendah.[5] Pada tahun 2008, PTM kronis menyumbang lebih dari 60% (lebih dari 35 juta) dari 57 juta kematian di seluruh dunia. Mengingat distribusi populasi global, hampir 80% kematian akibat PTM kronis di seluruh dunia sekarang terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, sementara hanya 20% yang terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Ekonomi nasional dilaporkan menderita kerugian yang signifikan karena kematian dini atau ketidakmampuan bekerja akibat penyakit jantung, strok, dan diabetes. Tiongkok, misalnya, diperkirakan akan kehilangan sekitar $558 miliar pendapatan nasional antara 2005 dan 2015 karena kematian dini. Pada tahun 2005, penyakit jantung, strok, dan diabetes diperkirakan menyebabkan kerugian dalam dolar internasional sebanyak 9 miliar pendapatan nasional di India dan 3 miliar di Brasil.[5]

Penyakit kunci[sunting | sunting sumber]

Kanker[sunting | sunting sumber]

Bagi sebagian besar kanker, faktor risikonya berkaitan dengan lingkungan atau gaya hidup, sehingga sebagian besar kanker dapat dicegah dan merupakan penyakit tidak menular.[6] Lebih dari 30% kanker dapat dicegah dengan menghindari faktor risikonya, termasuk tembakau, kelebihan berat badan atau obesitas, asupan buah dan sayur yang rendah, kurang bergerak, alkohol, penyakit menular seksual, dan polusi udara.[7] Agen infeksi bertanggung jawab atas beberapa kanker, misalnya hampir semua kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia.

Penyakit kardiovaskular[sunting | sunting sumber]

Studi pertama tentang kesehatan jantung dilakukan pada tahun 1949 oleh Jerry Morris menggunakan data kesehatan kerja dan diterbitkan pada tahun 1958.[8] Penyebab, pencegahan, dan/atau perawatan semua bentuk penyakit kardiovaskular tetap menjadi bidang aktif penelitian biomedis, dengan ratusan studi ilmiah diterbitkan setiap minggu. Tren ini muncul, khususnya pada awal 2000-an, dengan berbagai studi yang mengungkapkan hubungan antara makanan cepat saji dan peningkatan penyakit jantung.

Penekanan yang cukup baru adalah pada hubungan antara peradangan tingkat rendah yang menandai aterosklerosis dengan kemungkinan intervensinya. Protein C-reaktif (CRP) adalah penanda peradangan umum yang mengalami peningkatan kadar pada orang-orang yang berisiko menderita penyakit kardiovaskular.[9] Reseptor osteoprotegerin yang terlibat dalam pengaturan faktor transkripsi peradangan utama yang disebut NF-κB ditemukan sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular dan kematian.[10][11]

Diabetes[sunting | sunting sumber]

Diabetes melitus tipe 2 merupakan suatu kondisi kronis yang sebagian besar dapat dicegah dan dikelola tetapi sulit disembuhkan. Manajemen penyakit berfokus pada menjaga kadar gula darah sedekat mungkin dengan normal (euglisemia) tanpa menimbulkan bahaya yang tidak perlu pada penderitanya. Hal ini biasanya dapat dilakukan dengan pengaturan diet yang ketat, olahraga, dan penggunaan obat-obatan yang sesuai (hanya insulin dalam kasus diabetes mellitus tipe 1, sementara obat oral dan insulin dapat digunakan dalam kasus diabetes tipe 2).

Pendidikan, pemahaman, dan partisipasi penderita sangat penting karena komplikasi diabetes jauh lebih jarang terjadi dan efeknya kurang parah pada orang dengan pengelolaan kadar gula darah yang baik.[12][13] Masalah kesehatan yang lebih luas dapat mempercepat efek buruk diabetes, di antaranya merokok, kadar kolesterol tinggi, obesitas, tekanan darah tinggi, dan kurang olahraga teratur.

Penyakit ginjal kronis[sunting | sunting sumber]

Meskipun penyakit ginjal kronis (PGK) saat ini tidak diidentifikasi oleh WHO sebagai salah satu target utama pengendalian PTM global, ada bukti kuat bahwa PGK tidak hanya umum ditemukan, berbahaya, dan dapat diobati, tetapi juga merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian dan merupakan hasil dari setidaknya tiga penyakit yang ditargetkan oleh WHO (diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskular).[14] PGK merupakan predisposisi kuat bagi hipertensi dan penyakit kardiovaskular; diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular merupakan semua penyebab utama PGK; dan faktor risiko utama untuk diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular (seperti obesitas dan merokok) juga mengakibatkan atau memperburuk PGK. Selain itu, di antara orang-orang dengan diabetes, hipertensi, atau penyakit kardiovaskular, mereka yang juga memiliki PGK berada pada risiko tertinggi untuk status kesehatan terburuk dan biaya perawatan yang tinggi. Dengan demikian, PGK, diabetes, dan penyakit kardiovaskular merupakan kondisi yang berkaitan erat dan sering timbul bersamaan; memiliki faktor risiko dan tindakan perawatan yang serupa; serta pencegahan dan pengendaliannya akan dipermudah dengan pendekatan global yang terkoordinasi.

Penyakit pernapasan kronis[sunting | sunting sumber]

Penyakit pernapasan kronis merupakan penyakit paru-paru dan saluran udara. Menurut WHO, ratusan juta orang menderita penyakit ini setiap hari.[15] Jenis penyakit yang umum adalah asma, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit paru akibat pekerjaan, dan hipertensi paru.[16] Walaupun tidak dapat disembuhkan, berbagai perawatan tersedia untuk membantu meningkatkan kualitas hidup bagi individu yang memilikinya. Sebagian besar perawatan melibatkan pelebaran saluran udara utama untuk mengatasi sesak napas dibandingkan penanganan gejala lainnya.[16] Faktor risiko utama untuk penyakit-penyakit ini yaitu merokok tembakau, polusi udara dalam dan luar ruangan, alergen, dan risiko kerja.[15]

WHO meluncurkan Aliansi Global Menentang Penyakit Pernapasan Kronis (GARD) pada tahun 2006.[17] GARD secara sukarela terdiri dari organisasi nasional dan internasional dan bekerja untuk "mengurangi beban global penyakit pernapasan kronis" dan berfokus terutama pada populasi yang rentan dan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.[17][18]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "The top 10 causes of death". World Health Organization. Diakses tanggal 24 May 2015. 
  2. ^ "Noncommunicable diseases". World Health Organization. Diakses tanggal April 5, 2016. 
  3. ^ "Non-Communicable Diseases Deemed Development Challenge of 'Epidemic Proportions' in Political Declaration Adopted During Landmark General Assembly Summit". United Nations. Department of Public Information. 19 September 2011. Diakses tanggal 14 March 2014. 
  4. ^ Organisasi Kesehatan Dunia (2008), 2008–2013 Action Plan for the Global Strategy for the Prevention and Control of Non-Communicable Diseases (PDF), Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia 
  5. ^ a b "Preventing Chronic Diseases a Vital Investment". Cataloguing-in-Publication Data. World Health Organization. 2005. 
  6. ^ Danaei G, Vander Hoorn S, Lopez AD, Murray CJ, Ezzati M (November 2005). "Causes of cancer in the world: comparative risk assessment of nine behavioural and environmental risk factors". Lancet. 366 (9499): 1784–93. doi:10.1016/S0140-6736(05)67725-2. PMID 16298215. 
  7. ^ "Cancer". World Health Organization. Diakses tanggal 2011-01-09. 
  8. ^ Morris JN, Crawford MD (December 1958). "Coronary heart disease and physical activity of work; evidence of a national necropsy survey". Br Med J. 2 (5111): 1485–96. doi:10.1136/bmj.2.5111.1485. PMC 2027542alt=Dapat diakses gratis. PMID 13608027. 
  9. ^ Karakas M, Koenig W (December 2009). "CRP in cardiovascular disease". Herz. 34 (8): 607–13. doi:10.1007/s00059-009-3305-7. PMID 20024640. 
  10. ^ Lieb W, Gona P, Larson MG, Massaro JM, Lipinska I, Keaney JF, Rong J, Corey D, Hoffmann U, Fox CS, Vasan RS, Benjamin EJ, O'Donnell CJ, Kathiresan S (September 2010). "Biomarkers of the osteoprotegerin pathway: clinical correlates, subclinical disease, incident cardiovascular disease, and mortality". Arterioscler. Thromb. Vasc. Biol. 30 (9): 1849–54. doi:10.1161/ATVBAHA.109.199661. PMC 3039214alt=Dapat diakses gratis. PMID 20448212. 
  11. ^ Venuraju SM, Yerramasu A, Corder R, Lahiri A (May 2010). "Osteoprotegerin as a predictor of coronary artery disease and cardiovascular mortality and morbidity". J. Am. Coll. Cardiol. 55 (19): 2049–61. doi:10.1016/j.jacc.2010.03.013. PMID 20447527. 
  12. ^ Nathan DM, Cleary PA, Backlund JY, Genuth SM, Lachin JM, Orchard TJ, Raskin P, Zinman B (December 2005). "Intensive diabetes treatment and cardiovascular disease in patients with type 1 diabetes". N. Engl. J. Med. 353 (25): 2643–53. doi:10.1056/NEJMoa052187. PMC 2637991alt=Dapat diakses gratis. PMID 16371630. 
  13. ^ "The effect of intensive diabetes therapy on the development and progression of neuropathy. The Diabetes Control and Complications Trial Research Group". Ann. Intern. Med. 122 (8): 561–8. April 1995. doi:10.7326/0003-4819-122-8-199504150-00001. PMID 7887548. 
  14. ^ Zhang QL, Rothenbacher D (April 2008). "Prevalence of chronic kidney disease in population-based studies: systematic review". BMC Public Health. 8: 117. doi:10.1186/1471-2458-8-117. PMC 2377260alt=Dapat diakses gratis. PMID 18405348. 
  15. ^ a b "WHO | About chronic respiratory diseases". www.who.int. Diakses tanggal 2018-10-31. 
  16. ^ a b "Chronic respiratory diseases (CRDs)". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-31. 
  17. ^ a b "Global Alliance against Chronic Respiratory Diseases". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-31. 
  18. ^ "Global Alliance against Chronic Respiratory Diseases". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-31.