Bahasa Melayu Kuno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Melayu Kuna)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bahasa Melayu Kuno
KedukanBukit001.jpg
WilayahSumatra, Semenanjung Melayu, Jawa
EraAbad 7–10 M
Aksara Pallawa
Kode bahasa
ISO 639-3
Glottologoldm1243[1]

Bahasa Melayu Kuno (atau Melayu Kuno, kadang-kadang disebut pula Melayu Tua, bahasa Inggris: Old Malay, OM) adalah nama yang digunakan untuk menyebut bahasa yang digunakan dalam beberapa prasasti yang ditemukan di Sumatra dan Jawa dari sekitar abad ke-7 hingga abad ke-10 M. Sebagian besar prasasti yang menjadi sumber corpus Melayu Kuno berkaitan dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya.[2] Nama "Melayu Kuno" mengindikasikan bahwa bahasa ini merupakan pendahulu dari bahasa Melayu Modern dan bahasa Melayu Klasik namun para ahli memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut, begitupun terhadap persoalan apakah bahasa ini adalah salah satu anggota rumpun bahasa Melayik.[3][4][5][6]

Bahasa Melayu Kuno yang ditemukan dalam prasasti-prasasti sumber memakai banyak kosakata bahasa Sanskerta dan ditulis menggunakan aksara Pallawa yang merupakan aksara Brahmi sehingga terdapat beberapa penyesuaian yang ditemukan untuk mengakomodasi fonologi Melayu Kuno yang berbeda dengan Sanskerta.[7]

Nama[sunting | sunting sumber]

Para arkeolog dan linguis pada awalnya tidak menggunakan nama tertentu untuk menyebut bahasa yang digunakan pada prasasti-prasasti berbahasa Melayu yang ditemukan di Sumatra dan Jawa. Linguis Charles Otto Blagden (1913) dan arkeolog George Cœdès (1930) menggunakan penyebutan seperti "bentuk kuno" atau "teks paling kuno" dari bahasa Melayu sedangkan linguis Gabriel Ferrand menggunakan nama malayo-sanscrit ("Melayu-Sanskerta") dalam tulisannya pada tahun 1932.[a][10] Indolog J. G. de Casparis mulai menggunakan nama Oud-Maleise ("Melayu Tua") dalam bukunya Prasasti Indonesia jilid pertama yang terbit tahun 1950.[11] Nama tersebut kemudian digunakan oleh sastrawan A. Teeuw dalam tulisan singkatnya tahun 1959 mengenai sejarah bahasa Melayu.[12]

Sumber-sumber bahasa Melayu Kuno[sunting | sunting sumber]

Meskipun tidak terlalu banyak, ada cukup sumber naskah atau tulisan yang dapat dipelajari sehingga orang dapat mendapat gambaran mengenai aspek kebahasaan bahasa ini.

Bahasa Melayu Kuno ditemukan pada prasasti-prasasti berikut (tidak lengkap):

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Bahasa Melayu Kuno merupakan sebuah bahasa Melayu–Polinesia namun belum terdapat konsensus mengenai kedudukannya di dalam rummpun bahasa tersebut. Beberapa linguis seperti Alexander Adelaar dan René van den Berg menyebutkan bahwa bahasa Melayu Kuno merupakan leluhur dari bahasa Melayu saat ini, dengan demikian menempatkan bahasa Melayu Kuno di dalam rumpun bahasa Melayik.[6][4]

Ciri[sunting | sunting sumber]

Dari berbagai sumber naskah dan prasasti tampak sekali pengaruh dari bahasa Sanskerta melalui banyak kata-kata yang dipinjam dari bahasa itu serta bunyi-bunyi konsonan aspiratif seperti bh, ch, th, ph, dh, kh, h (Contoh: sukhatchitta). Namun struktur kalimat jelas bersifat Melayu atau Austronesia, seperti adanya imbuhan (affix). Imbuhan-imbuhan ini dapat dilacak hubungannya dengan bentuk imbuhan bahasa Melayu Klasik atau bahasa Melayu[19], seperti awalan mar- (ber- dalam bahasa Melayu Klasik dan Melayu), ni- (di-), nipar- (diper-), maN- (meN-), ka- (ter-, juga ke pada bahasa Betawi), dan maka- (ter-).

Pronomina (kata ganti) pribadi, seperti juga bahasa Melayu, juga terdiri dari pronomina independen dan pronomina ekliktik (genitif)[20]: 1s = aku, -ku/-nku, 2p = kamu, mamu, 3s = iya, nya, 3p (hormat) = sida, -da,-nda, 2p (divinum) = kita, -ta/-nta.

Dua dialek telah diduga oleh Aichelle pada tahun 1942 dan A. Teeuw sejak 1959[21]: Dialek prasasti Sumatra: ni-/var- dan dialek luar Sumatra di-/bar-.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "... an archaic form of speech allied to Malay." dalam Blagden (1913) dan "... les plus anciens textes malais ..." dalam Cœdès (1930).[8][9]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Old Malay". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  2. ^ Mahdi 2005, hlm. 182.
  3. ^ Teeuw 1959, hlm. 141-142.
  4. ^ a b van den Berg 2004, hlm. 536-541.
  5. ^ Ross 2004, hlm. 98.
  6. ^ a b Adelaar 2008, hlm. 244-245.
  7. ^ Vikør 1988, hlm. 67-68.
  8. ^ Blagden 1913, hlm. 69.
  9. ^ Cœdès 1930, hlm. 30.
  10. ^ Ferrand 1932, hlm. 271.
  11. ^ de Casparis 1950, hlm. 50.
  12. ^ Teeuw 1959, hlm. 141.
  13. ^ Coedes, George, (1930), Les inscriptions malaises de Çrivijaya, BEFEO.
  14. ^ a b c d e Situs "The History of Pasuruan Regency"
  15. ^ Situs Kabupaten Batang, diakses 7 Juni 2007
  16. ^ Muljana, Slamet, 1981, Kuntala, Sriwijaya Dan Suwarnabhumi, Jakarta: Yayasan Idayu, hlm. 223.
  17. ^ Casparis, J. G. de., (1992), Kerajaan Malayu dan Adityawarman, Seminar Sejarah Malayu Kuno, Jambi, 7-8 Desember 1992. Jambi: Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi bekerjasama dengan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jambi, hlm. 235-256.
  18. ^ Kozok, Uli, (2006), Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-603-6.
  19. ^ Mahdi W. 2005. Old Malay. Dalam: Adelaar K.A. & Himmelmann N. (penyunting) The Austronesian languages of Asia and Madagascar. Routledge. Hal. 197.
  20. ^ Mahdi W. 2005. ibid.. Hal. 196.
  21. ^ Mahdi W. 2005. ibid.. Hal. 183.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Adelaar, A. (2008). "Review of Papers in Austronesian Subgrouping and Dialectology". Oceanic Linguistics. 47 (1): 240–246. JSTOR http://www.jstor.org/stable/20172347. 
  • Blagden, C. O. (1913). "The Kota Kapur (Western Bangka) inscription". Journal of the Straits Branch. 65 (37): 69–71. 
  • Ferrand, G. (1932). "Quatre textes épigraphiques malayo-sanskrits de Sumatra et de Baṅka". Journal asiatique. CCXXI: 271–326. 
  • Mahdi, W. (2005). "Old Malay". Dalam Adelaar, K. A.; Himmelmann, N. The Austronesian languages of Asia and Madagascar. Oxford: Routledge. hlm. 182–200. 
  • Ross, M. D. (2004). "Notes on the prehistory and internal subgrouping of Malayic". Dalam Bowden, J.; Himmelman, N. Papers in Austronesian subgrouping and dialectology. Canberra: Pacific Linguistics. hlm. 97–109. doi:10.15144/PL-563. 
  • Teeuw, A. (1959). "The history of the Malay language. A preliminary survey". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde. 115 (2): 138–156. doi:10.1163/22134379-90002240. 
  • van den Berg, R. (2004). "Some notes on the origin of Malay di-". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 160 (4): 532–554. JSTOR 27868165. 
  • Vikør, L. S. (1988). "The spelling and phonology of Old Malay". Perfecting Spelling: Spelling discussions in Indonesia and Malaysia 1900–1972. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 133. Dordrecht: Foris Publications. hlm. 67–88.