Prasasti Manjusrigrha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Prasasti Manjusrigrha adalah prasasti berangka tahun 714 Saka (792 M), tertulis dalam bahasa Melayu kuno dengan huruf Jawa kuno.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1960, terukir di atas balok batu andesit berukuran 71 cm x 42 cm x 29 cm, di sisi kanan tangga masuk candi perwara[1] no. 202, pada sisi barat kompleks Candi Sewu, Klaten, Jawa Tengah. Candi Sewu terletak sekitar 800 meter di utara candi Prambanan.

Prasasti ini bersifat keagamaan Buddhis.[2] Isinya memuat penyempurnaan atau perluasan prasada (bangunan suci agama Buddha) Wajrasana Manjusrigrha oleh seorang tokoh bernama Dang Nayaka Dirandalurawa. Ia mempersembahkannya bagi Sri Nareswara, yang telah menjelma ke alam kedewataan.

Terjemahan isi[sunting | sunting sumber]

Prasasti ini terdiri atas 16 baris. Berikut terjemahan sementara oleh Kusen:

"Pada tahun 714 Saka, bulan Karttika tanggal 14 Paruh Terang, Jumat, Nas, Pon, Dang Nayaka Dirandalurawa menyempurnakan prasada bernama Wajrasana Manjusrigrha. Puaslah hati mereka yang ikut bergotong-royong. Setelah Dang Hyang Dasadisa selesai diwujudkan dalam usaha mulia tersebut. Orang dari segala penjuru berdatangan untuk mengagumi persembahan (bangunan) dari orang-orang yang telah meninggal dan berkorban. Dari segala penjuru orang-orang hadir. Semua makhluk hidup, semua penduduk kanayakan, semua makhluk yang terlindung, dan semua penduduk desa-desa yang ikut dalam usaha mulia tersebut terlihat sangat senang dengan cepat selesainya Manjusrigrha bangunan yang berpuncak serba indah. Prasada ini merupakan persembahan mulia Srinareswara yang telah menjelma ke alam kedewaan. Orang-orang yang hina terlunta-lunta dengan budak yang bodoh lagi gelisah, tak berdaya mengerti maksud perintah Narendra sebagai sarana (?) dunia. Perintahnya kujunjung terus sampai mati, demikian pula apapun karyanya yang terlihat olehku sebagai kusir yang baik. Kepandaian, karya tuanku, pikiran tuanku yang menyejukkan, perhatian tuan yang teguh tak tergoyahkan merupakan makanan yang tak ternoda. Buah perbuatan mulia yang kuperoleh dari perintah Nareswara kepada manusia dan juga dari perlindungan tuan adalah keutamaan".

Penafsiran isi[sunting | sunting sumber]

Prasasti ini menerangkan mengenai perbaikan dan penyempurnaan bangunan suci agama Buddha (prasada) Wajrasana yang menyimpan arca Manjusri. Hal ini jelas menunjukkan pengaruh aliran Buddha TantrayanaVajrayana. Candi yang dipersembahkan untuk Manjusri ini tak lain adalah Candi Sewu.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Candi perwara adalah candi pengawal berukuran lebih kecil dari candi utama.
  2. ^ Rahardjo, Supratikno (2011). Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir, cet. 2, hlm. 475. Komunitas Bambu, Jakarta.