Masjid Jami' Al-Makmur Kriyan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Masjid Jami' Al-Makmur Kriyan
Berkas:Masjid Jami' Al-Makmur Kriyan Jepara.JPG
Masjid Jami' Al-Makmur Kriyan
Informasi umum
LetakJepara, Jawa Tengah, Indonesia
Afiliasi agamaIslam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitekturMasjid
Gaya arsitekturJaawa (Masjid)
Arab (Menara)
Spesifikasi
Kubah3
Menara3
Tinggi menara5 meter

Masjid Jami' Al-Makmur Kriyan merupakan salah satu masjid tua di Kabupaten Jepara. Namun kini sudah direnovasi secara total menyeluruh, hingga tidak ada lagi arsitektur ataupun peninggalan dari masjid pertama dibangun.

Sejarah=[sunting | sunting sumber]

Pendiri Masjid Jami' Al-Makmur Kriyan adalah Raden Kusuma Abdul Jalil dari Desa Kendengsidialit yang disebut pula dengan nama Mbah Sidiq, putra dari Raden Abdul Kadir Syarif Hidayatullah Cirebon yang diberi gelar Sunan Gunungjati. Tanah tempat berdirinya masjid tersebut, konon pada mulanya merupakan rawa yang dinamakan "Rawa Mbes", karena tanahnya merupakan lumpur yang selalu mengeluarkan air (Jawa: ngembes). Hingga tiang-tiang masjid tadi sangat susah ditegakkan, dan baru berhasil setlah tanah rawa itu ditabur abu oleh Raden Kusuma alias Mbah Sidiq tersebut.

Pemugaran[sunting | sunting sumber]

  • Pemugaran Pertama (1938 M)

Usaha pemugaran yang pertama dilakukan masyarakat setempat pada tahun 1938. Untuk pemugaran yang pertama dilakukan menyeluruh, yaitu meliputi pembongkaran total dan membangun baru bagian induk dan menambaah ruang wanita dan tempat wudhu. Hingga yang tampak masih asli tinggal bagian Mustaka (kubah Jawa) yang kabarya dibuat dari tanah liat. Pemugaran bagian induk menelan biayya Rp.12,7 Jutta lebih yang di peroleh dari amal jariyah keluarga HM Sulchan, seorang pengusahawan di Kota Semarang.

  • Pemugaran Kedua (2018 M)

Usaha pemugaran yang kedua dilakukan masyarakat setempat pada tahun 2018. Untuk pemugaran yang kedua dilakukan menyeluruh, yaitu meliputi pembongkaran total dan membangun baru bagian induk, ruang wanita, tempat wudhu, menambah 3 menara dan menambah taman. Kini sama sekali tidak ada bagian yang masih asli peninggalan yang pertama kali dibangun Mbah Sidiq, hanya saja masjid inii masuh menggunakan Mustaka (kubah Jawa) meskipun mustakanya mustaka baru.


Tradisi[sunting | sunting sumber]

Masjid ini terdapat tradisi yang sudah ada sejak dahulu, yaitu:

  • Air Keramat

Air sumur masjid Al-Ma'mur biasanya "dipercaya" digunakan untuk mengikhtiyari orang sakit khusuanya anak-anak yang sakit tidak sembuh-sembuh, seperti sakit panas dengan cara wajahnya dibasuh dengan air dari pancuran yang digunakan untuk berwudhu. Seorang warga Kriyan pada waktu istri mengalami kesulitan melahirkan, karena sudah masuk klinik mulai jam 5 pagi sampai jam 3 pagi belum juga lahir, maka bidan yang menangani, memberi tahu jika jam 6.30 belum lahir maka akan dirujuk ke rumah sakit untuk dicecar sebab dihawatirkan bayi dalam kandungan melemah. Setelah sholat shubuh, karena tidak kuat menahan kantuk, warga tersebut tidur dan bermimpi ada yang laki-laki tua berbicara agar saya, mengambil air Masjid Al-Ma'mur, setelah terbangun, ia masih ragu dengan mimpi yang saya alami. Akhirnya ia mengambil air tersebut dan di usapkan pada perut istri, setelah sekitar 5 menit ada kontraksi dan akhirnya tepat jam 6.30 lahirlah seorang bayi. masih banyak manfaat Air masjid kriyan ini, untuk kebutuhan-kebutuhan masyarakat sekitar, dan sampai sekarang masih banyak di yakini masyarakat sekitar Kalinyamatan. Bagi yang mengambil air, jangan lupa untuk meninggalkan sedekah di masjid, insya Allah keberkahan akan turun atas hajat.

  • Pengantin Kelilingi Masjid

Pengantin yang baru saja menikah biasanya setelah akad nikah pasangan pengantin tersebut ke masjid Al-Makmur Kriyan untuk mengelilingi eksterior (bagian luar) masjid dengan arah melawan jarum jam. Tak hanya masyarakat Desa Kriyan tapi juga ada warga Desa Telukwetan, Kendengsidialit, juga melakukan tradisi mengelilingi Masjid Al-Makmur ini setelah pasangan pengantin melaksanakan Ijab Kabul.

  • Baratan

Kata “baratan” berasal dari sebuah kata Bahasa Arab, yaitu “baraah” yang berarti keselamatan atau “barakah” yang berarti keberkahan. Kegiatan dipusatkan di Masjid Al Makmur Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan. Ritualnya sederhana, yaitu setelah salat maghrib, umat islam desa setempat tidak langsung pulang. Mereka tetap berada di masjid / musholla untuk berdo’a bersama. Surat Yasin dibaca tiga kali secara bersama-sama dilanjutkan salat isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa nishfu syakban dipimpin ulama / kiai setempat, setelah itu makan (bancaan) nasi puli dan melepas arak-arakan Impes.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]