Lokomotif D301

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lokomotif D301
Lokomotif D301
D 301 28 melangsir KA Cirebon Ekspres di Stasiun Cirebon
Data teknis
Sumber tenagaDiesel hidraulik
ProdusenFried. Krupp (Jerman)
ModelKrupp-M350D2
Tanggal dibuat1962-1963
Jumlah dibuat80 unit
Spesifikasi roda
Susunan roda AARD
Klasifikasi UICD'
Dimensi
Lebar sepur1.067 mm
Panjang7.370 mm
Lebar2.700 mm
Tinggi maksimum3.650 mm
Jarak antara alat perangkai8.980 mm
Jarak antarpivot-
Tinggi alat perangkai760 mm
Berat
Berat kosong26,6 ton
Berat siap28 ton
Berat adhesi28 ton
Bahan bakar
Kapasitas bahan bakar1.050 liter
Kapasitas pelumas90 liter
Kapasitas air pendingin225 liter
Kapasitas bak pasir300 liter
Sistem mesin
Motor traksi1 unit
Tipe: Fried Krupp 2W1L4 - 15
Kinerja
Kecepatan maksimum50 km/jam
Daya mesin340 hp
Daya ke generator/converter305 hp
Lain-lain
Tipe kompresorErhand S Schmer Westinghouse ISO-105
Karier
Perusahaan pemilikPT Kereta Api Indonesia
Mulai dinas1962

Lokomotif D 301 adalah lokomotif diesel hidraulik buatan pabrik Fried Krupp, Jerman. Lokomotif ini mulai dinas sejak 1962, dan lokomotif ini merupakan adik dari lokomotif D 300 yang memiliki model serupa dan diproduksi oleh pabrik yang sama. Lokomotif ini bergandar D', artinya lokomotif ini memiliki empat gandar penggerak.

Lokomotif ini berdaya mesin sebesar 340 HP. Lokomotif ini biasa digunakan untuk melangsir kereta penumpang ataupun kereta barang, dan sesekali menarik kereta api jarak pendek apabila dibutuhkan. Lokomotif ini dapat berjalan dengan kecepatan maksimum yaitu 50 km/jam, meskipun seringkali dijalankan dengan kecepatan lebih rendah dari itu karena dinasan langsir pada umumnya dilakukan pada kecepatan rendah.

Lokomotif ini terdapat di berbagai dipo lokomotif dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari D 300, maka hampir seluruh dipo lokomotif di Pulau Jawa memiliki lokomotif D 301 sebagai lokomotif langsirnya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebanyak 80 unit[1] lokomotif D 301 hadir di Indonesia pada tahun 1962 dan digunakan untuk langsiran seperti halnya lokomotif D 300. Sejak awal dinasnya, lokomotif ini memang diutamakan untuk dinas langsiran kereta api, menggantikan lokomotif uap kecil seperti C11, C12, C13, C14, dan C15. Kegiatan pelangsiran dipandu oleh juru langsir, dan dilakukan di wilayah stasiun atau di luar wilayah stasiun dengan mempertimbangkan tidak mengganggu perjalanan kereta api.

Meskipun demikian, terkadang kereta api jarak pendek dengan kecepatan rendah juga ditarik oleh lokomotif ini. Lokomotif D 301 sangat optimal untuk berjalan di jalur rel ringan (tipe R25 atau R33), karena beban gandarnya lebih ringan, dan karena inilah lokomotif D 301 (bersama saudaranya, D 300), sering digunakan pada jalur cabang yang pada umumnya memiliki jalur rel ringan.

Lokomotif D 301 pun berpengalaman untuk menarik kereta api jarak pendek pada jalur cabang, dengan kereta campuran antara 2 kereta penumpang dan 3 gerbong barang pada rute Semarang-Demak, Rembang-Blora, Demak-Purwodadi-Gambringan, Yogyakarta-Bantul-Palbapang, Yogyakarta-Magelang, serta Purwosari-Wonogiri. Lokomotif ini juga merupakan perintis modernisasi lokomotif di Madura hingga ditutup tahun 1987.

Batas kecepatan izin untuk langsiran dengan D 301 adalah 30 km/jam dan ketika melewati peron atau akan dirangkai kecepatannya harus dikurangi hingga 5 km/jam saja. Pada kegiatan langsiran pada malam hari (sekitar pukul 18.00 hingga 06.00) lampu lokomotif D 301 dinyalakan sebagai tanda lokomotif langsir.

Lokomotif ini serupa dengan saudaranya, D 300, namun memiliki perbedaan pada beratnya, yakni D 300 memiliki berat yang lebih berat, 34 ton. Untuk memperpanjang masa pakai lokomotif ini, lokomotif D 300 dan D 301 kemudian mengalami repowering pada tahun 1992.

Seiring waktu, karena keterbatasan suku cadang, ditambah dengan kebijakan PT KAI yang kini menggunakan lokomotif jalur utama seperti CC 201 dan CC 203 untuk membantu dinasan langsir, ikut menggeser lokomotif langsir seperti D 300, D 301, dan BB 300. Jumlah lokomotif D 301 pun semakin berkurang, meskipun karena jumlahnya yang banyak, pengurangan jumlahnya tidak begitu terasa seperti D 300.

Namun, pada akhirnya lokomotif D 301 pada akhirnya memiliki nasib yang lebih beruntung dari D 300 karena hingga kini masih digunakan untuk dinasan langsiran walaupun hanya dilakukan di dalam lingkungan Balai Yasa (bengkel kereta) seperti di Balai Yasa Manggarai dan Yogyakarta. Sementara 1 unit lokomotif yaitu D 301 24 beroperasi sebagai lokomotif penarik kereta wisata di Museum Kereta Api Ambarawa.[2]

Preservasi[sunting | sunting sumber]

Lokomotif D 301 kini sudah ada beberapa unit yang dipreservasi, dengan jumlah yang cukup banyak untuk ukuran lokomotif diesel. Salah satu contohnya yaitu D 301 24 sebagai penarik kereta wisata di Museum Kereta Api Ambarawa, menemani lokomotif D 300 23 yang memiliki tugas yang sama. Keduanya menggunakan livery kuning-hijau khas PJKA. Begitu juga dengan lokomotif D 301 28 yang menjadi sarana latih di Sekolah Tinggi Transportasi Darat, Bekasi.[3]

Selain unit yang masih bisa berjalan, ada juga lokomotif D 301 yang dipasang sebagai pajangan statis, seperti lokomotif D 301 22 di Stasiun Tugu Yogyakarta[4] dan D 301 59 di Stasiun Semarang Tawang.[5]

Data teknis[sunting | sunting sumber]

  • Panjang body: 7370 mm
  • Lebar body: 2700 mm
  • Berat kosong: 26,6 ton
  • Daya mesin: 340 hp
  • Jumlah motor traksi: 1 buah
  • Kecepatan maksimum: 50 km/jam

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ D 301 80 Sub Dipo PK, 2010-02-18, diakses tanggal 2019-11-10 
  2. ^ Aditya, Reza (2016-06-12). "Locomotive Sunday: D 301, Pelangsir Tangguh yang Mulai Tergantikan". KAORI Nusantara (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-11-10. 
  3. ^ Jalan jalan bawa Lokomotif D 301 28, diakses tanggal 2019-11-10 
  4. ^ Sulistyo, Bayu Tri (2018-10-24). "Lokomotif D 301 Dijadikan Monumen di Stasiun Yogyakarta". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2019-11-10. 
  5. ^ Network, Ayo Media (2019-03-27). "Monumen Lokomotif dan Dancing Fountain Percantik Kota Lama". AyoSemarang.com. Diakses tanggal 2019-11-10.