Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari GPIB)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB)
Logo GPIB.png
Logo GPIB
KlasifikasiProtestan
OrientasiCalvinis
Struktur organisasiPresbiterial Sinodal
PemimpinPendeta Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si. (hasil pemilihan fungsionaris Majelis Sinode XXI GPIB pada Persidangan Sinode XXI GPIB, 26-31 Oktober 2021 di Surabaya - Jawa Timur)
Wilayah26 Provinsi di Indonesia
Didirikan31 Oktober 1948
Jakarta, Indonesia
Gereja indukGereja Protestan di Indonesia
Kelompok jemaat327 jemaat (per 14 November 2021)
Umat± 750.000 jiwa
Nama lainGPIB
Situs webwww.gpib.or.id

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (disingkat GPIB) adalah persekutuan orang percaya Kristen Protestan di Indonesia dimana Tuhan Yesus Kristus menjadi dasar dan kepalanya. [1] GPIB melaksanakan panggilan dan pengutusan-Nya melalui persekutuan, pelayanan dan kesaksian yang dituangkan dalam Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG).[2] GPIB merupakan bagian dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI) yang pada zaman Hindia Belanda bernama De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie atau Indische Kerk. Pelembagaan dan pembentukan GPIB sebagai gereja mandiri keempat di lingkungan GPI, sebagaimana telah disetujui dan diputuskan melalui Surat Keputusan Wakil Tinggi Kerajaan Belanda di Indonesia No. 2, tanggal 1 Desember 1948.[3]

Dasar Gereja, Pengakuan dan Pemahaman Iman, Wujud dan Bentuk GPIB[sunting | sunting sumber]

Dasar Gereja[sunting | sunting sumber]

Teologi GPIB didasari ajaran Reformasi dari Yohanes Calvin, seorang tokoh Reformasi Gereja Protestan berkebangsaan Prancis yang di kemudian hari pindah ke Jenewa dan memimpin gereja di sana.

Gereja sebagai persekutuan orang percaya adalah Tubuh Kristus yang Esa, Kudus, Am dan Rasuli. Gereja hadir untuk mewujudkan kasih Allah di dunia ini pada segala waktu dan tempat. Dasar dan Kepala Gereja adalah Tuhan Yesus Kristus. [4]

GPIB mengaku bahwa Allah menyelamatkan alam semesta ciptaan-Nya dalam karya Tuhan Yesus Kristus Anak Allah, yang berlanjut dalam kehidupan secara kontekstual melalui Roh Kudus-Nya. [5]

Untuk menumbuhkan dan mengembangkan persekutuan, pelayanan dan kesaksian di tengah masyarakat, GPIB menata kehidupannya dengan bersumber dari Firman Allah.[6]

Pengakuan Iman & Pemahaman Iman GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB bersama Gereja dari segala abad dan tempat mengaku bahwa keselamatan hanya oleh Iman, hanya oleh Anugerah dan hanya oleh Firman (Sola Fide, Sola Gratia, Sola Scriptura) [7], serta bersama Gereja dari segala abad dan tempat mengikrarkan Pengakuan Imannya sebagaimana nyata dalam : [8]

GPIB merumuskan Pemahaman Imannya berdasarkan Firman Allah, tradisi Gereja dan pengakuan-pengakuan iman ekumenis. [9] Pemahaman Iman GPIB berisikan pemahaman tentang pokok-pokok, pergumulan yang dihadapi sesuai dengan tantangan zaman dalam kebersamaan dengan seluruh warga masyarakat dan bangsa Indonesia. [10]

Wujud & Bentuk GPIB[sunting | sunting sumber]

Dalam menata dan mengembangkan panggilan dan pengutusan, GPIB menganut sistem Presbiterial Sinodal [11] yang dilaksanakan oleh para Presbiter yaitu Diaken, Penatua dan Pendeta [12] bersama seluruh anggota Jemaat GPIB.

GPIB adalah kesatuan dari persekutuan jemaat-jemaat : [13]

  • Yang telah ada pada waktu GPIB didirikan
  • Yang dilembagakan berdasarkan pengembangan Jemaat-jemaat
  • Yang bertumbuh berdasarkan hasil pelayanan dan kesaksian.

GPIB adalah persekutuan warga dalam wujud Jemaat-jemaat yang berada di Indonesia, meliputi wilayah di luar pelayanan GMIM, GPM, dan GMIT. Pelayanan di luar Indonesia dilakukan melalui pengiriman tenaga utusan gerejawi GPIB, berdasarkan permintaan dan kesepakatan kerja dengan mitra GPIB di luar Indonesia.

GPIB hadir di tengah dan bersama masyarakat, bangsa dan negara Republik Indonesia di 26 Provinsi dan yang berada di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, serta pulau-pulau sekitarnya sesuai dengan wilayah yang ditetapkan pada waktu GPIB didirikan sebagai Gereja yang mandiri.

Visi, Misi dan Motto GPIB[sunting | sunting sumber]

Visi GPIB[sunting | sunting sumber]

Visi GPIB adalah[14] : GPIB menjadi Gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan-Nya.

Misi GPIB[sunting | sunting sumber]

Misi GPIB adalah[15] :

  • Menjadi Gereja yang terus menerus diperbarui dengan bertolak dari Firman Allah, yang terwujud dalam perilaku kehidupan warga gereja, baik dalam persekutuan maupun dalam hidup bermasyarakat.
  • Menjadi Gereja yang hadir sebagai contoh kehidupan yang terwujud melalui inisiatif dan partisipasi dalam kesetiakawanan sosial serta kerukunan dalam masyarakat, dengan berbasis pada perilaku kehidupan keluarga yang kuat dan sejahtera.
  • Menjadi Gereja yang membangun keutuhan ciptaan yang terwujud melalui perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat persatuan dan kesatuan warga Gereja sebagai warga masyarakat.

Motto GPIB[sunting | sunting sumber]

Motto GPIB adalah [16] : "Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah." (Lukas 13:29)

Sejarah Pembentukan GPIB[sunting | sunting sumber]

Bagan pemekaran GPI yang menghasilkan berbagai gereja mandiri di Indonesia, antara lain GPIB.

Sejarah GPIB tidak dapat dipisahkan dari pembentukan De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie atau Indische Kerk (sekarang dikenal sebagai Gereja Protestan di Indonesia) pada tanggal 27 Februari 1605 di Ambon Maluku, Hindia Belanda. Namun pada tahun 1619, kantor pusat De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie dipindahkan ke Batavia sehubungan dengan berpindahnya kedudukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari Ambon ke Batavia.

De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie, mewarisi jemaat-jemaat yang ditinggalkan oleh Portugis dengan wilayah pelayanannya meliputi sejumlah daerah seperti Maluku, Minahasa, Kepulauan Sunda Kecil (kini Nusa Tenggara Timur, dan sebagian Nusa Tenggara Barat khususnya Pulau Sumbawa dan sebagian Lombok), serta Pulau Jawa, Sumatra dan lainnya.

Karena wilayah pelayanan semakin banyak dan meluas, maka cabang-cabang De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie mengalami berbagai persoalan. Pada tahun 1927 disepakati bahwa keesaan gereja harus tetap dipertahankan, namun wilayah yang memiliki kekhususan diberi status mandiri yang lebih luas untuk mengatur pelayanannya secara sendiri-sendiri.

Dalam Sidang Sinode De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie tahun 1933, jemaat di Minahasa, Maluku, bekas wilayah Keresidenan Timor dan pulau-pulau di sekitarnya diberikan wewenang untuk menjadi gereja mandiri dalam persekutuan De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie.

Pada tahun 1934, jemaat di Minahasa dilembagakan menjadi gereja mandiri pertama dengan nama Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Setahun kemudian pada tahun 1935, jemaat di Maluku dilembagakan menjadi gereja mandiri kedua dengan nama Gereja Protestan Maluku (GPM). Setelah berakhirnya Perang Dunia II, pada tahun 1947, jemaat di wilayah Sunda Kecil dilembagakan menjadi gereja mandiri ketiga dengan nama Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sidang Sinode De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie yang diadakan di Buitenzorg (Bogor), menyepakati bahwa gereja mandiri keempat akan dibentuk dengan wilayah pelayanan di bagian barat Indonesia.

Willemskerk di Weltevreden Batavia

Pada tanggal 31 Oktober 1948 dalam Ibadah Hari Minggu Jemaat di "Willemskerk" (sekarang GPIB Immanuel Jakarta), dilembagakanlah gereja mandiri keempat yang pada waktu itu bernama De Protestantsche Kerk in Westelijk Indonesie (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat), berdasarkan Tata Gereja dan Peraturan Gereja yang dipersembahkan oleh proto-Sinode kepada Algemene Moderamen De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie (Badan Pekerja Am Gereja Protestan di Indonesia).

Kelembagaan GPIB[sunting | sunting sumber]

Dasar Hukum kelembagaan GPIB : [17]

  • Staatsblad Hindia Belanda , S. 1927 Nomor 156, tanggal 29 Juni 1925 yang mengatur tentang Gereja yang bersifat Badan Hukum.
  • Staatsblad Hindia Belanda, S. 1927 Nomor 155, tanggal 5 Mei 1927 yang mengatur tentang Gereja Protestan di Hindia Belanda sebagai paguyuban gereja Indonesia (GPI).
  • Staatsblad Hindia Belanda, S. 1948 Nomor 305, tanggal 3 Desember 1948 yang menetapkan GPIB sebagai gereja yang berdiri sendiri (zelfstandige onderdeel) dari Gereja Protestan di Indonesia.

Dasar Kepemilikan Harta Tidak Bergerak : [18]

  • Keputusan Dirjen Agraria, Nomor SK 22/DDA/1969.
  • UU No. 8 Tahun 1985 yang mengatur dan mendaftarkan GPIB dalam Lembaran Negara sesuai Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Kristen) Protestan Departemen Agama Republik Indonesia No. 35 Tahun 1988, tanggal 6 Februari 1988 tentang pernyataan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) sebagai Lembaga Keagamaan yang bersifat Gereja.
  • Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 22 / DDA / 1969 / D / 13 tentang GPIB sebagai badan hukum yang dapat memiliki Hak Milik.

Berdasarkan pengakuan Negara terhadap GPIB sebagai badan hukum, semua tindakan yang dilakukan untuk dan atas nama GPIB adalah tindakan perwakilan hukum.

Majelis Sinode GPIB[sunting | sunting sumber]

Majelis Sinode adalah lembaga yang dibentuk oleh Persidangan Sinode GPIB untuk mewujudnyatakan pemerintahan Kristus dalam memimpin perjalanan kebersamaan GPIB secara kolektif kolegial diantara dua Persidangan Sinode [19] dan dipilih melalui tahap pemilihan dan ditetapkan dalam Persidangan Sinode GPIB. [20]

Majelis Sinode adalah pimpinan sinodal GPIB selaku pimpinan administratif dan pengelola sinodal yang dalam tugasnya bersifat kolektif kolegial [21] dan sebagai pembina sinodal kepejabatan dan lembaga-lembaga sinodal yang berada di bawah naungan GPIB.[22] Fungsionaris Majelis Sinode GPIB berjumlah 11 (sebelas) orang[23] , terdiri dari Presbiter GPIB (Pendeta / Diaken / Penatua) yang dipilih oleh dan di dalam Persidangan Sinode GPIB. Majelis Sinode GPIB berkedudukan di Jakarta.[24]

GPIB Jemaat "Immanuel" Jakarta

Salah satu agenda Persidangan Sinode XXI GPIB (26 - 31 Oktober 2021) di Surabaya - Jawa Timur adalah memilih dan menetapkan susunan fungsionaris Majelis Sinode XXI GPIB dan Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja (BPPG) yang baru. Fungsionaris Majelis Sinode & BPPG GPIB terpilih diteguhkan dalam Ibadah Syukur HUT Ke-73 GPIB yang disertai dengan Sakramen Perjamuan Kudus & Penutupan Persidangan Sinode XXI GPIB, dilayani oleh Pendeta Em. Drs. Jeffrey Willem Christiaan Sompotan, S.Th. (Sekretaris Umum Majelis Sinode XVIII GPIB).

Fungsionaris Majelis Sinode XXI GPIB (Masa Tugas 2021–2025) adalah sebagai berikut:

Majelis Sinode XXI GPIB (2021–2025)
Jabatan Nama
Ketua Umum Pendeta Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si.
Ketua I Pendeta Marthen Leiwakabessy, S.Th.
Ketua II Pendeta Manuel Essau Raintung, S.Si., M.M.
Ketua III Pendeta Ny. Maureen Suzanne Rumeser - Thomas, M.Th.
Ketua IV Penatua Ny. Shirley Maureen van Houten - Sumangkut, M.M.
Ketua V Penatua Robynson Letunaung Wekes, S.H., M.M., MBA
Sekretaris Umum Pendeta Ny. Elly Dominggas Pitoy - de Bell, S.Th.
Sekretaris I Pendeta Roberto Junfry Mozes Wagey, M.Th.
Sekretaris II Penatua Ivan Gelium Lantu, S.H., M.Kn.
Bendahara Penatua Eddy Maulana SoeiNdoen, S.E.
Bendahara I Penatua Victor Pangkerego, S.E.

Masa tugas Majelis Sinode GPIB adalah 5 (lima) tahun yang berlangsung dari Persidangan Sinode GPIB sampai Persidangan Sinode GPIB berikutnya.[25] Dalam jabatan apapun, setiap anggota Majelis Sinode GPIB hanya dapat dipilih untuk 2 (dua) periode masa tugas.[26] Majelis Sinode GPIB mempertanggungjawabkan segala tugas, wewenang, dan kebijakan-kebijakannya kepada Persidangan Sinode GPIB dalam bentuk Laporan Pertanggungjawaban Majelis Sinode 5 (lima) tahunan [27]yang dihadiri oleh para utusan Presbiter Jemaat-jemaat GPIB, Badan Pelaksana Mupel GPIB dan Badan Pembantu GPIB.

Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja GPIB[sunting | sunting sumber]

Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja (BPPG) GPIB adalah badan pemeriksa pada lingkup sinodal yang bertanggungjawab kepada Persidangan Sinode GPIB. [28]

Fungsi BPPG GPIB adalah mengadakan pemeriksaan terhadap perbendaharaan GPIB[29] meliputi pemeriksaan keuangan, pemeriksaan pengelolaan, pemeriksaan program dan pemeriksaan khusus yang dilakukan secara kolegial, independen dan profesional dengan memahami panggilan dan pengutusan gereja [30] serta membuat analisis mengenai perbendaharaan gereja dan meneruskannya dalam bentuk rekomendasi kepada Majelis Sinode GPIB.[31]

BPPG GPIB terdiri dari 3 (tiga) orang Presbiter (Diaken/Penatua) GPIB yang dipilih dan diangkat oleh Persidangan Sinode GPIB untuk masa jabatan yang disesuaikan dengan masa tugas Majelis Sinode GPIB.[32] BPPG GPIB berkedudukan di Jakarta. [33]

Fungsionaris Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja XXI GPIB (Masa Tugas 2021–2025) adalah sebagai berikut:

Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja XXI GPIB (2021–2025)
Jabatan Nama
Ketua Diaken Ir. Levania Santoso, M.Sc.
Wakil Ketua Penatua Novy Richard Marlan, S.E.
Sekretaris Diaken John Simon Jaya Lumban Tobing, S.T.

Musyawarah Pelayanan (Mupel) GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Bethel" Bandung

Musyawarah Pelayanan Jemaat-jemaat GPIB (semacam Klasis) yang disingkat Mupel adalah wadah kebersamaan Jemaat-jemaat di wilayah.[34] yang dibentuk melalui sidang Presbiter dari Jemaat-jemaat di suatu wilayah pelayanan GPIB. [35] Mupel GPIB adalah alat kebersamaan, persekutuan, pelayanan, kesaksian dari Jemaat-jemaat di suatu wilayah pelayanan GPIB dan pembantu Majelis Sinode GPIB di wilayah tersebut. [36] Mupel GPIB berfungsi untuk membicarakan kehadiran GPIB di suatu wilayah dan kebersamaan persekutuan, pelayanan dan kesaksian Jemaat-jemaat GPIB di wilayah tertentu [37] serta menjembatani kepelbagaian Jemaat-jemaat dalam melaksanakan panggilan dan pengutusan Gereja,[38] dan secara bertanggung jawab menjabarkan dan mengkoordinasikan hasil Persidangan Sinode dan kebijakan-kebijakan sinodal menyangkut hal tersebut di wilayah pelayanannya.[39]

Untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya, Mupel menetapkan Badan Pelaksana yang terdiri atas para Ketua, para Sekretaris dan para Bendahara [40] yang dipilih oleh dan di dalam sidang wilayah [41] dengan memperhatikan tata cara pemilihan Badan Pelaksana Mupel yang diatur dalam peraturan pelaksanaan yang ditetapkan oleh Sidang Wilayah. [42] Masa tugas Badan Pelaksana disesuaikan dengan masa tugas Pelaksana Harian Majelis Jemaat. [43]

GPIB Jemaat "Immanuel" Medan

Ketika pertama kali terbentuk, GPIB mempunyai 7 Klasis (kini disebut Mupel atau Musyawarah Pelayanan) dengan 53 jemaat yaitu:

GPIB Jemaat "Banda Aceh" NAD

Saat ini, GPIB memiliki 25 Musyawarah Pelayanan (Mupel), yaitu : [44]

  • Mupel GPIB Sumatera Utara - Nanggroe Aceh Darussalam (Sumut - Aceh)
  • Mupel GPIB Sumatera Barat - Riau Daratan (Sumbaridar)
  • Mupel GPIB Kepulauan Riau (Kepri)
  • Mupel GPIB Sumatera Selatan (Sumsel)
  • Mupel GPIB Bangka - Belitung (Babel)
  • Mupel GPIB Jambi
  • Mupel GPIB Lampung
  • Mupel GPIB Banten
  • Mupel GPIB Jakarta Pusat (Jakpus)
  • Mupel GPIB Jakarta Utara (Jakut)
  • Mupel GPIB Jakarta Selatan (Jaksel)
  • Mupel GPIB Jakarta Timur (Jaktim)
  • Mupel GPIB Jakarta Barat (Jakbar)
  • Mupel GPIB Bekasi
  • Mupel GPIB Jawa Barat 1 (Jabar 1)
  • Mupel GPIB Jawa Barat 2 (Jabar 2)
  • Mupel GPIB Jawa Tengah - Daerah Istimewa Yogyakarta (Jatengyo)
  • Mupel GPIB Jawa Timur (Jatim)
  • Mupel GPIB Bali - Nusa Tenggara Barat
  • Mupel GPIB Kalimantan Barat (Kalbar)
  • Mupel GPIB Kalimantan Selatan - Kalimantan Tengah (Kalselteng)
  • Mupel Kalimantan Utara - Berau Kalimatan Timur (Kaltara - Berkat)
  • Mupel Kalimantan Timur 1 (Kaltim 1)
  • Mupel Kalimantan Timur 2 (Kaltim 2)
  • Mupel Sulawesi Selatan - Sulawesi Barat - Sulawesi Tenggara (Sulselbara)

Majelis Jemaat GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Zebaoth" Bogor

Majelis Jemaat adalah persekutuan kerja para Presbiter yang merupakan pimpinan GPIB di lingkup Jemaat. Persekutuan kerja ini adalah perwujudan dari Sistem Presbiterial Sinodal yang tampak dalam Sidang Majelis Jemaat.[45]

Tugas Majelis Jemaat adalah[46]:

  • Menjabarkan keputusan dan ketetapan Persidangan Sinode GPIB dan tugas-tugas yang dipercayakan oleh Majelis Sinode dengan berpedoman pada visi dan misi GPIB.
  • Membuat rencana kerja anggaran dan menetapkan Program Kerja dan Anggaran (PKA) yang mengacu pada KUPPG.
  • Membuat laporan tahunan kepada Majelis Sinode GPIB.
  • Menetapkan penatalayanan jemaat dan mengawasi pelaksanaannya.
  • Memberdayakan unit-unit misioner
  • Menjaga kemurnian ajaran GPIB

Wewenang Majelis Jemaat adalah [47]:

  • Memilih Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) melalui Sidang Majelis Jemaat (SMJ) dan melaporkan kepada Majelis Sinode untuk ditetapkan.
  • Menetapkan langkah-langkah dan melaksanakan tindakan disiplin gereja terhadap warga jemaat.
  • Mengangkat dan memberhentikan Pengurus dan Anggota Unit Misioner di lingkup Jemaat.
  • Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian pegawai GPIB kepada Majelis Sinode.
  • Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat (PPMJ) disahkan Sidang Majelis Jemaat (SMJ) setelah disetujui oleh Majelis Sinode.
  • Mengelola sumber daya perbendaharaan gereja di jemaat sesuai dengan tata cara pengelolaan perbendaharaan
  • Mengangkat pegawai lokal (honorer)
  • Menetapkan / mengutus Presbiter ke Persidangan Sinode
  • Memilih dan mengusulkan seorang Presbiter sebagai pelaksana tugas Ketua Majelis Jemaat untuk dilaporkan kepada Majelis Sinode guna mendapatkan penetapannya dengan Surat Keputusan Majelis Sinode jika terjadi kekosongan jabatan KMJ.

Sidang Majelis Jemaat (SMJ)[sunting | sunting sumber]

Sidang Majelis Jemaat (SMJ) adalah perwujudan presbiterial sinodal dan merupakan wadah pengambilan keputusan serta kebijakan di Jemaat[48]. Sidang Majelis Jemaat (SMJ) dilaksanakan setiap 3 (tiga) bulan[49] dan ketentuan lebih rinci tentang SMJ diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat (PPMJ).[50]

Ketua Majelis Jemaat[sunting | sunting sumber]

Ketua Majelis Jemaat adalah Pendeta GPIB yang ditugaskan dan ditempatkan oleh Majelis Sinode dalam jabatan struktural sekaligus Ketua Pelaksana Harian Majelis Jemaat.[51]

GPIB Jemaat "Tamansari" Salatiga

Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ)[sunting | sunting sumber]

Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) adalah representasi harian dari Majelis Jemaat [52]yang anggotanya dipilih dari fungsionaris Majelis Jemaat melalui Sidang Majelis Jemaat kecuali jabatan Ketua Majelis Jemaat[53]. Untuk menjadi fungsionaris PHMJ, minimal pernah menjabat sebagai Diaken/Penatua selama 1 (satu) masa tugas PHMJ (2,5 tahun) kecuali Jemaat yang baru dilembagakan.[54] Tugas PHMJ adalah [55]:

  • Menjabarkan keputusan SMJ dan mengatur penatalayanan di Jemaat.
  • Mengelola administrasi dan perbendaharaan Jemaat.
  • Menyiapkan SMJ, sidang-sidang atau rapat-rapat yang dianggap perlu serta Pertemuan Warga Sidi Jemaat
  • Memutuskan dan menyelesaikan hal-hal yang mendesak sepanjang tidak bertentangan dengan Tata Gereja yang berlaku dan melaporkannya kepada SMJ terdekat.
  • Mewakili Majelis Jemaat ke dalam dan ke luar Jemaat.
  • Membuat dan menyampaikan laporan berkala kepada SMJ tentang penyelenggaraan persekutuan, pelayanan dan kesaksian.
  • Membuat dan menyampaikan laporan kegiatan tahunan kepada Majelis Sinode atas nama Majelis Jemaat.
  • Menyampaikan tembusan laporan kegiatan tahunan ke BP Mupel setempat untuk dikumpulkan sebagai laporan BP Mupel dalam Persidangan Sinode Tahunan.

Masa tugas PHMJ adalah 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan dapat dipilih kembali [56]. Seseorang tidak dapat dipilih kembali setelah menjalani 2 (dua) kali masa tugas / periode menjabat berturut-turut[57], namun dapat dipilih kembali selaku fungsionaris PHMJ setelah melewati masa jeda selama 1 (satu) tahun[58]. Penetapan PHMJ dilakukan oleh Majelis Sinode dalam surat keputusan[59]. PHMJ terpilih bertugas setelah serah terima dalam Sidang Majelis Jemaat[60] dan diperkenalkan kepada Jemaat dalam Ibadah Hari Minggu [61].

GPIB Masa Kini[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Maranatha" Denpasar

Pokok-Pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG)[sunting | sunting sumber]

Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG) adalah garis besar atau pokok-pokok kebijakan umum GPIB dalam memenuhi panggilan dan pengutusannya di tengah-tengah gereja, masyarakat dan dunia dalam suatu periode tertentu (20 tahun) [62]

PKUPPG disusun berdasarkan [63] :

  • Alkitab
  • Pengakuan Iman Gereja (credo) : Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel, Pengakuan Iman Athanasius.
  • Dokumen Keesaan Gereja (DKG) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
  • Pemahaman Iman GPIB
  • Tata Dasar Gereja GPIB

PKUPPG disusun dan ditetapkan dengan maksud sebagai arah, pedoman dan tolok ukur bagi gereja dalam melaksanakan tugas tanggung jawab dan kewajibannya dalam memenuhi panggilan dan pengutusan gereja. Tujuan PKUPPG agar GPIB mampu mewujudkan tugas-tugas itu melalui program dan aksi nyata sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah dan tanda kehidupan yang menjadi garam dan terang dunia serta pembawa damai sejahtera Yesus Kristus menuju pembangunan Gereja Misioner [64]

Dengan memperhatikan tujuan dan sasaran, jangka waktu dan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan maupun sasaran maka untuk KUPPG 5 (lima) tahunan ditetapkan pokok-pokok program anggaran dengan 6 (enam) bidang kegiatan pada PKUPPG Jangka Panjang II, yaitu [65]:

  • Teologi : meliputi bidang Iman, Ajaran, Ibadah, Musik Gereja dan pengkajian teologi.
  • Pelayanan dan Kesaksian (Pelkes) : meliputi bidang pengembangan dan penatalayanan Pos Pelkes, PMKI, Diakonia, Crisis Center (penanggulangan bencana / satgas bencana).
  • Gereja, Masyarakat dan Agama-agama (Germasa) : meliputi bidang keesaan gereja (oikoumene), kemasyarakatan : HAM, hukum, lingkungan hidup dan lintas agama (hubungan dengan agama lain).
  • Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Insani serta Peningkatan Peran Keluarga (PPSDI-PPK) : meliputi bidang pembinaan dan pengembangan warga gereja (warga jemaat, kategorial, presbiter), peningkatan peran keluarga (lanjut usia, bapak, ibu, pemuda, teruna, anak), kelompok profesi dan fungsional, pendidikan serta pengembangan personalia GPIB.
  • Pembangunan Ekonomi Gereja (PEG) : meliputi bidang keuangan (perbendaharaan dan akuntansi), daya dan dana, pemanfaatan dan pengembangan harta milik gereja, badan usaha/hukum GPIB.
  • Informasi, Organisasi dan Komunikasi (Inforkom) : meliputi bidang sistem informasi manajemen, perencanaan organisasi dan komunikasi serta penelitian dan pengembangan (litbang).

Uraian sesuai bidang/program atas KUPPG tersebut setiap tahun dibijaki melalui Persidangan Sinode Tahunan (PST) yang akan menetapkan Program Kerja dan Anggaran tahunan lingkup sinode.

Ruang Ibadah GPIB Jemaat "Marga Mulya" Yogyakarta

Persidangan Sinode GPIB[sunting | sunting sumber]

Persidangan Sinode GPIB adalah penjelmaan dari persekutuan GPIB sebagai gereja secara sinodal [66] dan penjelmaan dari kebersamaan Jemaat-jemaat GPIB sebagai wujud pemerintahan Kristus melalui kehadiran para presbiter untuk menentukan kebijakan gereja dalam memenuhi panggilan dan pengutusan-Nya sebagai gereja yang misioner. [67] Persidangan Sinode GPIB adalah lembaga yang memiliki kewibawaan dan kewenangan gerejawi dan merupakan wadah pengambilan keputusan tertinggi dalam GPIB melalui presbiter perutusan Jemaat-jemaat. [68] Persidangan Sinode GPIB merupakan wadah penjelmaan kesatuan dan persatuan seluruh presbiter GPIB untuk memusyawarahkan penyelenggaraan panggilan dan pengutusan, serta pengelolaan sumber daya gereja. [69]

Persidangan Sinode mempunyai wewenang untuk :

  • Meninjau, mengubah dan menetapkan Tata Gereja[70]
  • Menetapkan Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG) dan Pokok-pokok Kegiatan 5 (lima) Tahunan.[71]
  • Menilai dan mengesahkan laporan pertanggungjawaban Majelis Sinode dan BPPG GPIB[72]
  • Memilih dan menetapkan susunan anggota Majelis Sinode GPIB dan fungsionaris BPPG GPIB. [73]
  • Menetapkan perangkat teologi GPIB seperti Pemahaman Iman, Tata Ibadah, Akta Gereja, Kurikulum Katekisasi, dll.[74]
  • Menetapkan keputusan sinodal lainnya yang dianggap perlu untuk GPIB. [75]
  • Memberi tugas kepada Majelis Sinode untuk memilih dan menetapkan Badan Penasihat Majelis Sinode (BPMS) GPIB. [76]

Persidangan Sinode XXI GPIB diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 2631 Oktober 2021 dan dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo. Persidangan Sinode XXI GPIB menjadi persidangan sinode pertama GPIB yang digelar secara daring (dalam jaringan / virtual) dengan titik pusat berada di Dyandra Convention Center Surabaya. Bila mengacu pada program sinodal GPIB, Persidangan Sinode XXI GPIB seharusnya diselenggarakan pada bulan Oktober 2020, namun mengingat situasi dan kondisi Indonesia yang sedang bergumul juang untuk mengatasi pandemi Covid-19 dan atas usulan serta pertimbangan jemaat-jemaat GPIB maka Persidangan Sinode XXI diundur dan baru terlaksana pada bulan Oktober 2021.

Selain Persidangan Sinode (5 tahunan)[77] dan Persidangan Sinode Istimewa [78], secara rutin setiap tahun GPIB mengadakan Persidangan Sinode Tahunan (PST).[79] Sedangkan bagi para Pendeta GPIB dilaksanakan kegiatan Konven Pendeta GPIB.

Persidangan Sinode Tahunan (PST) 2020 diadakan di Hotel Aston Bogor pada tanggal 26-29 Februari 2020 dengan penyelenggara adalah Jemaat-jemaat GPIB di Mupel Jawa Barat 2. Persidangan Sinode Tahunan (PST) 2021 tidak dilaksanakan mengingat himbauan Pemerintah terkait situasi kondisi Indonesia yang masih bergumul mengatasi pandemi Covid-19.

Persidangan Sinode Tahunan (PST) GPIB adalah kegiatan sinodal tahunan GPIB yang diselenggarakan setiap bulan Februari. Peserta Persidangan Sinode Tahunan (PST) adalah[80] Majelis Sinode GPIB, BPPG GPIB, Badan Pembantu Majelis Sinode GPIB, Unit Kerja GPIB, Utusan Mupel GPIB, Para Pendeta (Ketua Majelis Jemaat) dan Diaken / Penatua (anggota Pelaksana Harian Majelis Jemaat) utusan jemaat-jemaat GPIB serta undangan.

Agenda kegiatan Persidangan Sinode Tahunan (PST) diantaranya :

  • Mendapatkan gambaran pelayanan GPIB melalui laporan dan evaluasi tahunan Majelis Sinode serta gambaran pelayanan GPIB secara keseluruhan melalui laporan Jemaat-jemaat. [81]
  • Menjabarkan dan mengesahkan program dan anggaran tahunan secara sinodal dengan mengacu pada rencana induk 5 (lima) tahunan yang diputuskan dalam Persidangan Sinode. [82]
  • Mengambil keputusan-keputusan untuk hal-hal yang sangat mendesak yang tidak bisa menunggu sampai saat dilaksanakannya Persidangan Sinode.[83]

Setiap hasil dan keputusan Persidangan Sinode (PS) / Persidangan Sinode Tahunan (PST) GPIB bersifat mengikat serta diterapkan dalam Program Kerja & Anggaran Belanja Sinodal, Mupel GPIB dan Jemaat-jemaat GPIB.

Konven Pendeta GPIB[sunting | sunting sumber]

Konven Pendeta terakhir diadakan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan Persidangan Sinode Tahunan (PST) 2019 pada tanggal 25-26 Februari 2019, diadakan di Hotel Harris Sunset Road - Bali dan dihadiri oleh 656 orang Pendeta GPIB. Sebagai penyelenggara adalah Jemaat-jemaat GPIB di Mupel Bali - NTB.

Dalam Konven Pendeta GPIB, para Pendeta GPIB yang berstatus organik/aktif (bukan Pendeta yang berstatus non organik / emeritus) diundang untuk menghadiri kegiatan tersebut. Konven Pendeta GPIB diisi dengan berbagai kegiatan seperti evaluasi pelayanan Pendeta, pembekalan para Pendeta melalui materi bina, sharing pelayanan Pendeta, dan berbagai kegiatan lainnya yang berhubungan dengan tugas dan pelayanan seorang Pendeta GPIB.

Ruang Ibadah GPIB Jemaat "Sion" Jakarta

Presbiter GPIB[sunting | sunting sumber]

Sesuai Tata Gereja GPIB, Pimpinan Sinodal GPIB berada di tangan Majelis Sinode GPIB,[84] yang dipilih dan ditetapkan oleh Persidangan Sinode GPIB. Pimpinan di tingkat Jemaat berada di tangan Majelis Jemaat GPIB [85] yang fungsi & perannya dilaksanakan oleh Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) [86], Anggota PHMJ dipilih dalam Sidang Majelis Jemaat dan ditetapkan oleh Majelis Sinode GPIB melalui Surat Keputusan untuk masa jabatan 2,5 tahun.[87] Sesuai tatanan yang berlaku dalam sistem Presbiterial Sinodal, Sidang Majelis Jemaat (SMJ) adalah wadah pengambilan keputusan tertinggi dalam jemaat. [88]

Presbiter adalah warga sidi jemaat GPIB yang menyediakan diri secara khusus melalui proses perupaan untuk melayani di GPIB sebagai pemenuhan panggilan dan pengutusan Kristus dalam rangka mewujudkan gereja misioner. [89] Presbiter GPIB terdiri atas Diaken, Penatua dan Pendeta[90] sebagai pelaksana penatalayanan di dalam gereja dan jemaat[91].

Tugas dan tanggung jawab khusus Presbiter adalah sebagai berikut :

  • Diaken: Melaksanakan pemberitaan Firman dan pelayanan kasih dalam pelbagai bentuk di dalam maupun di luar jemaat [92]
  • Penatua : Melaksanakan dan menjaga kebenaran dan ketertiban pemberitaan Firman, peribadahan, pelaksanaan penggembalaan dan ketertiban pelayanan. [93]
  • Pendeta : Melaksanakan pemberitaan Firman dan pelayanan sakramen, menjaga kemurnian ajaran dan penggembalaan khusus, peneguhan presbiter, pengurus dan pelayan Pelkat dan perkenalan PHMJ serta pengurus unit misioner. [94]

Bilamana Pendeta di suatu Jemaat berhalangan, Majelis Jemaat setempat menunjuk salah seorang Penatua untuk melaksanakan tugas khusus Pendeta dan melaporkannya kepada Majelis Sinode GPIB.[95]

GPIB Jemaat "Ora Et Labora" Sungai Liat

Pendeta GPIB[sunting | sunting sumber]

Pendeta GPIB adalah pegawai GPIB yang diteguhkan sebagai Pelayan Firman dan Sakramen GPIB dan ditugaskan oleh Majelis Sinode GPIB pada jabatan struktural GPIB [96] (ditempatkan dalam sebuah Jemaat GPIB atau sebagai tenaga perutusan GPIB dalam sebuah organisasi / lembaga.)

Pendeta GPIB terdiri dari :

  • Pendeta Organik : Pegawai GPIB yang diteguhkan sebagai Pelayan Firman dan Sakramen GPIB ditetapkan oleh Majelis Sinode GPIB pada jabatan struktural dan ditugaskan / ditempatkan di Jemaat. Per 12 Desember 2021 (sesuai pernyataan Ketua Umum Majelis Sinode XXI GPIB dalam kata sambutan yang disampaikan saat Ibadah Hari Minggu & Penetapan Emeritus Pendeta di GPIB Jemaat "Effatha" DKI Jakarta) jumlah Pendeta Organik GPIB sebanyak 546 orang.
  • Pendeta Pelayanan Umum : Pegawai GPIB yang diteguhkan sebagai Pelayan Firman dan Sakramen GPIB dan pejabat struktural namun tidak / belum ditugaskan di Jemaat. [97]
  • Pendeta Non Organik : Pendeta / Pelayan Firman dan Sakramen GPIB namun bukan pejabat struktural, karena tidak berstatus pegawai GPIB.[98] Per 12 Desember 2021 (sesuai pernyataan Ketua Umum Majelis Sinode XXI GPIB dalam kata sambutan yang disampaikan saat Ibadah Hari Minggu & Penetapan Emeritus Pendeta di GPIB Jemaat "Effatha" DKI Jakarta) jumlah Pendeta Non Organik GPIB sebanyak 42 orang. Mayoritas Pendeta Non Organik adalah Pendeta Emeritus GPIB.

Pendeta GPIB adalah tamatan pendidikan Strata 1 lulusan Sekolah Tinggi Teologi atau Fakultas Teologi universitas yang diakui oleh GPIB, yaitu : Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jakarta, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Timur Makassar.

Perupaan Pendeta adalah proses melengkapi seorang Sarjana Teologi untuk menjadi Pendeta, Pelayan Firman dan Sakramen GPIB. [99] Calon Vikaris GPIB diwajibkan lulus tes masuk Vikariat yang terdiri dari tes akademik, tes kesehatan, psikotes dan mengikuti pembinaan Pra-Vikariat.[100] Vikaris GPIB, wajib mengikuti masa Vikariat I dan II di sebuah Jemaat GPIB yang ditentukan oleh Majelis Sinode GPIB selama kurang lebih 2 tahun sebelum diteguhkan dalam jabatan Pendeta/Pelayan Firman dan Sakramen GPIB.[101] Vikaris GPIB didampingi 2 orang mentor (Pendeta GPIB yang ditugaskan oleh Majelis Sinode GPIB) selama masa vikariat berlangsung. Penempatan/penugasan Pendeta GPIB diatur oleh Majelis Sinode GPIB dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB.

Dalam jabatan struktural, Majelis Sinode menempatkan satu atau dua orang atau lebih Pendeta GPIB di sebuah jemaat GPIB dalam jabatan Ketua Majelis Jemaat[102] dan (atau) Pendeta Jemaat.[103]

GPIB mengenal alih tugas (mutasi) Pendeta antar Jemaat / antar wilayah sebagai bagian dari proses pembinaan yang dilakukan secara terencana dan terpola [104] Alih tugas Pendeta GPIB bertujuan untuk penyegaran dan pembinaan, mengembangkan dan menyeimbangkan pengalaman daerah / wilayah / sifat-sifat jemaat tertentu, mendekatkan ke tempat / daerah yang berhubungan dengan masa pensiun, sudah 5 (lima) tahun bertugas di suatu jemaat / instansi GPIB lainnya. [105] Pengaturan alih tugas Pendeta GPIB diatur oleh Majelis Sinode GPIB. [106]

Diaken dan Penatua GPIB[sunting | sunting sumber]

Diaken dan Penatua GPIB adalah Pejabat GPIB yang dipilih dari dan oleh warga sidi Jemaat GPIB melalui tahapan proses Pemilihan Diaken dan Penatua GPIB.[107]

Persyaratan Diaken dan Penatua GPIB adalah sebagai berikut [108]:

  • Memenuhi persyaratan Alkitabiah.
  • Tidak berada dalam tindakan penggembalaan khusus.
  • Tidak bercerai hidup.
  • Memiliki semangat pengabdian yang tinggi dan loyal serta taat kepada Pemahaman Iman dan Tata Gereja GPIB serta menjaga kemurnian ajaran gereja dalam kesetiaan kepada Tuhan Yesus Kristus.
  • Menyatakan kesediaan untuk mengikuti pembinaan secara berkesinambungan.
  • Menyatakan kesediaan untuk tidak terlibat dalam

kegiatan denominasi lain atau persekutuan di luar GPIB.

  • Memenuhi persyaratan administratif.

Proses pemilihan meliputi tahapan sebagai berikut: pembentukan Panitia Pemilihan Diaken dan Penatua di setiap Jemaat GPIB yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB, sensus / pemutahiran data warga sidi jemaat, penetapan daftar pemilih (warga sidi jemaat yang memiliki hak untuk dapat memilih dan dipilih / dapat memilih tapi tidak bisa dipilih menjadi calon Diaken dan Penatua), pemilihan tahap I untuk memilih bakal calon Diaken dan Penatua, penyerahan berkas administrasi para bakal calon, pembinaan bakal calon Diaken dan Penatua, pemilihan tahap II untuk memilih calon tetap Diaken & Penatua, pembinaan calon tetap Diaken dan Penatua, pastoral / penggembalaan para bakal calon / calon tetap Diaken dan Penatua bersama Istri / Suami. Para Diaken dan Penatua terpilih, ditetapkan oleh Majelis Sinode GPIB melalui Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB dan diteguhkan dalam Ibadah Minggu Jemaat yang dilayani oleh Pejabat GPIB yang ditugaskan oleh Majelis Sinode GPIB.

Unit - Unit Misioner GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Immanuel" Palembang

Unit misioner adalah wadah pembinaan dan pelaksana misi GPIB dalam rangka pembangunan jemaat secara berkesinambungan di bawah tanggung jawab Majelis Sinode / Majelis Jemaat GPIB [109]

Unit-unit Misioner adalah [110]:

  • Pelayanan Kategorial (Pelkat)
  • Komisi
  • Panitia
  • Kelompok Kerja
  • Musyawarah Pelayanan (Mupel)
  • Kelompok Fungsional - Profesional
  • Unit-unit Usaha Milik Gereja
  • Yayasan
  • Departemen

Unit misioner berfungsi membantu Majelis Sinode / Majelis Jemaat merumuskan kebijakan, merencanakan program dan melaksanakan kegiatan pada bidang-bidang kegiatan sebagai penjabaran dan pelaksanaan PKUPPG [111]

Pelayanan Kategorial GPIB[sunting | sunting sumber]

Pelayanan Kategorial disingkat Pelkat adalah unit misioner sebagai wadah pembinaan warga gereja dalam keluarga dan masyarakat sesuai kategori agar para anggotanya berperan aktif dalam pengembangan panggilan dan pengutusan gereja secara utuh dan berkesinambungan. [112]

Logo Nama Pelkat Keterangan
Pelkat PA GPIB Pelkat Pelayanan Anak adalah wadah pembinaan & pelayanan warga GPIB kategori usia 0 – 12 tahun
Pelkat PT GPIB Pelkat Persekutuan Teruna adalah wadah pembinaan & pelayanan warga GPIB kategori usia 13 – 16 tahun.
Pelkat GP GPIB Pelkat Gerakan Pemuda adalah wadah pembinaan & pelayanan warga GPIB kategori usia 17 – 35 tahun
Pelkat PKP GPIB Pelkat Persekutuan Kaum Perempuan adalah wadah pembinaan & pelayanan warga perempuan (kaum Ibu) GPIB kategori usia 36 – 59 tahun atau sebelum usia 36 tahun namun sudah menikah
Pelkat PKB GPIB Pelkat Persekutuan Kaum Bapak adalah wadah pembinaan & pelayanan warga laki-laki (kaum Bapak) GPIB kategori usia 36 – 59 tahun atau sebelum usia 36 tahun namun sudah menikah
Pelkat PKLU GPIB Pelkat Persekutuan Kaum Lanjut Usia adalah wadah pembinaan & pelayanan warga GPIB kategori usia 60 tahun ke atas.

Departemen GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB juga memiliki beberapa departemen, antara lain :

  • Departemen Teologi
  • Departemen Pelkes (Pelayanan dan Kesaksian)
  • Departemen Germasa (Gereja & Masyarakat), Antar Agama & Lingkungan Hidup
  • Departemen PPSDI - PPK (Pengembangan & Pemberdayaan Sumber Daya Insani, Peningkatan Peran Keluarga)
  • Departemen Inforkom & Litbang (Informasi, Organisasi, Komunikasi, Penelitian dan Pengembangan)
  • Departemen PEG (Pembangunan Ekonomi Gereja)
  • Crisis Center & Satuan Tugas (Satgas) GPIB

Yayasan GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB memiliki sejumlah yayasan untuk melaksanakan pelbagai program pelayanannya, antara lain:

  • Yayasan Pendidikan Kristen (Yapendik) GPIB
  • Yayasan Diakonia (Yadia) GPIB
  • Yayasan Kesehatan (Yankes) GPIB
  • Yayasan Hukum Apollos GPIB
  • Dana Pensiun GPIB
  • Unit Kerja Penerbitan GPIB
  • beberapa Yayasan yang dikelola oleh Musyawarah Pelayanan (Mupel) maupun Jemaat.

Program GPIB[sunting | sunting sumber]

Program-program pelayanan GPIB mencakup bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, pelayanan bencana nasional melalui Crisis Center dan Satuan Tugas (Satgas) GPIB, Kelompok Fungsional-Profesional (KFP), Unit Pembinaan dan Pemberdayaan Masyarakat (UP2M) di Pos-pos Pelkes GPIB, Unit-unit Usaha Milik Gereja (UUMG), pembinaan masyarakat perkotaan & industri, pelayanan Lembaga Permasyarakatan, dan lain-lain. GPIB juga aktif menjalin komunikasi antara umat beragama melalui Forum Dialog Kerjasama Lintas Iman.

Tata Ibadah, Musik Gereja & Pakaian Liturgis GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Sion" Semarang

Tata Ibadah GPIB[sunting | sunting sumber]

Istilah Ibadah berasal dari bahasa Arab, yang mempunyai akar kata yang sama dalam bahasa Ibrani abodah yang berarti mengabdi kepada Tuhan. Jadi, beribadah berarti mengabdi kepada Tuhan. Istilah ibadah mempunyai arti yang sama dengan kebaktian yang diturunkan dari bahasa Sansekerta dan memiliki arti berbuat bakti kepada Tuhan. GPIB menggunakan istilah IBADAH (bukan kebaktian), oleh karena itu salah satu perangkat teologi GPIB adalah TATA IBADAH, bukan tata kebaktian.[113]

GPIB memahami ibadah dalam tiga makna[114] :

  • Pertama, ibadah sebagai suatu pertemuan jemaat dengan Tuhan.
  • Kedua, ibadah adalah perayaan terkait karya keselamatan yang telah Allah lakukan di dalam Tuhan Yesus Kristus.
  • Ketiga, ibadah adalah bentuk ungkapan syukur atas berkat yang Tuhan sudah berikan kepada jemaat.

Ibadah GPIB memiliki dua sisi yang terkait dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena saling menunjang, melengkapi, mempengaruhi dan mewarnai, yaitu[115] :

  • Ibadah Ritual yang terjadi dalam pertemuan jemaat dengan Tuhan untuk merayakan dan memperingati perbuatan penyelamatan Allah dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus seraya mengucap syukur atas segala berkat yang Tuhan telah anugerahkan.
  • Ibadah Aktual yang berlangsung dalam kehidupan jemaat setiap hari, baik secara pribadi maupun bersama keluarga.

Pusat ibadah jemaat baik ritual maupun aktual adalah YESUS KRISTUS.

Tata Ruang dan Pusat Liturgis GPIB Jemaat "Immanuel" Semarang

Tatanan beribadah di GPIB bertujuan untuk mengatur sikap dan perilaku jemaat ketika bertemu dan beribadah kepada Tuhan. Tatanan beribadah mencakup 5 (lima) hal, yaitu[116] :

  • Tata Ruang mencakup penataan ruang ibadah dimana pusat liturgi sebagai sentral. Penataan ruang ibadah adalah sebagai berikut :

Pusat Liturgis dimana terdapat : Mimbar Pemberitaan Firman, tempat Bejana Baptisan dan Meja Perjamuan, Mimbar Pelayan Liturgis dan Tempat Persembahan ; Tempat duduk Presbiter; Kantoria / Paduan Suara; Alat musik (organ / piano). [117]

  • Tata Waktu mencakup hari dan jam ibadah yang berlangsung sepanjang tahun sesuai kalender gerejawi.[118]
  • Tata Ibadah mencakup semua jenis ibadah yang berlaku di GPIB dengan pemahaman teologi dan petunjuk teknis pelaksanaannya termasuk musik gereja. Tata Ibadah yang berlaku di GPIB adalah Tata Ibadah Hari Minggu. Semua jenis ibadah pada hari-hari lainnya mengacu pada Tata Ibadah Hari Minggu. [119]

Tata Ibadah Hari Minggu di GPIB terdiri dari 4 (empat) rumpun, yaitu : Menghadap Tuhan, Pemberitaan Firman (dan Pelayanan Sakramen), Jawaban Jemaat, Pengutusan.

  • Tata Simbol mencakup simbol-simbol yang digunakan dalam ibadah, seperti : Mimbar, Bejana Baptisan, Meja Perjamuan, membawa Alkitab dengan dua tangan setinggi dagu, duduk, berdiri, saat teduh, berlutut dan warna.
  • Tata Busana mencakup pakaian liturgis dan penggunaan busana dalam pelayanan.
Orgel di Ruang Ibadah GPIB Jemaat "Paulus" Jakarta

Musik Gereja GPIB[sunting | sunting sumber]

Musik memegang peranan penting dalam ibadah di GPIB, hampir 70% bagian Ibadah adalah menyanyi.[120]

Tiga dimensi Musik Gereja adalah : liturgis, teologis dan eklesiologis.[121]

  • Dimensi Liturgis : Musik gereja adalah bagian penting dan tidak terpisahkan dari liturgi. Musik membantu setiap jemaat untuk beribadah kepada Tuhan dan mempersatukan umat dalam beribadah secara dialogis. Musik menciptakan kekhidmatan jemaat dalam beribadah dan merupakan respon jemaat atas perbuatan dan kasih setia Tuhan. Inti Musik Gereja adalah Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Melalui Musik Gereja, umat bisa menyanyi/memuji, berdoa, mengaku dosa, mengaku iman, bersyukur dan memberitakan / bersaksi tentang Kerajaan Allah.
  • Dimensi Teologis : Syair dan melodi Nyanyian Jemaat adalah sarana berteologi bagi gereja, membantu umat untuk melakukan refleksi teologis terkait berbagai kenyataan yang dihadapi dan melalui Musik Gereja umat mendengar dan mengerti kebenaran dan kehendak Allah untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Dimensi Eklesiologis : Melalui Musik Gereja dan perkembangan buku nyanyian Jemaat, umat dapat melihat sejarah pertumbuhan gereja. Musik gereja mampu membuat umat berpartisipasi aktif dengan sadar dalam persekutuan, pelayanan dan kesaksian gereha maupun di dalam masyarakat. Musik gereja membantu umat memahami teologi gereja dan ikut mengembangkannya untuk menjawab tantangan konteks zaman.

Buku Nyanyian Ibadah yang digunakan dalam setiap bentuk peribadahan di GPIB adalah : Gita Bakti, Kidung Jemaat, Kidung Keesaan, Pelengkap Kidung Jemaat, Kidung Ceria, Kidung Muda-Mudi

Pakaian Liturgis GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB tidak mengenal pakaian jabatan untuk Pendeta atau Presbiter (Diaken/Penatua). Yang ada adalah pakaian liturgis yang digunakan pada waktu melakukan tugas pelayanan ibadah, baik Ibadah Hari Minggu di gedung gereja maupun ibadah lainnya di luar gedung gereja.[122]

Sejak Persidangan Sinode XV GPIB tahun 1990, toga putih dengan stola digunakan oleh Pendeta GPIB dalam melayani Ibadah Hari Minggu atau Hari Raya Gereja lainnya di gedung gereja. Pelayanan ibadah lainnya baik di dalam dan di luar gedung gereja, Pendeta GPIB menggunakan baniang berwarna putih dengan stola. [123]

Setiap Presbiter GPIB (Diaken/Penatua/Pendeta) yang sedang bertugas sebagai pemberita firman / pelayan liturgi wajib menggunakan stola. Penggunaan stola oleh Presbiter yang sedang bertugas mau menjelaskan bahwa ia sedang diutus oleh Tuhan untuk suatu pelayanan dengan kewibawaan yang bukan berasal dari dirinya sendiri.[124]

Jemaat GPIB, Pos Pelayanan & Kesaksian (Pelkes) GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Immanuel" Semarang

Jemaat GPIB[sunting | sunting sumber]

Jemaat GPIB adalah wujud dari Gereja Yesus Kristus yang Esa, Kudus, Am dan Rasuli, yang berada di suatu tempat tertentu dalam wilayah Pelayanan GPIB. [125] Jemaat-jemaat GPIB adalah bagian dari GPIB yang memiliki Pemahaman Iman GPIB sebagai landasan teologis dan Tata Dasar GPIB sebagai landasan hukum. [126] Jemaat GPIB dalam ketaatan kepada Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja melaksanakan tugas misionernya secara tertib dan teratur melalui sistem presbiterial sinodal. [127]

Warga GPIB adalah mereka yang terdaftar di Jemaat-jemaat, yaitu [128]:

  • Lahir dari keluarga GPIB;
  • Menerima Baptisan di GPIB;
  • Mengaku percaya dan diteguhkan sebagai warga sidi GPIB;
  • Dibaptis di Gereja-gereja lain di Indonesia maupun luar Indonesia dan mendaftarkan diri menjadi warga GPIB dengan surat attestasi;
  • Terdaftar sebagai warga GPIB yang sementara berada di luar Indonesia;
  • Belum dibaptis tetapi sementara mengikuti katekisasi untuk diteguhkan sebagai warga sidi GPIB.

GPIB merupakan salah satu Gereja Protestan terbesar di Indonesia, dengan anggota Jemaat mayoritas berasal dari Indonesia bagian Timur, namun dalam perkembangannya saat ini, anggota Jemaat GPIB datang dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.

Saat ini GPIB terdiri dari 327 Jemaat (mandiri/dewasa) yang tersebar di 26 Provinsi , meliputi dua pertiga wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai dari Sabang di ujung barat sampai Bau-Bau di ujung timur, mulai dari Nunukan di ujung utara sampai Kuta Bali di ujung selatan.

Jemaat GPIB ke-327 adalah GPIB Jemaat "PANCARAN KASIH" Bengalon, Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Dilembagakan pada tanggal 14 November 2021, dilayani oleh Pendeta Ny. Elly Dominggas Pitoy - de Bell, S.Th (Sekretaris Umum Majelis Sinode XXI GPIB 2021-2025)

GPIB Jemaat "Immanuel" Makassar

Pos Pelkes, Pospel & Bajem GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB juga memiliki :

  • 285 Pos Pelayanan dan Kesaksian (Pelkes)
  • 39 Pos Pelayanan (Pospel)
  • 26 Bagian Jemaat (Bajem)

yang tersebar di daerah-daerah di pelosok Indonesia, bahkan GPIB pun hadir di wilayah perbatasan NKRI dengan negara tetangga. Pos Pelkes GPIB terbanyak berada di Pulau Sumatera dan kepulauan di sekitarnya, dan juga berada di Pulau Kalimantan, sementara Bagian Jemaat adalah gabungan dari beberapa Pos Pelkes atau beberapa Sektor Pelayanan yang sedang dipersiapkan untuk dilembagakan menjadi Jemaat mandiri / Jemaat baru yang akan terpisah dari Jemaat induk.

Media Pembinaan, Informasi dan Komunikasi GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Immanuel" Probolinggo

Unit Kerja Penerbitan GPIB[sunting | sunting sumber]

Melalui Unit Kerja Penerbitan GPIB, GPIB menerbitkan berbagai buku penuntun / pembinaan bagi Presbiter, para Pelayan Anak atau Teruna, dan Jemaat serta menerbitkan buku nyanyian peribadahan, antara lain:

  • Sabda Guna Dharma Krida (SGDK) : Buku penuntun khotbah bagi Presbiter di Ibadah Hari Minggu Jemaat dan Ibadah Keluarga.
  • Sabda Bina Umat (SBU) : Buku penuntun renungan sehari-hari bagi anggota Jemaat.
  • Sabda Bina Anak (SBA) : Buku penuntun khotbah & aktivitas bagi Pelayan Pelkat PA di Ibadah Hari Minggu Pelayanan Anak.
  • Sabda Bina Anak Harian (SBAH) : Buku penuntun renungan sehari-hari bagi anak-anak layan Pelkat Pelayanan Anak.
  • Sabda Bina Teruna (SBT) : Buku penuntun khotbah bagi Pelayan Pelkat PT di Ibadah Hari Minggu Persekutuan Teruna.
  • Sabda Bina Pemuda (SBP) : Buku penuntun renungan sehari-hari bagi anggota Pelkat Gerakan Pemuda.
  • Gita Bakti (GB) : Buku nyanyian yang dipakai dalam setiap bentuk peribadahan di GPIB seperti Ibadah Hari Minggu, Ibadah Keluarga, Ibadah Pelkat dan ibadah-ibadah lainnya. Gita Bakti dipakai bersama dengan buku nyanyian gerejawi terbitan Yamuger seperti Kidung Jemaat, Kidung Keesaan, Kidung Muda-Mudi, Kidung Ceria dan Pelengkap Kidung Jemaat sebagai buku sumber nyanyian gerejawi.

Unit Kerja Penerbitan GPIB berkedudukan di Jakarta dan berlokasi di Kantor Majelis Sinode GPIB.

Majalah Triwulan Arcus[sunting | sunting sumber]

Sebagai sarana / media informasi & komunikasi antara jemaat-jemaat GPIB, Majelis Sinode GPIB melalui Departemen Inforkom & Litbang menerbitkan Majalah Arcus secara rutin setiap triwulan.

Channel Youtube GPIB Indonesia[sunting | sunting sumber]

Melalui media Youtube, Departemen Pelkes GPIB menghadirkan channel Youtube GPIB Indonesia dengan program rutin Morning Call & Night Call setiap harinya dan beberapa program tambahan seperti talkshow, liputan khusus, dll.

Kantor Majelis Sinode GPIB[sunting | sunting sumber]

Berkas:Kantor Majelis Sinode GPIB.jpg
Kantor Majelis Sinode GPIB di area komplek GPIB "Immanuel" Pejambon, Jakarta Pusat
  • Kantor Majelis Sinode GPIB terletak di area komplek GPIB Jemaat "Immanuel" Jl. Medan Merdeka Timur No. 10, Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat 10110, DKI Jakarta.
  • Kantor Majelis Sinode GPIB buka setiap hari SeninJumat pada jam kerja dan tutup/libur pada hari Sabtu dan Minggu.

Mitra GPIB[sunting | sunting sumber]

GPIB Jemaat "Purworejo"

Dalam memenuhi panggilan dan pengutusan Allah serta keesaan Tubuh Kristus, maka GPIB menjalin hubungan dengan gereja-gereja lain di Indonesia dan di seluruh dunia, dengan semangat saling menerima dan mengakui serta memenuhi kewajiban-kewajiban ekumenisnya.[129]

GPIB adalah anggota dari : [130]

GPIB adalah salah satu gereja yang berpartisipasi dalam pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) yang selanjutnya berubah nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). GPIB menjadi anggota PGI sejak pembentukan PGI pada tanggal 25 Mei 1950.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tata Dasar GPIB, Bab II Wujud, Bentuk dan Kelembagaan, Warga dan Hubungan Dengan Gereja Lain, Tata Gereja GPIB, 2015
  2. ^ Tata Dasar GPIB, Bab III Panggilan dan Pengutusan, Pasal 10 Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG), Tata Gereja GPIB, 2015
  3. ^ a b Profil GPIB di PGI
  4. ^ Tata Dasar GPIB, Pembukaan, Tata Gereja GPIB, 2015
  5. ^ Tata Dasar GPIB, Bab I, Pengakuan dan Pemahaman Iman, Tata Gereja GPIB, 2015
  6. ^ Tata Dasar GPIB, Pembukaan, Tata Gereja GPIB, 2015
  7. ^ Tata Dasar GPIB, Bab I Pengakuan dan Pemahaman Iman, Pasal 1 ayat 1 Pengakuan Iman, Tata Gereja GPIB, 2015
  8. ^ Tata Dasar GPIB, Bab I Pengakuan dan Pemahaman Iman, Pasal 1 ayat 2 Pengakuan Iman, Tata Gereja GPIB, 2015
  9. ^ Tata Dasar GPIB, Bab I Pengakuan dan Pemahaman Iman, Pasal 2 ayat 1 Pemahaman Iman, Tata Gereja GPIB, 2015
  10. ^ Tata Dasar GPIB, Bab I Pengakuan dan Pemahaman Iman, Pasal 2 ayat 2 Pemahaman Iman, Tata Gereja GPIB, 2015
  11. ^ Tata Dasar GPIB, Bab IV Penatalayanan Gereja, Pasal 11 ayat 1 Sistem Penatalayanan, Tata Gereja GPIB, 2015
  12. ^ Tata Dasar GPIB, Bab IV Penatalayanan Gereja, Pasal 12 ayat 3 Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  13. ^ Tata Dasar GPIB, Bab II Wujud, Bentuk dan Kelembagaan, Warga dan Hubungan Dengan Gereja Lain, Pasal 4 Bentuk, Tata Gereja GPIB, 2015
  14. ^ GPIB. (2015). Buku IV Tata Gereja GPIB 2015, hal. 10. Jakarta
  15. ^ GPIB. (2015). Buku IV Tata Gereja GPIB 2015, hal. 10 & 11. Jakarta
  16. ^ GPIB. (2015). Buku IV Tata Gereja GPIB 2015, hal. 11. Jakarta
  17. ^ Tata Dasar GPIB, Bab II Wujud, Bentuk dan Kelembagaan, Warga dan Hubungan dengan Gereja lain, Pasal 5 ayat 1 Kelembagaan, Tata Gereja GPIB, 2015
  18. ^ Tata Dasar GPIB, Bab II Wujud, Bentuk dan Kelembagaan, Warga dan Hubungan dengan Gereja lain, Pasal 5 ayat 2 Kelembagaan, Tata Gereja GPIB, 2015
  19. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 1 ayat 1 Majelis Sinode, Tata Gereja GPIB, 2015
  20. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 1 ayat 2 Majelis Sinode, Tata Gereja GPIB, 2015
  21. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 3 ayat 1b Fungsi dan Tugas, Tata Gereja GPIB, 2015
  22. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 2 ayat 2 Status dan Tempat Kedudukan, Tata Gereja GPIB, 2015
  23. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 6 ayat 2 Susunan Pembidangan, Tata Gereja GPIB, 2015
  24. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 2 ayat 4 Status dan Tempat Kedudukan, Tata Gereja GPIB, 2015
  25. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 7 ayat 1 Masa Tugas, Tata Gereja GPIB, 2015
  26. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 7 ayat 2 Masa Tugas, Tata Gereja GPIB, 2015
  27. ^ Peraturan Pokok III tentang Majelis Sinode, Pasal 4 ayat 2 Wewenang dan Tanggung Jawab, Tata Gereja GPIB, 2015
  28. ^ Peraturan Nomor 7 tentang Badan Pemeriksa Perbendaharaan di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 3 ayat 1 Status dan Fungsi, Tata Gereja GPIB, 2015
  29. ^ Peraturan Nomor 7 tentang Badan Pemeriksa Perbendaharaan di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 3 ayat 3 Status dan Fungsi, Tata Gereja GPIB, 2015
  30. ^ Peraturan Nomor 7 tentang Badan Pemeriksa Perbendaharaan di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 3 ayat 4 Status dan Fungsi, Tata Gereja GPIB, 2015
  31. ^ Peraturan Nomor 7 tentang Badan Pemeriksa Perbendaharaan di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 4 ayat 4 Tugas dan Lingkup Pemeriksaan, Tata Gereja GPIB, 2015
  32. ^ Peraturan Nomor 7 tentang Badan Pemeriksa Perbendaharaan di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 5 ayat 1 Keanggotaan dan Susunan Pengurus, Tata Gereja GPIB, 2015
  33. ^ Peraturan Nomor 7 tentang Badan Pemeriksa Perbendaharaan di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 2 ayat 1 Tempat Kedudukan, Tata Gereja GPIB, 2015
  34. ^ Tata Dasar GPIB, Bab IV Penatalayanan Gereja, Pasal 14 ayat 1 Musyawarah Pelayanan, Tata Gereja GPIB, 2015
  35. ^ Peraturan Nomor 14 tentang Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 2 ayat 1, Tata Gereja GPIB, 2015
  36. ^ Peraturan Nomor 14 tentang Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 2 ayat 2, Tata Gereja GPIB, 2015
  37. ^ Peraturan Nomor 14 tentang Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 2 ayat 3, Tata Gereja GPIB, 2015
  38. ^ Tata Dasar GPIB, Bab IV Penatalayanan Gereja, Pasal 14 ayat 2 Musyawarah Pelayanan, Tata Gereja GPIB, 2015
  39. ^ Tata Dasar GPIB, Bab IV Penatalayanan Gereja, Pasal 14 ayat 3 Musyawarah Pelayanan, Tata Gereja GPIB, 2015
  40. ^ Peraturan Nomor 14 tentang Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 6 ayat 1, Tata Gereja GPIB, 2015
  41. ^ Peraturan Nomor 14 tentang Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 6 ayat 2, Tata Gereja GPIB, 2015
  42. ^ Peraturan Nomor 14 tentang Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 6 ayat 3, Tata Gereja GPIB, 2015
  43. ^ Peraturan Nomor 14 tentang Musyawarah Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 6 ayat 5, Tata Gereja GPIB, 2015
  44. ^ Agenda Tahunan GPIB, Daftar Mupel GPIB, 2020
  45. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 1 ayat 1 dan 2 Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  46. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 2 Tugas Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  47. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 3 Wewenang Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  48. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 4 ayat 1 Sidang Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  49. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 4 ayat 2 Sidang Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  50. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 4 ayat 4 Sidang Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  51. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 5 Ketua Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  52. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 7 ayat 1 Pelaksana Harian Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  53. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 7 ayat 2 Pelaksana Harian Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  54. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 7 ayat 3 Pelaksana Harian Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  55. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 9 Tugas Pelaksana Harian Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  56. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 11 ayat 1 Masa Tugas PHMJ, Tata Gereja GPIB, 2015
  57. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 11 ayat 2 Masa Tugas PHMJ, Tata Gereja GPIB, 2015
  58. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 11 ayat 3 Masa Tugas PHMJ, Tata Gereja GPIB, 2015
  59. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 12 ayat 1 Penetapan PHMJ, Tata Gereja GPIB, 2015
  60. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 12 ayat 2 Penetapan PHMJ, Tata Gereja GPIB, 2015
  61. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 12 ayat 3 Penetapan PHMJ, Tata Gereja GPIB, 2015
  62. ^ Bab IV, 4.1. Pengertian, Buku III PKUPPG dan Grand Design PPSDI GPIB, 2015
  63. ^ Bab IV, 4.2. Landasan, Buku III PKUPPG dan Grand Design PPSDI GPIB, 2015
  64. ^ Bab IV, 4.3. Maksud dan Tujuan, Buku III PKUPPG dan Grand Design PPSDI GPIB, 2015
  65. ^ Bab IV, 4.5. Pengelompokan PKUPPG, Buku III PKUPPG dan Grand Design PPSDI GPIB, 2015
  66. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 1 ayat 1 Persidangan Sinode, Tata Gereja GPIB, 2015
  67. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 1 ayat 2 Persidangan Sinode, Tata Gereja GPIB, 2015
  68. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 2 ayat 1 Status dan Fungsi, Tata Gereja GPIB, 2015
  69. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 2 ayat 2 Status dan Fungsi, Tata Gereja GPIB, 2015
  70. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 3 ayat 1 Wewenang, Tata Gereja GPIB, 2015
  71. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 3 ayat 2 Wewenang, Tata Gereja GPIB, 2015
  72. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 3 ayat 3 Wewenang, Tata Gereja GPIB, 2015
  73. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 3 ayat 4 Wewenang, Tata Gereja GPIB, 2015
  74. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 3 ayat 5 Wewenang, Tata Gereja GPIB, 2015
  75. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 3 ayat 6 Wewenang, Tata Gereja GPIB, 2015
  76. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 3 ayat 7 Wewenang, Tata Gereja GPIB, 2015
  77. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 4 ayat 1 Bentuk Sidang, Tata Gereja GPIB, 2015
  78. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 4 ayat 3 Bentuk Sidang, Tata Gereja GPIB, 2015
  79. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 4 ayat 3 Bentuk Sidang, Tata Gereja GPIB, 2015
  80. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 5 Peserta, Tata Gereja GPIB, 2015
  81. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 4 ayat 3a Bentuk Sidang, Tata Gereja GPIB, 2015
  82. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 4 ayat 3b Bentuk Sidang, Tata Gereja GPIB, 2015
  83. ^ Peraturan Pokok II tentang Persidangan Sinode, Pasal 4 ayat 3c Bentuk Sidang, Tata Gereja GPIB, 2015
  84. ^ Tata Dasar GPIB, Bab IV Penatalayanan Gereja, Pasal 15 ayat 1 Pimpinan, Tata Gereja GPIB, 2015
  85. ^ Tata Dasar GPIB, Bab IV Penatalayanan Gereja, Pasal 15 ayat 2 Pimpinan, Tata Gereja GPIB, 2015
  86. ^ Peraturan Pokok I tentang Jemaat, Pasal 11 Pelaksana Harian Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  87. ^ Peraturan Pokok I tentang Jemaat, Pasal 11 ayat 3 Pelaksana Harian Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  88. ^ Peraturan Pokok I tentang Jemaat, Pasal 10 Sidang Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  89. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 1 ayat 1 Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  90. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 1 ayat 2 Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  91. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 1 ayat 3 Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  92. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 2 ayat 2a Tugas dan Tanggung Jawab Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  93. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 2 ayat 2b Tugas dan Tanggung Jawab Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  94. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 2 ayat 2c Tugas dan Tanggung Jawab Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  95. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 2 ayat 3 Tugas dan Tanggung Jawab Presbiter, Tata Gereja GPIB, 2015
  96. ^ Peraturan Nomor 10 tentang Kepegawaian GPIB, Pasal 2 ayat 31 Pengertian, Tata Gereja GPIB, 2015
  97. ^ Peraturan Nomor 10 tentang Kepegawaian GPIB, Pasal 2 ayat 32 Pengertian, Tata Gereja GPIB, 2015
  98. ^ Peraturan Nomor 10 tentang Kepegawaian GPIB, Pasal 2 ayat 33 Pengertian, Tata Gereja GPIB, 2015
  99. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 4 Perupaan Pendeta, Tata Gereja GPIB, 2015
  100. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 4 ayat 2c Perupaan Pendeta, Tata Gereja GPIB, 2015
  101. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 4 ayat 2d Perupaan Pendeta, Tata Gereja GPIB, 2015
  102. ^ Peraturan Nomor 2 tentang Majelis Jemaat, Pasal 5 Ketua Majelis Jemaat, Pasal 6 Tugas Ketua Majelis Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  103. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 5 Pendeta Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  104. ^ Peraturan Nomor 10 tentang Kepegawaian GPIB, Pasal 34 ayat 1 Alih Tugas Pendeta, Tata Gereja GPIB, 2015
  105. ^ Peraturan Nomor 10 tentang Kepegawaian GPIB, Pasal 34 ayat 3 Alih Tugas Pendeta, Tata Gereja GPIB, 2015
  106. ^ Peraturan Nomor 10 tentang Kepegawaian GPIB, Pasal 34 ayat 2 Alih Tugas Pendeta, Tata Gereja GPIB, 2015
  107. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 3 Pemilihan Diaken dan Penatua, Tata Gereja GPIB, 2015
  108. ^ Peraturan Nomor 1 tentang Presbiter dan Tata Cara Pengadaan Presbiter, Pasal 3 ayat 2 Pemilihan Diaken dan Penatua, Tata Gereja GPIB, 2015
  109. ^ Peraturan Nomor 3 tentang Unit-unit Misioner, Pasal 1 Ayat 1 Pengertian, Tata Gereja GPIB, 2015
  110. ^ Peraturan Nomor 3 tentang Unit-unit Misioner, Pasal 1 Ayat 3 Pengertian, Tata Gereja GPIB, 2015
  111. ^ Peraturan Nomor 3 tentang Unit-unit Misioner, Pasal 2 Fungsi, Tata Gereja GPIB, 2015
  112. ^ Peraturan Nomor 15 tentang Pelayanan Kategorial Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat, Pasal 1 ayat 1, Tata Gereja GPIB, 2015
  113. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. Pengertian, Pemahaman Teologis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  114. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. Pengertian, Pemahaman Teologis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  115. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. Pengertian, Pemahaman Teologis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  116. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal ix-x Pengantar, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  117. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 3-6 Pengertian, A. Tata Ruang, Pemahaman Teologis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  118. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 6 Pengertian, B. Tata Waktu, Pemahaman Teologis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  119. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 7 Pengertian, C. Tata Ibadah, Pemahaman Teologis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  120. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 171 Musik Gereja Arti dan Penataannya, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  121. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 172-173 Musik Gereja Arti dan Penataannya, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  122. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 178 Tata Busana Pakaian Liturgis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  123. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 178 Tata Busana Pakaian Liturgis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  124. ^ GPIB, Keputusan PS XX. 2015. hal 180 Tata Busana Pakaian Liturgis, Buku II Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis. Jakarta
  125. ^ Peraturan Pokok I tentang Jemaat, Pasal 1 ayat 1 Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  126. ^ Peraturan Pokok I tentang Jemaat, Pasal 1 ayat 2 Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  127. ^ Peraturan Pokok I tentang Jemaat, Pasal 1 ayat 3 Jemaat, Tata Gereja GPIB, 2015
  128. ^ Tata Dasar GPIB, Bab II, Wujud, Bentuk dan Kelembagaan, Warga dan Hubungan dengan Gereja lain, Tata Gereja GPIB, 2015
  129. ^ Tata Dasar GPIB, Bab II Wujud, Bentuk dan Kelembagaan, Warga dan Hubungan dengan Gereja lain, Pasal 7 ayat 1 Hubungan Dengan Gereja Lain, Tata Gereja GPIB, 2015
  130. ^ Tata Dasar GPIB, Bab II Wujud, Bentuk dan Kelembagaan, Warga dan Hubungan dengan Gereja lain, Pasal 7 ayat 2 Hubungan Dengan Gereja Lain, Tata Gereja GPIB, 2015

Templat:Https://gpib.or.id/tentang-gpib/majelis-sinode/

Sumber Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Tata Dasar Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat
  • Tata Gereja Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat 2015
  • Peraturan Pokok GPIB Nomor I / 2015 tentang Jemaat
  • Peraturan Pokok GPIB Nomor II / 2015 tentang Persidangan Sinode
  • Peraturan Pokok GPIB Nomor III / 2015 tentang Majelis Sinode GPIB
  • Peraturan Nomor 1 / 2015 tentang Presbiter
  • Peraturan Nomor 2 / 2015 tentang Majelis Jemaat
  • Peraturan Nomor 3 / 2015 tentang Unit-unit Misioner
  • Peraturan Nomor 4 / 2015 tentang Penggembalaan
  • Peraturan Nomor 5 / 2015 tentang Mekanisme Persidangan Sinode
  • Peraturan Nomor 6 / 2015 tentang Perbendaharaan
  • Peraturan Nomor 7 / 2015 tentang BPPG
  • Peraturan Nomor 8 / 2015 tentang Pendewasaan
  • Peraturan Nomor 9 / 2015 tentang Struktur & Tata Kerja Majelis Sinode
  • Peraturan Nomor 10 / 2015 tentang Kepegawaian
  • Peraturan Nomor 11 / 2015 tentang Kantor
  • Peraturan Nomor 12 / 2015 tentang Badan Hukum
  • Peraturan Nomor 13 / 2015 tentang Badan Penasihat Majelis Sinode
  • Peraturan Nomor 14 / 2015 tentang Musyawarah Pelayanan
  • Peraturan Nomor 15 / 2015 tentang Pelayanan Kategorial
  • Buku II Keputusan Persidangan Sinode XX GPIB 2015 tentang Tata Ibadah, Musik Gereja dan Pakaian Liturgis
  • Buku III Keputusan Persidangan Sinode XX GPIB 2015 tentang PKUPPG dan Grand Design PPSDI

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]