Batalyon Infanteri 515

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Batalyon Infanteri 515/Ugra Tapa Yudha atau merupakan Batalyon Infanteri yang berada dibawah komando Brigif 9/Daraka Yudha,Kostrad. Sebelumnya, batalyon ini merupakan satuan organik Kodam V/Brawijaya, sebelum akhirnya berdasarkan surat perintah Pangdam VIII/Brawijaya Nomor : Sprin/416/III/1978 Batalyon Infanteri 515 diubah statusnya menjadi satuan Kostrad. Tak kurang 138 prajurit gugur di berbagai medan tugas sejak tahun 1945 sampai sekarang.

Markas Batalyon saat ini berkedudukan di Tanggul, Jember, setelah sebelumnya berpindah pindah. Pada awal terbentuk tahun 1949 s/d 1952 berkedudukan di Lawang Malang, tahun 1952 s/d 1953 di Rambipuji Jember, tahun 1953 s/d 1959 di Lumajang, tahun 1959 s/d 1974 di Tanggul Jember, tahun 1974 s/d 1978 di Lumajang, dan mulai tahun 1978 kembali di Tanggul Jember.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Cikal bakal Batalyon ini telah ada sejak zaman kemerdekaan. Diawali dengan terbentuknya Badan Keamanan Rakyat di wilayah Probolinggo, yang anggotanya terdiri atas : Peta, Keigun, Pemuda Pelajar dan Pemuda Pejuang dibawah pimpinan Letkol Soedarsono pada 29 Agustus 1945. Pada Tanggal 5 Oktober 1945 BKR yang berkedudukan di Probolinggo berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat(TKR). Selanjutnya TKR yang berkedudukan di Probolinggo berganti nama menjadi Yon 4/TKR Resimen II Divisi 8 kekuatan 4 Kompi, dipimpin oleh Komandan Batalyon Mayor H. Katamsi, sedangkan Letkol Soedarsono menjadi Komandan Resimen II. Beberapa waktu kemudian, Komandan Batalyon 4 Mayor H. Katamsi diganti oleh Mayor Sunaryo.

Tanggal 10 Oktober 1946 Batalyon 4 diubah namanya menjadi Batalyon 138/Macan Kumbang Divisi 8, dengan Komandan Batalyon Kapten Abdul Syarif. Dalam rangka mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Batalyon 138/Macan Kumbang mengirimkan Pasukan ke Front Trawas, Prigen, Surabaya, Wonocolo, Pagerwojo dan Prangsang Tombak untuk merebut kembali kota Surabaya yang telah diduduki Belanda.

Selain itu Yon 138/Macan Kumbang selalu mengadakan taktik-taktik gerilya untuk mempertahankan kota Probolinggo secara mati matian dari serangan Belanda. Walaupun putra-putra Yon 138/Macan Kumbang, telah mengadakan perlawanan secara gigih dan mati-matian tetapi kota Probolinggo tidak dapat di pertahankan, dan jatuh ketangan Belanda pada tanggal 12 Juli 1947. Setelah kota Probolinggo jatuh ke tangan Belanda Yon 138/Macan Kumbang meninggalkan kota tersebut dengan tujuan untuk melanjutkan perjuangan dengan menggunakan taktik-taktik gerilya didaerah : Pelas, Sukopuro, Gending, Kraksan, Paiton dan Wonoasih sebagai basis gerakan.

Semboyan 138/Macan Kumbang pada waktu itu adalah "Rawe Rawe Rantas Malang Malang Putung" dan "Patah Tumbuh Hilang Berganti" yang artinya serangan–serangan Yon 138/Macan Kumbang silih berganti datangnya, sehingga pasukan Belanda menjadi kacau balao, tetapi sebaliknya tidak sedikit putra-putra Yon 138/Macan Kumbang yang gugur sebagai kusuma bangsa demi mempertahankan keutuhan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, kemudian dimakamkan di Probolinggo (sekarang menjadi TMP Probolinggo).6.

Akibat Perjanjian Renville, Februari 1948 gerilya-gerilya TNI menghancurkan kota Probolinggo, sehingga Yon 138/ Macan Kumbang dengan kebesaran jiwanya meninggalkan kota Probolinggo menuju Ampel Gading, Petung Ombo dan Malang dengan kekuatan Personel 1 Kompi dibawah Pimpinan Kapten Abdul Syarif.

Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melanggar Perjanjian Renville, sehingga 21 Desember 1948, dengan kekuatan yang ada Yon 138/Macan Kumbang dibawah pimpinan Kapten Abdul Syarif segera bergerak kembali dari daerah hijrahnya untuk menyusup ke kota Probolinggo guna mengadakan serangan balasan. Namun Yon 138/Macan Kumbang dinyatakan bubar.

Setelah Perundingan KMB, atas perintah Komandan Brigade 4 Divisi 1 semua tenaga bersenjata yang berada di Probolinggo disusun menjadi 1 batalyon dengan kekuatan 4 Kompi. Pada tanggal 12 Desember 1949 batalyon tersebut diresmikan menjadi Batalyon 105/Macan Kumbang dengan Komandan Batalyon Infanteri Kapten Abdul Syarif.

Penyerahan kedaulatan terjadi pada tanggal 27 Desember 1949, bersama dengan itu Batalyon 105/Macan Kumbang diubah namanya menjadi Batalyon 134, dan akhirnya menjadi Batalyon Infanteri 515. Hari ulang tahun Batalyon berpedoman pada akhir jadinya Yon 105, yaitu pada tanggal 12 Desember 1949. Adapun Sesanti/Tunggul Batalyon "Ugra Tapa Yudha", yang melambangkan waspada dalam pertempuran dan berani dalam kebenaran.

Tugas & Operasi[sunting | sunting sumber]

  • Tahun 1951 s/d 1952 penumpasan RMS di Maluku.
  • Tahun 1953 s/d 1954 penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.
  • Tahun 1955 s/d 1956 penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.
  • Tahun 1957 s/d 1958 penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.
  • Tahun 1958 s/d 1959 penumpasan Permesta di Sulawesi Utara.
  • Tahun 1960 s/d 1961 penumpasan Permesta di Sulawesi Utara.
  • Tahun 1962 s/d 1963 operasi mandala Irian Jaya.
  • Tahun 1964 s/d 1965 operasi kilat DI/TII di Sulawesi Selatan.
  • Tahun 1965 penumpasan G 30 S/PKI di jawa Timur.
  • Tahun 1968 s/d 1969 operasi sadar/Papera di Sorong Irian Jaya.
  • Tahun 1972 s/d 1973 penumpasan PGRS Parako di Kalimantan Barat.
  • Tahun 1976 s/d 1977 penugasan Kotindo di Timur Tengah.
  • Tahun 1982 s/d 1983 penugasan di Timor-Timur.
  • Tahun 1985 s/d 1988 penugasan rotasi 3 tahun di Timor- Timur.
  • Tahun 1990 s/d 1991 penugasan di Timor-Timur.
  • Tahun 1992 penugasan PBB di Kamboja BP Yonif Linud 503 dalam Garuda XII-A.
  • Tahun 1993 penugasan PBB ke Kamboja BP Yonif 411 dalam Garuda XII – C.
  • Tahun 1993 s/d 1994 penugasan di Timor-Timur.
  • Tahun 1996 s/d 1998 penugasan ke Irian Jaya.
  • Tahun 1998 PAM kerusuhan massa di Banyuwangi, Surabaya dan Bondowoso.
  • Tahun 1998 s/d 1999 penugasan di Timor-Timur.
  • Tahun 1998 s/d 1999 penugasan di Irian Jaya.
  • Tahun 1999 pengamanan daerah rawan Ambon.
  • Tahun 1999 pengamanan Pemilu di Sulawesi Tengah.
  • Tahun 1999 s/d 2000 BP tugas Yonif 509 dalam rangka operasi sadar rencong II dan III di Aceh.
  • Tahun 1999 pengamanan daerah rawan di Bali.
  • Tahun 1999 BP Yonif 509 dalam rangka Latma Safkar Indopura.
  • Tahun 2000 BP Yonif 514 penugasan ke Atambua.
  • Tahun 2000 s/d 2001 penugasan Rajawali di Irian Jaya.
  • Tanggal 6 Mei 2002 s/d 20 Mei 2003 melaksanakan PAM Obyek Vital di Timika-Irian Jaya.
  • Tahun 2003 s/d 2004 penugasan Babinsa tempur ke Rahwan Aceh.
  • Tanggal 12 Juni 2004 s/d 20 September 2005 melaksanakan penugasan ke Rahwan Aceh.
  • Tahun 25 Juli 2007 s/d 20 Juli 2008 melaksanakan penugasan ke Rahwan Maluku/Maluku Utara.

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]