Batalyon Infanteri 753

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lambang Yonif 753/Arga Vira Tama

Batalyon Infanteri 753/Arga Vira Tama atau Yonif 756/AVT adalah sebuah batalyon infanteri Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berada di bawah komando Korem 173, Kodam XVII/Cenderawasih. Markas Batalyon Kompi B, D dan Kompi Bantuan berkedudukan di Kabupaten Nabire, Kompi Senapan A di Kimi, Kabupaten Nabire, Kompi C di Biak, dan Kipan E ditempatkan di Serui, Kabupaten Yapen Waropen. Arga Vira Tama berarti gunung, berani, utama sehingga dimaknai Batalyon Infanteri 753 sebagai pasukan yang berasal dari rakyat, yang bersifat berani, jujur tidak mementingkan diri sendiri, penuh keyakinan dan kesadaran yang menjadi tujuan utama. Batalyon ini dibentuk pada 17 Pebruari 1970.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dalam rangka pelaksanaan tugas operasi ke Kodam XVII/Cenderawasih, pada tanggal 17 Pebruari 1970 di Singosari, Malang, Jawa Timur Pangdam VIII/Brawijaya Mayjen TNI Wahono, meresmikan terbentuknya Unit Batalyon Infanteri dengan nama Batalyon Cenderawasih, inti kekuatan Batalyon Cenderawasih diambil dari kesatuan-kesatuan dalam jajaran Kodam VIII/Brawijaya waktu itu dibawah pimpinan Mayor Inf Puspito sebagai Danyonif pertama.

Batalyon Cenderawasih yang dipimpin Mayor Inf Puspito, diterima oleh Pangdam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Acub Zaenal pada tanggal 18 April 1970 di lapangan Borasi Manokwari. Bersamaan dengan hal tersebut Batalyon Cenderawasih diberi nama atau diresmikan menjadi Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama. Batalyon Cenderawasih yang telah menjadi Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama diorganikkan ke Kodam XVII/Cenderawasih, berdasarkan Skep Pangdam VIII/Brawijaya dengan No : Skep/137/X/1970 tanggal 22 Oktober 1970.

Dengan reorganisasi di lingkungan TNI-AD khususnya di Kodam XVII/Cenderawasih maka sejak tanggal 27 Nopember 1984 Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama menjadi organik Korem 173/PVB. Dengan latar belakang terbentuknya Satuan Infanteri di Singosari Malang yaitu Batalyon Cenderawasih oleh Pangdam VIII/Brawijaya, maka tanggal 17 Pebruari 1970 ditetapkan sebagai hari jadi Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama.

Pada awal pembentukan, Markas Batalyon, Kompi Markas, dan Kompi Senapan B berkedudukan di Biak, Kompi Senapan A di Ransiki Manokwari, Kompi Senapan C berkedudukan di Merauke. Markas Batalyon dan Kompi Markas yang semula berkedudukan di Biak dipindahkan ke Ifar Gunung Jayapura, dan pada bulan Mei 1975 dipindahkan ke Waena, Jayapura. Kompi Senapan A dipindahkan dari Ransiki, Manokwari ke Ifar Gunung, Kompi Senapan B pada awal 1973 dipindahkan dari Biak ke Doyo Baru, Jayapura, Kompi Senapan C pada tahun 1976 dipindahkan dari Merauke ke Biak.

Berdasarkan Keputusan Pangdam XVII/Cenderawasih Nomor : Skep/ 005-2 / II / 1976 tanggal 19 Februari 1976, Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama dipindahkan dari Waena Jayapura ke Manokwari, Kipan B ditempatkan di Nabire. Dengan diresmikan Markas Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama di Nabire, maka pada tahun 1984 dilaksanakan pemindahan Mayon dan Kompi Bantuan dari Manokwari ke Nabire.

Dalam rangka reorganisasi Kodam XVII/Cenderawasih, Kipan A yang berkedudukan di Manokwari masuk organik Batalyon Infanteri 752, selanjutnya dengan pengisian personel dan materiil untuk Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama maka terbentuk kembali Kipan A yang berkedudukan di Nabire.

Berdasarkan keputusan Kasad Nomor Kep/ 41 / IX / 2003 tanggal 5 September 2003 tentang Organisasi Yonif diperkuat, maka Yonif 753/ Arga Vira Tama ditambah 2 kompi Senapan, yaitu Kompi senapan D dan E, sehingga Yonif 753/AVT saat ini berjumlah menjadi 5 Kompi Senapan, 1 Kompi Markas dan 1 Kompi Bantuan. Kipan A semula berkedudukan di Markas Batalyon, pada tanggal 29 Desember 2004 dipindahkan ke Kimi, Kabupaten Nabire. Pada tanggal 12 September 2006 Kipan E ditempatkan di Serui, Kabupaten Yapen Waropen.

Tugas & Operasi[sunting | sunting sumber]

  • Tahun 1970 Operasi Pamungkas di daerah Biak.
  • Tahun 1971 s.d 1972 Operasi Waspada dan Operasi Sakti di Perbatasan RI dan PNG.
  • Tahun 1973 Operasi Koteka di daerah Wamena dan Operasi Sakti di daerah Perbatasan RI dan PNG.
  • Tahun 1974 s.d 1980 Operasi Tumpas 1, 2 dan 3 di daerah Perbatasan RI dan PNG, Wamena, Timika, Fak-Fak, Tembaga Pura, Jayapura dan Nabire.
  • Tahun 1975 s.d 1976 Operasi Kikis di Perbatasan RI dan PNG.
  • Tahun 1984 s.d 1989 Operasi Galang di daerah Paniai.
  • Tahun 1981, 1989, 1991, 1992, dan 2003 Operasi Pam Obyek Vital Tembaga Pura.
  • Tahun 1989 s.d 2000 Operasi Rajawali di daerah Paniai dan Timika.
  • Tahun 2001 s.d 2002 Operasi Nuri di daerah Paniai dan Puncak Jaya.
  • Tahun 2002 s.d 2003 Operasi Pam Obyek Vital Tembaga Pura dan Operasi Pam Rah Wan di daerah Paniai dan Puncak Jaya.
  • Tahun 2003 s.d 2004 Operasi Rajawali I di daerah Jayapura dan Sarmi.
  • Tahun 2004 s.d 2005 Operasi Pam Rah Wan di daerah Puncak Jaya.
  • Tahun 2004 s.d 2005 Operasi Rajawali II di daerah Jayapura.
  • Tahun 2004 Tugas Pam RI I dan RI II di Kabupaten Nabire.
  • Tahun 2005 s.d sekarang Operasi Pam Rah Wan di daerah Puncak Jaya dan Paniai.

Lambang Satuan[sunting | sunting sumber]

  • Tunggul kesatuan berbentuk persegi panjang terbuat dari beludru hijau tua berjumbai kuning emas.
  • Lambang kesatuan : Bintang segi lima warna kuning emas, Burung walet warna hitam dada putih, gunung warna hijau, untaian padi warna kuning dan kapas warna putih dan hijau.
  • Tulisan Arga Vira Tama
  • Bintang bersudut lima warna kuning emas diartikan Pancasila sebagai dasar Negara RI, setiap prajurit wajib membela dan mempertahankannya serta sebagai simbol TNI-AD yang mengandung lima kebulatan tekad dalam Sumpah Prajurit.
  • Burung walet tubuhnya hitam dada putih paruh tertutup rapat warna kuning dengan sifat tak kenal lelah dalam perjuangan hidupnya diartikan Prajurit Batalyon Infanteri 753/AVT mempunyai sifat yang rendah hati, perkasa dan setia terhadap tugas, selalu memegang rahasia, siap melaksanakan tugas demi cita-cita luhur.
  • Gunung diartikan kekokohan dan pendirian yang tidak mudah dipengaruhi, dalam melaksanakan tugas yang dibebankan padanya.
  • Untaian padi 45 butir, bunga kapas 8 buah, 17 helai daun diartikan kesejahteraan dan kemakmuran Negara dan Bangsa Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]