Kota Cimahi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Cimahi)
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Cimahi
Kota Cimahi.svg
Lambang Kota Cimahi
Moto: Saluyu ngawangun jati mandiri
Monumen cimahi.jpg
Locator kota cimahi.png
Peta lokasi Kota Cimahi
Koordinat: 6°53' LS 107°32' BT
Provinsi Jawa Barat
Dasar hukum Undang Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2001
Tanggal 21 Juni 2001
Pemerintahan
 - Wali Kota Hj. Atty Suharti Tochija, S.E.
 - DAU Rp489.174.792.000.-(2013)[1]
Luas 48,42 km²
Populasi
 - Total 483.000 (2003)
 - Kepadatan 9.975
Demografi
 - Bahasa Sunda, Indonesia
 - Kode area telepon 022
Pembagian administratif
 - Kecamatan 3
 - Kelurahan 15
 - Situs web www.cimahikota.go.id

Kota Cimahi adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak di antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Cimahi dahulu bagian dari Kabupaten Bandung, yang kemudian ditetapkan sebagai kota administratif pada tanggal 29 Januari 1976. Pada tanggal 21 Juni 2001, Cimahi ditetapkan sebagai kota otonom. Kota Cimahi terdiri atas 3 kecamatan, yang dibagi lagi atas 15 kelurahan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Keluarga Belanda di Cimahi pada tahun 1902

Dalam bahasa Sunda, nama Cimahi berasal dari kata cai mahi yang berarti "air yang cukup". Cimahi mulai dikenal ketika pada tahun 1811, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membuat jalan Anyer-Panarukan, dengan dibuatnya pos penjagaan di alun-alun Cimahi sekarang. Tahun 18741893, dilaksanakan pembuatan jalan kereta api Bandung-Cianjur sekaligus pembuatan Stasiun Cimahi. Tahun 1886 dibangun pusat pendidikan militer beserta fasilitas lainnya seperti Rumah Sakit Dustira dan rumah tahanan militer. Pada tahun 1935, Cimahi ditetapkan sebagai kecamatan.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Cimahi menjadi bagian dari Kabupaten Bandung Utara. Pada tahun 1962, dibentuk Kawedanaan Cimahi yang meliputi Kecamatan Cimahi, Padalarang, Batujajar, dan Cipatat. Berdasarkan PP Nomor 29 Tahun 1975, Cimahi ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif pada tanggal 29 Januari 1976, dan menjadi kota administratif pertama di Jawa Barat. Mulai 21 Juni 2001 status Cimahi menjadi kota.

Kini Cimahi menjadi salah satu kawasan pertumbuhan Kota Bandung di sebelah barat. Jumlah penduduknya saat ini adalah sekitar 483.000 jiwa, meningkat dari 290.000 pada tahun 1990 dengan pertumbuhan rata-rata 2,12% per tahun.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD kota Cimahi 2009-2014
Partai Kursi
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 13
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 6
Lambang PKS Partai Keadilan Sejahtera 5
Lambang PDI-P PDI-P 4
Lambang PAN PAN 3
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 3
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 3
Lambang PKB PKB 2
Lambang PPP PPP 1
Lambang Partai Bulan Bintang Partai Bulan Bintang 1
Lambang Partai Pelopor Partai Pelopor 1
Total 45
Sumber:[2]

Kota tentara[sunting | sunting sumber]

Kota Cimahi mendapat julukan sebagai "Kota Tentara" karena di kota ini banyak pusat pendidikan untuk tentara, di antaranya:

  • Pusat Pendidikan Artileri Medan (Pusdikarmed)
  • Pusat Pendidikan Pengetahuan Militer Umum (Pusdikpengmilum)
  • Sekolah Pelatih Infanteri Pusat Pendidikan Infanteri (SPI Pusdikif)
  • Pusat Pendidikan Jasmani (Pusdikjas)
  • Pusat Pendidikan Peralatan (Pusdikpal)
  • Pusat Pendidikan Pembekalan Angkutan (Pusdikbekang)
  • Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom)
  • Pusat Pendidikan Perhubungan (Pusdikhub)

belum lagi markas-markas tentara yang terdapat di situ yang jumlahnya pun cukup banyak, seperti:

  • Brigif 15/Kujang II
  • Pussenarhanud Kodiklatad
  • Pussenarmed Kodiklatad
  • Kiban Yonzipur 3/Macan Kumbang
  • Kodim 0609/Cimahi
  • Yonarmed 4/105 Parahyangan
  • Tepbek Cimahi
  • Koramil Cimahi
  • Rumkit Tk. II Kesdam III/Siliwangi
  • Kesdim Cimahi

dan masih banyak lagi ditambah asrama militer yang jumlahnya sangat banyak. Dengan banyaknya pusat pendidikan tentara dan fasilitas kemiliteran lainnya maka sekitar 60% wilayah Kota Cimahi digunakan oleh tentara. Mungkin karena itulah, kota Cimahi juga mendapat julukan "Kota Hijau", sesuai dengan warna seragam yang digunakan tentara khususnya dari angkatan darat (TNI-AD).

Namun keadaan demikian juga menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pemerintah kota Cimahi. Ini disebabkan karena tanah dan bangunan yang digunakan oleh militer tersebut tidak dibayar pajak bumi dan bangunannya (PBB), sehingga pemerintah kota tidak mendapat masukan dari sebagian besar wilayahnya.

Rumah Sakit di Cimahi[sunting | sunting sumber]

Perguruan Tinggi di Cimahi[sunting | sunting sumber]

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Meskipun Cimahi memiliki atlet-atlet potensial akan tetapi sarana dan dana untuk memajukan olahraga sangatlah minim. Beberapa atlet malah memutuskan untuk keluar dari Cimahi karena disebabkan oleh hal ini[3] Selain itu dana yang dikucurkan pada tahun 2013 hanya Rp 1 miliar dari 2.3 miliar yang diusulkan[4]. Padahal idealnya menurut KONI daerah Cimahi, dana ideal yang dibutuhkan adalah sekitar 4 miliar[5].

Perubahan Nama Jalan[sunting | sunting sumber]

Sejak tanggal 10 November 2006, yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, sepuluh jalan di Kota Cimahi mengalami perubahan nama menjadi nama pahlawan dari Kota Cimahi. Kesepuluh jalan tersebut adalah:

Sebelumnya Nama Baru
Jalan Cihanjuang Jalan Daeng Muhammad Ardiwinata
Jalan Cibeureum - Alun-alun - Padasuka ( Jl. Raya Cimahi ) Jalan Jend. H. Amirmachmud
Jalan Babakan Jalan M.K Wiganda Sasmita
Jalan Pasar Atas Jalan Dra. Hj. Julaeha Karmita
Jalan SMP Jalan Rd. Embang Artawidjaja
Jalan Cisangkan Hilir Jalan KH. Usman Dhamiri
Jalan Akses Tol Baros Jalan H. M. S. Mintaredja, S.H.
Jalan Balai Kota Cimahi Jalan Rd. Demang Hardjakusumah
Jalan Citeureup Jalan Encep Kartawiria
Jalan Cimindi-Leuwigajah Jalan Mahar Martanegara

Seni dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Cimahi adalah sebuah daerah yang unik karena masyarakat yang hidup di daerah ini sangat majemuk. Kemajemukan masyarakat Cimahi disebabkan oleh beragamnya suku bangsa yang hidup dan menetap di daerah ini. Beragam suku bangsa yang ada di Cimahi yang sekaligus memperlihatkan keragaman suku bangsa yang ada di Indonesia menjadi ciri tersendiri bagi Cimahi.

Keberagaman suku bangsa yang ada di Cimahi menyebabkan munculnya kebudayaan dan kesenian yang beragam pula. Sebagai hasil dari hal tersebut, kebudayaan dan kesenian Sunda tetap dilestarikan dan dikembangkan. Pementasan budaya dan kesenian bahkan telah dipertunjukkan sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Sebagai contoh, kesenian Sunda yang terkenal yang ada di Cimahi, antara lain tari jaipongan, tari keurseus, sisingaan, angklung, calung reog, tembang, rengkong, kecapi suling, degung, tarawangsa, longser, jenaka sunda, sandiwara, seni pencak silat, kliningan, karawitan dan wawayangan dan tari merak

Disamping jenis kesenian tradisional sebagaimana yang telah dikemukakan di depan, juga ada kesenian-kesenian baru, seperti teater, kabaret, seni peran, perfilman, sastra, modeling, seni gambar atau lukis, seni patung, seni rias, nasyid, qasidah, dan acapela[6].

Musik[sunting | sunting sumber]

Grup musik Jamrud pertama kali dibentuk di kota ini pada tahun 1989. Selain itu Fenomena Keong Racun yang dipopulerkan oleh duo Sinta - Jojo, mahasiswa yang berasal dari Cimahi, menjadi meme di YouTube.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Obyek Wisata[sunting | sunting sumber]

Beberapa daerah wisata yang dapat dikunjungi di kota Cimahi diantaranya adalah:

  • Rumah Sakit Tk. II Dustira di Jalan Rumah Sakit No. 1 Cimahi 40533 - rumah sakit peninggalan Belanda yang masih berarsitektur Eropa
  • Makam Embah Tumpang
  • Stasiun Cimahi - stasiun peninggalan Belanda yang masih berarsitektur Eropa
  • Gereja Santo Ignasius - gereja yang dibangun di zaman penguasaan Belanda dan masih berarsitektur Eropa
  • Kampung Adat Cirendeu
  • Alam Wisata Cimahi[7]
  • Baros Information Technology Creative (BITC)
  • The Historich - Bangunan Sudirman - Saat ini The Historich dipakai sebagai gedung kesenian. Pada awal dibangun pada tahun 1886, gedung tersebut ditujukan unuk menjadi tempat hiburan bagi kaum sosialita Belanda
  • Bioskop Rio - gedung kesenian atau bioskop yang dibangun pada zaman Belanda[8]
  • Taman Kupu-kupu

Wisata kuliner[sunting | sunting sumber]

Beberapa tempat wisata kuliner yang terkenal di Kota Cimahi diantaranya adalah:

  • Bakso Hejo - Jalan Cihanjuang
  • Alam Wisata Cimahi (AWC)
  • Nasi merah - Jalan Citereup dekat Tutwuri Handayani
  • Pujasera - Cimahi Mall
  • Mie Tegal Lega - Jalan Cibabat
  • Saung kuring - belakang Ramayana Cimahi
  • Cilok goreng - Jalan Cihanjuang
  • Rumah makan Padjeng - Jalan Gatot Subroto dekat SMAN 5 Cimahi

Selain obyek wisata, Kota Cimahi terkenal pula dengan kekhasan kulinernya yang biasa dijadikan sebagai oleh-oleh para wisatawan, diantaranya adalah: bandrek, bajigur, dendeng jantung pisang (denjapi), kencur, paru daun singkong, minuman aloe vera atau yang terbuat dari olahan lidah buaya, keripik binahong, keripik setan, kue semprong, kremes, comring, dan awug.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Tokoh-tokoh terkenal dari Cimahi diantaranya adalah penyanyi era 80-an Ria Angelina, tokoh militer dan pemerintahan Amirmachmud, penyanyi era 70-an Margie Segers, penyiar olahraga Widya Saputra, komedian dan pembawa acara Sule, serta pemeran Indonesia Nadila pemeran Indonesia Sena A. Utoyo dan pembawa acara & komedian fitri tropica

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]