Batalyon Infanteri Lintas Udara 503/Mayangkara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Batalyon Infanteri 503)
Lompat ke: navigasi, cari
Batalyon Infanteri Lintas Udara 503/Mayangkara
Gambar Yonif Linud 503.png
Lambang Yonif Linud 503/MK
Didirikan 9 Desember 1945
Negara Indonesia
Kecabangan TNI Angkatan Darat
Tipe unit Satuan Tempur Infanteri
Motto Mayangkara
Situs resmi
Situs http://yoniflinud503.blogspot.com

Batalyon Infanteri Lintas Udara 503/Mayangkara merupakan salah satu pasukan Infanteri Lintas Udara terbaik yang dimiliki TNI AD. Batalyon tersebut merupakan bagian dari satuan jajaran Brigif Linud 18/Trisula, Divisi Infanteri 2/Kostrad yang berdislokasi di Kecamatan Mojosari, Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sebagai pasukan lintas udara yang juga merupakan bagian dari PPRC TNI (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat TNI).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Cikal bakal batalyon ini adalah pemuda-pemuda yang sebagian besar dari kampung Kedondong, Surabaya di bawah pimpinan Djarot Subiantoro mantan tokoh Jibaku Tai pada awal kemerdekaan. Setelah disusun menjadi Batalyon, pasukan ini bernama Batalyon BPRI dan berkedudukan di Gubeng. Pada peristiwa 10 November 1945, Batalyon BPRI mundur ke Sepanjang, Krian dan akhirnya mempertahankan Desa Perning, Kecamatan Jetis, Mojokerto, Kabupaten Mojokerto.[1]

Pasukan Parade
Pasukan Defile Yonif Linud 503/MK
Yonif Linud 503 /MK Juara ke-2 Parade dan Defile Hari Juang Kartika Tahun 2013
Juara ke-2 Parade dan Defile Hari Juang Kartika Tahun 2013

Pada tanggal 9 Desember 1945, Kompi Sriwijaya yang anggotanya berasal dari bekas Heiho di bawah pimpinan Kapten Jansen Rambe bergabung dengan Batalyon BPRI, dan diresmikan menjadi Batalyon IX dengan komandan tetap Mayor Djarot Subiantoro. Batalyon IX bergabung ke Resimen XXXII Pimpinan Letkol Kristanto, kemudian markas Batalyon berpindah ke Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Lamongan. Batalyon ini mempunyai tanggung jawab Sektor Surabaya Barat, meliputi batas desa Banjeng sampai batas Selatan desa Kupang Kemlagi, Mojokerto.

Dalam perkembangannya, Batalyon Djarot mengalami beberapa kali perubahan nama dan dislokasi sesuai dengan tuntutan perkembangan situasi pertahanan dan keamanan Negara. Sampai suatu saat berdasarkan Skep Kasad no 235/Kasad/Pnt/1950 tanggal 27 Oktober 1950 dan Instruksi Panglima Divisi I nomor 66/BS.D.IV.I/1951 tanggal 7 Desember 1951 batalyon Djarot berganti nama menjadi Batalyon Infanteri 503 di bawah komando Kodam VIII/Brawijaya. Perkembangan situasi berikutnya membawa perubahan yang cukup signifikan. Berdasarkan Skep Kasad no Skep/277/XII/1975 tanggal 10 Desember 1975 Yonif 503 masuk organik Kostrad, yang selanjutnya ditindak lanjuti oleh perintah Pangkostrad no Sprin/240/III/1975 tanggal 9 Maret 1977, batalyon tersebut masuk ke jajaran Brigif Linud 18/Trisula, sehingga secara resmi berganti nama menjadi Batalyon Infanteri Lintas Udara 503/Mayangkara.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Yonif Linud 503/Mayangkara
Monumen Prajurit Mayangkara

Dari awal terbentuknya Yonif Linud 503/MK,tidak langsung menetap pada satu tempat saja melainkan berpindah – pindah tempat.Hal ini dikarenakan pada saat itu masih dalam situasi perang dan taktik yang digunakan adalah taktik perang gerilya.Kondisi semacam itu dirasakan oleh Batalyon pimpinan Pak Djarot hampir berpuluh – puluh tahun yang akhirnya menetap di desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto yang dahulunya merupakan bekas Asrama Yonif 516 Kodam V/Brawijaya.[2]

Selama berdirinya, Batalyon yang bersimbol Kuda Putih ini sudah pernah melaksanakan penugasan baik di dalam maupun di luar negeri.Untuk penugasan di dalam negeri, Yonif Linud 503/MK cukup mempunyai nama , baik itu penugasan pertempuran maupun penugasan pengamanan objek vital.Penugasan di luar negeri, meliputi penugasan ke Mesir yang pada saat itu tergabung dalam kontingen Garuda serta penugasan ke Kamboja.

Dari rangkaian peristiwa – peristiwa diatas,Yonif Linud 503 /MK tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pengabdiannya kepada Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia tercinta ini.Pengorbanan baik jiwa maupun raga sudah tidak terhitung di dalam mengawal negeri ini. Sehingga dengan ditulisnya Buku sejarah satuan Yonif Linud 503/MK bisa dijadikan pedoman bagi warga Yonif Linud 503 / MK pada Khususnya , serta seluruh anggota TNI AD dalam pengabdian kepada Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia.

Pada permulaan perjuangan fisik pemuda-pemuda dari sebagian besar kampung Kedondong dan Surabaya telah tergabung dalam satu kesatuan di bawah pimpinan Djarot Subiantoro mantan tokoh Jibaku Tai, setelah disusun menjadi Batalyon, pasukan ini berada di Gubeng dan bernama Batalyon BPRI, dengan didudukinya kota Surabaya oleh musuh, maka Kesatuan mundur ke sepanjang, Krian dan akhirnya mempertahankan Ds. Perning Kec. Jetis Kab. Mojokerto.

Kompi Sriwijaya yang anggota-anggotanya berasal dari bekas Heiho di bawah pimpinan Kapten Jansen Rambe bergabung dengan Batalyon Djarot pada tanggal 9 Desember 1945 (Hari Jadi Yonif Linud 503). Kesatuan diresmikan menjadi Batalyon IX dipimpin oleh Mayor Djarot Subiantoro, selanjutnya bergabung ke Resimen XXXII pimpinan Letkol Kristanto kemudian Komandan Batalyon berpindah dan menempati Desa Mantup Kecamatan Mantup. Sektor Surabaya Barat menjadi tanggung jawab meliputi batas desa Banjeng sampai batas Selatan desa Kupang Kemlagi Mojokerto sebelum daerah diserahkan kepada Batalyon IX, beberapa pasukan yang pernah bertugas antara lain dari Pasukan Hizbullah, Pasukan Pesindo, Kompi Macan Kera dibawah pimpinan Kapten Sampurno, Kompi Matosin dan sepasukan Penggempur Dalam (PD) dipimpin oleh Sriyono.

Kondisi Saat Itu

Setelah pembentukan dan perang Kemerdekaan pertama sesuai dengan perkembangan situasi perlawanan terhadap musuh, Panglima Divisi membagi-bagi tanggung jawab ke daerah operasi kepada kesatuan-kesatuan di Jawa Timur. Batalyon DJAROT dipindahkan ke daerah Perning, Jetis ke daerah operasi yang baru untuk menguasai garis pertahanan mulai dari Mojokerto sampai dengan Cerme (Surabaya Utara) dengan tanggung jawab sampai pantai Utara Jawa Timur.

Pada permulaan berdirinya Batalyon Djarot, susunan organisasi terdiri dari :

  • Komandan batalyon : Mayor Djarot Subiantoro.
  • Ajudan : Pembantu Letnan S. Harmadi
  • Komandan Kompi I : Kapten Mohamad Hasan
  • Komandan Kompi II : Kapten A. Loter
  • Komandan Kompi III : Kapten Wieyo Hudiyono
  • Komandan Kompi IV : Kapten Jansen Rambe
  • Komandan Kompi V : Kapten Saleh

Karena anggota Kompi V lama tidak dapat dikumpulkan akhirnya dikeluarkan dari Batalyon DJAROT. Dengan dimasukkannya satu Kompi dari Pare, Kediri pimpinan Kapten Wirdjohoediono, jadi Batalyon tetap 5 Kompi, dan penyusunan Batalyon DJAROT tidak mengganggu pelaksanaan operasi, serangan-serangan tetap dilaksanakan dan dilancarkan ke pertahanan tentara Sekutu dan sering mendapat hasil diantaranya pada tanggal 2 Januari 1946 serangan yang dilancarkan Batalyon DJAROT terhadap pertahanan tentara Sekutu di sektor Bambe (antara Sepanjang dan Menganti) dapat membunuh tentara Inggris dan Gurkha sebanyak 60 orang, merampas senjata dan merebut serta menduduki pertahanan musuh. Serangan terhadap pertahanan musuh di sektor Cerme, Gresik (antara Benjeng dan Menganti) setelah pertempuran selama empat jam dapat merebut dan menduduki kubu musuh.

Tidak luput juga selain melaksanakan serangan terhadap pertahanan musuh, sering juga pertahanan Batalyon DJAROT dapat serangan dari tentara musuh tetapi tidak pernah berhasil, akibat serangan Batalyon DJAROT yang berhasil menduduki pertahanan musuh di sektor Benjeng, tentara Inggris mengerahkan kekuatan besar-besaran lebih dari 1(satu) Resimen merebut kembali pertahanannya. Dalam pertempuran yang sengit ini biarpun kita menderita beberapa orang korban, pertahanan Batalyon DJAROT tidak dapat di tembus musuh dan tentara Inggris mundur ke Surabaya.

Pada tanggal 25 Januari 1946 perubahan nama TKR menjadi TRI (TENTARA REPUBLIK INDONESIA) menambah semangat perjuangan. Dengan pertimbangan mempersatukan pola dasar berpikir para pimpinan bawahan dalam mengendalikan anak buah, Komandan Batalyon Mayor DJAROT membentuk suatu persatuan diantaranya para perwiranya. Pada tanggal 1 Pebruari 1946 dibentuklah Officers Corps (Ikatan Perwira) disaksikan oleh Kepala Staf Divisi VI Letnan Kolonel IBNOE SOEBROTO, sejak itulah tindakan Kesatuan dalam mencapai tujuan perjuangan kemerdekaan dapat tercapai dengan baik, dan menjadi ciri-ciri khas dari Batalyon III DJAROT. Officers Corps dari Batalyon III DJAROT menjadi contoh dan ditiru oleh kesatuan-kesatuan lain di Jawa Timur, bahkan berkembang ke seluruh TNI-AD dengan nama CORPS PERWIRA.

Setelah pembentukan dan perang Kemerdekaan pertama sesuai dengan perkembangan situasi perlawanan terhadap musuh, Panglima Divisi membagi-bagi tanggung jawab ke daerah operasi kepada kesatuan-kesatuan di Jawa Timur. Batalyon DJAROT dipindahkan ke daerah Perning, Jetis, Mojokerto ke daerah operasi yang baru untuk menguasai garis pertahanan mulai dari Mojokerto sampai dengan Cerme, Gresik (Surabaya Utara) dengan tanggung jawab sampai Pantai Utara Jawa Timur.

Referensi[sunting | sunting sumber]