Suttavibhaṅga
| Suttavibhaṅga | |
|---|---|
| Jenis | Kitab kanonis |
| Induk | Vinayapiṭaka |
| Isi | Bhikkhuvibhaṅga, Bhikkhunīvibhaṅga; Pārājika, Pācittiya |
| Atribusi | Bhāṇaka |
| Komentar | Samantapāsādikā (Pārājikakaṇḍa-aṭṭhakathā, Pācittiya-aṭṭhakathā) |
| Pengomentar | Buddhaghosa |
| Subkomentar | Sāratthadīpanī-ṭīkā (Mahāvagga-ṭīkā, Cūḷavagga-ṭīkā); Vajirabuddhi-ṭīkā; Vimativinodanī-ṭīkā |
| Singkatan | Bu; Bi Bhikkhuvibhaṅga: Bu Pj; Bu Ss; Bu Ay; Bu Np; Bu Pc; Bu Pd; Bu Sk; Bu As Bhikkhunīvibhaṅga: Bi Pj; Bi Ss; Bi Np; Bi Pc; Bi Pd; Bi Sk; Bi As |
| Bagian dari seri |
| Tipiṭaka |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Kitab Suttavibhaṅga (Pali untuk "Analisis Aturan"; disingkat Bu untuk biku, Bi untuk bikuni) adalah sebuah kitab suci Buddhisme sebagai kitab pertama dari tiga kitab dalam Vinayapiṭaka, yang merupakan salah satu dari "tiga keranjang" yang menyusun Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan oleh aliran Theravāda. Kitab ini berisi tentang penjelasan lanjutan dari peraturan Sangha yang dinamakan "Pātimokkha". Bentuk umum dari penjelasan lanjutan pada kitab ini biasanya berupa cerita yang melatarbelakangi munculnya setiap aturan, cerita bagaimana Sang Buddha menetapkan dan menerapkan aturan tersebut, dan, kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan dan penjelasan tentang tiap aturannya.
Kitab ini dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu:
Pāṭimokkha
[sunting | sunting sumber]Suttavibhaṅga berisi aturan-aturan dasar kebiaraan yang disebut sebagai Pātimokkha (ejaan alternatif: Pāṭimokkha; terj. har. 'mengarah pada moksa'). Pātimokkha terdiri atas 227 aturan bagi para biku dan 311 aturan bagi para bikuni yang dibagi ke dalam bagian-bagiannya, yaitu Pārājika, Saṅghādisesa, Aniyata, Nissaggiya-pācittiya, Pācittiya, Pāṭidesanīya, Sekhiya, dan Adhikaraṇa-samatha.[1][2][3]
Selain bagian-bagian aturan tersebut, terdapat pula satu teks yang berisi rangkuman poin-poin Pātimokkha secara ringkas tanpa materi penjelasannya. Teks tersebut juga dinamakan sebagai "Pātimokkha", yang awalnya mungkin berasal dari suatu teks terpisah bernama "Pātimokkha Sutta".[4]
Pārājika
[sunting | sunting sumber]Pārājika (disingkat Pj; Bu Pj untuk biku; Bi Pj untuk bikuni) adalah aturan-aturan yang apabila dilanggar dapat mengakibatkan pengusiran seumur hidup dari Sangha. Jika seorang biku melanggar secara sengaja aturan-aturan ini, maka ia secara otomatis akan terusir dari kehidupan biara dan tidak akan dapat menjadi seorang biku lagi pada masa yang akan datang. Niat atau unsur kesengajaan dalam pelanggaran terhadap aturan-aturan ini diperlukan untuk dianggap sebagai suatu pelanggaran. Berikut adalah empat poin pelanggaran aturan Pārājika, yaitu:[1][2][3]
- Hubungan seksual: terlibat dalam hubungan seksual apa pun
- Pencurian: pencurian apa pun yang bernilai lebih dari 1/24 troy ons emas (sebagaimana ditentukan oleh hukum setempat)
- Pembunuhan: mengakibatkan kematian manusia—baik dengan membunuh orang tersebut, mengatur pembunuh bayaran untuk membunuh orang tersebut, menghasut orang tersebut untuk mati, atau menjelaskan tentang keuntungan dari kematian[5]
- Kebohongan: berbohong kepada orang lain bahwa dirinya telah mencapai taraf manusia superior, seperti mengaku sebagai seorang Arahat padahal tahu bahwa dirinya bukan, atau mengaku telah mencapai salah satu jhāna padahal tahu bahwa dirinya belum mencapainya
Pārājika menyajikan aturan lanjutan dari empat aturan pertama dalam Pancasila Buddhis.
Saṅghādisesa
[sunting | sunting sumber]Tiga belas aturan Saṅghādisesa (disingkat Ss; Bu Ss untuk biku; Bi Ss untuk bikuni) adalah aturan yang mengharuskan pertemuan awal dan selanjutnya dari Sangha (pertemuan komunal). Jika seorang biku melanggar aturan apa pun di sini, ia harus menjalani masa percobaan atau disiplin, yang setelahnya, jika ia menunjukkan penyesalan, ia dapat diterima kembali oleh sangha yang terdiri dari tidak kurang dari dua puluh biku. Seperti aturan Pārājika, pelanggaran Saṅghādisesa hanya dapat terpenuhi jika ada niat dari biku itu sendiri, dan bukan merupakan pelanggaran jika dilakukan secara tidak sengaja. Tiga belas poin pelanggaran Saṅghādisesa untuk biku adalah:[1][2][3]
- Mengeluarkan air mani atau meminta seseorang mengeluarkan air mani secara sengaja, kecuali keluar air mani melalui mimpi
- Bersentuhan secara fisik dengan wanita dengan birahi atau nafsu, termasuk berciuman atau berpegangan tangan
- Mengatakan ucapan-ucapan cabul atau tidak senonoh terhadap wanita mengenai alat kelamin dan hubungan seksual
- Mengajak seorang wanita melakukan hubungan seksual
- Mengatur kencan, perselingkuhan, atau pernikahan antara seorang pria dan wanita
- Membangun sebuah kuti tanpa izin dari Sangha atau membangun kuti yang berukuran lebih dari 3 x 1,75 meter
- Memerintahkan atau meminta orang lain untuk mendirikan kuti tanpa seizin sangha, atau berukuran lebih dari 3 x 1,75 meter
- Membuat tuduhan tidak berdasar terhadap biku lain dengan harapan agar kebikuannya gugur
- Membuat tuduhan yang menyesatkan tentang biku lain dengan harapan agar kebikuannya gugur
- Memicu perpecahan dalam Sangha, bahkan setelah ditegur sebanyak tiga kali
- Mendukung pemicu perpecahan dalam Sangha, bahkan setelah ditegur sebanyak tiga kali (hanya berlaku jika pendukungnya kurang dari empat)
- Menolak nasihat yang beralasan atau berdasar dari sesama biku, bahkan setelah ditegur sebanyak tiga kali
- Mengkritik keadilan terkait gugurnya kebikuan dirinya sendiri, bahkan setelah ditegur sebanyak tiga kali
- Menerima suap dan berkelakuan buruk
Aniyata
[sunting | sunting sumber]Aniyata (disingkat Ay; Bu Ay untuk biku; Bi Ay untuk bikuni) adalah dua aturan yang tidak pasti ketika seorang biku dituduh telah melakukan pelanggaran dengan seorang wanita di tempat yang tertutup atau pribadi oleh seorang awam. Aturan ini disebut tidak pasti karena hasil akhirnya bergantung pada apakah biku tersebut mengakui pelanggaran yang dilakukannya. Praduga tak bersalah diberikan kepada seorang biku kecuali ada bukti yang kuat:[1][2][3]
- Duduk berduaan dengan seorang wanita di tempat yang cukup terpencil untuk melakukan hubungan seksual, atau mengucapkan kata-kata cabul, disaksikan oleh seorang upasaka-upasika lain, dan biku tersebut mengakui pelanggarannya
- Duduk berduaan dengan seorang wanita di tempat yang tidak cukup terpencil untuk melakukan hubungan seksual, atau mengucapkan kata-kata cabul, disaksikan oleh seorang upasaka-upasika lain, dan biku tersebut mengakui pelanggarannya
Jadi, tidak pantas bagi seorang biku untuk berduaan dengan seorang wanita, terutama di tempat yang tertutup atau pribadi.
Nissaggiyapācittiya
[sunting | sunting sumber]Nissaggiya-pācittiya (disingkat Np; Bu Np untuk biku; Bi Np untuk bikuni) adalah tiga puluh peraturan yang sebagian besarnya mengatur perihal kepemilikan para biku atas barang-barang yang tidak diizinkan atau barang-barang yang didapatkan dengan cara yang tidak diizinkan. biku tersebut harus menyerahkan barang tersebut dan kemudian mengakui kesalahannya kepada biku lain. Ada tiga puluh poin pelanggaran Nissaggiya-pācittiya:[1][2][3]
- Menyimpan jubah tambahan selama lebih dari sepuluh hari
- Tidur di tempat yang terpisah dari ti civara
- Menyimpan lebih dari sebulan bahan jubah yang tidak mencukupi ketika sedang menantikan bahan jubah atau jubah baru
- Meminta seorang bikuni yang bukan sanak keluarganya untuk mencuci jubahnya
- Menerima hadiah jubah dari seorang bikuni
- Menerima bahan jubah atau jubah kepada umat awam, kecuali di saat yang tepat
- Menerima terlalu banyak jubah dari umat awam, kecuali di saat yang tepat
- Menerima jubah dari umat awam setelah mengatakan keinginannya untuk mendapatkan jubah bermutu baik
- Menerima jubah dari umat awam setelah meminta mereka untuk mendanai pembelian jubah baru yang lebih baik
- Menerima jubah setelah meminta kepada penyokongnya (dayaka) sebanyak lebih dari enam kali
- Menerima atau memiliki permadani yang terbuat dari bahan wol, sutra, atau gabungan dari keduanya
- Menerima atau memiliki permadani berbahan dasar wol hitam murni
- Menerima atau memiliki permadani berbahan dasar wol hitam dengan komposisi sebesar 50%
- Menerima atau memiliki permadani baru, kecuali sudah enam tahun menggunakan permadani yang lama
- Menerima atau memiliki permadani duduk yang tidak digabungkan dengan permadani lama dengan ukuran sebesar 25 cm persegi
- Membawa wol sejauh lebih dari 45 km saat sedang bepergian
- Meminta seorang bikuni untuk mencuci dan mewarnai wol
- Menerima uang dan merasa senang dengan uang yang disimpan
- Melakukan transaksi jual beli dan terlibat dalam proses jual beli
- Melakukan dan terlibat dalam proses tukar-menukar barang
- Menyimpan mangkuk tambahan selama lebih dari sepuluh hari
- Mengganti mangkuk dengan mangkuk yang baru sebelum mangkuk tersebut rusak
- Menyimpan dan menggunakan obat-obatan selama lebih dari tujuh hari
- Menggunakan dan menerima pakaian untuk musim hujan sebelum waktu yang tepat
- Mengambil jubah yang dipinjamkan dalam keadaan marah
- Meminta untuk dibuatkan jubah
- Menerima jubah yang sebelumnya terdapat permintaan untuk memperindah jubah tersebut
- Menyimpan jubah yang diberikan pada 10 hari menjelang masa Kaṭhina yang lebih dari masa vassa
- Tinggal terpisah dengan jubahnya selama lebih dari enam malam selama masa vassa
- Dengan sadar menyebabkan suatu pemberian yang seharusnya diberikan kepada Sangha, tetapi malah diberikan kepadanya
Pācittiya
[sunting | sunting sumber]Pācittiya (disingkat Pc; Bu Pc untuk biku; Bi Pc untuk bikuni) merupakan sekumpulan peraturan yang mengharuskan atau memerlukan adanya pengakuan dari biku yang melanggar. Pācittiya juga disebut sebagai Sudhika Pācittiya untuk membedakannya dengan Nissaggiya-pācittiya. Sudhika Pacittiya merupakan peraturan yang tidak berdampak pengusiran atau penghapusan status seorang biku sebagai seorang anggota Sanġha. Pacittiya terdiri atas 92 peraturan yang dibagi dalam 9 sub peraturan, yaitu:[1][2][3]
- Musāvāda Vagga, yaitu 10 larangan terkait kebohongan
- Bhūtagāma Vagga, yakni 10 peraturan tentang tetumbuhan
- Ovāda Vagga, yaitu 10 peraturan tentang cara mengajar
- Bhojana Vagga, yakni 10 peraturan terkait makanan
- Acelaka Vagga, yaitu 10 peraturan tentang petapa telanjang
- Surāpāna Vagga, yakni 10 larangan mengenai konsumsi minuman keras
- Sappāṇaka Vagga, yaitu 10 peraturan tentang makhluk-makhluk hidup
- Sahadhammika Vagga, yakni 12 peraturan terkait hal-hal yang sesuai dengan Dhamma
- Ratana Vagga, yaitu peraturan 10 mengenai hal-hal yang berkaitan erat dengan harta dan kekayaan
Pāṭidesanīya
[sunting | sunting sumber]Pāṭidesanīya (disingkat Pd; Bu Pd untuk biku; Bi Pd untuk bikuni) merupakan 4 peraturan yang pelanggarannya membutuhkan pengakuan dari pelanggar peraturan ini. Pelanggaran aturan Pāṭidesanīya terjadi jika seorang biku:[1][2][3]
- Menerima makanan secara langsung dengan tangannya sendiri dari seorang bikuni yang tak mempunyai hubungan keluarga dengannya dan kemudian memakannya
- Menetap di wilayah atau hutan terpencil yang berbahaya dan dalam kondisi tidak sakit, tetapi tidak memberitahukan bahaya tersebut kepada umat awam yang hendak mengunjungi atau bederma makanan kepada biku
- Tidak menghentikan tindakan seorang bikuni yang memerintahkan pemindahan makanan dari suatu tempat ke tempat lain saat seorang biku sedang bersantap di suatu tempat atas undangan umat awam
- Jika tidak sakit, tetapi menerima dan menyantap makanan tanpa diundang dari suatu keluarga yang dianggap oleh Sanġha sebagai sekha (telah mencapai tingkat kesucian tertentu tapi masih dalam latihan)
Sekhiya
[sunting | sunting sumber]Sekhiyavatta (disingkat Sk; Bu Sk untuk biku; Bi Sk untuk bikuni), atau biasa disebut Sekhiya, merupakan 75 peraturan pelatihan yang berkaitan dengan tingkah laku yang tepat bagi seorang biku. Sekhiya dibagi dalam 4 sub-peraturan, yaitu:[1][2][3]
- Sāruppa, yaitu 26 peraturan mengenai tingkah laku yang sesuai bagi seorang biku
- Bhojana Paṭisaṁyutta, yakni 30 peraturan terkait tata cara makan
- Dhammadesanā Paṭisaṁyutta, yaitu 16 peraturan tentang tata cara mengajarkan Dhamma
- Pakiṇṇaka, yakni 3 aneka macam peraturan
Adhikaraṇasamatha
[sunting | sunting sumber]Adhikaraṇa-samatha (disingkat As; Bu As untuk biku; Bi As untuk bikuni) merupakan 7 peraturan tentang penyelesaian proses hukum terkait masalah perselisihan yang hanya melibatkan para biku.[1][2][3]
- Ketika suatu permasalahan telah terselesaikan, keputusannya harus disampaikan di hadapan Sangha, pihak-pihak terkait, dan Dhamma
- Pembacaan pengumuman resmi oleh Sangha bahwa seseorang yang telah mencapai Arahat adalah orang yang penuh perhatian agar tak seorang pun menuduhnya melakukan āpatti ("pelanggaran aturan kebikuan")
- Pembacaan pengumuman resmi oleh Sangha bagi seorang biku yang sudah sembuh dari penyakit kejiwaan agar tidak seorang pun menuduhnya melakukan āpatti yang mungkin ia lakukan ketika ia masih sakit jiwa
- Penyelesaian suatu āpatti sesuai dengan pengakuan yang diberikan oleh si tertuduh yang mengakui secara jujur apa yang telah dilakukannya
- Keputusan dibuat sesuai dengan suara terbanyak
- Pemberian hukuman kepada orang yang melakukan kesalahan
- Pelaksanaan perdamaian antara dua pihak yang berselisih tanpa terlebih dahulu dilakukan penyelidikan tentang perselisihan itu
Pātimokkha Sutta
[sunting | sunting sumber]Selain berbagai bagian aturan terpisah, terdapat satu teks rangkuman yang juga dinamakan sebagai "Pātimokkha" (disingkat Bu untuk biku; Bi untuk bikuni). Teks tersebut berisi aturan-aturan inti dari kehidupan monastik dalam bentuk daftar panjang dari berbagai jenis peraturan Suttavibhaṅga (Pārājika, Saṅghādisesa, Aniyata, Nissaggiyapācittiya, Pācittiya, Pāṭidesanīya, Sekhiya, dan Adhikaraṇasamatha) tanpa materi penjelasannya. Pada awalnya, teks Pātimokkha ini mungkin muncul sebagai teks independen, yang dikenal sebagai Pātimokkha Sutta. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa suatu aturan terkadang merujuk pada aturan lain yang mendahuluinya, suatu hubungan yang kini terputus karena materi dalam Suttavibhaṅga memisahkan berbagai aturan satu sama lain.[4]
Terjemahan
[sunting | sunting sumber]Bahasa Inggris
[sunting | sunting sumber]The Book of the Discipline, tr I. B. Horner, volumes I-III, 1938–40, Pali Text Society , Lancaster.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Bhikkhu Pāṭimokkha: The Bhikkhus' Code of Discipline". Access To Insight. Diakses tanggal 17 September 2016.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "227 Sila Patimokkha" (dalam bahasa Indonesia). Samaggi Phala. Diakses tanggal 31 Agustus 2020. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Peraturan Kedisiplinan Bhikkhu" (dalam bahasa Indonesia). Dhammacitta.org. Diakses tanggal 31 Agustus 2020. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- 1 2 "Theravāda Vinayapiṭaka". SuttaCentral. Diakses tanggal 2024-10-29.
- ↑ Dari Buddhist Monastic Code 1, Chapter 4: Parajika. Hak cipta © 1994, 2007 Thanissaro Bhikkhu. Edisi Access to Insight © 2007.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- "Suttavibhanga (selected texts)", di www.accesstoinsight.org. Diakses pada 2007-05-13.
- 227 Sila Patimokkha Sangha
- Peraturan Kedisiplinan Bhikkhu
- Peraturan Kedisiplinan Bhikkhu – Panduan Untuk Umat Awam
- Full set of rules disediakan oleh Buddhist Society of Western Australia.
- Buddhist Monastic Code I - The Patimokkha Rules Translated and Explained oleh Thanissaro Bhikku.
- Buddhist Monastic Code II - The Khandhaka Rules Translated and Explained oleh Thanissaro Bhikku.
- Sects & Sectarianism - The origins of Buddhist Schools - Diarsipkan 2008-08-20 di Wayback Machine.
- Suttavibhanga - Daftar lengkap peraturan untuk bhikkhu dan bhikkhuni beserta “cerita asal-usul” untuk masing-masingnya. Oleh Thanissaro Bhikkhu.
- The Bhikkhu Patimokkha: A Word by Word Translation (BP627S). Oleh Bhikkhu Nyanatusita.